Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA YANG MENGIKUTI
Flashback On
"Nat! Cepatlah!" ajak Nala yang sangat bersemangat untuk masuk ke dalam sebuah wahana. Mereka harus memanjat untuk kemudian turun dengan menggunakan sebuah seluncuran.
"Tunggu sebentar," Nathan mengejar Nala yang berlari dengan cepat saat mereka sudah memasuki arena wahana.
Sementara itu, One yang sedang repot menggandeng Alex dan Nicholas, hanya bisa mencebik kesal karena Nathan dan Nala langsung berlari menuju sebuah arena permainan yang berada tak jauh dari pintu masuk.
"Kita masuk, Uncle," ajak Nicholas sambil menarik One ke dalam arena permainan.
One kembali berdecak kesal karena ia nerasa ditipu oleh keempat bocah kecil itu.
Sepertinya aku bisa cepat tua jika terus menjaga mereka seperti ini. - batin One.
Baru saja One masuk ke dalam arena permainan, matanya sudah dibuat membulat dengan melihat Nala yang sudah berada di bagian teratas area permainan.
"Nala!" teriak One. Nathan yang berada di dekat Nala pun melihat ke arah One yang terlihat panik.
"Sepertinya Uncle butuh sedikit olahraga jantung," ucap Nathan pada Nala.
"Sepertinya begitu, tapi kasihan juga dia harus menjaga kita sendirian," ucap Nala.
"Kita akan bersenang senang di sini. Biarkan Uncle One menjaga Nic dan Alex."
"Baiklah," ucap Nala.
Dengan sebuah tali pengaman, Nala mulai berpindah dari sisi yang satu ke sisi yang lain. One sudah biasa melihat hal itu dan ia pun bisa melakukannya, bahkan tanpa menggunakan pengaman. Namun saat melihat Nala dan Nathan melakukan itu, jantungnya seakan berdetak dengan cepat.
Dan benar saja, baru saja ia memalingkan wajahnya untuk melihat apa yang dikerjakan oleh 2 bocah kecil di sebelahnya, terdengar teriakan Nala.
Flashback Off
"Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Michael yang terus menggenggam tangan Alexa.
"Ia tidak apa apa, hanya saja ...," dokter itu kembali berhenti berbicara ketika mendengar suara Nala dari dalam ruangan.
"Aku tidak apa apa! Jangan menyuntikku!" teriak Nala.
Michael dan Alexa langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat Nala yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan sebelah kaki yang di perban
"Dad, Mom! Katakan pada mereka bahwa aku tidak perlu disuntik," pinta Nala.
"Kalau kamu melakukan hal seperti ini sekali lagi, Sad sendiri yang akan menyuntikmu," melihat Nala yang masih bisa melawan seorang dokter dan perawat, Michael sangat yakin bahwa putrinya tidak apa apa.
Namun, saat melihat ke luar, ia bisa melihat bagaimana wajah One yang tampak gelisah luar biasa.
"Pulanglah dulu, One," ucap Michael.
"Tidak, aku akan di sini."
Akhirnya, Alexa meminta tolong pada Zero untuk membawa Nathan, Nicholas, dan Alex kembali ke Kediaman Keluarga Williams. Sementara One akan tetap berada di sana untuk memastikan keadaan Nala.
"Ia tidak apa apa, hanya memar saja kata dokter," ucap Alexa.
"T-tapi," One merasa sangat bersalah dengan apa yang menimpa Nala.
"Uncle, Nala minta maaf," ucap Nala pada akhirnya. Ia bisa melihat wajah One yang terlihat gelisah. Apalagi tadi saat mengangkat tubuhnya yang terjatuh, Nala melihat One sangat panik.
"Ya, segeralah sembuh. Uncle ada di luar jika kamu membutuhkan sesuatu," ucap One yang kemudian keluar dan duduk di kursi di depan ruangan.
Ketika One telah keluar, Michael menatap putrinya, "Kamu membuat orang lain merasa bersalah dengan apa yang terjadi padamu. Seharusnya kamu meminta izin Dad dan Mom jika mau pergi, kami akan meluangkan waktu untukmu."
"Tapi kami sudah pernah mengajak Dad dan Mom dan kalian selalu bilang tidak boleh," ucap Nala dengan sedikit menunduk.
"Nala sayang ... Kami tidak mengijinkan kalian, bukan semata mata karena tidak boleh, tapi karena usia kalian yang belum siap untuk ini. Mommy yakin, kamu pasti membohongi petugas arena permainan di sana kan?" tanya Alexa.
"Tinggi kami sudah cukup, Mom," ucap Nala.
"Kesiapan seseorang tidak hanya diukur dari tinggi badan. Apa kamu belum mengerti, Nala sayang?"
"Aku mengerti, Mom. Maafkan Nala," Alexa mencium pucuk kepala putrinya, kemudian membaringkannya.
"Apa Dad dan Mom akan kembali ke kantor?" tanya Nala.
"Tidak, kami akan menemanimu di sini," ucap Michael.
*****
"Sialannn! Mereka benar benar tak menganggapku sama sekali. Lihat saja Julian, ia bahkan tak mengejarku sama sekali," gerutu Samantha yang sangat kesal hingga menghempaskan tas miliknya ke atas karpet di dalam kamar apartemen milik Julian.
Samantha mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Ia berdecak kesal ketika panggilan ponselnya tak dijawab. Namun, sesaat kemudian ponsel miliknya berbunyi dan tertera nama seseorang yang ia hubungi sedari tadi.
"Ada apa, Nona?"
"Aku ingin kamu mengerjakan sesuatu."
"Katakan saja."
Samantha menjelaskan sesuatu dan ia tampak sangat yakin bahwa rencananya akan berhasil.
Sementara itu di rumah sakit, Vianne mengerjakan segala tugas tugasnya dengan serius.Ia ingin menyelesaikan dengan cepat dan langsung pindah ke Milan.
Awalnya ia merasa senang bisa kembali bertemu dengan Samantha, akan tetapi sekarang ia malah merasa hal itu buruk karena keberadaan Julian di tengah mereka membuat hubungan mereka menjadi rusak.
Saat Vianne telah menyelesaikan pekerjaannya hari itu, ia keluar dari rumah sakit dan berjalan kaki ke mess yang berada persis di sebelah rumah sakit. Langit sudah sangat gelap dan malam ini bulan seakan enggan untuk muncul dan menyapanya.
Ia berjalan kaki sambil membawa tas dengan sedikit cepat. Ntah mengapa perasaannya sedikit tidak enak tidak seperti biasanya. Vianne tiba tiba merasa ada seseorang yang mengikutinya, bahkan ia bisa memperkirakan di mana posisi orang tersebut.
Ia pun melangkah lebih cepat dan lebih lebar. Ia langsung mendekat ke arah pos penjagaan yabg terdapat di depan mess.
"Hallo, Tuan," sapa Vianne yang kemudian masuk ke dalam pos. Ia memindai sekeliling dari jendela kaca.
"Apa ada sesuatu?" tanya petugas keamanan itu.
"Hmm ... Saya merasa ada yang mengikuti," jawab Vianne. Ia tak ingin memendam sendiri hal yang ia yakini tak baik dan mungkin akan mencelakakan dirinya. Ia harus berjaga jaga.
Petugas keamanan itu pun keluar dari pos dan memeriksa ke sekelilinh. Tak ada tanda tanda yang aneh ataupun mencurigakan.
"Tidak ada siapa siapa, Dok," ucap sang petugas keamanan.
"Terima kasih. Saya akan segera masuk ke dalam," Vianne pun masuk ke dalam mess setelah diyakinkan oleh petugas keamanan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan.
🧡 🧡 🧡
*****