Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
"Pak ini terlalu dekat dan...." mata Luna membola sempurna saat merasakan sebuah benda kenyal dan basah menyentuh bibirnya.
Devan menciumnya? Mereka berciuman? Oh God! aku harus sera mendorongnya pikir Luna.
Devan yang sudah gelap mata langsung melumaat bibir Luna, menangkup kedua pipi gadis itu lalu menarik tekuk lehernya agar ciuman mereka tidak terlepas.
Luna mencoba memberontak, namun Devan semakin menghimpit tubuhnya agar dirinya tidak bisa pergi kemanapun.
Luna yang mulai terbuai dengan apa yang Devan lakukan, mau tidak mau membalas ciuman nya meski sedikit kaku. Tanpa sadar Luna membuka sedikit bibirnya, membuat Devan leluasa masuk ke dalam lalu mengobrak abrik semua rongga mulutnya.
Kedua bibir itu terus berpacu hingga hasrat dan gairah pun muncul seketika. Tangan devan melepaskan kancing seragam Luna hingga terlihat penutup berwarna hitam yang menggoda.
Kini bibir Devan bergerak turun dan mengecup leher Luna lalu meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Nghh..." Luna mengerang sedikit kesakitan karena hisaapan yang terlalu kencang. 'Ini salah Luna, kamu harus segera mendorongnya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan'
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Luna mendorong Devan hingga pria itu menjauh darinya.
Plakk!
"Bapak keterlaluan!" pekik Luna, matanya memerah menahan tangis lalu dengan cepat ia mengancingkan kembali seragamnya dan berlari keluar dari sana.
"Luna tunggu." teriak Devan terlambat karena Luna sudah tak terlihat lagi.
Devan segera mengejar Luna, ia tak ingin kehilangan gadisnya. Kalau dipikir dirinya memang bersalah karena sudah melakukan hal bodoh seperti ini. Namun semua dia lakukan karena kesal melihat kedekatannya dengan Aldo.
Saat berada di kantin tadi, tanpa sengaja Devan mendengar kalau Aldo akan mengajak gadis nya berkunjung ke mansion. Tidak menutup kemungkinan kalau adiknya itu akan menyatakan perasaannya pada calon istrinya.
"Shitt! Aku harus mengejarnya sebelum...." langkah Devan terhenti, ia mengatupkan rahangnya. Kekhawatiran nya benar-benar terjadi.
Aldo bak seorang pahlawan datang dan memeluk Luna, lalu membawa gadis itu keruang kesehatan. Yang lebih membuat Devan emosi, Aldo mengecup kening gadisnya dan membopongnya.
''Arghh! Sial aku kecolongan." geramnya kesal memukul dinding yang berada di sampingnya. Untung saja lorong itu sepi karena semua murid sedang ada kelas.
*
*
''Kamu kenapa lagi, Lun? Aku selalu saja bertemu denganmu saat keadaanmu tidak baik-baik saja.'' tanya Aldo merapikan anak rambut yang menutupi wajah Luna.
''Apa terjadi sesuatu di antara kalian?'' Aldo kembali bertanya dengan nada sedikit menekan.
Aldo sempat melihat Luna keluar dari ruangan Devan dengan wajah kesal. Itu membuatnya penasaran. Tidak mungkin kan Kakak dan gadis yang disukainya pacaran?
''Apa kamu belum tahu kalau aku dan Pak Devan--''
''Kalian kenapa?'' potong Aldo yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Luna.
Luna mengambil nafas dalam dan berniat untuk memberitahu Aldo. Bagaimanapun dia dan Aldo sudah bersahabat lama.
''Kami akan segera menikah.'' Untuk sesaat Aldo terdiam, tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir mereka berdua.
Namun Luna dikagetkan dengan suara tawa Aldo yang pecah karena mendengar pengakuan Luna. Ayolah apa gadis ini sedang bercanda? Aldo tahu kalau Devan akan segera menikah, tidak mungkin kan Luna adalah gadis itu?
Jika memang benar, Aldo tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya, ya mudah-mudahan bukan Luna orangnya. Aldo sudah memendam lama perasaannya dan malam ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
''Sudahlah, hentikan. Karena bercanda mu itu nggak lucu."
''Tapi Aldo, aku tidak--'' Aldo meletakkan jari telunjuknya di bibir Luna, meminta agar gadis itu diam dan tak banyak bicara.
''Malam ini kamu harus berdandan yang cantik.''
Luna berdecih kesal. ''Jadi selama ini aku tidak cantik? Apa mungkin matamu itu katarak,'' celetuk Luna seketika membuat Aldo kembali tertawa karena ekspresi wajahnya yang lucu saat mengatakan itu.
''Tetaplah di sini, aku akan kembali ke kelas.''
''Aku ikut.'' pinta Luna.
''Tidak! Lihat keadaanmu. Baju kusut,rambut acak-acakan. Mirip sekali seperti gadis yang baru saja di perkosaa.'' ujar Aldo yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan keluar, lalu menutup kembali pintu ruang kesehatan.
''Aku memang hampir saja di perkosaa oleh Guru killer menyebalkan itu.'' gerutu Luna merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Drtt Drtt
Ponsel yang berada di saku Luna bergetar, tertera di layar sebuah nama yang membuat matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya.
'My Hubby?'
Luna menggeser tombol berwarna hijau ke atas dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Seketika ia dibuat shock dengan suara seseorang yang berada di sebrang sana.
"What? Anda sedang bercanda kan, Pak?"
"....."
"Saya tidak mau. Perjanjiannya satu minggu lagi, kenapa jadi besok?"
"....."
"Tapi Pak....'' ucapan Luna terhenti karena tiba-tiba Devan memutuskan panggilannya.
"Devan Alexander! Aku membencimu!" Luna mengacak-acak rambutnya frustasi karena hari pernikahannya di mundurkan besok.
Sedangkan di luar, Devan tersenyum tipis mendengar umpatan Luna.
Karena penasaran, Devan mengikuti Luna dan Aldo. Lalu menguping diluar seperti seorang penguntit.
"Siapkan semuanya Leon, karena besok aku akan menikah!" Devan mematikan sambungan ponselnya, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam celana dan pergi dari sana.
Tanpa Devan tau, sejak tadi seseorang mendengar apa yang diucapkan olehnya dan mengepalkan tangan nya erat.
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu