Bercerita tentang seorang gadis dari sebuah Desa di mana dulu Vegas tinggal bersama kakaknya, Rose. Rose mengirimkan seorang gadis bernama Helena, gadis penurut yang begitu polos namun memiliki sebuah Misi di Kota ini.
Semuanya berawal karena asisten kepercayaannya resign, tapi Vegas tidak ingin Helena menjadi pengganti Harry hanya karena Helena memiliki warna rambut coklat.
Vegas mencoba untuk bersikap kasar dan dingin agar Helena menyerah dan kembali ke Desa, tapi rupanya semua itu hanya sia-sia. Tak ingin menyerah, Vegas melihat cincin pertunangan milik Helena, membuatnya berpikir untuk menggoda kekuatan cinta pasangan itu. Akankah Vegas berhasil membuat Helena tergoda dan merasa perang hati setiap didekat Vegas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Protes
Vegas berdecak pelan saat panggilannya diabaikan begitu saja oleh Rose, namun tak ingin menyerah begitu saja, Vegas kembali menghubungi Rose dan untuk kali ini untungnya panggilan Vegas langsung diangkat. "Halo Vegas? ada apa? akhirnya aku mendapatkan panggilan pertama mu hari ini," ucap Rose dengan sedikit tawa kecil diakhir ucapannya.
Vegas menarik nafasnya dalam, ini bukan waktunya untuk bercanda seperti itu. "Kak, apa kau serius mendatangkan seorang wanita untuk menjadi asisten ku?"
"Tentu saja! Apa ada masalah? Helena orang yang cekatan Vegas, dia sangat baik dan pastinya aku bisa menghubunginya setiap saat untuk mendapatkan kabar tenang mu."
Vegas kembali melirik Helena, wanita itu tampak diam mematung sambil menatap sekeliling ruangan tampak seperti orang kebingungan. Melihat hal itu sama membuat tingkah keraguan Vegas semakin tinggi, dia tidak ingin Helena menjadi asistennya, lebih baik dia bersama Marteen terlebih dahulu dari pada bersama wanita udik seperti itu. "Tidak kak, aku ingin mengganti asisten! aku akan menyuruhnya kembali dan mencari sendiri asisten yang aku inginkan," desis Vegas, dia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ini terlalu pagi untuk membuatnya kesal.
"Berilah dia kesempatan Vegas, cobalah beberapa hari dulu, jika memang kau tidak cocok kau bisa mengganti asisten yang lain. Helena wanita yang tulus, kau harus membantunya mendapatkan pekerjaan," jawab Rose dengan tenang. "Oh ya, Helena juga pintar memasak Vegas, dia bisa membuat sup yang biasa Mama buat dulu."
Mengingat tentang Mama membuat Vegas menjadi sedih, namun hal itu tidak mempan untuk mengalihkan percakapan mereka tentang Helena! "Aku lebih suka makanan yang biasa aku makan di Apartemen ku kak, aku tidak peduli serajin apapun dia, aku akan mencari asisten baru sekarang juga!"
"Vegas, dengarkan kakak. Mungkin ini terdengar cukup egois, tapi aku harap kau membiarkan Helena untuk bekerja dengan mu dulu, beri dia kesempatan. Helena bari saja lulus dan membutuhkan pekerjaan untuk mencari uang, kau harus melihat cara kerjanya terlebih dahulu."
Helena yang berjalan tidak terlalu jauh dari tempat Vegas menerima telepon dapat mendengar jelas apa yang dikatakan pria itu, hatinya sedikit sakit saat melihat Vegas menolaknya dengan keras dengan keputusan Rose yang mengirimkan Helena ke sini. Helena menjadi merasa bersalah karena sudah meminta Rose untuk menyembunyikan terlebih dahulu identitas Helena yang pernah mengatakan teman masa kecil Vegas, pria itu pasti sudah melupakannya dan akan menolak Helena tepat seperti ini. "Kemarikan ponsel mu, biar aku catat nomor Vegas. Kau harus selalu mengingatkannya untuk minum vitamin dan istirahat, selalu memberi kabar pada ku tentang apa saja yang terjadi pada Vegas. Jika Vegas membuat masalah, jangan sampai ada satu kasus pun yang tersebar ke media. Kau tahu bukan apa saja yang menjadi privasi bagi Vegas?" tanya Marteen yang sudah menebak jika Vegas tidak bisa membujuk Rose dengan wajah yang kalah seperti itu.
Helena dengan cepat memberikan ponselnya pada Marteen, hatinya tak tenang dengan apa yang sudah dia lakukan saat ini, apakah dia harus melanjutkan pekerjaan ini atau mundur begitu saja? "Ini ponsel mu?" Tanya Marteen dengan tatapan penuh menilai ke arah Helena .
"Ya, itu ponsel ku. A—ada apa?" tanya Helena gugup.
"Tidak, hanya saja selera mu terhadap ponsel cukup bagus." Marteen melihat bagian belakang ponsel Helena lalu membalikkannya kembali dan mulai mengetik sebuah nomor. "Bagaimana bisa dia membeli ponsel keluaran terbaru ini," gumam Marteen yang terdengar cukup kecil membuat Helena ragu dengan apa yang dia dengar.
"Ya? maaf, tadi kau berbicara apa?" Tanya Helena.
Marteen menggelengkan kepalanya pelan lalu mengembalikan ponsel miliknya. "Tidak, ini nomor Vegas, jangan sampai kau menyebarkan nomor ini pada siapapun."