Demi menghindari rentenir kejam yang hampir melecehkannya, Raisa terpaksa meninggalkan kekasihnya Yudha dan memilih merantau ke Kota metropolitan.
Raisa mengikuti jejak temannya bekerja di kelab malam, tanpa diduga Raisa bertemu dengan seorang pengusaha muda angkuh dan berwatak dingin yaitu Dava. Pertemuan itu membawa mereka pada kontrak pernikahan.
Bagaimana rumah tangga Raisa dan Dava yang diawali tanpa ada cinta?
Pada siapa akhirnya cinta Raisa akan berlabuh? Dava atau Yudha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Bertemu Lagi
Waktu cepat berlalu, hari terus berganti. Malam itu Giska mengulanginya lagi. Namun, ia berusaha membujuk Raisa untuk ikut dengannya.
"Aku berhutang pada pemilik bar itu Raisa, jadi aku tidak bisa lagi keluar dari tempat itu, Raisa aku mohon temani aku malam ini," pinta Giska memelas.
"Aku tidak bisa, aku akan mencari pekerjaan yang lain saja," tolak Raisa.
"Raisa aku mohon temani aku."
"Memangnya pekerjaan seperti apa yang akan kita lakukan di sana?"
"Hanya menemani pelanggan minum, tidak lebih dari itu percayalah Raisa."
Raisa berfikir sejenak, membayangkan dirinya juga mengalami hal yang sama, terlilit hutang dan sangat sulit untuk mencari jalan keluar, kini rasa simpati mengalahkan keraguan dari dalam hatinya, sampai Raisa mengambil satu keputusan.
"Baiklah, tapi ini hanya sementara saja ya, sampai aku mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi."
Keputusan Raisa membuat Giska tersenyum senang. "Terima kasih, Raisa," ucapnya sembari mendekap Raisa.
'Semoga saja keputusanku ini tidak salah,' batin Raisa.
.
.
.
Raisa memperhatikan penampilannya di depan cermin, ia memakai gaun malam sebatas lutut yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Malam ini merupakan yang pertama kali ia bekerja di kelab malam bersama Giska. Polesan make up dan lipstick warna merah menggoda juga sudah menghiasi wajahnya.
"Kamu sudah siap?" Pertanyaan Giska membuat Raisa menganggukkan kepala.
"Sempurna ... kamu memang cantik." Giska bahkan tidak berhenti memuji kecantikan Raisa.
"Apa ini nggak terlalu berlebihan?"
"Apanya yang berlebihan?" tanya Giska.
"Aku nggak biasa memakai pakaian seperti ini."
"Ayolah Raisa kamu nggak perlu takut, kita ini tinggal di kota bukan di kampung, berpakaian seperti ini sudah lumrah di sini!"
"Tapi aku takut memancing para pria hidung belang...."
"Aduh, aku gak bisa menjelaskannya di sini. Lebih baik sekarang kita pergi dan pratekkan sendiri."
***
Kelab malam menjadi tempat Raisa berpijak saat ini. Giska lebih antusias karena berhasil membawa Raisa masuk dan menjadi bagian dari pekerjaannya.
Sementara Raisa yang memang tidak pernah mengenal tempat ini merasa takut berada di tengah kerumunan orang yang sedang asik berjoget dan sebagian larut menikmati minuman beralkohol yang disuguhkan.
Dentuman musik yang menggema di ruangan yang sedikit redup itu hampir memekakan telinga Raisa. Beberapa wanita dan laki laki berjoged membuat Raisa risih melihatnya, bahkan Giska juga sudah ikut bergoyang mengikuti musik. Sampai seorang pria jangkung datang mendekatinya.
"Ada bunga baru," ucap pria itu sembari mengedipkan satu matanya ke arah Giska.
"Jangan macam macam, dia gadis baik baik," jawab Giska.
"Mana ada gadis baik bekerja di tempat seperti ini." Pria jangkung itu berucap remeh. Matanya tidak lepas dari Raisa.
Raisa menundukkan kepala, ia tidak nyaman ditatap orang asing.
"Sudah jangan ganggu dia, di mana Beni?" tanya Giska, ia edarkan matanya ke semua arah.
"Sudah kangen, ya? Beni sudah menunggumu di sana." Ia menunjuk salah satu meja yang diduduki tiga orang laki-laki.
"Yasudah ayo Raisa kita kesana."
Giska menggandeng tangan Raisa mendekati meja Beni salah satu pelanggan setianya, Raisa seolah pasrah dan tidak curiga keman Giska akan membawanya.
Sementara tanpa di sadari tidam jauh dari tempat Raisa duduk saat ini sepasang mata memerah memerhatikan Raisa. Pria itu marah, kedua tangannya mengepal erat menyadari gadis kecil yang kemarin menantang dan jual mahal padanya kini terlihat asik mengobrol dengan beberapa pria di kelab malam.
"Jadi dia seorang wanita penghibur?" ucapnya, ia tidak percaya dengan apa yang dilihat.
"Siapa?" Deni heran melihat wajah Dava sudah memerah.
"Gadis kecilku, ternyata dia bukan gadis polos seperti yang aku duga," kesal Dava.
"Maksudmu dia? Bukanya dia gadis yang kita kejar kemarin malam?" Deni menunjuk Raisa.
Dava tidak lagi menjawab, ntah mengapa rasanya ia ingin sekali menarik wanita itu dari sana.
***
Raisa tiba-tiba merasakan hawa dingin menyelimutinya dan itu membuat ia semakin tidak nyaman. Tatapan dari beberapa pria di depannya seperti ingin mengulitinya. Raisa sudah berniat pergi, tapi Giska menahannya.
"Kenapa kamu diam saja cantik?" tanya salah satu dari mereka.
Raisa hanya diam mengacuhkannya. Sementara Giska terlihat gesit menuangkan minuman ke dalam gelas para pria itu.
"Dia belum terbiasa, jadi harap maklum, Om," ucap Giska manja.
"Let's dance together, cantik," ucap Beni sembari mencolek dagu Raisa.
"Tolong jangan sentuh saya," ucap Raisa.
"Jangan jual mahal, kau di sini untuk uangkan? Ayo ikut denganku," ucapnya sembari menarik tangan Raisa.
"Jangan sentuh aku seenaknya! Aku bukan perempuan seperti itu!" sentak Raisa.
Pyar......
Penolakan Raisa membuat Beni marah, hingga ia menendang meja dan mengakibatkan beberapa botol minuman yang ada di atasnya jatuh dan pecah.
"Beni tolong maafkan Raisa." Giska tidak mau Beni marah dan tidak membayarnya.
Beni tidak perduli, ia beranjak dari duduknya untuk mendekati Raisa.
"Dia harus diberi pelajaran supaya nggak berani kurang ajar sama Beni!"
Raisa menjauhi Beni, tapi sayangnya
Beni berhasil memegang pergelangan tangan Raisa.
"Lepaskan," ucap Raisa, ia mencoba melepaskan cekalan tangan Beni. Namun, tenaga Beni sangat kuat membuat Raisa merintih kesakitan.
Tidak jauh dari tempat kerusuhan itu. Dava masih diam menyaksikan semua adegan di depan matanya .
"Apa kau tidak mau menolongnya?" tanya Deni.
"Untuk apa? Biarkan saja wanita penghibur itu." Dava tersenyum sinis.
"Tapi laki laki itu bisa saja melukai gadis itu? Aku takut kau akan menyesal nanti."
Ntah mengapa, ucapan Deni membuat Dava kesal setengah mati. "Brengs*k!" Dava mengumpat kemudian mendekati Raisa.
"Lepaskan dia!" Suara Dava menarik perhatian beberapa orang yang mendengarnya.
Begitu juga dengan Raisa, gadis itu tidak menyangka bisa bertemu dengan pria gila yang mengajaknya menikah.
"Jangan ikut campur dia ini wanitaku," ucap Deni menantang Dava.
"Wanitamu? " Dava tersenyum sinis mendengarnya. "Apa kau mabuk?Sudah jelas-jelas wanita itu menolakmu.
"Kalau tidak percaya tanyakan saja padanya!" Beni memberi kode kepada Raisa agar setuju dan bisa diajak kompromi.
"Jadi benar kau wanitanya?" tanya Dava, ia tatap lekat mata Raisa.
Gelengan kepala Raisa membuat Beni marah. "Pergilah, jangan menggangu kesenanganku!" pekik Beni.
Bug......
Beni melepaskan tangan Raisa saat wajahnya dihantam lawan bicaranya.
"Itu peringatan karena kau telah lancang menyentuh wanitaku! Aku bisa mematahkan tanganmu kalau kau mengulanginya lagi!" sentak Dava tepat di depan wajah Beni.
Raisa dan Giska gemetaran mendengar pengakuan Dava.
"Aku tidak menyangka, pertemuan kedua kita secepat ini," ucap Dava kepada Raisa. "Ikut aku!"
"Nggak, aku nggak mau ikut," tolak Raisa, ia berusaha menjauhi Dava.
"Urusan kita belum selesai, jadi kamu jangan berani membantahku."
"Tapi aku nggak ada urusan sama kamu, jadi jangan ganggu aku."
Dava kehilangan kesabaran, secepat kilat ia mengendong Raisa seperti mengangkat sekarung beras.
"Lpaskan aku ...cepat turunkan aku," pekik Raisa sembari memukul-mukul punggung Dava berharap Dava mau melepaskannya.
"Diam! Kamu sendiri yang meminta diperlakukan seperti ini." Dava memanjangkan kaki membawa Raisa keluar dari tempat hiburan malam ini.
lanjut kakakakk...
💖💖💖💖
Raisa beda loh mas Dava dr cewe2 yg lain 😁