NovelToon NovelToon
Midnight Firefly

Midnight Firefly

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Perperangan / Kutukan / Akademi Sihir / Chicklit
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Beberapa orang mendadak merasakan keanehan dengan dirinya. Semacam memiliki kekuatan sihir yang entah dari mana. Itu karena kekuatan para penyihir yang tersegel ribuan tahun terlepas. Membuat mereka yang dipercaya sebagai darah keturunan para penyihir dari masa lampau kini menjadi memilikinya.

Gadis cantik berusia 17 tahun bernama "Barbara Hailey" adalah salah satunya.

Diyakini memiliki darah keturunan penyihir legendaris yang hebat bernama "Anastasha Edith" oleh keluarganya, dia yang dipanggil Hailey akhirnya diundang ke suatu tempat di dunia penuh dengan sihir.

Mereka menyebutnya, Akademi Para Penyihir. "The Sorcerers Academy!"

Tempat berkumpulnya remaja-remaja yang ternyata mewarisi kekuatan para penyihir dari masa lampau.

Akan tetapi karena Hailey kesulitan dalam mengendalikan sihir, dirinyapun menjadi diremehkan oleh sebagian yang lain.

Jadi bagaimanakah cara Hailey agar dapat memenuhi takdirnya sebagai salah satu darah keturunan dari para penyihir terhebat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Arrived To The Sorcerers City

"Bagaimana kepalamu?" Hailey sejenak menoleh paling dari jendela. Memastikan kondisi keadaan Thalia untuk yang kedua kalinya.

"Masih terasa sakit," jawabnya lemas bersender di pojokan dinding lokomotif_ dinding tubuh lokomotif yang dalam keadaan rusak membekas karena pertarungan_ sambil mengelus lembut Pegasus di pangkuannya. Satu tangannya yang lain memegang botolan sisa air minum.

Thalia belum lama itu akhirnya kembali tersadar. Tapi untuk sementara waktu dirinya belum bisa bergerak terlalu banyak yang hanya akan lebih banyak menguras staminanya yang belum sepenuhnya pulih.

Setelah Thalia siuman belum lama tadi_ kepada Hailey_ dirinya bertanya mengenai gadis penyihir berkerudung misterius yang seingatnya terakhir kali masih terus berusaha menghabisi mereka berdua. Dan juga bertanya-tanya bagaiamana mereka berdua bisa lolos darinya.

Hailey pun memberitahunya. Memberi tahu kepada Thalia, bagimana caranya sampai membuat mereka berdua akhirnya dapat berhasil lolos dari kejaran si penyihir jahat dengan lokomotif berwajah tengkorak mengerikan miliknya, yang masih terbayang lekat di benaknya.

Mengatakan caranya_ cara yang bahkan Hailey sendiri tidak menduga kalau mantera pendek yang dirapalkan nya itu dapat berhasil menghentikannya. Membuat mereka berdua aman untuk sementara itu.

Sulit dipercaya!

Yang di ceritakannya membuat Thalia terkagum dengan apa yang di lakukannya kepada gadis penyihir misterius itu.

Walaupun begitu... hasil dari keputusan yang dilakukannya hanyalah kebetulan. Jika tanpa buku mantera yang sudah ada padanya, mungkin diri Hailey dan Thalia sekarang itu juga akan hanya tinggal nama.

Itu juga yang diujarkan Hailey. Mengakui kalau yang dimilikinya tidak sebanding dengan kemampuan sihir dari yang dimiliki si berkerudung misterius. Tidak akan berhasil mengalahkannya tanpa dengan satu mantera acak yang dirapalkannya_ yang hanya kebetulan kalau itu adalah mantera yang tepat untuk dapat menangani situasi genting yang sedang dihadapi sebelumnya.

Itu baru satu dari ribuan lebih mantera yang tertulis pada bukunya. Sebenarnya sangat tipis sekali kemungkinan Hailey mendapatkan mantera yang tepat.

Dan mengenai petunjuk selanjutnya... entahlah! lagi pula satu-satunya yang tersisa dari lembaran kertas undangan yang dimiliki mereka sekarang itu sudah lenyap terbakar habis karena si penyihir yang terus berusaha menghabisi mereka di sepanjang perjalanan menuju akademi. Lagi! Setelah yang dipunya Thalia.

Thalia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga surat itu dengan baik. Padahal Hailey sudah mempercayakan miliknya itu padanya. Thalia jadi menyalahkan dirinya sendiri.

Tapi Hailey sama sekali tidak menyalahkannya. Menurutnya itu bukanlah kesalahan diri Thalia. Melainkan kehadiran dari si gadis penyihir berkerudung misterius itu lah yang patut di salahkan atas tujuan sebenarnya yang belum jelas_ untuk apa berusaha menghabisi mereka berdua.

Untuk sekarang Hailey berusaha tenang dan mempercayakan perjalanan mereka kepada lokomotif yang sedang membawa mereka berdua_ lokomotif yang seakan memiliki jiwanya sendiri. Mengingat sebelumnya sempat menambah kecepatan dengan sendirinya ketika momen berduel dengan lokomotif berwajah tengkorak yang terus mebanteng.

Hailey dan Thalia tidak akan tahu kemana selanjutnya lokomotif itu akan membawa mereka.

Sedikit menyembulkan kepalanya keluar jendela lokomotif, Hailey, melihat arah depan rel dari kejauhan. Ada terlihat terowongan kereta tersorot sorotan lampu lokomotif di depan mereka.

Terowongan yang super gelap.

Tanpa memperingatkan Thalia untuk bersiap dan tetap waspada dengan apa yang akan terjadi selanjutnya... Hailey bersiap.

Bayangan super gelap menutupi pandangan mereka. Lokomotif yang membawa mereka melaju masuk di bawah panjangnya terowongan yang benar-benar gelap gulita.

"Hailey?!" Suara Thalia terdengar cemas dari balik suasana gelap yang membutakan pandangan.

Menyalakan senter, "Tidak apa. Kita hanya sedang berada di bawah terowongan," ucap Hailey menenangkannya.

"Kita akan segera keluar dari sini," lagi darinya. Memberikan senternya pada Thalia yang hampir tidak merubah posisi duduknya.

Sambil memeluk erat Pegasus_ Thalia mengerling ke berbagai arah dengan senter yang disorotnya. Berusaha tenang dan tidak untuk cemas.

Diketahuilah! Thalia sebenarnya memiliki riwayat Nyctophobia.

Nyctophobia adalah ketakutan ekstrim pada suasana malam atau kegelapan yang dapat memicu tanda-tanda kecemasan yang berlebihan. Hailey tidak mengetahuinya. Tapi Hailey tahu kalau teman seperjalanannya itu takut terhadap kegelapan. Saat mereka berdua berada di suatu desa terbengkalai dengan suasana gelap mencekam itu cukup menjelaskan fobia Thalia. Apa lagi ditambah dengan suasana kesunyian dan hawa tidak enak yang meraba bulu kuduk.

Di bawah lorong suasana mesunyi. Hanya ada suara guncangan laju dari roda-roda lokomotif diatas rel yang terdengar lebih keras dan bergema ketika melaju tepat di bawah lorong. Apalagi lorongnya tidak terlalu besar.

Kembali menyembulkan kepalanya memeriksa, Hailey memeriksa arah depan mereka "Lagi" Hailey tidak mau terlalu lengah. Berusaha tidak luput dan lebih meningkatkan pengawasannya.

Tidak ada yang bisa dilihatnya lagi selain rel satu arah yang terus tersorot sorotan lampu lokomotif di suasana gelap menyelimuti. Lampu dari lokomotif tidak akan bisa menjangkau ujung seberang lorong. Hanya jika sudah dekat dalam jarak tertentu.

Sampai tidak lama kemudian, muncul sedikit cahaya di kejauhan depan sana. Hailey melihatnya. Itu semakin terang jelas terlihat.

Tunggu dulu! "Muncul?!"

Untuk sesaat mengira kalau itu mungkin ujung dari lorongnya. Tapi ternyata tidak! Jika dipikir-pikir lebih lagi memang aneh jika itu adalah sisi dari seberang lorongnya_ sedangkan kondisi luar lorong yang saat dimasuki Hailey dan Thalia barusan tadi cukup gelap. Hampir tidak ada lampu penerangan di jalannya. Juga tidak ada sedikitpun tanda-tanda dari aktifitas penduduk di sepanjang lokomotif yang membawa mereka berdua melaju kencang melewati beberapa rumah atau pondok sebelumnya.

Sedangkan yang di seberang sana terlihat terang. Semakin terang.

Cahayanya memenuhi lorong. Semakin dekat ke sana terlihat semakin terang dan semakin terang saja.

Jelas bukan cahaya dari sisi seberang lorong, dan itu juga tampak terlihat bukan cahaya biasa. Cahayanya tampak bergelombang-gelombang seperti air di lautan. Atau yang lebih menggambarkannya adalah terlihat mirip seperti gelombang cahaya aurora.

Tanpa berpaling, "Thalia!" Tangannya gerak mengajak. Menyuruh Thalia untuk segera beranjak dan melihat apa yang sedang dilihatnya.

"Hailey, Apa itu?! Apa itu berbahaya?!"

Tidak menjawab... Hailey hanya terpaku lurus-lurus pada cahaya yang memblokir tutup jalan rel di arah depan mereka.

"Bersiaplah," ucap Hailey, kepada Thalia yang juga ikut melihat cahaya yang memblokir dari sisi jendela lokomotif yang satunya.

Semakin mendekat ke arah cahayanya semakin silau.

Tiba tepat dekat lokomotif yang membawa mereka menjelang ingin menabrak cahayanya... Hailey dan Thalia sontak reflek memejamkan matanya, dengan tangan ekstra meperisai. Lebih melindungi pandangan dari sebagian cahaya yang masih bisa menembus silau kelopak mata.

Dan...

Dari balik kelopak mata samar tapi jelas, pancaran terang cahaya berganti lalu. Hailey pun lalu menurunkan tangannya yang meperisai.

Menyipit lihat memeriksa_ mereka berdua kemudian terbelalak. Memandang suasana yang dilihatnya diluar lokomotif yang masih terus melaju.

"Wow!" respon yang selalu diucapkan orang-orang ketika baru saja melihat suatu tempat yang belum pernah dilihatnya. Tapi mereka hanya hanya sedikit terpaku

Sepertinya Hailey dan Thalia... juga Pegasus pastinya! baru saja menembus melalui portal, atau pintu, atau mungkin dimensi. Lalu berpindah ke suatu tempat asing dengan banyaknya aktifitas orang-orang yang berdagang di bawah suasana terang dengan sinar matahari yang hangat menyorot daerah sana.

Lagi dan lagi. lokomotif itu membawa mereka ke suatu tempat yang entah apa. Hanya saja tempat yang di datangi mereka kali ini terdapat penuh dengan aktifitas dan kehidupan.

Hanya saja terlihat kumuh. Tentu saja tidak mungkin "Wow!"

Yeah... setidaknya tampat kali ini jauh lebih baik dibandingkan dengan desa terbengkali yang penuh dengan jiwa-jiwa terkutuk itu.

Akhirnya! Ada juga peradaban!

"Kita melambat," Hailey memberitahu. Merasakan dan mendengar laju dari roda-roda lokomotif yang membawa mereka terasa mulai semakin melambat.

Deretan suara "Chugging!" mesin lokomotif semakin berjarak.

Tidak membutuhkan waktu lama_ karena tidak menarik beratnya deretan gerbong lagi termasuk gerbong batu bara_ lokomotifnya pun mudah untuk berhenti. Walaupun berhenti agak mendadak di akhir, setibanya lokomotif itu memberhentikan Hailey dan Thalia di tengah-tengah suasana padat jual beli yang kumuh dan lusuh di atas tanah kering berpasir. Dan juga, "Uh!" tercium bau amis ikan setibanya lokomotif yang membawa mereka berhenti dengan sendirinya.

"Dimana lagi kita sekarang?"

"Kau tanya aku?!" Hailey mengambil kembali senter dari tangan Thalia dan memasukannya kembali ke dalam ranselnya.

"Ayo!" Gegasnya. Mereka berdua kembali mengenakan ransel masing-masing dan bergegas turun dari lokomotif.

Disusul Thalia_ Hailey terlebih dahulu turun keluar dari lokomotif yang terdiam berdesis dan mengepulkan asap putih dari mesinnya di sana sini.

Orang-orang lalu lalang di sana melirik Hailey dan Thalia sambil lalu. Begitu pula yang sedang berdagang di bawah terpal kain yang meteduh_ melindungi mereka dari panas_ yang untuk sejenak terdiam menoleh pandang sebelum tak lama kemudian kembali fokus melayani para pelanggan yang berada berdiri di hadapannya. Sepertinya mereka semua tidak terlalu mepusingkan dan mempedulikan kedatangan mereka berdua.

Begitu pula dengan diri Hailey yang juga berusaha tidak terlalu mempedulikan bagaimana cara orang-orang di sana memandang kedatangan mereka berdua.

Turun menginjak tanah kering berpasir dirinya membantu Thalia menuruni lokomotif agar tidak oleng terjatuh dikarenakan kondisi tubuhnya yang masih belum sepenuhnya pulih.

"Terimaksih," lirihnya tiba menginjak tanah.

Sudah keduanya turun dari Baldwin lokomotif, mereka berdua berbalik terpancing karena suara dengingan mesin. Lokomotif yang membawa Hailey dan Thalia juga Pegasus berangsur menjadi partikel-partikel debu, sama seperti yang terjadi dengan semua gerbong yang ditariknya saat pertama kali Hailey memijak di dalamnya.

"Disinilah akhir jalurku. Sisanya kalian harus berjalan kaki," Trend muncul di ambang pintu lokomotif. Hailey dan Thalia yang sudah memijak tanah di bawah rel mendongak padanya.

"Semoga beruntung untuk kalian! Semoga jiwa penyihir pendahulu kalian membimbing kalian dengan baik!" Ucapnya sekali lagi dengan pandangan lurus-lurus.

Kepala ular besi tua yang seakan juga terkena dari efek jentikan alien ungu, berangsur lenyap_ terbang berhamburan menjadi debu ke satu arah. Termasuk si hantu Masinis tadi.

Sepertinya sampai disitu saja lokomotif dan tuannya itu membawa mereka. Tugasnya selesai. Mungkin di sana itu adalah tempat terakhir yang harus di datangi. Atau memang tempat itulah dimana akademi para penyihir berada.

Walaupun memang benar begitu, Hailey dan Thalia butuh mengetahui pasti di mana tepatnya letak akademi para penyihir itu berada. Tidak membuat mereka hanya terus terkatung-katung mencari di tengah daerah yang sama sekali tidak mereka kenali.

Menarik tangan Thalia mulai bergegas melangkah_ mereka mendongak lihat sambil lalu.

Masih menyempatkan diri melihat kemana hamburan lokomotif itu terbang menjauh di langit-langit pada beberapa langkah pertama mereka di tempat kumuh itu.

Hanya mereka berdua yang terlihat mendongak udik. Kebanyakan dari orang-orang di sana sama sekali tidak dan tidak mau melihatnya. Hanya beberapa. Itupun tanpa dengan ekspresi wajah yang seakan baru melihat suatu kejadian aneh tapi mengaggumkan untuk yang pertama kalinya. Seperti ekspresi yang tersirat di wajah Hailey dan Thalia.

Orang-orang di sana sepertinya sudah biasa dan sering melihat yang seperti itu. Tidak aneh lagi dengan sesuatu yang berbau sihir.

...----------------...

Melangkah diantara orang-orang lalu lalang_ orang-orang yang penampilannya hampir tidak ada bedanya seperti warga kota pada umumnya yang memakai pakaian masa medern tapi dengan style yang tentu saja berbeda_ Hailey menoleh-noleh sekitar. Melangkah pelan tapi geraknya terlihat agak tergesa-gesa. Sedikit hilang fokus arah depannya yang beresiko akan menabrak seseorang.

Berharap menemukan petunjuk lain, atau mungkin seseorang yang dapat membawa mereka ke tempat di mana keberadaan akademi para penyihir berada.

Hailey sebenarnya ingin mencoba bertanya pada seseorang. Tapi dirinya berpikir dua kali sebelum melakukannya. Takut jika dirinya malah sampai berkoneksi dengan orang yang salah di sana. Akan berbahaya.

"Makanan!" Seru Thalia tiba-tiba menginterupsi di tengah-tengah perjalanan. Hailey sontak melonjak tersadar dari pikirannya yang mengambang. Langsung berusaha mencegat raih Thalia yang sudah lebih dulu melesat cepat ke salah satu tenda para pedagang.

"Thalia tunggu!" Berusaha tidak bersuara lantang yang hanya akan memancing lebih banyak perhatian orang-orang asing di sana. Itu juga akan memancing lebih banyak bahaya.

Tiba menyusul Thalia di depan meja-meja kayu pedagang," Thalia, apa yang kamu lakukan?!" Bisik Hailey di sampingnya.

"Tentu saja membeli makanan!" Riang Thalia.

"Roti?!" Lanjutnya. Menyodorkan roti yang terbungkus dedaunan tepat ke hadapan wajah Hailey. Menawarkan kepadanya.

Menurun singkirkan roti itu perlahan dari hadapan wajahnya, "Hey, Thalia! Bisakah untuk tidak sembarangan bertindak di sini?!" Tegurnya lirih lebih berbisik. Mencoba tetap mengendalikan situasi. "Ingatlah kita tidak berada di kansas yang kita kenal lagi. Mereka bukan orang-orang kita."

"Aku tahu aku tahu! Tapi apa kamu tidak lapar?!"

Menepuk erat kedua bahu Thalia, "kita sudah kehilangan dua petunjuk! Jangan sampai sekarang kita berdualah selanjutnya," lagi dari Hailey menekankan. Lebih mendekatkan wajahnya.

"Tapi aku lapar!" Thalia memanja. Hailey menaruh paksa roti yang dipegangnya kembali ke atas meja dagang.

"Memangnya kamu tidak membawa perbekalan?!"

Menggeleng cepat, "Hanya makanan untuk kucingku," jawab Thalia cepat. Menepuk tas di punggungnya. Suara kumpulan kaleng-kaleng terpendam dari dalam ranselnya terdengar. Mengatakan kepada Hailey kalau dirinya hanya membawa beberapa kalengan makanan kucing. Dan jumlahnya selusin hampir memenuhi ruang ranselnya.

"Apa?! Tahu akan berpergian jauh tapi kamu tidak membawa sedikitpun perbekalan makanan untuk dirimu sendiri?!" Hailey heran.

"Um... kejadiannya rumit," Ekspresi wajah Thalia sedang mengingat jauh sebelumnya. Hailey memutar matanya lelah.

Tidak mau tahu lagi apa yang ingin dikatakannya Hailey membuka isi ranselnya merogoh. Mengeluarkan dan memberikan sebungkus roti kepada Thalia, lalu berpaling melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apapun yang merumit lagi.

"Tunggu... selama ini kamu menyimpan ini di ranselmu?!" Thalia tidak menyangka. Menyusul langkah Hailey. "Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi? Aku sudah menahan lapar selama lima jam!"

Tidak menoleh pandang, "Kamu sendiri kenapa tidak bertanya?!" Hailey terus melangkah.

Semakin jauh... mereka berdua tiba di suatu tempat yang juga ramai tapi bukan lagi daerah perdagangan. Melainkan daerah rumah-rumah. Tidak terlihat seperti Kota juga tidak terlihat seperti suasana di pedesaan pada umumnya.

Sulit dijelaskan. Hailey dan Thalia sejenak berhenti melangkah memandang semua itu.

Disana tampak berbeda. Belum pernah melihat daerah kehidupan penduduk yang seperti itu. Yang pasti kebanyakan bangunan-bangunan rumah di sana tinggi menjulang susun. Dan juga tidak terlihat satupun kendaran transportasi seperti motor ataupun mobil seperti dimasa medern pada umumnya. Hanya sepeda, kereta-kereta kuda, sampai kendaraan angkut yang terlihat futuristik_ terbang melayang di langit-langit.

Seperti kereta santa.

Juga yang membuat Thalia mengucek-ngucek matanya meyakinkan apa yang sedang dilihatnya saat itu juga.

Melihat salah seorang penduduk di sana terbang turun dari langit-langit dengan alas kaki bersayap. Sepasang sayap kecil di setiap alas kakinya.

Sambil mengunyah sisa roti di dalam mulutnya, "Apa itu sihir?!" Thalia udik melihat. Suaranya sedikit terpendam karena makanan di dalam mulutnya.

"Apa kita berada di kota sihir?!" Lagi si Thalia, lalu menoleh paling cepat pada Hailey yang juga berdiri memandang di arah pukul limanya. Menatapnya lurus-lurus.

Samar mengangguk, "Sepertinya begitu," Hailey memperbaiki posisi nyaman tali ranselnya.

"Hey! Permisi!" Thalia tiba-tiba menyalak, tapi sedikit tersedak. Langsung melangkah mendekati yang baru saja mendarat dengan sepatu bersayapnya_ yang adalah seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun. Yang baru saja ingin melangkah memasuki rumahnya.

Hailey berusaha mencegatnya lagi tapi terlambat. Langkahnya cepat.

"Oh Jangan lagi!" Lelah Hailey. Bergegas menyusul Thalia.

Menghentikan langkahnya terpancing, "Oh halo? Ada yang bisa aku bantu?" kepada Thalia yang baru tiba menghampirinya.

"Um, maafkan aku jika kami mengganggumu tapi... boleh kami tahu di mana kami sekarang?" Tanya Thalia. Hailey tiba berdiri di sampingnya dan sejenak hanya memperhatikan.

"Namaku Thalia ngomong-ngomong," lagi basa basi menambahkan. Menunjukan senyuman lebarnya, dengan jejeran gigi dan bertaring kucingnya. Bersikap ramah.

Untuk sejenak anak itu hanya terdiam terpaku. Berganti menoleh pandang Hailey dan Thalia dangan tatapan berkedip-kedip. Pikirnya menduga.

"Ouh! Itu berarti kalian berdua pendatang dari jauh rupanya."

Mengulurkan tangannya, "Namaku Abe! Menyalami tangan Thalia yang menerima uluran tangannya. "Selamat datang di Kota Peridot!"

..."The City Of The Sorcerers "...

Kota para penyihir. Walaupun sebagian banyak dari orang-orang di sana tidak memiliki sihir. Hanya sebagai warga biasa yang menjalani kehidupan seperti orang-orang normal pada umumnya. Hanya saja berdampingan dengan energi sihir yang menjadi warisan dari generasi-generasi kota sebelum Kota Peridot.

"Kalian di sini sedang mencari akademi para penyihir bukan?" Senyumnya yakin. Mengetahui Hailey dan Thalia adalah salah satu pendatang yang diundang. Calon penyihir. Taring-taring gigi Thalia membuktikan. "Aku bisa tunjukan kalian di mana tempatnya!"

"Oh tidak tidak tidak!" Hailey melambai-lambai cepat. Tersenyum canggung. "Tidak terimakasih, kami bisa mencarinya sendiri!"

Hailey sepertinya masih enggan untuk bertanya. Tidak sembarangan mempercayai siapapun yang baru ditemuinya di sana. Terlalu khawatir. Sedangkan Thalia baru saja ingin menjawab kepada anak itu kalau dirinya menerima penawarannya dan merasa berterimakasih karena keramahannya.

"Tidak! Tidak apa! tidak perlu khawatir. Kalian beruntung bertanya dengan orang yang tepat. Sebagian dari kami tidak menginginkan pendatang seperti kalian di sini," lanjut anak itu meyakinkan mereka berdua, terutama Hailey yang terlalu khawatir.

Menoleh kepada Hailey di sampingnya_ Thalia mengangkat alis-alisnya tinggi. Menatap Hailey dengan pandangan mendesak.

Melihat ekspresi wajah dan cara Thalia memandang dirinya, "Baiklah," jawabnya pelan menghela nafas terpaksa.

Karena Hailey akhirnya juga setuju, jadi anak laki-laki itu kemudian langsung menuntun mereka berdua ke tempat yang masih belum kunjung diketahui di mana keberadaanya oleh Hailey dan Thalia.

Akademi para penyihir.

...----------------...

Menuntun mereka dengan berjalan kaki. Abe tidak mempunyai kendaraan untuk mempersingkat waktu perjalanan mereka bertiga. Hanya sepasang sepatu sihir yang di gunakannya barusan_ terbang melintasi atas jalanan dan di antara rumah atau gedung-gedung Kota Peridot yang menjulang tinggi ke atas. Hanya orang-orang tertentu yang dapat memakainya. Bukan karena itu semacam pusaka yang memilih sendiri siapa tuannya seperti Jubah Doctor Strange, atau Helm Doctor Fade.

Itu hanya karena butuh latihan yang cukup lama, agar siapapun pemakainya tidak meluncur jatuh dari langit-langit seperti terbangnya pesawat yang menukik tajam ke daratan. Atau sebuah helikopter yang berputar-putar tidak terkendali diudara.

"Maaf jika kami merepotkanmu," selip Thalia di tengah-tengah langkah mereka. Masih tak lelah dengan menggendong bawa Pegasus di depan tubuhnya.

Terus memimpin langkah, "Tidak apa-apa! Justru aku merasa terhormat dapat membantu kalian. Siapapun yang diundang ke akademi pasti adalah keturunan dari para pendahulunya," jawab Abe dan sedikit menambahkan. Yang dikatakannya membuat Hailey terpancing.

"Maksudmu darah keturunan?" Menginterupsi langkah di hadapan Abe. Menghentikan langkah Abe dan juga Thalia.

Menatapnya lurus-lurus, "Ya!" jawab Abe.

"Darah keturunan dari mereka para penyihir pendahulu yang hebat. Salah satu mereka pasti ada pada kalian."

"Apa kalian mengetahui siapa pendahulu kalian?"

Thalia menggeleng. Sedangkan Hailey hanya terdiam memandang.

Menatap Hailey fokus, "Aku sepertinya pernah melihat yang sepertimu. Wajahmu mirip dengan salah satu dari mereka," ucap Abe merasa tidak asing.

"Terlihat seperti... Edith!" Lagi sambungnya. "Apa benar kamu adalah keturunannya?"

Ditengah-tengah pembicaraan mereka berdua, "Maafkan aku, tapi, siapa itu Edith?!" Thalia menginterupsi penasaran.

"Edith adalah penyihir yang begitu baik. Hebat dan salah satu yang terkuat diantara mereka. Sejarah mengatakan, kalau dahulu dia begitu berjasa bagi rakyatnya. Tak menyerah melindungi rakyatnya dari jajahan para penyihir paling tidak ramah yang pernah ada di masa itu. Yang memiliki satu tuannya_ yang dijuluki sebagai The Midnight, si penyihir ."

"The Midnight Witch !"

Jelas Abe singkat sebatas yang ia tahu kepada Thalia_ dengan cara bicaranya yang seperti orang dewasa. Tahu semua wajah-wajah dan tentang para penyihir terdahulu dari buku sejarah kisah dari masa terlahirnya para penyihir sampai sekarang. Buku yang dimiliki Abe dan seluruh warga di Peridot. Buku dengan potongan batu-batu hijau muda atau hijau daun yang menghiasi pada sampulnya itu wajib dimiliki oleh para warga yang tinggal di Kota Peridot. Satu buku setiap rumah dan keluarga. Untuk mengingat sejarah pendahulu mereka, juga menghormati perjalanannya.

Juga karena batu Peridot dipercaya mengandung aura spesial, yaitu dapat membantu melepaskan hal-hal yang sudah usang dan membawa resolusi perdamaian.

"Jika itu benar... itu berarti Edith telah kembali," tambah Abe menatap dongak kepada Hailey lurus-lurus.

"Apa itu benar, Hailey?" Tanya Thalia, hanya memastikan kebenaran yang belum ia tahu tentang Hailey.

Hailey untuk sejenak terdiam.

"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!" menggeleng, "Sudahlah! Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar pembicaraan ini!" Hailey Mengelak_ Pura-pura tidak mengetahui apapun mengenai siapa itu Edith. Dengan maksud sebenarnya karena dirinya masih tidak bisa menerima dan percaya dengan kisah yang sejujurnya konyol itu. Masih tidak mempercayainya.

Setelah jawaban respon Hailey yang memang sengaja memutus pembicaraan mereka, dirinya langsung berpaling dan melanjutkan langkahnya cepat meninggalkan Thalia dan juga Abe di belakang.

Mendengar responnya seperti tadi membuat Thalia dan Abe untuk sesaat saling melirik bingung satu sama lain di belakang sana.

Thalia mengedikan bahunya tak paham. Lagi pula dirinya dan Hailey belum lama itu saling mengenal, yang berarti masih banyak yang belum diketahui tentang Hailey atau apapun yang berhubungan dengan darah keturunan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
〈⎳ FT. Zira
sub plus like✌️✌️✌️
〈⎳ FT. Zira
seriuss sih ini keren ceritanya... lanjut baca nanti ya kak. ninggalin jejal dulu
-one Step Closer-
7 ANGEL KNIGHT: Thankyou🙏☺ Masih pemula, Jadi butuh lebih banyak pembaca untuk nilai dan saran.
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
belajar tentang sihir🥰
7 ANGEL KNIGHT: /Grin//Casual//Hey/
total 1 replies
Lilliee_shiaa
bagus banget ini mah, mampir juga di ceritaku dong kak
yang Expert the Net Blue
7 ANGEL KNIGHT: /Heart//Good//Sly/
total 1 replies
Queenzele
Ceritanya bagus thor jgn lupa mampir ya dan vote makasih
7 ANGEL KNIGHT: Thankyou🥰
total 1 replies
Roudatul Jannah
suka banget☺
7 ANGEL KNIGHT: Makasih ya :)
total 1 replies
Not Found
ayo kak update lagi ... 💕
Not Found: semangat kakak ...
total 2 replies
Cynthia Octavia Wijaya
🤩
Minaa Lee💅
Thor nanti aku baca ya, suka aku subscribe . ntar malam yups mami baca
Minaa Lee💅: ukeyyyy 🤗🤗🤗
total 2 replies
7 ANGEL KNIGHT
🌹🌹🌹
7 ANGEL KNIGHT
7 ANGEL KNIGHT
"Happy reading guys😁❤"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!