Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai perjalanan
Tepat 2 hari setelah Wei Yan keluar dari batu dimensi setelah berhasil menyerap esensi kehidupan yang diberikan ceri emas pada mereka, Yuan li putra tunggal dari Wen yuan dan Sie li kembali ke istana atas awan.
Kembar memberikan waktu 2 hari untuk Yuan li dan orang tuanya untuk melepaskan rindu karena perjalanan mereka nantinya akan memakan waktu yang cukup lama.
Sekarang mereka sudah berada di sebuah dermaga masih dalam kawasan kerajaan atas awan. Sebelah timur kerajaan memang memiliki sebuah sungai yang cukup besar untuk sebuah kapal berlayar. Tapi, hanya kapal dari orang istana atas awan saja yang bisa memasuki kawasan ini.
"Apakah semua keperluan kalian sudah siap semua?" tanya Mei yin.
"Nenek tenang saja. Semua sudah kami persiapkan. Bahkan nenek sendiri sudah mengatur beberapa keperluan lain untuk kami dan meletakkan semuanya di dalam kapal kami." jawab Wei Yan.
"Bagaimana dengan obat-obatan dan....
"Kau terlalu khawatir sehingga lupa kalau cucu-cucu kesayangan mu ini ada seorang alkemis dan untuk persediaan bahan kau tidak perlu khawatir." ucap Jeong nam.
"Ah maaf, nenek hanya......
"Kami tahu nenek dan yang lainnya sangat khawatir akan keselamatan dan keadaan kami selama perjalanan. Kami akan jaga diri baik-baik nenek sayang." ucap Fei fan lalu memeluk tubuh wanita yang sudah merawat mereka dari mereka bayi.
"Putra mahkota." panggil Liu yu.
"Ya paman?" tanya Wei Yan.
"Bawa pedang ini bersamamu. Aku mendapat pesan dari yang Mulia bahwa putra mahkota sudah siap untuk menerima pedang ini. Masuk ke dalam batu dimensi lalu lakukan proses penyatuan darah agar pedang dapat mengenali dan mengakui dirimu sebagai pemiliknya." ucap Liu yu.
"Baik paman Liu yu, terima kasih paman." ucap Wei Yan setelah menerima pedang yang masih terbungkus kain dari Liu yu.
"Kau harus ingat pesan kakek ini. Kau hanya boleh menggunakan pedang naga Phoenix itu saat benar-benar terdesak. Akan sangat berbahaya kalau terlalu banyak orang yang tahu kau memiliki pusaka se-berhaga itu. Jika lawan mengetahui keberadaan pedang itu, jangan segan-segan menghabisi mereka." ucap Liu ku.
"Apakah harus menyelesaikan masalah dengan cara sekejam itu kakek?" tanya Fei fan.
"Kalian semua harus ingat, mengasihi lawan sama artinya mencelakai diri sendiri." ucap Liu ku.
"Kakek kalian benar sayang. Di dunia yang mengandalkan kekuatan dan kekuasaan, keserakahan adalah sebuah bencana besar. Jika kalian tidak tega menghabisi lawan, maka kelak mereka akan kembali untuk menghabisi kalian untuk merebut milik kalian juga balas dendam." ucap Jeong nam.
"Kalian hanya menyerang mereka yang berniat jahat saja bukan menyerang membabi buta. Itu tidak terhitung sebagai tindakan kejam. Dulu ratu sangat tegas dalam menindaki musuh dan sangat peduli dengan orang terdekatnya. Beliau juga tidak segan menolong orang lain yang dalam kesulitan. Kalian harus dapat membedakan kejam dan tegas." ucap Liu yu.
"Baik kakek, paman terimakasih atas arahannya. Kami pasti akan mengingat semua pesan kalian." ucap Fei fan.
"Saat singgah di kerajaan lain terutama kerajaan Long, sebaiknya jangan menonjolkan kekuatan. Berusaha bersikap rendah hati saja untuk menghindari pertikaian tidak penting." saran Jeong nam.
"Baik kakek buyut." saut semuanya.
"Beruntung kalian belum berangkat." Hui tu yang baru beberapa hari meninggalkan istana atas awan kembali tiba-tiba.
"Ada apa paman Hui tu?" tanya Fei fan.
"Aku menerima pesan bahwa kalian akan pergi ke pulau dewa samudera. Aku hanya ingin memberikan peta agar kalian bisa memilih jalur yang tepat agar bisa tiba lebih awal." jelas Hui tu.
Terima kasih paman." ucap Fei fan setelah menerima peta yang diberikan oleh Hui tu.
"Andai ibu kalian ada di sini, dia akan protes saat kalian memanggil paman." gumam Hui tu yang kembali teringat kenangan perjalanan bersama Ze.
"Kenapa ibu akan protes jika kami memanggil paman?" tanya Wei Yan yang tidak sengaja mendengar gumaman Hui tu.
"Ibu kalian selalu memanggil paman Hui tu kalian itu kakek tua. Bukankah terdengar lucu jika sang ibu memanggil kakek sedang anak-anaknya memanggil dirinya paman?" jawab Liu yu.
"Kau cukup cepat juga jika menyangkut mengolok-olok seseorang. Padahal si bodoh itu sudah lama tidak bersamamu tapi sifatnya masih saja kau ikuti." ucap Hui tu.
"Ha ha ha ha ha ha ha." semua orang tertawa karena ucapan keduanya.
"Aku ingat, memang Ze tidak pernah memanggil nama Hui tu sekalipun. Dia akan menyebutnya kakek tua setiap kali mereka bertemu." ucap Mei yin.
"Oh, apakah lebih baik kita memanggil kakek tua juga?" saran Wei Yan.
"Percaya tidak, aku akan menjadikan kalian umpan ikan jika berani melakukan itu." ucap Hui tu membuat mereka kembali tertawa.
"Maaf paman, tidak akan." ucap Wei Yan sambil memamerkan gigi putihnya.
"Kami harus melakukan perjalanan sekarang juga." ucap Fei fan.
"Ya, kalian memang harus segera berangkat." ucap Liu ku.
Mereka semua berpamitan pada keluarga yang mengantar keberangkatan mereka. Butuh waktu cukup lama hanya untuk sekedar berpamitan juga karena banyak kerabat yang mengantar.
Ada cukup banyak anak muda yang berangkat bersama Si kembar Wei dan Fei. Mereka semua adalah si kembar Ouyang, Yuan li, Yang ruo, dan beberapa pemuda yang memiliki cukup bakat dalam pencapaian kultivasi dari negeri atas awan juga kediaman keluarga Ouyang.
"Akhirnya jadi juga berangkat setelah cukup lama drama perpisahan keluarga." ucap Wei Yan.
"Tidak perlu mengeluh, aku lihat kau juga ikut menangis tadi." ucap Fei fan.
"Kapan aku menangis?" tolak Wei Yan.
"Ta....
"Sudah-sudah, kalian jangan berdebat lagi. Sebaiknya kalian banyak-banyak istirahat karena perjalanan masih panjang. Kami akan bergilir untuk berjaga karena perjalanan di air juga masih tetap ada bahaya." ucap Yuan li.
"Baik kak Yuan li." saut keduanya.
"Jika ada hal buruk terjadi jangan langsung turun tangan. Sebaiknya beritahu kami terlebih dahulu agar bisa kita atasi bersama." ucap Wei yan.
"Baik." saut Yuan li.
Mereka berdua lalu masuk ke ruangan masing-masing. Kapal yang disiapkan untuk mereka memang cukup besar. Di dalamnya ada beberapa ruangan untuk tempat beristirahat bahkan ada tempat untuk memasak layaknya dapur.
"Eh, aku lupa mengembalikan batu dimensi pada Fei." ucap Wei Yan saat hendak berbaring bandul kalung berbentuk batu itu muncul dari balik bajunya.
"Biarlah, sebaiknya aku melakukan pesan paman Liu yu agar dapat melihat seberapa kuat pedang milik ibu ini." ucap Wei Yan sembari menatap pedang yang masih terbungkus rapi oleh kain itu.
Jangan lupa klik like, Love dan komentarnya ya😊
terhura aq thor.....