Ilona, gadis jalanan yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Kehidupan jalanan memaksanya menjadi gadis kuat dan pemberani. Berbeda dengan Ayyara, seorang gadis culun yang selalu menjadi sasaran bully di sekolahnya. Selain penampilannya yang culun dan dianggap jelek, dia sedikit gagap saat berbicara. Bahkan kakak dan sepupunya tidak suka padanya.
Hingga suatu hari, terjadi kecelakaan yang membawa perubahan dalam hidup keduanya. Ilona terbangun dalam raga Ayyara. Kecelakaan itu mengubah semua jalan hidup keduanya. Ilona yang tidak memiliki orang tua dan kehidupannya yang susah, berubah mendapatkan kasih sayang orang tua dan kehidupan layak. Dan Ayyara, dia berubah menjadi gadis yang tak mudah ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam
Ayyara tersenyum senang sambil melangkah keluar. Beberapa hari masuk sekolah, membuatnya kesal karena tingkah Vanya dan pengikut-pengikutnya. Langkahnya terhenti tepat di depan Pak Tanto yang sedang mencuci mobil.
"Mau Ayya bantuin ga, Pak?" Ujar gadis itu masih memperhatikan Pak Tanto.
"Aduh neng, ga usah! Bapak bisa sendiri. Ini juga udah kelar, neng."
"Ya udah, Ayya nonton aja ya, Pak?" Gadis itu berbalik dan duduk di kursi yang sengaja diletakkan Pak Tanto di depan garasi. Agar saat lelah mencuci mobil, ia akan beristirahat di kursi tersebut.
Ayyara berdiri tegap di depan kursi dengan mata yang mengarah pada sebuah motor matic yang tersimpan di garasi.
"Pak, motornya masih bisa di pake?" Pertanyaan Ayyara menghentikan gerak tangan Pak Tanto yang mencuci mobil.
"Masih bisa, neng."
"Ajarin Ayya, Pak."
"Ajarin apa, neng?"
"Ajarin Ayya mencintai Bapak." Ujarnya lalu terkekeh diakhirnya. Pak Tanto hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak majikannya itu. Tapi, ia senang. Gadis kecil yang di anggapnya sebagai anak itu terlihat begitu bahagia sekarang.
"Ayya becanda kok, Pak. Ayya minta ajarin ngendarain motornya." Pak Tanto mengerutkan kening mendengar jawaban Ayyara. Bagaimana bisa gadis itu lupa jika dia bisa mengendarainya.
"Eneng kan bisa ngendrain motor. Kenapa minta diajarin?" Ilona merutuki dirinya. Ia tidak tahu jika Ayyara dulu bisa mengendarai motor.
"Emm... Itu pak, Ayya kan udah lama di rumah sakit. Tangan sama kaki Ayya kayaknya agak kaku. Takutnya ada apa-apa, jadi Ayya minta bapak ngajarin maksdunya temanin Ayya buat ngecoba jalanin motornya." Alibi Ayyara.
"Oh, gitu?" Ayyara mengangguk. "Ya udah, nanti ya neng setelah bapak jemput tuan sama nyonya."
"Pak Tanto mau jemput Mama Papa?" Lelaki itu mengangguk. "Ayya ikut!"
"Emm... Iya deh, neng Ayya boleh ikut." Mendengar jawaban Pak Tanto, Ayyara langsung melompat girang. Gadis itu berlari kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya untuk mengganti baju.
Deon dan Gian yang sedang bermain game online di ruang tamu, mengernyit heran melihat Ayyara yang berlarian.
"Kenapa tu bocah?" Tanya Gian, lalu kembali fokus pada layar hpnya.
"Ga tau!" Balas Deon yang kemudian kembali fokus pada gamenya.
Derap langkah menuruni tangga, membuat Deon dan Gian kembali menolehkan kepala mereka. Keduanya memicingkan mata saat melihat Ayyara yang sudah bertukar pakaian.
"Mau kemana lo?" Pertanyaan itu lolos bersamaan dari mulut kedua cowok itu.
"Mau jemput Mama Papa sama Pak Tanto." Langkahnya yang terhenti kembali ia jalankan. Namun, suara Deon kembali terdengar.
"Ambilin gue minum, Ayya!"
"Ogah! Ambil aja sendiri!" Jawabnya kemudian berlari keluar.
"Cih, ngejemput Mama Papa aja senang benar." Ujar Gian. Sementara Deon hanya menahan kesal dan kembali pada urusannya.
Ayyara mengedarkan pandangannya saat tiba di luar. Ia tak menemukan Pak Tanto di dekat mobil yang dicuci orang tua itu.
"Pak! Pak Tanto! Bapak dimana?" Teriak Ayyara, membuat Pak Tanto yang sedang memeriksa keadaan mobil menggeleng pelan.
"Saya disini, neng." Pak Tanto menyembulkan kepalanya dari sisi mobil bagian sana. Membuat Ayyara cengengesan.
"Hehehe... Kirain bapak kemana. Ayo, Pak, berangkat!"
"Bentar lagi neng. Mobilnya masih sedikit basah. Entar malah ditempel debu. Bapak juga masih ngecek mobil. Biar aman perjalanan, neng."
"Ya udah, Ayya tunggu sini." Gadis itu kembali terduduk di kursi. Tak berapa lama, Pak Tanto selesai mengecek mobil. Lelaki paruh baya itu mendongakkan kepalanya mentap Ayyara.
"Udah beres, neng. Ayo!"
Tanpa menunda lagi, Ayyara langsung memasuki mobil. Pak Tanto menjalankan mobil, melesat menjauhi rumah.
Sementara di sebuah cafe, Abima dan Mala sedang berbincang dengan seorang lelaki. Usia yang terpaut jauh tak membuat pembicaraan mereka canggung. Abima memang sengaja membawa istrinya. Ia ingin mengenalkan sang istri pada rekan bisnisnya, yang tak lain adalah anak dari sepupu sahabatnya.
"Terima kasih, Alden, sudah mau bekerja sama dengan perusahaan om."
"Tidak maslah, om. Kerja sama yang om tawarkan berpeluang besar untuk semakin meluaskan nama perusahaan. Sulit untuk menolaknya." Jawab lelaki yang dipanggil Alden oleh Abima.
"Kamu benar-benar pemuda yang cerdas. Perusahaan Bagaskara semakin berjaya dimasa pimpinanmu. Kamu mampu melebarkan nama Bagaskara hanya kurang lebih dua tahun pimpinanmu."
"Terima kasih atas pujiannya, om."
Abima dan Mala melanjutkan perbincangan mereka dengan Alden. Meskipun lelaki itu terkenal tidak suka berbicara banyak, dia dengan sopannya menanggapi ucapan Mala dan Abima. Hingga tanpa mereka sadari, Pak Tanto dan Ayyara sudah tiba di cafe tersebut.
"Pak, Ayya ga usah turun. Biar kasi kejutan sama Papa Mama."
"Ya sudah, neng Ayya disini. Bapak turun dulu."
Pak Tanto bergegas turun dan memasuki cafe. Ia mencari-cari keberadaan kedua orang tua Ayyara. Matanya berhenti tepat di meja nomor 6. Segera ia menghampiri mereka.
"Permisi, tuan, nyonya. Maaf saya mengganggu." Pak Tanto sedikit menundukkan kepalanya.
"Pak Tanto." Ujar Mala.
"Iya, nyonya."
"Alden, ini supir keluarga kami, Pak Tanto." Menundukkan sedikit kepalanya pada Alden saat Abima mengenalkannya. "Dia datang menjemput. Sekali lagi terima kasih atas kerja samanya. Kami pamit dulu."
"Sama-sama, om. Mari!"
Alden berjalan beriringan bersama Abima, Mala dan Pak Tanto. Ia juga berniat untuk segera kembali ke rumahnya. Sekalin mengantarkan kedua orang tua itu ke mobil mereka.
"Kami pamit dulu, nak Alden. Hati-hati saat pulang nanti."
"Terima kasih, tante." Ujarnya. Namun, matanya yang tajam terus memperhatikan kaca mobil yang cukup gelap. Bayangan seorang perempuan didalam mobil membuatnya merasa seakan mengenali perempuan tersebut.
"Astaga, sayang. Kamu juga kemari?"
"Surprise," Ayyara merentangkan tangannya dan memeluk Mala. Hal tersebut tidak terlepas dari pendengaran Alden. Ia semakin merasa jika ia benar-benar mengenal suara itu.
***
Jam pelajaran masih berlangsung. Ayyara meminta izin untuk toilet. Saat kakinya hendak melewati balkon sekolah, Ayyara menghentikannya. Ia berbelok arah menuju pembatas balkon. Seketika sekelebat bayangan jatuhnya Ayyara dari balkon berputar di otaknya.
"Akkkhhh..." Ilona meringis sembari memegang kepalanya. Ia dapat melihat dengan jelas siapa pelaku yang mendorong Ayyara. Bahkan, orang itu mengabaikan suara minta tolong Ayyara dan malah menginjak jari-jari yang sedang memegang pembatas balkon untuk bertahan.
"Akkhhh... Sialan lo Vanya! Gue bakal balas dendam Ayya sama lo!" Gumamnya, masih memegang kepalanya, dan satu tangannya lagi memegang pembatas balkon.
"Ayyara?" Suara itu membuat gadis itu menoleh. Kenzo sedang berdiri menatapnya dengan satu alis terangkat. "Kenapa lo?"
"Ga papa." Jawabnya, melengos, bergegas menjauh dari Kenzo.
Cowok itu masih berdiri menatap punggung Ayyara yang mulai menghilang di belokan menuju toilet. "Ada apa dengannya? Apa dia mengingat kecelakaannya?" Gumam Kenzo, sedikit penasaran dengan apa yang menimpa gadis itu.
***
Beberapa jam berlalu, dan tibalah bel pulang sekolah dibunyikan. Ayyara segera mengirimkan pesan pada Pak Tanto untuk menjemputnya 30 menit lagi. Kemudian ia mengirimkan pesan pada Ayyara, yang nomornya ia ambil dari grup chat kelas.
^^^+6282347xxxxxx^^^
^^^Gue tunggu lo di balkon^^^
Setelah mengirimkan chat tersebut, Ayyara melesat keluar, dan segera menuju balkon.
Vanya yang mendapat pesan itu langsung tersenyum miring. Ia tidak berpikir jika Ayyara tahu bahwa dialah pelakunya. Yang ia tahu, gadis itu sudah lupa dengan kejadian tersebut. Jika masih mengingatnya, seharusnya dia sudah menuntut Vanya sejak dia sadar dari koma.
"Elen, lo pulang duluan aja. Gue ada urusan bentar."
"Mau kemana?"
"Nanti aja gue cerita sama lo." Gadis itu hanya mengangguk. Vanya meraih tasnya dan segera menuju balkon sekolah.
Vanya menyunggingkan senyum saat tiba di balkon. Disana, bisa ia lihat Ayyara yang sedang berdiri dengan kedua tangan menopang pada pembatas balkon, dan pandangan yang terus menatap hamparan lapangan futsal.
"Ngapain nyuruh gue kesini?" Ayyara perlahan membalikkan badannya, lalu bersender pada pembatas balkon, memunggungi lapangan futsal.
"Ga asik ngomong jauhan. Sini, dekatan dikit!" Ayyara berseru lembut. Seolah diantara dia dan Vanya memiliki hubungan yang sangat baik.
Vanya tak menaruh curiga. Ia maju dan berdiri tepat didepan Ayyara. Sekitar satu meter jaraknya. Gadis itu melipat tangannya di dada. "Cepat ngomong! Ada urusan apa lo suruh gue kesini? Gue ga punya banyak waktu."
Ayyara ikut menyilangkan tangannya di dada. Bibir itu tersenyum miring dengan tatapan lurus ke arah Vanya. "Huh! Gue mau nanya sama lo. Ada yang mau lo jelasin sama gue ngga?"
"Gue ga ngerti maksud lo."
Ayyara menegakkan badannya, kemudian mendekati Vanya. Jarak mereka kini sekitar 50 cm. Tatapan Ayyara mulai berubah dingin.
"Gue beri kesempatan buat lo jelasin, kenapa lo dorong gue dari balkon ini?"
Vanya meneguk ludahnya dengan susah payah. Tenggorokan terasa kering. Tangannya mulai gemetaran, akan tetapi dia dengan cepat menyembunyikannya.
"G-gue ga tau apa-apa soal lo yang jatoh dari balkon. Bukan gue yang dorong lo."
"Masih mau ngelak?" Ayyara perlahan maju, membuat Vanya bergerak mundur. Saat Vanya berbalik hendak berlari, Ayyara dengan cepat menarik tangannya dan memelintir tangan mulus itu ke belakang punggungnya.
"Shhh... sakit, anjing!"
Bukannya melepaskan, Ayyara malah menarik rambut Vanya dengan satu tangannya. Membuat cewek itu mendongak dengan wajah menahan sakit. Satu tangannya yang tak di pelintir terangakat menahan tangan Ayyara yang menarik rambutnya.
"Sekali lagi gue tanya! Kenapa lo dorong gue dari balkon?!" Tanya Ayyara dengan gigi yang beradu.
"Shh.. Itu karena gue benci sama lo! Gue pengen lo mati!" Ayyara semakin menguatkan pelintiran dan tarikannya. "Shhh... lepasin gue!"
"Ga akan!" Tegas Ayyara. "Usaha lo mau ngebunuh gue sia-sia! Apa yang mau lo lakuin lagi? Hah?"
Vanya tak bisa menjawab lagi. Rasa sakitnya membuatnya tak bisa berkata-kata selain meringis. Ingin rasanya ia berteriak. Namun, sekolah sudah sangat sepi. Penjaga gerbang juga pendengarannya tidak bagus. Percuma saja dia berteriak.
"Gue... shhh... AKAN BUNUH LO LAGI, AYYARA!!!"
Habis sudah kesabaran Ayyara. Ia mendorong Vanya ke pembatas balkon dengan posisi yang sama sebelumnya. Wajah cewek itu mendadak pucat saat Ayyara menekan kepalannya melewati pembatas balkon.
"Lepasin gue, Ayya!" Ucapnya dengan suara bergetar.
"Huh, lo takut sekarang?" Ayyara semakin menekan kepala Vanya. Bahkan, kaki cewek itu sudah berjinjit, menyisakan ujung kaki yang menyentuh lantai.
"Ayya, lepasin gue Ayya!" Kini suara Vanya terdengar serak. Cewek itu menangis ketakutan. Wajahnya semakin pucat pasi. Matanya terpejam saat melihat lapangan futsal yang ada di bawahnya. Ia takut akan berakhir hari ini. Ia takut Ayyara akan melepas semua pegangannya, dan dirinya bernasib sama seperti Ayyara sebelumnya.
"Ga akan gue lepsin! Gue mau lo ngerasain sensasi nyentuh lapangan futsal saat jatoh dari sini. Juga mau lo rasain gimana rasanya koma selama sebulan!" Ujar Ayyara, kembali menekan tubuh Vanya, semakin menunduk melewati pembatas balkon.
"Ayyaaa... hiks... lepasin gue hiks..."
"Gue..." Ucapan Ayyara terpotong saat hpnya berdering. Ia melepaskan pegangannya di kepala, lalu meraih hp yang ada di saku roknya. Vanya sedikit lega, karena kakinya sedikit demi sedikit mulai merasakan lantai.
"Iya, Pak, Ayya turun. Baru aja dari toilet." Ujarnya. Setelah memutuskan sambungan, Ayyara menatap dingin ke arah Vanya yang memunggunginya. Ia menarik kasar Vanya menjauh dari pembatas balkon.
"Balas dendam gue belum berakhir! Hari ini lo selamat!" Bisiknya, menorong kasar Vanya hingga tersungkur ke lantai. Ayyara lalu berbalik, meraih tasnya yang sengaja ia taruh di anak tangga menuju lantai 3, kemudian bergegas menuruni tangga menemui Pak Tanto. Tanpa peduli dengan Vanya yang masih terduduk di lantai dengan penampilan berantakkan.
Gue bakal balas lo, Ayya!! Batin Vanya, mengusap kasar air matanya.