WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-09
David tengah fokus menikmati bakso pedasnya. Ya, saat ini asisten yang mendapat gelar somplak tersebut tengah menikmati bakso yang ia pesan dipinggir jalan.
Ceritanya, saat ia tengah mencari taksi sambil berjalan-jalan di trotoar, tidak sengaja hidungnya mencium aroma sedap dari bakso mang Badrun yang jualan di pinggir jalan.
Entah kenapa tukang bakso tersebut bisa jualan di lokasi yang dilarang dipergunakan tempatnya untuk berjualan. Namun yang jelas, bakso mang Badrun rasanya enak sekali, menurut David. Kenapa begitu? Karena saat ini ia tengah menikmati bakso tersebut, bahkan sudah nambah porsi.
Kebetulan juga pelanggan mang Badrun sedang sepi, hanya ada David dan dua orang lainnya.
Tak terasa David menghabiskan dua mangkok Bakso yang rasanya seperti odading mang oleh tersebut.
David meraba samping kursi panjang yang saat ini tengah di dudukinya berniat untuk mengambil dompetnya, namun tangannya tidak merasakan menyentuh benda berharga tersebut.
David terhenyak lalu berdiri seraya menepuk-nepuk kedua saku celananya, bahkan sampai ke bagian-bagian belakangnya, namun benda yang dicari tidak ada.
David mulai panik, matanya awas melihat kebawah, siapa tahu dompetnya terjatuh, tebaknya. Namun celengan lihat tersebut tetap tidak ada. Ia yakin menyimpan nya disamping kirinya, atau hanya perasaannya?
"Cari apa Om?" Tiba-tiba suara anak kecil yang sepertinya berjenis kelamin perempuan terdengar dari arah belakang David.
David sontak saja berbalik, kedua matanya menatap curiga pada gadis yang penampilannya seperti seorang pemulung, karung kecil yang dibawanya semakin memperjelas bahwa gadis tersebut adalah pemulung. Dan sepertinya gadis tersebut baru berusia 8 tahun.
"Jangan bilang kamu yang ambil dompet saya?" Tuduh David sambil menunjuk pada gadis tersebut.
Gadis tersebut mengerutkan keningnya. "Maksud Om apa ya?" Tanya gadis tersebut dengan tatapan bingungnya.
"Kamu jangan pura-pura ya, pasti kamu yang ambil dompet saya! Ayo ngaku!" Kata David dengan suara sedikit meninggi.
Gadis yang bernama Hana tersebut menggeleng cepat. "Enggak kok Om, saya gak ambil dompet Om." Katanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
David yang tadinya marah pun kini malah merasa kasihan pada gadis tersebut. Ia pun akhirnya memilih percaya karena tidak mungkin juga gadis yang tatapannya polos tersebut mencuri dompetnya.
David menggaruk keningnya dengan sedikit frustasi. "Iya maaf-maaf, udah jangan nangis. Saya gak serius kok." Kata David.
Hana pun hanya mengangguk saja, padahal dalam hatinya ia merasa sangat bersalah pada Om-om tersebut.
Maaf ya Om, kalo aku gak dapet uang, aku bakalan dipukulin terus sama tante aku.. Batin Hana.
David tidak menggubris lagi, sekarang ia malah frustasi karena bingung harus membayar dengan apa Bakso yang sudah ia makan.
"Pak." Panggil David pada penjual bakso tersebut yang kumisnya seperti kumis Pak dalang.
"Iya? Mau nambah lagi? Bakso saya enak kan?" Kata mang Badrun masih dengan ekspresi ramahnya.
"Eee bu-bukan Pak, anu-anu saya-
" Anu kamu kenapa?"tanya mang Badrun memotong ucapan David.
"Hah? Anu saya gak pa-pa Pak, maksud saya, dompet, dompet saya hi-lang." Ucap David terbata, apalagi saat mulai melihat perubahan di wajah mang Badrun.
"Jadi? Maksudnya dompet kamu hilang? Terus urusannya sama saya apa?" Tanya mang Badrun malah kebingungan.
David yang sudah frustasi malah dibuat semakin bingung dengan ucapan mang Badrun.
"Ya.. Itu Pak, sa-saya gak bisa bayar baksonya." Jawab David dengan suara yang memelan diakhir kalimat.
Mama Badrun baru konek, "Jadi maksud kamu, kamu gak bisa bayar Bakso yang udah kamu makan?" Tanya mang Badrun dengan nada yang sudah mulai marah.
"Bu-bukan gitu Pak, sa-saya bisa bayar, tapi-tapi saya ngutang dulu ya..." Kata David yang malah memelas.
"Banyak alasan kamu! Kalau mau numpang makan ya ngomong aja jangan sok-sokan mau beli, mana pake setelan orang kaya lagi. Pasti hasil nyolong kan?!" Kata mang Badrun menunjuk tepat di wajah David dengan mata melotot, ditambah lagi kumis yang bergerak-gerak membuat raut wajahnya terlihat semakin sangar.
Hana yang sedari tadi melihat akhirnya buka suara. "Biar saya aja yang bayar Pak." Hana membuka karungnya lalu mengambil uang yang ada di dompet David, untung saja ada uang dua puluh ribuan.
"Ini Pak," Hana menyerahkan uang tersebut dengan hati-hati agar David tidak curiga padanya. Untung saja uangnya sudah ia remas-remas terlebih dahulu agar terlihat kumal.
Mang Badrun menerimanya dengan mata masih menatap nyalang pada David.
"Oke, sekarang pergi dari sini! Awas kalo balik lagi, Mati kau!" Usir mang Badrun seraya memperagakan tangannya seperti memenggal leher.
David bergidik ngeri, segera ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan tepat tersebut tanpa mengucapkan terimakasih para Hana yang sudah menolongnya.
"Hah! Sial-sial!!!, Kualat gue!"
Dengan kesal David menghubungi bawahannya untuk menjemputnya ditempatnya sekarang, sesekali matanya melirik pada Hana yang masih berdiri di kejauhan.
Entah apa yang gadis itu lihat darinya, pikir Davin. Namun, Davin tidak peduli. Ia hanya ingin segera kembali ke perusahaan sebelum dipergoki bosnya.
Disisi lain Hana menatap David yang sudah berjarak jauh, ia sangat merasa bersalah pada Om-om itu, tapi ia tidak bingung harus melakukan apa, Hana hanya tidak ingin dipukuli tantenya lagi karena pulang tidak membawa uang. Hana terpaksa mencuri dompet Davin karena merasa tertekan pada tantenya.
Maaf ya Om, Hana janji bakalan balikin dompet Om lagi, tapi uangnya Hana ambil ya... Batin Hana masih menatap pada Davin yang sepertinya sedang menghubungi seseorang.
****
Martin dan Ayu sampai di Mansion, Martin membantu menurunkan Ayu lalu membuka pintu bagian belakang untuk mengambil paper bag belanjaan mereka.
Dua pelayan datang lalu membantu membawa PaperBag² tersebut. Selanjutnya Martin menuntun Ayu dan berjalan masuk kedalam seraya beriringan.
Sekarang waktunya membersihkan diri lalu beristirahat sebelum berangkat ke pesta undangannya Tuan Arnold malam nanti.
Seperti biasa, Ayu dimandikan oleh pengasuhnya. Martin sendiri segera berlalu ke kamarnya melalui lift sembari membawa paper bag miliknya. Martin tidak pernah mengijinkan siapapun masuk ke kamarnya, kecuali Bisa Darmi, karena Bi Darmi lah yang bertugas membersihkan kamar Tuan rumah tersebut.
Kamar Martin disediakan dua pintu sekaligus. Satu pintu lift dan satu pintu manual, dan Bi Darmi lebih sering menggunakan pintu manual ketimbang lift.
Setelah sampai di kamarnya, Martin langsung saja melepaskan jas juga baju kemejanya yang masih melekat di tubuhnya, berikut celananya juga hihihi, lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Seperti biasa, Martin akan berendam dulu untuk merefleksikan tubuhnya yang terasa pegal-pegal.
Beberapa menit kemudian, Martin mengakhiri aktivitas berendam nya, lalu membilas tubuhnya di pancuran shower menggunakan air dengan suhu dingin.
Selesai mandi, Martin keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggangnya menutupi aset besarnya.
Namun, seketika Martin terhenyak saat mendapati Ayu yang tengah guling-guling diranjangnya sendirian.
Martin menoleh ke arah pintu manual. Pintu tertutup, berarti sedari tadi Ayu hanya sendirian.
"Daddy... " Pekik Ayu sembari turun dari ranjang lalu berlari mendekati Martin yang berdiri mematung.
Ayu memeluk pinggangnya, dan tangannya menyentuh sesuatu miliknya.
Oh tidak! kau harus tetap waras Martin! Jangan coba-coba jadi pedofil!
skip..malas gw baca😪