Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN
"Aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian lagi, biar mereka tahu, pangeran sampah ini bisa membakar siapa saja yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya."
Di luar, hujan benar-benar berhenti, meninggalkan keheningan, Arlon tetap dalam posisinya, berjaga di kegelapan, menjadi perisai yang tak terlihat bagi wanita yang kini menjadi pusat dari seluruh dunianya yang hancur.
Kegelapan malam itu seolah menjadi saksi, bahwa pangeran yang mereka remehkan sedang merencanakan sesuatu yang akan mengubah sejarah Belmont selamanya. Di balik kelemahannya, Arlon sedang mengasah taring yang paling tajam.
*****
Fajar menyelinap masuk melalui celah jendela Paviliun Bintang, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Elena terbangun lebih dulu karena instingnya sebagai pembunuh bayaran tidak pernah benar-benar mati. Namun, begitu dia menggerakkan tubuhnya, dia merasakan sesuatu yang mengganjal di pinggiran ranjang.
Elena menoleh ke bawah dan menemukan Arlon masih tertidur dengan posisi duduk di lantai, kepalanya bersandar pada kasur, sangat dekat dengan tangannya. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang, meski sisa-sisa darah kering di sudut bibirnya yang sempat ia bersihkan semalam, masih meninggalkan bekas tipis.
"Dasar pangeran bodoh," gumam Elena pelan.
Elena mengulurkan tangannya, berniat menyentuh kening Arlon untuk memastikan suhu tubuhnya, namun sebelum jarinya menempel, mata Arlon terbuka dengan kilatan yang sangat tajam.
Bukan tatapan sayu pria kesakitan, melainkan tatapan tajam seorang predator.
"Kamu sudah bangun?" suara Arlon terdengar serak, namun bertenaga.
Arlon segera mengubah raut wajahnya menjadi lebih santai saat menyadari itu adalah Elena.
"Kenapa tidur di lantai? Kamu mau mati kedinginan?" tanya Elena ketus, berusaha menutupi rasa canggungnya karena teringat kejadian ciuman panas semalam.
Arlon meregangkan tubuhnya, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang jauh lebih gesit dari biasanya.
"Aku hanya ingin memastikan istri galak ku tidak kabur saat tidur," goda Arlon, tersenyum miring sambil merapikan kemejanya yang kusut.
Elena mendengus, dia segera bangkit dan merapikan belatinya yang terselip di balik bantal.
"Cepat bersiap. Kita tidak punya banyak waktu, aku sudah menyiapkan pakaian yang lebih tertutup untukmu. Kita harus pergi ke hutan itu sekarang," ucap Elena, beranjak dari tempat tidur nya.
"Tunggu, El," panggil Arlon, menahan lengan Elena.
"Apa lagi?" tanya Elena, menaikan sebelah alisnya.
Arlon mendekat, lalu dia meraih tangan Elena dan memeriksa telapak tangan gadis itu.
"Energi semalam, apa tanganmu sakit? Aku merasa gelombang kejut tadi cukup keras," tanya Arlon, khawatir.
Elena menarik tangannya dengan cepat, karena wajahnya sedikit memanas.
"Aku bukan perempuan lemah Arlon, luka kecil begitu tidak akan membuatku mati. Justru kamu yang harus khawatir, kalau tubuhmu tumbang di tengah jalan, aku tidak akan menggendong mu," jawab Elena, mendengus.
"Tenang saja, setelah ciuman semalam, aku merasa bisa berlari sampai ke ujung kerajaan," jawab Arlon santai, matanya melirik nakal ke arah bibir Elena.
Elena langsung melemparkan bantal ke arah wajah Arlon.
Bhuk
"Cepat mandi! Aku tunggu di luar sepuluh menit. Kalau terlambat, aku tinggal!" teriak Elena, dengan pipi memerah.
"HAHAHAHAHAHAHA!"
Arlon tertawa lepas, suara tawa yang jarang sekali terdengar di paviliun sunyi itu.
Tidak ingin membuat istri nya marah, Arlon segera menuju bilik mandi sementara Elena keluar untuk memastikan keadaan sekitar.
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah berdiri di pintu belakang paviliun Bintang.
Arlon mengenakan jubah hitam polos dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Elena sendiri sudah mengenakan pakaian serba hitam yang memudahkan pergerakannya.
"Kita akan lewat jalur bawah tanah yang pernah aku temukan saat pertama kali datang ke sini," bisik Elena sambil mengamati pergerakan penjaga di kejauhan.
"Jalur itu tembus ke hutan belakang istana, kan?" tanya Arlon, menggenggam tangan Elena.
"Iya, dari sana kita akan langsung menuju Hutan Terlarang, kita harus bergerak cepat sebelum Ratu Selena sadar pangeran sampahnya tidak ada di kamar," jawab Elena, capat.
Mereka mulai bergerak mengendap-endap. Arlon mengikuti di belakang Elena dengan langkah yang sangat ringan, dan tentu nya dengan tangan yang saling bergandengan.
Elena sempat terkejut, karena biasanya Arlon akan terengah-engah hanya setelah berjalan beberapa meter, tapi kali ini pria itu bisa mengimbangi kecepatannya tanpa kesulitan.
"Latihan fisikmu benar-benar membuahkan hasil ya," puji Elena tanpa menoleh.
"Bukan latihan fisik saja, tapi karena aku punya motivasi besar untuk tetap hidup, dan juga ini," jawab Arlon tepat di belakang telinga Elena, sambil mengangkat tangan mereka yang bergandengan.
"Berhenti menggodaku atau aku akan memotong lidahmu," ancam Elena, meski dia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.
Saat mereka hampir mencapai mulut terowongan, tiba-tiba Elena berhenti mendadak dan menarik Arlon ke balik pilar besar.
"Sstt! Jangan bergerak," desis Elena.
Arlon mengintip sedikit, di depan sana, terlihat dua orang prajurit dengan seragam yang berbeda dari penjaga istana biasa. Mereka memakai celana bergambar burung gagak di bahu mereka.
"Shadow Stalkers," gumam Arlon, wajahnya seketika menjadi dingin.
"Itu mata-mata pribadi Selena, mereka tidak biasanya berkeliaran sepagi ini," gumam Arlon.
"Arlon, tetap di belakangku, aku akan membereskan mereka," ucap Elena meraba belati di pinggang nya.
"Tidak! Biarkan aku yang melakukannya, aku butuh pemanasan untuk menguji sejauh mana segel ini sudah retak," tolak Arlon, dengan mata berkilat tajam.
Elena menatap Arlon ragu, namun melihat tekad di mata suaminya, akhirnya dia mengangguk.
"Jangan dipaksakan, kalau kamu merasa panas, berhenti," ucap Elena, penuh perhatian.
Arlon menyeringai, dia mulai melangkah keluar dari bayangan pilar dengan santai, seolah-olah dia hanya sedang berjalan-jalan di taman bunga, dengan terus menggenggam tangan Elena dengan lembut.
"Hei, kalian mencari seseorang?" tanya Arlon dengan suara lantang.
Kedua Shadow Stalkers itu tersentak dan langsung menghunuskan pedang pendek mereka.
"Pangeran Arlon? Kenapa Anda ada di sini?" tanya mereka terkejut.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi sebelum kalian pergi ke neraka," jawab Arlon dingin.
Sebelum kedua mata-mata itu sempat bereaksi, Arlon bergerak dengan cepat.
Hanya dalam satu kedipan mata, dia sudah berada di depan salah satu prajurit dan menghantamkan telapak tangannya ke dada pria itu.
Bruk
BRAKKKK
Prajurit itu terpental menghantam tembok hingga pingsan seketika, temannya yang satu lagi mencoba menyerang, namun Arlon dengan mudah menghindari tebasan pedangnya dan memelintir tangan prajurit tersebut hingga terdengar bunyi tulang patah.
Krakk
"AAAAAAKKKKKKKHHH!"
Arlon membekap mulut prajurit itu dan membantingnya ke tanah.
BHUK
"Katakan pada wanita tua itu, naga itu sudah mulai lapar," ucap Arlon, dingin.
Elena yang melihat dan menyaksikan semua kejadian itu, hanya berdiam, dia tidak menyangka perubahan Arlon akan se drastis ini.
Kekuatan yang keluar dari tubuh Arlon terasa sangat mendominasi, bahkan Elena bisa merasakan bulu kuduknya merinding karena aura yang dipancarkan pria itu.
"Cepat, Arlon! Jangan buang waktu, yang lain akan segera datang!" seru Elena menyadarkan Arlon.