NovelToon NovelToon
Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Balas Dendam / Duda / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:454.8k
Nilai: 5
Nama Author: ShasaVinta

" Jadi ku mohon jika tiba saatnya aku harus meninggalkan kalian , ku harap kamu menggantikanku sebagai Istri bagi suamiku dan Ibu dari Anakku . Ku mohon . Aku percaya padamu "

--------####--------
Seorang gadis kecil harus kehilangan Ibunya dan mengalami penderitaan selama bertahun tahun .

Namun setelah Ia berhasil bangkit , kini Ia di hadapkan pada sebuah amanat yang akan mengubah kehidupannya . Mampukah Ia ?

Dan apakah Ia juga mampu untuk membalas orang orang yang dulu telah membunuh Ibunya dan membuat hidupnya menderita ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 . Iblis berkedok ayah

" Halo .... "

" Halo .... ini benar nomornya Brisa ? " terdengar suara pria yang berbicara .

" Sepertinya aku pernah mendengar suara ini , tapi dimana yah . "  batin Brisa .

" Halo.... lu masih disana kan ? " pria itu bertanya lagi .

" Eh .. iya maaf maaf . Ini siapa yah ? " tanya Brisa .

" Gue sahabatnya Eijaz . Dia ada nitipin sesuatu untuk lu . Bisa kita ketemuan gak ? " ujarnya .

Beberapa pikiran mengenai hal buruk yang mungkin terjadi pada Eijaz terlintas di benak Brisa .

" Bisa . " Jawab Brisan singkat .

" Kirim lokasi lu sekarang , gue kesana . " Ujarnya lalu memutus sambungan telepon .

Brisa segera melakukan apa yang diminta oleh sahabat  Eijaz .

Dan benar saja , 15 menit kemudian Brisa bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat .

Brisa mengamati pria yang mengaku sahabat Eijaz dari atas rumah pohon .

Pria itu berjalan perlahan , menggunakan ponselnya  sebagai sumber cahaya . Tak henti hentinya pria itu menggerutu .

" Ini bener gak sih lokasinya  disini . Apa tuh cewek ngerjain gue ? Lagian cewek apa sih yang mainnya di tempat seperti ini malam malam . " gerutunya .

Sejenak Brisa terhibur mendengar ocehan pria itu .

" Lokasinya bener  kok . " Teriak Brisa dari atas rumah pohon .

Pria itu mengedarkan pandangannya hingga akhirnya cahaya ponselnya menemukan seorang gadis sedang duduk di atas sebuah rumah pohon .

Pria itu mendekat ke arah pohon besar itu . Dalam hatinya Ia terus mengutuk sahabatnya yang memintanya untuk menemui gadis pujaannya .

" Turun Lu . " perintahnya .

Brisa menggeleng . " Kamu aja yang naik kesini . " tantang Brisa .

Dari pada membuang waktu lebih lama , pria itu memutuskan untuk naik ke atas .

Satu per satu tangga kayu Ia pijak , hingga berhasil mendudukkan dirinya tepat di samping gadis yang bernama Brisa .

Pria itu adalah Aydin . Sahabat Eijaz sejak mereka masih SMA .  Aydin tidak hanya tampan , dia juga memiliki otak  yang jenius .

Aydin membuka tas ranselnya mengambil sebuah kotak yang dititipkan Eijaz .

Gerakan Aydin mendapat perhatian dari Brisa , apalagi setelah melihat tulisan  '  Ohana  ' di tas pria itu .

" Ohh.. jadi ini pria Ohana itu , pemilik kamera yang tempo hari . " batin Brisa .

" Nih ... titipan Eijaz . " ucapnya datar .

Brisa  membuka kotak itu  di dalamnya ada sebuah surat dan sebuah kotak lagi berukuran kecil .

Brisa segera membaca isi surat Eijaz . Sungguh Ia tak menyangka jika selama ini hampir 2 tahun mereka dekat , Eijaz menyimpan perasaan padanya . Eijaz juga memintanya untuk menunggu hingga dia kembali , dan saat itu Ia akan menyatakan langsung isi hatinya .

Saat Brisa sedang membaca surat dari Eijaz , diam diam Aydin memperhatikan wajah gadis itu .

Cantik . Walaupun disini gelap , tapi Aydin bisa melihat keindahan pada mata gadis ini . Tatapanya sendu , membuat orang yang menatapnya ingin melindunginya . Raut wajah gadis ini , terasa sangat menyedihkan , gadis yang rapuh di balik senyum yang Ia tampilkan .

Begitulah penilaian Aydin pada Brisa . Pantas saja Eijaz selama ini menyembunyikannya . Berlian yang belum diasah .

Brisa menutup kembali kotak itu . Ia menatap pria Ohana disampingnya .

" Syukurlah kak Eijaz baik.baik saja. Tapi apa kamu tahu dia dimana sekarang ? " Tanya Brisa .

" Jadi kamu belum tahu . Daddy Eijaz meninggal dunia seminggu yang lalu . Karena orang tuanya tinggal di L.A jadinya Eijaz pergi ke sana . "  Jawab Aydin jujur .

Setelah mendapat jawaban yang Ia mau , Brisa berbalik mematikan lampu .

" Ya udah, makasih yah udah mau nganterin kotaknya . Aku pulang duluan yah . " ucap Brisa .

Tanpa menunggu jawaban Aydin ,  Brisa melompat turun dari rumah pohon .

Aydin menjadi panik , dan ikut ikutan melompat turun . Dengan kaki panjangnya Ia mengejar gadis yang baru saja meninggalkannya .

" Hei ... " Aydin meraih pundak Brisa .

Brisa yang terkejut langsung menoleh membuat pipinya terkena punggung tangan Aydin .

" Aaauuccchhh.... " Brisa meringis .

" Maaf ... maaf ... " ujar Aydin segera .

Tapi sesuatu menarik perhatian Aydin . Segera di nyalakan ponselnya , lalu mengarahkan cahaya ke wajah Brisa .

Aydin terkejut melihat pipi Brisa yang merah lebam .  "Lu baik baik aja kan  ? " tanya Aydin .

"Lu gak lagi terlibat masalah kan ? "

Brisa  menggeleng . "Aku duluan yah . "

Lalu  berlari meninggalkam Aydin yang mematung .

" Sebenarnya siapa gadis itu ? apa Eijaz juga tahu apa yang dia sembunyikan ? " bantin Aydin .

Hari berganti menjadi minggu. Minggu terus berlalu menjadi bulan .  Terhitung sudah 10 bulan berlalu Brisa mengurus toko buku yang pemiliknya entah berada dimana .

Kotak pemberian Eijaz masih tersimpan rapi dalam laci di meja kasir toko buku .

Bersyukur Brisa punya Kirani yang selalu menyemangatinya untuk bertahan . Membantunya , memberi semangat  .

Kehidupan bak  neraka di rumah Ayah dan Ibu tirinya , tetap sama . Walaupun hari  terus berganti , tapi penyiksaan terhadap Brisa tetap terjadi .

Sebentar lagi ujian nasional , lalu pengumuman kelulusan . Dan perlu diingat jika sebentar lagi usiaku 18 tahun , 2 bulan lagi lebih tepatnya .

Sejak sekolah mengadakan kelas persiapan ujian nasional, Brisa tidak lagi mampir ke toko buku karena selain lelah waktunya juga sudah mepet .

Sesampainya di rumah Brisa merebahkan tubuhnya di kamar , hari ini Ia sangat lelah .

Ceklek

Pintu kamarnya di buka .

Indri , ibu tiri nya masuk dan melempar sebuah gaun pendek berwarna merah ,sepatu hak tinggi dan sebuah foundation .

" Cepat bersiap dan pakai gaun itu . Jangan lula samarkan lebam lebam yang terlihat . " perintahnya .

Indri pergi setelah memastikan Brisa mandi .

15 menit kemudian , Brisa sudah menggunakan gaun pendek itu . Bagian atas dan punggungnya sangat terbuka , dengan potongan dada rendah .

Brisa bergidik ngeri melihat penampilannya . " Ia terlihat seperti wanita murahan . " batinnya .

Baru saja Brisa ingin mengganti pakaiannya , Indri kembali masuk di kamar Brisa . Ia menarik paksa gadis itu untuk menemui suaminya .

" Dia sudah siap . " teriak Indri .

" Pa kamu lihat sendirikan , anak ini memang cocok menjadi wanita murahan . " ujar Indri .

Sementara Brisa melihat tatapan mata Ferdinand bukan lagi tatapan seorang ayah , tapi seperti seorang pria hidung belang yang tak sabar ingin menyerangnya .

Brisa cukup tahu , apa maksud tatapan ayahnya itu .

Ferdinand menarik lengan Brisa , membawanya kemobil.

" Masuk . " perintahnya .

Brisa mau tak mau harus menurut karena Ferdinand yang mencengkram erat lengannya .

Mobil melaju  dan setelah beberapa menit mobil berhenti di sebuah hotel .

" Ayah , untuk apa kita kesini ? " tanya  Brisa namun diacuhkan .

Ferdinand harus sedikit menyeret Brisa , hingga sampai di dalam ruangan sebuah restauran .

" Diam saja . Lakukan semua perintahku atau nyawa Mbok Min akan langsung melayang saat kau  buat kesalahan sedikit saja . " Ancam Ferdinand .

Disana sudah ada 2 pria paruh baya yang menunggu .

Ferdinand mendudukkan Brisa di antara kedua pria itu .

" Bagaimana  ? " tanya Ferdinand .

Kedua paruh baya itu menoleh ke arah Brisa secara bersamaan , " Cantik . " Jawab mereka kompak .

" Cobalah dulu . " ujar Ferdinand sambil menyeringai . Seakan Brisa adalah makanan yang boleh dicicipi sebelum membeli .

Lalu salah satu pria itu mulai meraba punggung mulus Brisa . Sementara pria yang satunya lagi meraba pahanya .

Brisa sudah mulai terisak , ingin rasanya Ia memberontak . Tapi tatapan dari Ferdinand mengancam  dengan taruhan nyawa wanita yang menjadi pengasuhnya sejak kecil .

Brisa mencoba bertahan , semoga apa yang Ia takutkan tidak terjadi . Semoga hari ini dia masih bisa selamat .

Brisa terkesiap tatkala pria yang meraba punggungnya kini mulai meremas bukit kembar miliknya dengan kasar .

Sementara pria yang satunya seakan tak mau kalah juga ikut meremas bukit Brisa yang lain . Dengan satu tangan yang terus berusaha mencapai pangkal paha gadis itu .

Air mata sudah mengaliri pipi Brisa . Ferdinand melihat hal itu lalu mulai menghina gadis  yang nyatanya putri kandungnya .

" Kenapa kamu menangis ? Apa rasanya sangat nikmat haahhh ? " 

Pertanyaan penuh hinaan dari mulut ayah kandungnya membuat hati Brisa seakan di cabik cabik .

Saat biasanya seorang Ayah akan melindungi putrinya , tapi Brisa malah akan dihancurkan oleh ayah kandungnya .

Kedua pria paruh  baya itu baru berhenti menggerayangi tubuh Brisa setelah 10 menit berlalu . Hanya 10 menit dan di beberapa bagian tubuh Brisa sudah tercetak dengan jelas jejak jejak sentuhan bibir pria itu .

" Oke kami setuju . " ujar salah satu pria .

" Dua bulan lagi . Pastikan semua dokumen pengalihan pemilik perusahaan beres . Lalu kalian bisa memiliki gadis itu . "  balas Ferdinand .

Kedua pria itu lebih dulu pergi .

Ferdinand menatap penuh hasrat pada putrinya .

" Seandainya aku belum berjanji memberikan pada mereka yang masih perawan , maka kau sudah ku habisi . "  Ujarnya .

Brisa mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk .

" Dasar Iblis . Setelah membunuh ibuku yang tak lain adalah istrimu . Kini kamu akan menjualku pada pria tadi dan menukarnya dengan perusahaan . "  ujar Brisa penuh penekanan .

" Ternyata kamu pintar juga , sudah paham tanpa perlu ku beritahu . " Ferdinand menyeringai .

" Salahkan kakek tua itu . Setelah aku yang bekerja mati matian membangun perusahaan , lalu mengapa kamu yang di jadikan ahli warisnya . Bocah yang saat itu masih berusia 5 tahun . " Tawa Ferdinand terdengar menggema di ruangan itu .

" Kenapa kau tak langsung membunuhku saja . Ayo lakukan , bunuh aku sekarang . Bukankah kau sangat membenciku ? " tantang Brisa .

Hati gadis itu rasanya sudah hancur.

" Kamu masih tidak paham juga rupanya . Jika aku ingin , sudah sejak dulu kau ku lenyapkan . Namun Aku tidak suka mengotori tanganku untuk hal yang bisa orang lain lakukan untukku . Kamu pikir kedua pria tadi akan membiarkanmu pergi setelah puas bermain main denganmu ? Sebaiknya kamu persiapkan dirimu saja , karena mereka berdua tak akan melepaskanmu sampai kamu berhenti menghembuskan napas . "

Ferdinand kemudian berbalik hendak pergi . Namun langkahnya berhenti , " Jangan berani macam macam atau kau akan menjadi penyebab Mbok Min terbunuh . " ancamnya lalu pergi meninggalkan Brisa.

.

.

.

.

.

" *Apabila bisa bertemu dengan Tuhan, aku akan berkata kepada-Nya bahwa hidup ini adalah secangkir kopi yang tak pernah aku minta. (RM - Always*) "

.

.

.

.

.

To be continue

1
Susana Widjaja
Luar biasa
Ratu Fadira
bawang jahat bngt ini bikin mata gw bengkak😭😭😭😭😭😭
Rita Khairina
Luar biasa
Fenti
aku mampir kak 😁
Hearty💕💕
Selamat ya Romi dapat boss ajaib
Hearty💕💕
Eijaz parahkah sakitnya?
Hearty💕💕
Bener....
Hearty💕💕
Duh penjahat nih kayaknya
Hearty💕💕
Serem bener part ini... dunia sedang dalam kejatuhannya
Hearty💕💕
Cie 😀😍
Hearty💕💕
Sedap Gio....
Hearty💕💕
Ya pasti sesak karena nggak tahu merek bahas apa sebenarnya
Hearty💕💕
Udah jadian nih Gio ❤ Amora
Hearty💕💕
Sakitnya hati ini.....
Hearty💕💕
Akhirnya Gio nggak patah hagi lagi

Echa juga semangat kejar gadis masing²
Hearty💕💕
Wow Franda sampai segitunya
Hearty💕💕
Terim kasih Kk, sudah diajak jalan² ke Raja Ampat
Hearty💕💕
Jadi keluarga beneran nih 😍
Hearty💕💕
Maksudnya apa ya?
Hearty💕💕
Hebat nih Papanya Dafha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!