Andrea Pricillia, gadis berusia 22 tahun. Dia di tipu oleh kekasihnya sendiri dan terjebak dengan sejumlah hutang yang sama sekali tidak dia lakukan. Untuk bisa melunasi semua hitang itu, Andrea harus menjadi pelayan dan mengabdikan diri pada pria yang menjadi tuannya.
Malvin, pria yang di juluki dewa kematian itu adalah pimpinan klan paleng berbahaya di Italia.
Dengan dendam masa lalu, hatinya hanya di isi dengan kekejaman dan penyiksaan.
Sayangnya, wanita yang dia pikir adalah penyebab kematian adiknya malah membuat dia jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marisa Canon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Andrea memandang langit-langit kamarnya dengan pikiran yang di penuhi dengan rasa kerinduan yang dalam untuk keluarganya. Namun, tiba-tiba saja dia mengingat kembali Demetrio. Rasa penasaran mulai mengerogoti benaknya.
"Demetrio. Siapa dia? Apa orang yang dia cari adalah Marco? pria itu melarikan diri ke sana." Andrea berdecak kesal. "Dasar pria berengsek, aku akan membunuhmu jika bertemu."
Andrea segera beranjak dan keluar berjalan menuju dapur. Dia hendak menemui Garilla. Namun, malah melihat tiga wanita dua di antaranya Garilla dan Sella yang menatap kedatangannya penuh kebencian.
Ada seorang pria yang berdiri tepat di depan ke tiga pelayan itu. Siapa lagi kalau bukan Demetrio Ruiz, pria yang cukup tampan. Namun tatapannya sangat tajam dan dingin. Andrea jelas terlihat tidak menyukai pria itu, dia terlihat tidak bersahabat.
"Mulai hari ini, aku mengambil alih tugas Garillah, dia hanya bertugas menyajikan makanan. Selebihnya adalah bagianku."
"Si," ujar mereka bersamaan.
"Dan satu lagi. Jangan berfikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di sini." Mata pria itu berpencar dan berhenti tepat di depan Sella. "Kalian hanya di ijinkan untuk bekerja, jangan bertingkah seolah-olah kalian adalah Nyonya di rumah ini. Jika ada kedapatan di antara kalian saling menyakiti, maka hukumannya akan sangat berat. Kalian mengerti."
Semua mengangguk tanda mengerti. Sebelum melangkah pergi, Demetrio menghampiri Andrea. " Kau bertugas membersihkan lantai dua, sisanya serahkan pada mereka," ucap Pria bertubuh tinggi itu berlalu pergi.
Selesai dengan itu, Andrea bergegas menuju lantai dua. Namun, baru beberapa langkah dia menaiki anak tangga, seseorang datang dari arah pintu utama. Dan wajah itu masih membuat jantung Andrea berdetak lebih kencang dari biasanya. Dengan cepat Andrea mengalihkan pandangan, dia memilih menjauh untuk melindungi dirinya.
"Andrea."
Tubuh Andrea menegang, dia berbalik lalu menatap Malvin "Signore."
"Sedang apa kau di sini?"
Perempuan yang tingginya hampir sejajar dengan Malvin itu tetap menunduk, meremas jari-jarinya untuk menghilangkan rasa takutnya. "Tuan Demetrio menugaskan ku untuk membersihkan lantai ini."
"Benarkah?" Tangan Malvin menempel pada dinding menyudutkan Andrea yang masih menampilkan ekspresi gugupnya. "Bukankah sudah ku katakan jangan sampai aku melihatmu berada di sekitarku? Lalu kenapa kau masih berkeliaran."
"Aku adalah pelayan di sini Tuan, jika kau tidak ingin melihatku maka bebaskan aku."
Terdengar kekehan halus dari mulut Malvin, pria itu mundur beberapa langkah. "Tugasmu bukan lagi membersihkan lantai mulai dari sekarang."
Dengan penuh keberanian Andrea berkata. "Lalu apa tugasku."
Malvin kembali mendekat, hembusan napasnya bahkan mengenai kulit kepala Andrea, pria yang di juluki dewa kematian itu mendorong dan memaksa Andrea untuk membalas tatapannya. "Kau harus melayani ku jika ingin segera bebas."
Kalimat yang keluar dari mulut Malvin membuat mata Andrea membulat, keterkejutannya jelas terlihat di wajahnya. Namun, dia tidak berani untuk bersuara. Mengingat hutang miliknya masih harus dia lunasi 2 bulan lagi.
Andrea tertawa. "Untuk apa aku melakukannya. Lebih baik aku berusaha untuk segera pergi dari tempat ini."
Malvin terkekeh, tangannya mencengkeram kuat dagu Andrea. "Ku rasa kau harus di beri pelajaran agar tahu aturan di dalam rumah ini," ucapnya menghempas tubuh Andrea hingga terjatuh.
"Aaaah." Suara jeritan Andrea terdegar.
"Itu yang akan terjadi pada seorang wanita sepertimu." Malvin meninggalkan Andrea setelah membuat tangannya kesakitan.