(Follow Instagram aku ya @rafizqi0202)
Aria Hastuti seorang gadis desa yang pergi merantau ke kota xx untuk mencari pekerjaan.
Aria yang hanya tamatan SMA, sangat sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan di kota.
Karena kecantikan yang ia miliki, Aria diterima bekerja di sebuah hotel ternama di kota xx sebagai OB.
Namun siapa sangka? Kedatangannya ke hotel itu malah menjadi petaka baginya.
Ia melewati malam yang panjang bersama pria yang tidak ia kenal.
Karena pengaruh obat yang mereka minum, mereka melewati malam yang panjang tanpa mereka sadari yang membuatnya hamil diluar nikah.
Bagaimanakah nasib Aria selanjutnya?
Ayo simak cerita ini sampai habis.
Jangan lupa beri Author dukungan dengan memberikan Like, komen dan vote ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 tahun kemudian
"Aria, Aria. Sadar nak" Ucap ibuku khawatir.
Bidan Lisa langsung mengambil tindakan. Mencoba membantu aku untuk sadar kembali.
Keesokan harinya.
Aku mnyerjapkan mataku, dengan sedikit menggeliat. Ku tatap ruangan ini dengan tubuh yang masih mematung.
"Dimana aku? Kenapa aku bisa ada disini. Seingat ku, aku berada dirumah bidan Lisa" Ucapku dengan lirih. Masih kurasakan kepalaku yang sakit, jadi ku putuskan untuk tetap berbaring, dan menunggu tenagaku pulih baru aku bangun.
"Nak, kamu sudah bangun?" Tanya ibu padaku, yang baru masuk ke dalam kamarku.
"Buk, kok aku sudah ada dirumah?" Tanyaku heran.
"Iya, kamu pingsan selama dari semalam, jadi ibu membawa kamu pulang dibantu sama warga" Jawab ibu.
"Buk, maafkan Aria" Ucapku dengan penuh rasa bersalah. Aku menunduk malu, dengan suara isakkan tangis ku yang kian terdengar.
"Nak, kamu bicara apa? Minta maaf untuk apa?" Tanya ibuku. Dengan memegang kedua pundak ku.
"Aria sudah bikin ibu malu, Aria sungguh menyesal sudah pulang kesini, seharusnya Aria di kota saja. Tidak apa jika Aria harus mati, asalkan tidak membuat ibu menderita menanggung malu ini"
"Kamu bicara apa Aria, ibu tidak apa-apa nak. Jangan bicara seperti itu. Kamu harus istighfar sayang, tenangkan dirimu. Anakmu adalah anugrah untukmu" Balas ibu.
Mendengar perkataan ibu, aku semakin menangis menjadi-jadi disana.
"Terimakasih ibu, Aria sayang sama Ibu" Ucapku yang masih sensegukan.
"Iya anakku" Ibu semakin mempererat pelukannya padaku.
Hari pun berlalu,
8 tahun kemudian.
"Jifa, cepat sini nak. Bantu ibu membawa sayuran ini ke pasar" Teriakku kepada anakku.
Ya, dia adalah anakku. Anak yang ku besarkan seorang diri. Namanya Najifa, seorang anak laki-laki yang begitu tampan dan pintar.
"Iya buk, sebentar" Teriaknya dari dalam.
Jifa berlari dari dalam, dengan membawa kantong kresek ditangannya.
"Apa itu nak?" Tanya ku penasaran.
"Ini makanan untuk ibu, bukankah ibu belum sarapan tadi pagi?" Jawabnya dengan begitu polosnya.
Aku hanya membalas dengan senyuman, dengan sedikit mengusap rambutnya acak.
"Kamu ya, anak ibu yang paling pintar" Ucapku senang.
Aku pun pergi menuju pasar dengan membawa sayur di keranjang sepeda yang ku bawa.
Setelah berjualan selesai, aku dan anakku pun pulang kerumah dengan membawa rejeki hasil jualan hari ini.
Ditengah perjalanan pulang.
"Buk, ayahku itu kemana sih" Tanyanya.
Aku sedikit terdiam, "Ayahmu tidak ada disini nak, dia berada sangat jauh dari kita" Jawabku kemudian.
"Apa dia tidak menyayangi kita? Kenapa ayah tidak pernah pulang?" Tanya Jifa lagi.
Ya tuhan, setiap kali anakku menanyakan tentang ayahnya hatiku seperti tersayat oleh sembilu yang tajam. Bagaimana cara ku menjawab semua pertanyaan nya itu?
"Nak, sekarang kita sampai. Kamu mandi cepat ya" Aku dengan cepat mengalihkan pembicaraan. Nampak Jifa hanya mengangguk, ada sedikit kekecewaan dimatanya. Mungkin karena aku tidak menjawab pertanyaan nya.
Aku mencoba menegarkan hatiku, tersenyum adalah caraku menutupi segala kesedihanku.
Diumur yang masih kecil, aku enggan untuk bercerita yang sebenarnya kepada Najifa. Aku takut nantinya akan membuatnya sedih, dan aku juga takut jika dia merasa terasingkan karena tidak memiliki ayah. Ya tuhan, seberat ini kah cobaan yang harus aku terima?
Aku sedikit menghela nafas berat, sembari masuk kedalam rumah.
Malam harinya,
Aku menyiapkan beberapa makanan kesukaan Jifa, yaitu ayam masak saus asam pedas.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,
Jangan lupa dukung karya saya, dengan like, komen dan vote ya.
Baca juga novel Lainnya:
-Menikahi CEO Yang Kejam
-Menikah Karena Hutang
jadi ga tau kelanjutan nya gimana.
lanjut dong Thor kisah ceritanya ditunggu.
Karena setelah badai selalu akan tampil langit yang cerah.. bahkan dengan indahnya sang Pelangi 🌈