Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harta sesungguhnya
"Putri bungsu keluarga Yola, putri kandung Richard Yola. Banyak orang yang mengatakan kalau dia depresi karna kematian ayahnya dan bunuh diri, banyak juga yang mengatakan dia pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri."
Leon mengambil lembar data diri milik Ruri, berpikir jika bisa menemuinya mungkin bisa mendapatkan informasi darinya mengenai putri bungsu Keluarga Yola itu.
Setelah berpikir panjang Leon pun mengambil keputusan, "Gadis ini." Ia memberikan lembaran itu pada nenek.
"Waaaaah, seleramu sangat bagus. Dia bernama Ruri Yola, meskipun hanya seorang anak tiri tapi dia sangat berbakat, sekarang sudah menjadi Direktur utama group Yola."
"Direktur utama group Yola bukanlah orang berdarah keluarga Yola, benar juga, seperti yang diketahui dengan hilangnya putri bungsu Yola, berarti mereka tidak memiliki pewaris lain. Ternyata begitu, sedikitnya aku mengerti akan suatu hal."
Leon beranjak.
"Aku masih ada urusan di kantor, nenek jagalah kesehatanmu dengan baik."
"Baik baik. Nanti malam nenek atur tentang kencan buta itu ya."
"Hmm. Aku pergi dulu."
Belum beberapa langkah Leon pergi, datanglah paman Danial dengan istrinya yang tengah buncit. Melihat Leon disana dia memasang senyum merendahkan, dan lagi memamerkan perut buncit istrinya.
"Oh, aku baru saja tiba tapi keponakan sudah mau pergi?" melirik Leon.
"Aku masih ada urusan pekerjaan. Tidak seperti paman yang tidak punya kesibukan dan hanya memanjakan istri."
"Tentu saja, aku akan menjadi seorang ayah kau tahu itu? Seorang pria normal pasti akan merasakan bagaimana menjadi seorang ayah, benar 'kan keponakan?" Ia menyeringai, terdapat makna tersembunyi dibalik perkataannya.
Leon memutar kepalanya dan menatap sinis pada pamannya itu, dibalas tatapan merendahkan yang di lempar oleh pamannya dan juga sebuah senyuman memuakkan.
"Sudah sudah, jangan beradu mulut lagi. Ah menantu, duduklah, tidak baik seorang wanita hamil lama berdiri."
"Baik, Bu."
Leon pergi dari sana.
Sementara itu di kediaman Yola.
"Aku menolak!"
"Ruri! Dibandingkan dengan pria tidak jelasmu itu, lebih baik bersama Tuan muda Leon. Masa depanmu akan lebih baik. Pokonya nanti malam hadiri kencan buta itu. Kalau tidak, Mama tidak sungkan menjadikan priamu bernasib sama seperti ayah dan saudari tirimu. Camkan itu!"
Semenjak mengenal pria itu Ruri jadi sulit dikendalikan oleh Rosi. Sekarang, ikan besar didepan mata malah sibuk mengejar ikan kecil. Jika bisa berbesanan dengan keluarga Domino maka itu merupakan anugerah yang sangat besar.
Hari berganti.
Untuk bisa menyekolahkan si kembar, Mocca terpaksa harus menjual sepatu hitam peninggalan ibu yang tinggal sisa sebelah itu. Jika dijual di acara pelelangan, karna merupakan benda langka mungkin daya jualnya akan semakin tinggi.
Mocca ingat, dulu sekali ayahnya pergi ke tempat pelelangan untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dia berikan pada hari pernikahannya dengan ibu Rosi. Mocca lupa nama tempat itu tapi pekan ini akan dibuka pelelangan lagi.
"Bibi," Mocca memanggil bibi Uren di dapur untuk menanyakan sesuatu lagi. Dia menoleh kesana kemari seolah sedang berhati hati akan sesuatu.
"Hari ini apa yang ingin di tanyakan?" Ia tersenyum, menanyakan hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan Mocca saat menemuinya.
Mocca tertawa sungkan, tapi kedatangannya memang ingin bertanya akan suatu hal.
Berbisik, "Apa bibi tahu, dimana dimana tempat pelelangan di kota ini?"
Bibi cukup terkejut dengan pertanyaan Mocca saat ini, mengingat dipelelangan tak hanya barang saja yang dijual (manusia pun dijual untuk dijadikan budak) juga membuat bibi khawatir.
"Apa dia sampai frustrasi memikirkan masa depan anaknya sampai mau berbuat seperti itu. Hush, jangan berprasangka buruk dulu. Mungkin dia ingin menjual sesuatu atau lainnya. Kasihan sekali," batin bibi.
"Nak Mocca, jika membutuhkan uang, bibi ada simpanan, pakailah dulu," tawar bibi. Diapun merasakan, membesarkan anak seorang diri itu tidaklah mudah.
"T-tidak perlu. Mm ... Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku jual dipelelangan itu, jika laku dengan harga mahal akan lebih baik. Aku, aku ingin menyekolahkan si kembar, juga untuk ke depannya. Bibi bisa beritahu aku?"
"Ternyata begitu." batin Bibi. Bibi tersenyum, tidak enak rasanya karna sudah berprasangka buruk pada gadis sebaik Mocca. Sungguh orang tua yang buruk.
"Tapi disana berbahaya untukmu, banyak pria kaya raya yang tidak bermoral, juga orang orang jahat."
"Bibi jangan khawatir, aku wanita kuat dan hebat, itu kata si kembar," ucapnya penuh percaya diri.
Bibi menghela nafas dengan mata terpejam, "Baiklah, kau bisa pergi ke gedung XX, tapi yang ku dengar, untuk bisa masuk kesana kau harus memiliki kartu undangan."
"Soal itu jangan khawatir, aku mempunyai Anak Genius di sisiku. Bibi terima kasih, jika sudah dapat uangnya nanti aku traktir."
Mocca pergi meninggalkan dapur sembari melambaikan tangan. Malam ini dia harus pergi ke pelelangan itu, meskipun hanya sebelah sepatu saja tapi mengingat hanya ada satu di dunia maka sudah dipastikan akan terjual sangat mahal.
Nenek, ibu, maafkan Mocca. Tapi yang terpenting adalah masa depan mereka. Mocca harap kalian mengerti, posisi Mocca sebagai seorang ibu.
Malam hari. Melalui bantuan Jean, Mocca berhasil mendapatkan kartu undangan palsu yang tidak jauh dari yang asli. Pergi kesana tinggal menggunakan topeng wajah dan nama samaran, maka tidak akan ada yang mengenalinya.
Kini Mocca sudah siap, dengan gaun cantik dan rambut dikepang menguntai. Bersiap untuk pergi namun si kembar tampak tidak merelakan.
"Mama, bibi bilang disana sangat berbahaya."
Jean memegang tangan Mocca, kekhawatiran terpancar di kedua sorot mata mereka. Mocca paham, sangat paham.
"Mama akan baik baik saja. Jean, jaga Candy, Mama pergi sebentar." Dia menenangkan kedua anaknya terlebih dahulu, setelah memberikan penjelasan pada mereka dia pun pergi. Sesuatu yang ada di depan mata memang harus dihadapi.
Malam yang sama.
Di Restoran bintang 5 di kota,
Leon duduk disebuah meja dengan kursi pasangan, menunggu teman kencannya datang. Mengingat hal itu membuatnya menjadi tidak sabaran untuk segera mencari tahu informasi tentang gadis itu, entah mengapa firasat mengatakan bahwa dialah wanita 7 tahun yang lalu.
Dari waktu yang sudah di tentukan, 10 menit telah terlewat, Ruri belum juga datang.
30 menit kemudian, datanglah orang yang di tunggu tunggu. Anak tiri keluarga Yola, Ruri Yola.
"Selamat malam, Nona Ruri," sapa Leon.
Ruri yang memasang wajah tidak senang hanya melempar senyum pahit padanya. Jika bukan karna ancaman Mama, dia tidak akan mau menghadiri kencan buta itu.
Makan malampun berlangsung, tanpa sepatah kata yang Ruri katakan, dia malah sibuk memeriksa ponselnya dan mengabaikan Leon, "Ehm ... Aku dengar, keluarga Yola memiliki dua orang putri, benar kah?" Ia memulai pembicaraan.
Ruri terdiam, siapa sangka dia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Meski begitu, dia menganggukan kepalanya.
"Menurut rumor dia bunuh diri karna depresi setelah kematian ayahnya, apa benar begitu?" Pertanyaan yang seperti sebuah interogasi.
Ruri mengkerutkan dahinya dibawah tatapan Leon, sebuah tekanan besar. Tapi, memang apa hubungannya dengan Leon? Dia tahu pun tidak akan ada yang terjadi padanya atau Mama.
Melihat reaksi Ruri membuat Leon lebih paham lagi, dia ingin menanyakan beberapa hal lebih banyak lagi padanya, namun tiba tiba ponselnya bergetar.
Panggilan masuk.
"Hallo, Tuan Leon. Ada kabar! Sebuah sepatu bercorak sayap kupu-kupu hadir di sebuah pelelangan di gedung XX." Berita itu cukup mengejutkan. Dia pun bergegas pergi, meninggalkan Ruri sendirian disana.