Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf ...
Sementara disebuah cafe, empat orang pria muda sedang berkumpul.
"Lo kenapa sih, Bro? Muka kucel amat?" tanya Bayu memperhatikan Reyhan.
Tidak ada jawaban dari Reyhan, dia sama sekali tidak bergeming dan matanya terus menatap kosong ke arah luar.
"Don, bos Lo lagi kenapa?" timpal Vano ikut bertanya pada Doni yang sedang asyik memainkan game di hpnya.
Bayu dan Vano adalah sahabat Reyhan sejak SMA. Mereka memang jarang bisa berkumpul bersama karena kesibukan masing-masing, tapi setiap ada waktu senggang mereka menyempatkan diri untuk berkumpul.
"Habis dilabrak cewek, minta tanggung jawab," jawab Doni santai tetap memainkan gamenya.
Kedua orang yang terkejut itu langsung membulatkan matanya menengok ke arah Reyhan.
"Lo ngehamilin anak orang, Rey?" tanya Vano.
"Belum tentu itu anak gue, dia aja udah bekas pas gue tidurin. Siapa yang tau udah berapa laki-laki yang nidurin dia sebelumnya."
"Tapikan Lo udah nidur—"
"Memperkosa!" sela Doni memotong ucapan Bayu.
"Haahh? Gila! Lo udah merkosa anak orang, bikin dia hamil, nuduh dia cewek ****** juga? Lo bener-bener gila bro," sahut Bayu tak percaya.
"Lo tau nggak, Bro? Cewek bekas itu belum tentu cewek nggak bener. Lagian kalo elo ragu, Lo bisa tes DNA pas kandungannya udah besar atau pas bayinya udah lahir. Citra yang pas Lo dapetin masih perawan aja bisa ninggalin elo." Vano mencoba menasehati sahabatnya.
"Shit! nggak usah sebut nama cewek sialan itu, jijik gue," kesal Reyhan dan beranjak meninggalkan teman-temannya.
Reyhan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pikirannya sangat kacau setelah pertemuannya dengan Alina terakhir kali. Dia teringat kembali betapa kasarnya perlakuannya pada Alina malam itu.
"Sialan! kalau aja gue nggak ketemu perempuan itu." Reyhan mengusap kasar wajahnya, dia teringat kejadian yang membuatnya melakukan hal tidak terduga tersebut.
Saat itu Reyhan berada di bandara Amerika setelah menyelesaikan beberapa urusan perusahaan di negara itu. Dia ingin segera kembali ke Jakarta. Reyhan melihat seorang wanita yang sangat familiar baginya. Wanita itu dengan riang berjalan bersama teman-temannya, tanpa mengetahui kehadiran Reyhan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bagaimana bisa Lo bahagia sedangkan gue sendiri yang harus menderita, Citra," gumamnya dalam hati.
Reyhan ingin sekali menghampiri Citra dan menyeretnya saat itu juga, tapi dia harus segera masuk ke pesawat dan juga dia sedang bersama kliennya, tidak mungkin dia memperlihatkan sisi buruknya sekarang.
Sesampainya di Jakarta Reyhan langsung menuju ke sebuah klub malam dan meluapkan semua emosi yang sudah ditahannya dengan mabuk-mabukan.
-------------
Sudah 2 hari sejak kejadian Alina meminta pertanggungjawaban itu, Alina lebih memilih berdiam diri di kamar. Dia masih belum berani mengatakan pada ibunya, dia pun juga tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan ibunya. Ibu Yuni pasti sangat sedih jika Alina meninggalkannya sendirian.
Ting!
Sebuah pesan masuk. Alina meraih ponselnya dan segera membuka pesan yang baru saja masuk.
*Sinta : Al jalan yuk gue jemput.
Alina : yukk*
Sinta mengajak Alina ke kafe langganan mereka untuk nongkrong.
"Al, Lo udah bikin keputusan?" tanya Sinta tanpa basa-basi.
"Gue mau tetep pertahanin anak gue, Sin. Gue siap kalo harus jadi singgel parent, gue nggak mau ngebunuh anak sendiri," jawab Alina yakin.
"Gue salut sama elo, Al. Lo bisa tegar banget ngadepin ini semua. Apa Lo udah ngomong ke Tante Yuni?"
"Belum, Sin. Gue belum siap ngomong ke ibu gue juga bingung gimana ngomongnya," jawab Alina menunduk lesu.
-----------
Alina baru pulang jam 7 malam dia memutuskan untuk mandi karena badannya yang terasa lengket.
Tok-tok-tok!
"Al...ibu masuk yaa?" tidak ada jawaban
Ceklek!
"Al kamu dikamar mandi? ibu mau pinjam gunting kuku, punya ibu rusak," seru ibu didepan pintu kamar mandi.
"Iya, Buk! Ada di laci meja rias," jawab Alina sedikit berteriak.
Ibu membuka laci berwarna coklat tersebut
Sreeet!
Tangan ibu mengambil benda kecil yang ada di dalam laci. Gunting kuku sudah ditemukan oleh ibu.
Dia hendak menutup kembali laci kecil itu, tapi tangan ibu tiba-tiba terhenti dan kedua matanya membulat sempurna melihat benda pipih yang tergeletak diantara barang-barang di dalam laci. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya semakin terasa tercekat saat melihat dua garis merah yang terlihat jelas pada benda pipih itu. Tangan Bu Yuni bergetar saat mengambil testpack itu.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Langkah Alina terhenti saat melihat ibu Yuni memegang benda yang berusaha dia sembunyikan selama ini.
"Ib–ibu, ini–ini tidak seperti yang ibu pikirkan." Alina begitu gugup, dia benar-benar belum siap saat ini untuk menjelaskan kepada ibunya.
"Ibu. Alin bisa jelaskan ini, Bu."
"Apa kamu hamil?" tanya ibu dengan suara bergetar.
"jawab, Al!" seru Ibu Yuni.
Alina tidak bisa menjawab. Dia hanya menunduk, air matanya menetes ia tak sanggup menjawab pertanyaan ibunya. Wanita itu sangat membenci dirinya sendiri saat ini, dia sudah benar-benar membuat ibunya kecewa dan terluka.
Bersambung ....
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍