Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9: Take Care
"Jika kau sudah siap, panggil aku. Aku akan membantumu."
Kalimat itu terdengar sebelum pria itu meninggalkan kamar mandi. Tadi, setelah pria itu beres, dia menggendong Nara dengan keadaan tubuh Nara ditutupi selimut tebal putih menuju kamar mandi. Kini, Nara berendam di bathtub sambil menahan malu dan panasnya kedua pipi. Pikirannya tersirat kejadian tadi sebelum masuk ke dalam bathtub, ketika pria itu melihat tubuh polos Nara saat selimut tebal disingkirkan.
Nara mengelus kulit lengannya yang dipenuhi busa. Begitu juga bagian tubuh lainnya. Nara juga berpikir panjang tentang masa depannya. Bayangkan jika Nara sudah menjabat sebagai istri si dosen tak.tahu diri itu, akankah Nara menginjakkan kaki ke taman kesayangannya lagi? Melihat dunia yang dulunya leluasa, akankah itu terjadi? Jawabannya pasti 'tidak' karena Adam merupakan pria posesif dan suka sekali mengekang Nara. Tapi jika suatu saat Adam berubah total, maka itu adalah keajaiban bin ajaib yang dapat membalikkan orbit Venus.
Di luar sana, pria itu duduk menyilangkan kaki di sofa balon kecil dilapisi kain tipis warna merah yang terdapat di sudut ruangan. Cahaya matahari ditutupi gorden baru bisa menerangi sekitar meja belajar sampai kasur. Dia di pojok sana, tidak begitu kelihatan karena sedikit gelap.
Dia melihat dengan jelas kejadian tadi malam dan tubuh polos Nara saat selimut tebal disingkirkan. Ini membuat sisi kiri bibirnya terangkat.
"Akhirnya aku memilikimu, Nara, dan aku tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini," gumamnya licik.
Nara tidak tahu keadaan di luar sana. Nara juga tidak tahu bila pria itu baru bergumam kata-kata horor. Menikmati suhu air panas, itulah yang dilakukan Nara saat ini. Dia tidak ingin lama-lama berendam karena dia tidak bisa lama bermain dengan air. Jika terlalu lama, dia bisa flu, sakit kepala, atau demam. Ingat, fisik Nara lemah sekali setelah dia masuk rumah sakit saat berumur 10 tahun. Pada saat itu, dia didiagnosis memiliki kelemahan fisik ketika bersentuhan lama dengan yang namanya air.
Nara menggerakkan kakinya sedikit, namun sakit benar-benar menusuk ke dalam tubuhnya. Kedua tangannya menggenggam erat tepi bathtub yang bertekstur licin. Kakinya berusaha ditekuk, tapi tetap saja terjatuh. Yang tadi ia pikir ia akan keluar dari bathtub sendiri, kini pikirannya tak tercapai. Ia berusaha lagi.
"Nara, apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba pertanyaan itu menggema di ruangan kecil ini. Nara mematung di dalam bathtub, melihat kosong ke depan, dan menahan pipi panasnya agar tidak terbakar. Ingin sekali dia menjerit, tapi sudah baik ada seseorang yang ingin membantunya dalam kesakitan ini.
"Aku sudah bilang, jika sudah selesai, panggil aku. Tapi kau tetap saja keras kepala," kata pria itu sembari mendaratkan langkah-langkah cepat untuk sampai di samping bathtub. "Kau tidak akan bisa berjalan sebelum kau beristirahat satu hari penuh, Nara. Jangan terlalu keras kepala."
Nara tercengang mendengar kata itu.
Pria itu berdiri di sebelah kanan bathtub dengan pakaian formal layaknya seorang ketua mafia. Di lengan kanannya, bertengger sebuah jubah mandi-yang dipakai setelah mandi. Tatapannya terpaku pada air yang busanya sudah larut. Lalu dia melihat ketegangan yang diciptakan wajah wanita pujaannya.
"Biar kubantu dirimu. Bisakah kau buka penutup aliran air itu?"
Nara mengangguk paham.
Nara menahan diri dengan menggenggam erat tepi bathub agar tidak ikut pembuangan air yang membentuk spiral. Setelah air itu habis, memasuki pembuangan air, dia menahan malu akan tubuh polosnya. Semakin lama, Nara semakin gelisah melihat setengah badan pria itu dari ujung matanya.
"Sekarang, genggam tanganku." Nara menggenggam tangan yang baru saja diulurkan.
"Tahan sakitnya, Nara." Pria itu menarik tangan Nara diikuti tubuh Nara yang perlahan-lahan bangkit dari tidurannya.
Jubah mandi halus menutupi badan polos Nara setelah Nara berdiri dengan baik di bathtub keramik putih yang licin. Nara mengikat tali yang tersedia dalam jubah mandi. Setelah siap, matanya tidak berani melirik pria itu walau pria itu sudah berubah menjadi pria baik hati.
"Bisakah kau melangkah keluar dari bathtub? Atau harus dibantu?"
Nara tidak menghiraukan perkataan pria itu. Nara sedang berusaha mengangkat kaki kanannya untuk keluar dari bathtub. Sudah terangkat dan melangkah keluar.
"Auch!"
Tiba-tiba saja kaki kiri di belakang Nara terjegal bathtub karena tak bisa diangkat. Kedua tangan Nara mendarat di bidang dada keras terlapisi jas mahal warna biru, menyebabkan bibir pria itu tersenyum. Wajah Nara yang tadi menunduk, kini terangkat. Nara ternganga ditambah mata melihat kanan dan kiri. Tidak sempat mata dikedipkan, pria itu langsung memeluk tubuh mungil Nara. Kepala pria itu menyelip ke bahu kanan Nara dan di belakang sana, tangan pria itu melilit dengan erat.
"Aku mencegah suhu dingin menyakitimu. Kau baru siap berendam dan aku tahu fisikmu lemah."
"Lepaskan," paksa Nara seraya mendorong dada Adam. Adam pun melepaskan pelukan itu, membiarkan Nara berdiri di hadapannya.
"Apa maumu, Nara?" tanya pria itu. Senyuman halus tergambar di wajah tampan pria itu. "Aku bisa melakukan apa pun yang kau mau, bukankah begitu?"
"Ti-" perkataan Nara terpotong.
"Jangan banyak bicara, Sweetheart." Pria itu langsung menggendong Nara dengan bridal style. Mata pria itu tertuju pada mata Nara. Selain tertuju pada mata Nara, kini tertuju pada bibir Nara yang tidak terkatup rapat. Tertuju pula ke telapak tangan Nara yang menyentuh bidang dadanya dilapisi kemeja. Setelah itu, dia tersenyum.
"Tenanglah, aku kuat. Tapi jika kita terjatuh, maka kita akan terjatuh bersama, bukankah begitu?"
Tidak ada jawaban dari Nara. Kini pandangan pria itu tertuju ke depan. Dia berjalan mendekati kursi plastik warna merah yang terdapat sandarannya. Ditempatkan Nara di kursi itu.
"Ingin kubantu untuk mengenakan pakaianmu atau kau sendiri saja?
"Sendiri saja."
"Baiklah, nanti panggil aku bila sudah selesai."
-oOo-
Nara tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah pria itu menempatkannya di kursi meja belajar. Dia hanya menatap kosong jendela tembus pandang yang memperlihatkan awan Kumulonimbus. Tangan kanannya menopang wajahnya. Air matanya menetas. Ingin dia menjerit, tapi tak bisa.
Pikirannya berpikir untuk melarikan diri dari si dosen itu, tapi tetap saja tidak bisa. Pria itu dari tadi duduk di kasur sambil mengamati apa yang Nara lakukan setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Kadang-kadang, pengamatan itu membuat Nara gelisah.
"Nara," panggilan itu membuat Nara cepat-cepat menghapus air matanya. "Kau menangis?"
Alis pria itu mulai berkerut. Suara per kasur berteriak, berarti pria itu turun dari kasur. Pria itu berjalan. Saat ada kursi di dekat dinding, dia mengambil kursi itu. Dia berjalan lagi ke samping Nara dan duduk di kursi yang ia bawa tadi.
"Ada apa?" Pria itu melihat wajah Nara dari samping. "Kau takut denganku? Untuk apa kau takut? Bahkan aku masih seorang manusia yang kau benci. Dan untuk apa kau menangis? Tangisan itu tiada artinya untukmu karena tangisan tak bisa mengubah apa yang terjadi di masa yang terlewatkan."
Punggung tangan pria itu mulai menyeka air mata Nara.
"Aku sudah bilang, aku mencintaimu dan aku takkan melepaskan mu sampai kapan pun. Di mana pun kau berada, aku pasti akan berada di sampingmu. Karena aku tahu, wanita sepertimu, butuh perlindungan abadi."
"Ya, aku ini menyebalkan. Ya, aku ini menjijikkan. Ya, aku ini bodoh sekali. Tapi, apakah karena aku menyebalkan menjijikkan, dan bodoh, aku tidak bisa melindungi wanita sepertimu?" dia bertanya. Perkataannya tulus dari hati. Dia memang perhatian terhadap Nara.
"Sampai kapan kau seperti ini, menangis di hadapanku? Kau tahu, karena tangisanmu, aku merasa cukup, bersalah. Aku tidak suka wanita manja dan sok cantik seperti mereka. Lihat dirimu, kau unik. Kau beda. Dan dari sana, aku mulai tertarik padamu," pria itu terdiam sejenak.
"Kadang, aku bisa menjadi malaikat, namun kadang tidak. Itu semua tergantung tingkah lakumu padaku. Kadang, aku bisa tegas dan terkadang... tidak. Tapi, aku janji, aku akan melindungimu sampai akhir hayatku. Percayalah padaku dan jangan takut."
Kemudian, dia berdiri. Dia berjalan ke belakang kursi Nara. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan mengecup atas kepala Nara dengan lama. Setelah itu, dia mengelus kepala Nara. Kemudian, dia meninggalkan Nara sendiri di ruangan ini.
-oOo-
Tebak siapa Adam yang sebenarnya.
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP