Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.
Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.
Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?
(Remake)
Zhong Li -> Shi Yexian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 8 - Jalan Keluar
“Namanya adalah Gunung Agung… di mana di sanalah Tuhan menduduki tahtanya.” Ucap Hou Tian tersenyum tipis sambil menunjuk sebuah puncak gunung yang tertutupi awan tebal.
“Apakah Senior kenal dengan sosok yang bernama Tuhan itu?” Zhong Li bertanya tanpa mengalihkan pandangannya, dia terus memandang puncak gunung yang baru saja di tunjuk oleh Hou Tian. “Jika anda sudah lama ada di sini, anda pasti mengenalnya bukan?”
Zhong Li mengalihkan pandangannya menatap Hou Tian, dalam sesaat itu, pandangan mereka bertemu. Hou Tian membalas pertanyaan Zhong Li dengan pertanyaan lainnya. “Kenapa, apakah sebenci itu kau kepadanya? Apakah hanya gara-gara doa mu tidak di kabulkan, kau sudah tidak percaya lagi dengannya… Ayolah jangan bersikap seperti anak kecil.”
“Hei, kenapa anda bisa tahu hal itu.” Zhong li menjawabnya dengan muka yang sedikit memerah. Dia bisa mengingat jika saat itu orang yang dianggapnya sebagai adik kandungnya mati terbunuh secara mengenaskan bersama ayah angkatnya.
Sebenarnya masih ada waktu yang sedikit untuk menolong adiknya, di saat-saat itulah ia berdoa sembari memohon-mohon kepada tuhan untuk menolong adiknya yang sudah di ambang kematian, berharap akan datangnya keajaiban yang menimpa tapi malah kenyataan lah yang menjemput.
“Apa senior tahu, biasanya orang yang berdoa kepada Tuhan pasti akan segera terkabul keinginannya beberapa saat setelah itu.” Zhong Li menundukkan kepalanya, dengan matanya yang dipenuhi oleh kesedihan.
“Apakah kau pernah melihatnya?” Hou Tian yang penasaran soal itu langsung memutuskan untuk bertanya kepada Zhong Li.
“Aku pernah melihatnya, saat itu tetangga ku sedang ingin mempunyai anak dari istrinya, kemudian besoknya istrinya langsung melahirkan satu anak.”
“Kau pikir itu bisa di samakan dengan mu!”Hou Tian mendengus kesal karena cerita singkat yang ia dengar dari Zhong Li. ”Kau seharusnya tahu jika kematian itu adalah awal dari sebuah Kehidupan.”
“Eh? Bukankah itu peribahasa nya terbalik?” Zhong Li bertanya memastikan, mencoba untuk mengoreksi perkataan Hou Tian
“Apanya yang terbalik?” Hou Tian yang sedikit tidak terima karena di anggap salah, langsung melirik Zhong Li dengan tajam.
“Kata-kata anda.”
“Tidak! Ini sudah seharusnya sudah benar bukan? Kepala mu saja yang salah.”
“Ah itu semakin membingungkan cepat lanjutkan saja perjalananya, lupakan perkataan ku barusan. Aku sudah ingin segera beristirahat.” Zhong Li mulai kesal dengan perkataan Hou Tian yang terus memojokkannya.
“Tapi, jika memang tahta Tuhan ada di sana, apakah artinya kita saat ini sudah ada di surga, maka dari itulah aku bisa hidup lagi di sini.”
Sekali lagi kepercayaan Zhong Li terhadap kehidupan keduanya mulai goyah. Pemandangan yang sangat indah yang ada di depan matanya ini sudah tidak bisa di samakan dengan pemandangan yang ada di dunia yang ia tempati lagi, pemandangan ini sangat lah indah sampai ia percaya jika ini adalah surga mencoba untuk mengaitkan dengan adanya Tuhan yang sedang duduk di tahtanya, di dekatnya.
“Jika kau ingin melihat pemandangan yang lebih indah dari ‘Kematian’ maka jawabannya adalah ‘Kelahiran’, begitupun juga ‘Kehancuran’. Jika kau ingin yang lebih indah dari itu maka ‘Keberlangsungan’ adalah jawabannya.”
Perkataan dari Hou Tian membuat Zhong Li menatapnya dengan raut wajah bingung. “Apa hubungannya dengan itu?”
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Zhong Li, Hou Tian menggelengkan kepalanya sembari menghela napasnya berat. “Bukan kah sudah ku bilang, kau hanya melihat ini dari sisi hitam dan putih, itulah yang membuat berpikiran jika dunia ini sangatlah hampa.”
“Ku sarankan untuk keluar dari dunia itu selagi bisa.” Hou Tian mendengus pelan. “Lihat lah Matahari sudah terbit, jika kau melihat seperti ini, rasanya sangat indah bukan.”
“Ini memang indah, tapi apa maksudmu dengan seperti ini?
“Lagi-lagi kau masih tidak paham, saat ini kau berpikir sudah terbebas dari dunia yang kejam bukan…” Hou Tian tampak memastikan, di jawab dengan Zhong Li yang mengangguk beberapa kali. “Itulah yang menjadi penyebab, kau bisa melihat keindahan ini.”
“Apakah masih tidak paham, kau lupakan saja perkataan ku barusan, karena lagipula kau juga akan merasakannya sendiri di suatu saat nanti.”
Zhong Li yang masih tidak paham dengan perkataan Hou Tian itu di paksa untuk melupakannya dalam satu kalimat saja.
Ini membuatnya sedikit kesal karena waktunya untuk mendengarkannya berbicara jadi terbuang percuma, tapi ia memutuskan untuk melupakannya dan bertanya tentang suatu hal kepada Hou Tian. “Apakah ada jalan keluar dari sini?”
Dengan santai dan senyuman manisnya Hou Tian menjawab, “Jika di lihat dari pandangan mu yang masih waras, maka sudah tidak ada lagi jalan keluar dari sini.”
“Eh? Bukannya tadi anda bilang jika suatu ruangan ada jalan masuk dan keluarnya, bukankah ini bisa di sebut sebagai tidak kompeten dalam berbicara.”
“Heh, ini bukan soal berkompeten atau tidak, melainkan hanya kau saja yang salah masuk ke dalam jalan yang tidak menjadi jalan yang mu.” Hou Tian terkekeh pelan saat melihat kenyataan.
“Jalan yang salah, maksud anda aku mengambil jalan yang salah? Yang benar saja.” Zhong Li sekarang tampak tidak terima dengan perkataan Hou Tian, entah kenapa saat ini dirinya sangat ingin keluar dari sini dan menikmati Hidup di atas sana dengan pandangan yang berbeda, seperti yang sudah di ceritakan oleh Hou Tian barusan.
“Jika jalan masuk mu adalah terjatuh dari Jurang Neraka, maka jalan keluarnya sudah di tetapkan yaitu kematian mu, itu sudah terikat dengan hukum Tuhan, tidak akan bisa kau hindari lagi.
Tapi karena kau membawa salah satu dari Batu Kehidupan dan menyerapnya di saat-saat kau mau mati, maka sejak saat itu kau sudah tidak lagi menemukan jalan keluar yang kau cari karena sebenarnya jalan itu sudah kau lewati.
Dengan kata lain, dirimu sebenarnya sudah mati karena terjatuh tadi, tapi karena kau membawa Batu Kehidupan saat itu, sekarang kau berhasil hidup lagi.
Dengan ini aku sudah bisa mengatakan jika dirimu sudah bukan lagi manusia, karena berhasil lolos dari Hukum Tuhan yang sudah mengatur kematian mu.”
“Apakah aku harus tersentuh dengan penjelasan mu itu. Tapi yang lebih penting…” Zhong Li mengalihkan pandangannya dari danau, mulai melirik Hou Tian sembari mengerutkan keningnya “Kenapa anda bisa tahu sedemikian banyaknya tentang Batu Kehidupan.”
Tanpa mengalihkan pandangannya kepada Zhong Li, Hou Tian tetap menatap puncak yang tertutup awan itu dengan mata yang terbuka lebar.
“Di era ku dulu dunia yang kau tempati itu lebih kacau dari pada yang kau bayangkan. Di saat itu peperangan karena merebutkan Batu Kehidupan masih terus berlangsung, dan singkat cerita saja! Aku berhasil merebut semua batu yang ada itu dan menjadi dewa tertinggi di dunia ini. Tamat!”
“Entah kenapa aku tidak bisa mempercayai cerita mu, jika kau menceritakannya sesingkat itu.” Zhong Li menatap datar pria paruh baya yang ada di sampingnya itu.
“Apa kau tertarik dengan ceritaku? Nanti akan ku ceritakan saat kita sudah sampai di kediaman ku. Jadi sedikit bersabarlah.”