Sebelum membaca ini, mohon pahami Novel yang berjudul "PERFECT PARADISE" Bisa langsung baca di bab ke 350+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhewhy M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Dapat Restu (Aminah dan Raditya)
Mereka berdua tertawa bersama setelah copet itu dibawa oleh warga. Karena membantu Airy, Rebecca jadi telat pergi ke sekolahnya. Dengan jahatnya Airy meminta Rebecca untuk membolos dan ikut dengannya ke pasar.
"Sekalian aja bolos, kita pergi ke pasar dan makan-makan, gimana?" usul Airy keterlaluan.
"Boleh juga, nih. Let's go, Elsa!" ini lagi tambah keterlaluan.
"Oke, Anna...." jawab Airy berbangga hati sembari menggandeng tangan Ayanna.
"Jika Abi tahu, kalau aku bolos juga karena Mama, pasti Mama kena hukuman lagi, sudah berapa kali Mama dihukum karena lalai," batin Ayanna mengetuk keningnya.
"Bahkan mereka cosplay menjadi Elsa dan Anna frozen sekarang. Untung saja dia Mamaku, kalau bukan.. aku sudah memakai keranjang di kepalaku," imbuhnya.
Anthea memiliki sifat pendiam seperti Adam. Tapi tingkah lebih seperti Akbar yang usil. Berbeda dengan Ayanna yang tumbuh menjadi anak yang bijaksana seperti Aisyah, namun nakalnya seperti Airy yang lebih tak tergolong. Wajah mereka jauh dari Adam dan Airy, mereka lebih mirip Gu dengan mata sipitnya dari pada kedua orang tuanya.
"Jajanan pasar ini kesukaanku, aku sering beli banyak jajanan ini," ucap Airy menunjukkan jajanan pasar kesukaannya.
"Sama banget, Kak. Lihatlah, kita memiliki kesamaan, kita pasti akan menjadi teman yang cocok. Eh, apakah.. dia adikmu?" Rebecca mulai mengada-ada.
"Dia, hahaha dia anak keduaku. Aku sudah memiliki anak 3, eh 4 tapi yang satu meninggal. Jadi masih 3," jawab Airy.
"Waw, emejing.. udah punya anak segede ini saja, Kakak masih terlihat muda, loh. Bahkan, anak kakak ini seperti adiknya kakak, impresif!" ujar Rebecca melahap jajanannya.
"Kakak, aku emang terlihat seperti adiknya Mama. Karena wajahku ini lebih mirip dengan paman kami yang orang Korea," celetuk Ayanna.
"Wah, aku terkejut...." goda Rebecca yang di sambut dengan tawa Airy.
Bukan hanya dengan Airy, Rebecca pun bisa akrab lebih cepat dengan Ayanna. Mereka menghabiskan waktu di pasar dan kulineran di dekat pasar bertiga. Airy sampai lupa jika Adam sudah menunggunya di rumah. Sebaliknya dengan Rebecca yang bolos sekolah, ia siap-siap akan menerima hukuman dari Neneknya. Karena pihak sekolah sudah menelpon Neneknya dengan alasan Rebecca membolos lagi.
"Sampai bertemu lain hari, ya. Oh, iya. Namamu siapa?" tanya Airy.
"Panggil saja Rere, Kak. Aku pulang dulu ya, takutnya nanti Nenekku udah di telpon sama pihak sekolah karena aku bolos, hehehe. Assalamu'alaikum...." pamit Rebecca, ia mengucapkan salam karena tahu Airy dan Ayanna mengenakan hijab.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. hati-hati!" teriak Airy.
Berpisah lah mereka, mereka menghabiskan waktu bertiga sangat lama. Kesan pertama Airy sangat menyukai sifat dan karakter Rebecca, begitu sebaliknya.
"Ma, Kak Rere asik, ya. Mama jarang loh melakukan hal seperti itu lagi, semenjak Tante Amin ke Korea," ujar Ayanna.
"Entah, Mama merasa dia seperti Mama saja. Bar-bar dan tidak jaim dalam hal apapun," jelas Airy.
Di sisi lain, Aminah dan Raditya berkunjung ke rumah Ibunya Raditya lagi. Kali ini, mereka hendak meminta restu dengan sungguh-sungguh, sebelum Aminah kembali lagi ke Korea minggu depan.
"Bismillah, semoga saja hasilnya baik ya, Bang?" ujar Aminah gugup.
"Kamu gugup?" tanya Raditya.
"Huft, bertemu dengan orang yang mengengkang hubungan kita itu bagaikan mendapat pasien anak-anak yang baru saja bertemu aku langsung menangis," jawab Aminah mengelus dadanya.
"Bismillah, kita harus yakin!" ucap Raditya meyakinkan Aminah.
Masuklah mereka, di rumah itu ada Ibu sekaligus Rasid yang sedang duduk-duduk santai di ruang tamu. Selama itu juga, Rasid tidak menikah maupun bekerja dengan benar. Mereka hidup dengan transferan Raditya dan Ayahnya. Salah satu kenapa Rasid menghalangi hubungan Raditya dan Aminah ya karena dirinya tidak mau di stop oleh transferan dari Raditya.
Lalu, yang kedua.. Rasid ini menyukai Aminah. Apalagi mendengar jika Aminah sudah menjadi Dokter hebat di Korea, Rasid menduga jika Aminah memiliki penghasilan yang baik di sana.
"Tidak!"
"Kalian tetap tidak bisa menikah!" tolak Ibunya mentah-mentah.
Upaya menggunakan cara lembut juga sia-sia menurut Raditya. Ia berencana untuk menikah di kampung halaman Ayahnya dan tanpa restu Ibu, Kakaknya. Raditya sudah lelah menunggu sampai delapan tahun untuk mendapat restu Ibunya.
Dengan amat kesal, Raditya mengajak Aminah untuk pulang dan tidak akan menginjakkan kakinya lagi ke rumah itu. Mulai saat itu juga, transferan yang dilakukan Raditya untuk Ibu dan Kakaknya akan ia kurangi. Bukan balas dendam atau bagaimana, Raditya lakukan itu agar Rasid mau bekerja dan mengurus Ibunya yang amat mencintainya dibandingkan Raditya sendiri.
"Kamu yakin, Bang? Tadi, Ibu...." ucapan Aminah tertahan karena Raditya terlihat gemetar.
"Aku ingin sekali memeluknya untuk menenangkan. Tapi, aku sadar jika kami belum boleh melakukan itu, Ya Allah... aku harus bagaimana?" batin Aminah.
Teringat dengan Yusuf yang selalu menyelesaikan masalahnya di sela dengan sholawat. Aminah pun mengikuti cara itu, memang sangat mujarab ketika kita melantunkan sholawat kepada Baginda Nabi disaat kita dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Apakah aku terlalu terburu-buru, Aminah? Tapi ini sudah hampir sembilan tahun aku mencintamu, ini sudah sebagian dari dosaku. Aku harus bagaimana lagi?" ucap Raditya menggenggam erat kunci mobilnya.
"InsyaAllah, pasti ada jalan, Bang. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Kita juga harus minta pendapatnya dengan orang yang lebih dewasa dari kita, orang tuaku misalnya. Atau bisa.. Ayah yang di Malang.. beliau begitu bijaksana, bukan?" ujar Aminah dengan nada bicara yang lembut.
Karena masih memiliki waktu satu minggu, Raditya siap terbang ke kampung halamannya bersama dengan Aminah. Sebelumnya, mereka juga berbicara lebih lanjut dengan Syakir dan Balqis selalu orang tua pihak perempuan.
-oOo-
Di satu sisi, Rebecca datang ke restoran lebih awal. Dikira, Yusuf tidak mengetahui bahwa dirinya tidak ke sekolah, melainkan malah bolos ke pasar dan jajan di sana. Tanpa basa-basi lagi, Yusuf memanggil Rebecca ke ruangannya dan menghukum Rebecca.
"Ba-bagaimana.. Bos, bisa tau kalau aku bolos, sekolah?" tanya Rebecca gugup.
"Nenek keduamu, memberi wewenang hak walinya kepadaku tadi pagi. Dia di telpon dari sekolah, kalau kamu bolos, dan memintaku untuk menghukummu," jawab Yusuf.
"Dan untuk menghukummu, aku akan beri kamu hukuman yang ringan dulu. Sapu halaman dan parkiran resto dengan bersih, sekarang!" tegas Yusuf.
"Kok?" Rebecca mencoba protes.
"Nggak ada kok, kok kan. Sekarang lakukan, atau teman barumu yang mengajakmu bolos itu, aku hukum sekalian!" hardik Yusuf, tanpa mengetahui siapa yang telah mengajari Rebecca bolos sekolah.
Karena tidak ingin masalah tambah panjang, dengan terpaksa Rebecca melakukan hukuman itu. Tapi, yang ia heran kan.. Nenek keduanya kenapa mengalihkan hak walinya kepada Yusuf. Sedangkan ia belum pernah membicarakan tentang Yusuf sama sekali.
Datanglah Cindy merusak mood Rebecca. Cindy terlihat sombong berjalan dengan angkuh di depan Rebecca. "Andai saja ini kawasanku, aku sudah... headshot dirimu, Cindil!" umpat Rebecca dalam hati.
bagus
semangat
cerita yang unik
cerita islami+ mafia
siip lahhh
the best pokok e