Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji seorang Anak
Husnan masih terpaku melihat seseorang itu .Ia langsung mengenalinya bahwa yang sedang menyapu halaman sekolah itu adalah Pak Said .Orang yang menggendongnya saat ia masuk rumah sakit.
"Hus ayo masuk Om akan mendaftarkan mu."ajak om Hendra.
"Om "ucap Husnan sambil menatap ke arah om Hendra.
"Kenapa hus?"
"Om Hendra,sa- saya gak jadi sekolah di sini"ucap Husnan dengan wajah cemas.
"Lho...kenapa kan tadi kamu bilang sekolah ini bagus?"tanya Hendra heran.
"Iya Om, sekolah ini memang bagus tetapi saya tidak nyaman karena bangunan ini terlalu megah.
"Beneran gak jadi sekolah di sini?"tanya Hendra untuk memastikan.
"Iya Om saya gak mau sekolah di sini."
Hendra pun menghela napas panjang"ya sudahlah kalau gak mau sekolah di sini.nanti om carikan lagi."
"Maafkan saya Om nanti kalau sudah di rumah saya ceritakan."
Hendra yang mendengar itu tambah heran."ya sudahlah,ayo kita pulang dulu."
Sesampainya di rumah Hendra...Husnan pun memberanikan diri untuk bercerita dengan om Hendra.ia pun menemuinya dengan gemetar.
"Om... Ada sesuatu yang ingin saya katakan."
"Apa itu.katakan saja."
"Saya sebenarnya masih punya ibu dan adik Om"ucap Husnan .
Hendra yang mendengar itu pun langsung kaget.
"Apa,Kenapa kamu tidak pulang?"tanya Hendra.
"Waktu saya di rawat di rumah sakit,ibu saya tidak mampu membayar biaya rumah sakit.saya merasa hanya menjadi beban bagi ibu.karena itu saya diam-diam meninggalkan rumah sakit dan meninggalkan surat untuk ibu dan adiknya.
Hendra yang mendengar itu pun tidak bisa berkata apa-apa.
"Setelah itu saya berjalan dengan tanpa tujuan.. sampai akhirnya bertemu om."
"Jadi selama ini kamu sengaja menghilang dari mereka."tanya Hendra pelan.
Husnan hanya menundukkan kepala.
"Iya om .Saya ingin sukses dulu. Baru saya mau pulang dan bertemu mereka."
Hendra hanya terdiam sambil menghela napas panjang.melihat Husnan yang terus menundukkan kepala.
"Kenapa kamu tidak minta om untuk mengantarkan pulang?"tanya Hendra.
"Saya belum siap om,saya ingin ibu melihat saya sudah berhasil .saya tidak ingin menjadi beban lagi."
"Baiklah om akan menghargai kamu, tetapi kamu harus ingat satu hal.
Mendengar ucapan itu Husnan langsung mengangkat kepalanya.
"Apa om?"
"Kamu jangan sampai lupa kepada ibumu yang sudah membesarkan mu."
"Baik om saya janji.
Hendra tersenyum tipis.sambil mengusap kepala Husnan.
"Kalau begitu mulai hari ini anggap saja rumah ini sebagai punya rumahmu.Om akan mendukungmu sampai kamu benar-benar siap untuk pulang menemui ibumu.
Husnan mengangguk sambil tersenyum lega "terimakasih Om telah percaya sama aku."air mata Husnan kembali keluar tapi kali ini ia merasa lebih lega karena akhirnya tidak lagi menyimpan rahasia sendirian.
Hendra menatap Husnan cukup lama yang masih menundukkan kepala.
"Dan kamu harus anggap Om bagian dari keluargamu juga."
"Terimakasih Om "sambil memeluk Om Hendra.
Hendra mendengar itu juga ikut terharu."besok om carikan sekolahan lain yang jauh lebih bagus dari yang kemarin."
"Iya Om saya hanya mengikuti perintah om"jawab Husnan sambil melepaskan tangannya dari badan om Hendra.
Hendra terdiam dan berjalan ke jendela sambil menatap ke langit malam.
"Hus.."
"Iya.. om"
"Mulai sekarang kamu jangan memikirkan biaya sekolah dan biaya hidup Om yang akan tanggung."
"Saya tidak ingin merepotkan Om."
"Merepotkan...tidak Hus.. justru om bisa menebus kesalahanku di masa lalu."
Husnan hanya mengangguk tidak berani bertanya. apa yang di maksud menebus kesalahan masa lalu.
"Tidur dulu sana ini sudah malam"perintah Hendra.
"Iya Om." Husnan pun berjalan menuju ke kamar.
Di sisi lain Yuni sedang sholat hajat setelah selesai ia pun berdoa"ya Allah lindungilah anak hamba dan hamba mohon pertemukan lah hamba dengannya dan jauhkan dari orang-orang jahat.Aminnn"
Kemudian Yuni membuka lemari kecil milik Husnan, ia merapikan buku-buku pensil dan baju baju miliknya."Hus..Hus... Ibu tidak mau uang ibu maunya kamu pulang"gumamnya pelan sambil menangis.
Hasan Yang mendengar ibunya menangis ia pun terbangun dari tidurnya dan menghampirinya.
"Bu kenapa Bu ? Kakak baik baik saja jangan terlalu dipikirkan.nanti ibu bisa sakit.kalau sakit gimana Hasan."
Yuni mendengar Hasan itu pun langsung terdiam.
"Benar juga katamu nak nanti kalau Ibu sakit kamu bagaimana."
"Ya sudah tidur lagi sana ibu juga sudah mengantuk mau tidur."
Hasan kembali ke kamarnya sambil sesekali menoleh ke arah ibunya.ia tahu kalau ibunya hanya pura-pura kuat di hadapannya.Yuni melihat pintunya yang tertutup.ia kembali duduk di meja milik Husnan,Yuni mengusap buku milik Husnan sambil melihat tulisannya yang sama seperti di surat yang ia tinggalkan.air mata Yuni mulai mengalir lagi membasahi sebagian buku itu.malam itu terasa sunyi.tidak ada lagi suara Husnan yang biasanya bercanda dengan Hasan sebelum tidur.di malam itu hanya suara jangkrik di luar yang memenuhi sunyi nya di dalam rumah .Yuni pun memutuskan untuk tidur daripada memikirkan Husnan yang membuatnya tidak berdaya.
Di sisi lain Hendra sedang duduk di kursi ruang tamu.ia pun merasa sudah mengantuk dan memutuskan untuk tidur.
Sesampainya di kamar ia membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah foto.tatapannya kosong.
"Seandainya waktu bisa ku putar kembali,aku tidak akan melakukan kesalahan itu."gumamnya sambil memegang foto.
Hendra memejamkan mata sambil memegang foto itu erat.penyesalan yang sudah bertahun tahun kini mulai menghantui pikirannya lagi di malam itu."Maafkan aku... gumamnya lirih sambil mematikan lampu.