Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Nama yang Mulai Dikenal
Utusan itu tidak menunggu lebih lama dari yang diperlukan untuk menyerahkan surat, memberi hormat singkat, lalu berbalik menghilang ke dalam gelapnya jalan kota, meninggalkan Arden berdiri di ambang pintu markas dengan sepucuk surat bersegel di tangannya, seolah beratnya jauh melebihi ukuran kertas yang sebenarnya.
Ness menutup pintu perlahan, matanya masih menatap Arden dengan kekhawatiran yang tidak disembunyikan. "Kau ingin membacanya sekarang, atau menunggu sampai besok pagi?"
"Sekarang," kata Arden, meski suaranya sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Ia mematahkan segel lilin merah itu dengan ibu jari, membuka lipatan kertas di bawah cahaya lentera ruang depan. Corym dan Ilena berdiri di dekatnya, cukup dekat untuk membaca sebagian isi surat itu dari balik bahunya, meski tidak ada yang benar-benar bergerak maju sebelum Arden mempersilakan.
Tulisan tangan di surat itu formal, rapi, khas seorang pejabat yang terbiasa menulis banyak dokumen dalam sehari.
Kepada Arden Voss, pemimpin kelompok Jangkar Kelabu,
Sistem pemantauan energi Guild Petualang Aldenmere mencatat lonjakan anomali Anima berskala signifikan dari lantai menengah Menara Verlanth pada sore hari ini, bertepatan dengan waktu misi kelompok Anda di lokasi tersebut. Lonjakan ini melampaui ambang batas normal untuk aktivitas lantai menengah, dan disusul oleh keruntuhan struktural yang tercatat pada beberapa menit berikutnya.
Anda diminta untuk menghadap Balai Guild Aldenmere secepatnya guna memberikan laporan lengkap mengenai kejadian tersebut. Kehadiran seluruh anggota yang terlibat langsung dalam insiden sangat dianjurkan.
Hormat kami,
Guildmaster Orin Vahl
Arden membaca surat itu dua kali, kata-kata di dalamnya seolah semakin berat setiap kali ia mengulanginya dalam kepala.
"Mereka mencatatnya," gumam Corym, suaranya rendah. "Semuanya. Bukan hanya insiden di altar, tapi juga saat kau..." ia tidak melanjutkan kalimatnya, tidak perlu, karena semua yang berdiri di sana sudah tahu bagian mana yang ia maksud.
"Aku tidak tahu Guild punya sistem yang bisa mendeteksi sejauh itu," kata Ilena, alisnya berkerut, prisma kecilnya masih tersampir di ikat pinggangnya, seolah membandingkan kemampuan alatnya sendiri dengan apa yang baru saja mereka ketahui. "Aku tahu ada sensor dasar untuk memantau area sekitar kota, tapi sampai ke dalam lantai Menara, dan bisa membedakan lonjakan energi sebesar itu dalam hitungan menit..."
"Itu artinya," kata Corym, "kita jauh lebih terpantau dari yang pernah kita duga."
Arden melipat kembali surat itu, tangannya sedikit gemetar, meski ia berusaha keras menyembunyikannya. "Kumpulkan semua orang. Kita perlu membicarakan ini bersama sebelum aku menghadap Guildmaster."
...----------------...
Ruang utama markas, yang beberapa jam lalu masih diisi kehangatan makan malam, kini kembali penuh, tapi dengan suasana yang jauh berbeda. Seluruh anggota berkumpul di sekitar meja panjang, sebagian masih membawa sisa kelelahan dari misi hari itu, sebagian lain sudah cukup segar untuk menampakkan kekhawatiran yang lebih jelas di wajah mereka.
Arden meletakkan surat itu di tengah meja, membiarkan siapa pun yang ingin membacanya sendiri melakukannya, sementara ia menjelaskan isinya secara singkat untuk yang lain.
"Jadi," kata Halden, setelah mendengarkan penjelasan itu, suaranya tenang seperti biasa, "mereka sudah tahu ada sesuatu yang tidak biasa terjadi, meski belum tahu detailnya."
"Benar," kata Arden. "Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak yang perlu kita ceritakan, dan seberapa banyak yang sebaiknya tetap menjadi urusan internal kita."
"Kita tidak bisa berbohong pada Guild soal insiden sebesar ini," kata Corym, duduk di sisi meja dengan lengan bersilang. "Kalau mereka sudah punya data mentahnya, kebohongan hanya akan membuat kita terlihat lebih mencurigakan."
"Aku setuju," kata Arden. "Tapi ada perbedaan antara jujur dan menceritakan semuanya. Kita bisa melaporkan insiden altar, keruntuhan, gelombang monster. Itu semua bisa dijelaskan sebagai risiko eksplorasi normal. Yang tidak perlu kita bahas secara detail adalah..." ia berhenti sejenak, matanya menghindar sesaat sebelum kembali fokus, "...soal reaksiku terhadap fragmen itu, atau soal lonjakan kekuatanku sendiri."
Keheningan singkat menyusul kata-kata itu. Ilena, yang duduk tak jauh darinya, menatapnya lama, jelas ingin membantah tapi menahan diri mengingat janji Arden semalam untuk membicarakan hal itu lebih jauh secara pribadi.
"Aku pikir itu keputusan yang bijak," kata Brann, mengangguk pelan, "setidaknya sampai kita sendiri lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi. Melaporkan sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak mengerti hanya akan mengundang lebih banyak pertanyaan yang tidak bisa kita jawab."
"Tapi bukankah itu berarti kita menyembunyikan sesuatu dari Guild?" tanya Wick, ragu-ragu, suaranya kecil di antara suara-suara lain yang lebih tegas.
"Kita tidak menyembunyikan kejahatan," kata Halden, menatapnya dengan lembut. "Kita hanya menjaga privasi soal sesuatu yang masih perlu kita pahami sendiri. Ada bedanya."
Petra, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara, suaranya penuh energi yang sudah mulai kembali setelah beristirahat dan diobati Sister Yuna. "Bisa aku katakan sesuatu?"
"Silakan," kata Arden.
"Aku mengerti kita ingin berhati-hati," kata Petra, duduk lebih tegak, "tapi apa kita benar-benar sudah memikirkan bahwa ini mungkin kesempatan, bukan hanya masalah yang perlu diminimalkan? Kita baru saja menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari kontrak biasa, dan kita berhasil. Kalau Guild sudah tahu ada anomali energi dari misi kita, mereka akan penasaran soal Jangkar Kelabu, mau atau tidak. Kenapa kita tidak memanfaatkan itu, alih-alih terus-menerus mencoba menyembunyikan diri di bayang-bayang?"
"Petra," kata Corym, nadanya hati-hati, "ini bukan soal ketenaran. Ini soal keselamatan Arden, dan mungkin keselamatan kita semua, kalau apa yang terjadi padanya ternyata sesuatu yang bisa dimanfaatkan pihak lain."
"Aku tahu itu," kata Petra, sedikit lebih tegas dari yang ia inginkan. "Aku tidak bicara soal mengekspos rahasia Arden ke seluruh kota. Aku bicara soal berhenti selalu memilih opsi paling kecil, paling aman, paling tidak terlihat, setiap kali ada kesempatan untuk kita diakui sebagai lebih dari sekadar kelompok kontrak kecil-kecilan."
"Setiap kelompok punya alasan mereka sendiri untuk memilih jalan yang mereka pilih," kata Ilena, suaranya lebih tenang tapi tegas, "dan Arden sudah memimpin kelompok ini bertahun-tahun dengan prinsip itu. Prinsip yang, sejauh ini, menjaga kita semua tetap hidup dan bersama."
"Aku tidak menyerang prinsip itu," kata Petra, meski nada suaranya mulai terdengar frustrasi. "Aku hanya bertanya apakah kita akan terus memegangnya bahkan ketika dunia di luar sana sudah mulai memaksa kita untuk berubah, mau atau tidak."
Ruangan hening sejenak, tegang dengan pertanyaan yang tergantung di udara, sebelum Arden akhirnya angkat bicara, suaranya tenang tapi cukup tegas untuk menghentikan perdebatan yang mulai memanas.
"Petra ada benarnya soal satu hal," katanya, membuat semua mata beralih padanya. "Dunia di luar sana memang mulai memperhatikan kita, mau kita suka atau tidak. Aku tidak bisa mengubah itu. Tapi aku tidak akan membiarkan kekhawatiran soal bagaimana orang lain memandang kita menentukan bagaimana kita bertindak."
Ia menatap seluruh rombongan satu per satu, memastikan setiap orang mendengarkan dengan jelas.
"Besok, aku akan menghadap Guildmaster Orin. Aku akan jujur soal apa yang terjadi, sejauh yang perlu diketahui untuk memastikan keamanan kota dan lantai Menara itu sendiri. Tapi aku tidak akan mengejar sorotan lebih dari yang diperlukan, dan aku tidak akan membiarkan insiden ini digunakan sebagai batu loncatan untuk sesuatu yang belum kita pahami sepenuhnya. Kita menghadapi panggilan ini karena kita harus, bukan karena kita menginginkannya."
Petra menatapnya lama, kekecewaan jelas terlihat di matanya, tapi ia akhirnya mengangguk, meski tidak sepenuhnya setuju. "Baiklah, Kapten. Aku mengerti."
"Aku tahu kau tidak sepenuhnya setuju," kata Arden, lebih lembut sekarang, "dan aku tidak menyalahkanmu untuk itu. Tapi aku perlu kau mempercayaiku pada ini, seperti kau sudah mempercayaiku selama ini."
"Aku selalu mempercayaimu," kata Petra, cepat, hampir defensif. "Aku hanya... ingin kau juga mempertimbangkan bahwa terlalu berhati-hati bisa jadi sama berbahayanya dengan terlalu berani."
Kata-kata itu menggantung di udara, jujur dan tajam dengan caranya sendiri, dan untuk sesaat, Arden tidak langsung menjawab, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari yang ingin ia akui di depan seluruh timnya.
"Aku akan mempertimbangkannya," katanya akhirnya, meski nada suaranya tidak sepenuhnya meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.
...----------------...
Diskusi berlanjut beberapa saat lagi, membahas detail teknis soal apa yang akan disampaikan pada Guildmaster, siapa saja yang perlu hadir, dan bagaimana mereka akan menjelaskan keberadaan Fragmen Inti Verlanth tanpa membuka terlalu banyak soal reaksinya terhadap Arden. Ness mencatat poin-poin penting yang disepakati, Corym memastikan cerita yang akan mereka sampaikan konsisten satu sama lain, dan perlahan, ketegangan di ruangan mulai mereda menjadi kelelahan yang lebih wajar setelah hari yang panjang.
Satu per satu, anggota mulai membubarkan diri menuju kamar masing-masing, hingga akhirnya hanya Arden yang tersisa di ruang utama, duduk sendirian di kursi dekat perapian yang apinya sudah mulai mengecil, menyisakan bara merah yang berdenyut pelan dalam kegelapan.
Ia menatap surat yang masih tergeletak di meja, membacanya sekali lagi dalam hati, mencoba mencerna beratnya konsekuensi yang mungkin menanti esok hari. Kata-kata Petra masih terngiang di kepalanya, bergema lebih keras dari yang ingin ia akui. Terlalu berhati-hati bisa jadi sama berbahayanya dengan terlalu berani.
Ia sudah mendengar variasi kalimat itu sebelumnya, bertahun-tahun lalu, dari mulut yang berbeda, dalam nada yang jauh lebih ringan, lebih penuh keyakinan diri yang hampir mendekati kesombongan. Ia menutup matanya sejenak, mencoba mendorong ingatan itu kembali ke tempat biasa ia menyimpannya, tapi kali ini, ingatan itu menolak untuk pergi begitu saja.
Tangannya bergerak perlahan ke dada, menarik keluar rantai tipis yang tersembunyi di balik bajunya, liontin perak kecil itu berkilau lemah di bawah cahaya bara yang hampir padam. Ia menggenggamnya erat dalam telapak tangannya, ibu jarinya menelusuri ukiran yang sudah nyaris hilang termakan waktu.
Ruangan itu sunyi, hanya diselingi derak kayu dari perapian yang perlahan mendingin, dan bayangan panjang yang terbentuk dari cahaya bara terakhir menari pelan di dinding sekitarnya.
"Bukan sekarang, Selyne," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar, lebih seperti embusan napas daripada kata-kata sungguhan, ditujukan pada seseorang yang tidak ada di ruangan itu, mungkin bahkan tidak ada di dunia ini lagi, tapi yang jelas masih hadir, sekuat apa pun ia mencoba menyembunyikannya, di setiap sudut pikirannya yang paling dalam.
Ia duduk diam beberapa saat lebih lama, menggenggam liontin itu erat-erat dalam kegelapan yang semakin pekat, sebelum akhirnya berdiri dan menaiki tangga menuju kamarnya sendiri, membawa serta beban yang belum siap ia bagikan pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri sepenuhnya.