Evander Aldebaran, seorang anak konglomerat kaya raya yang memiliki berbagai macam perusahaan dengan beraneka jenis bisnis.
Evander dipercaya mengemban tugas istimewa sebagai Wakil Presiden Direktur dari Aludra Entertaiment yang merupakan perusahaan agency artis.
Namun sayangnya dimasa kepemimpinan Evander justru Aludra mengalami kemunduran dan membuat Ayah Evander meragukan kapabilitas putra tunggalnya itu.
Bahkan banyak anggota direksi yang mengajukan mosi pemecatan bagi Evander yang tidak kompeten itu.
Hingga pada akhirnya Evander dipertemukan dengan seseorang yang mampu membangkitkan keterpurukannya dimasa - masa suram itu.
Sampai pada akhirnya Evander bangkit dan dapat menguasai segalanya, namun harus dengan bayaran yang setimpal.
Bagaimana kisahnya? Dan siapakah orang yang melepaskan Evander dari keterpurukan?
Akan kah Evander mampu melawan segala godaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Peony, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESEPAKATAN
Agnetha tampak menunggu seseorang didepan ruang perawatan Neneknya yang kini sudah dipindahkan ke bangsal VIP. Semalam Jason benar – benar mengurus segala pembiayaan juga pengajuan operasi prosedur pemasangan ring.
Terlihat sedikit kelegaan pada wajah Agnetha karena bisa melihat satu – satu nya orang yang ia miliki mendapatkan perawatan terbaik. Bahkan biaya operasi yang sangat mahal sekalipun sekarang tidak begitu membebaninya, ia hanya merasa bersalah pada orang tuannya yang sudah tiada.
“ Maafkan aku Ayah dan Ibu karena aku menjual diriku, tapi percayalah semata – mata hanya untuk kesembuhan Nenek. “ Bisik Agnetha sambil tertunduk lesu.
“ Nona Agnetha, mari ikuti saya. Pak Evander sudah menunggu anda dikantornya, beliau tidak dapat meninggalkan kantor karena sedang banyak janji temu. “ Sapa Jason dengan sopan saat mendapati Agnetha duduk dengan lesu didepan ruang perawatan Neneknya.
“ Ah, Jason! Kenapa kau memanggilku Nona? “ Pekik Agnetha saat mendengar Jason memanggil namanya.
“ Karena Pak Evander mengutus saya untuk melayani anda Nona Agnetha, itu artinya anda bukanlah orang biasa yang dapat saya panggil namanya dengan sembarangan. “ Sikap Jason kali ini mulai berubah, bahkan setelah Agnetha menyadari sikap Jason berubah sejak semalam.
“ Oh? Oke, ayo kita berangkat. “ Agnetha semakin tertunduk lesu melihat Jason yang kini terlihat sangat menjaga jarak dengannya.
***
Setibanya di Aludra Entertaiment Jason langsung membawa Agnetha menuju kedalam ruang kerja Evander. Laki – laki itu tampak sibuk dengan pekerjaannya di layar komputer dimeja kerjanya, sekerjap Evander melirik ke arah Agnetha.
“ Panggil Deandra. “ Tukas Evander memerintah Jason.
Evander beranjak dari kursinya dan mendekati Agnetha yang masih berdiri kaku didekat pintu. Pria tampan itu memandang tajam ke arah Agnetha, kemudian ia duduk pada sofa yang ada didalam sana.
“ Duduklah! “ Perintah Evander pada wanita yang sudah bersepakat akan menikah dengannya itu. Sedikit takut Agnetha melangkah menuju sofa yang berseberangan dengan Evander, tetapi lelaki itu semakin sinis menatap perempuan polos didepannya.
“ Duduklah disampingku ini, aku tidak akan memakanmu! “ Evander melirik kesebelah sofanya yang masih kosong, tetapi Agnetha masih mematung pada sofa didepannya.
“ Kau ini akan menikah dengan ku bukan? Jadi pindahlah kemari! “ Nada tinggi mulai terdengar dari intonasi suara Evander baru saja. Membuat wanita itu menghela nafasnya dengan kasar kemudian memindahkan tubuhnya tepat disamping Evander.
Tok .. tok.. tok
“ Masuk! “ Teriak Evander sesaat ia mendengar pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.
“ Iya Pak?Ada yang bisa saya bantu? “ Terlihat Deandra masuk kedalam ruangan Evander bersama dengan Jason.
“ Deandra, Jason ini adalah Agnetha calon istriku. Tolong bantu kami mempersiapkan segala kebutuhan dan persyaratan pernikahan, aku ingin menikah secepatnya. Semakin cepat semakin baik. “ Tanpa berbasa – basi Evander memperkenalkan Agnetha pada kedua sekretarisnya itu.
“ Deandra, kau bantu dia mengurus kepindahannya ke rumahku dan ajarilah dia berpenampilan. Bawalah Agnetha berbelanja atau sekedar pergi ke salon.Jangan lupa carikan guru les untuk kelas tata krama dan kepribadian “ Ucapan Evander membuat Agnetha memicingkan matanya namun ia tidak berani berucap sepatah katapun. Ia takut dengan sikap Evander yang begitu dominan juga terlihat sangat dingin.
“ Baik Pak. “ Tanpa bantahan maupun pertanyaan Deandra mengiyakan perintah Evander.
“ Dan kau Jason, kau akan menjadi asisten pribadi Agnetha. Kau yang bertanggung jawab penuh atas kegiatan Agnetha sehari – hari. “ Sambung Evander lagi memberikan perintah.
“ Baik Pak. “ Sama halnya dengan Deandra, Jason juga tidak membantah maupun menggulirkan pertanyaan pada atasannya itu.
***
Setelah perkenalan singkat yang dilakukan oleh Evander, kedua sekretaris itu keluar dari ruangan lelaki tampan yang masih duduk diatas sofa bersama Agnetha . Wajah Deandra maupun Jason tampak kebingungan karena rencana pernikahan Evander yang sangat mendadak. Bahkan setahu Deandra, lelaki yang sudah ia layani beberapa tahun belakangan ini tidak pernah berkencan dengan gadis manapun.Hanya sesekali playdate dengan wanita pilihan Ayahnya.
“ Apakah yang ku dengar tidak keliru Jason? “ Wajah Deandra tampak begitu pias.
“ Baru saja aku ingin mengatakan hal yang sama padamu Dee. “ Dengan lemas Jason menjawab pertanyaan rekannya, rekan kerja yang memilik perasaan spesial padanya.
Sementara didalam ruangan Wakil Presiden Direktur tampak Agnetha menatap Evander dengan penuh kekesalan. Ia ingin marah pada lelaki itu namun ia tidak memiliki keberanian untuk melampiaskan amarahnya. Wajah Evander begitu kaku dan sangat tidak bersahabat.
“ Apa kau keberatan harus pindah ke rumahku sebelum menikah? “ Seolah Evander tahu apa yang menjadi beban di hati Agnetha.
“ Apakah tidak terlalu cepat bagiku untuk pindah? “ Dengan hati – hati Agnetha melontarkan jawaban bagi Evander.
“ Bukankah kau harus belajar mengenaliku sebagai calon suami mu, banyak hal yang perlu kau pelajari sebelum menjadi istriku. “ Evander menyilangkan tangannya diatas dada bidangnya itu.
“ Baiklah, lalu apakah aku boleh menyelesaikan studi ku? “ Lagi – lagi Agnetha bertanya dengan sangat hati – hati.
“ Silahkan saja, selesaikan studimu, lakukan lah apa yang kamu mau. Tapi satu hal yang harus selalu kau penuhi adalah melayani ku sebagai istri dan melahirkan putra untukku. “ Kali ini Evander menatap wajah mungil Agnetha.
“ Hmm, baik. “ Seteleh berdehem singkat Agnetha mengiyakan perkataan Evander.
Rasa takut menyelimuti hati Agnetha, karena seolah Evander menikahinya hanya karena ingin dilayani sebagai suami dan menginginkan keturunan saja dari Agnetha. Tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi apapun yang sudah ia putuskan.
“ Satu lagi, kau tidak perlu lagi bekerja paruh waktu atau apapun itu. Cukup jadi istri yang baik untuk ku, maka hidupmu akan baik – baik saja. “ Perkataan Evander baru saja terdengar mengerikan bagi Agnetha, seolah ia akan dibunuh jika ia tidak menjadi istri yang baik bagi Evander.
“ Sebaiknya malam ini langsung pulang ke rumahku, jadi apa jadwal mu hari ini? “ Sambung Evander lagi sambil beranjak dari sofa menuju kursi kerjanya.
“ Malam ini? “ Agnetha terdengar gugup mendengar ucapan Evander baru saja.
“ Iya malam ini, tenang saja aku tidak akan meniduri mu sebelum kau menjadi istriku. “ Tukas Evander terang – terangan seperti tahu apa yang menjadi ketakutan perempuan itu.
“ Lalu apa jadwal mu hari ini? Berikan saja jadwal kuliah mu pada Deandra supaya dia bisa membuat janji temu dengan salon maupun butik. “ Sambung Evander lagi.
" Baik, Evan. Aku siang ini ada janji temu dengan dosen pembimbing pukul dua belas siang, lalu aku ada perkuliahan pukul dua. Selebihnya sudah tidak ada lagi. “ Agnetha menjelaskan perlahan.
“ Oke, jadi kau sudah mau pergi sekarang? “ Evander memandang Agnetha sambil menutup pena hitamnya dan menaruhnya diatas berkasnya.
“ Iya, aku harus segera ke kampus. “ Jawab Agnetha pelan.
“ Ayo, aku antarkan. Apa kau tidak mau makan siang bersama ku? “ Evander kembali berdiri, dan meraih jasnya yang menggantung pada hanger stand disamping kursinya.
“ Aku tidak perlu makan siang, aku masih kenyang. “ Tolak Agnetha karena ia tidak ingin berlama – lama bersama Evander. Meski pria itu sangat mempesona, tetapi sikap angkuh dan dinginnya membuat Agnetha bergidik ngeri padanya.
“ Jadi kau tidak mau makan siang dengan ku? “ Tatapan mata Evander terlihat begitu mengintimidasi perempuan polos yang berdiri didepannya.
“ Bukan, “ Ucapan Agnetha terpotong.
“ Sudahlah jika tidak mau, ayo berangkat. “ Evander membuka pintu ruangannya dan memanggil Jason agar mengikutinya.
keren 👍
suka banget sama ceritanya thor ❤️