“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 Pasrah
Sinar matahari memudar seiring berjalan nya jarum jam, di tengah hiruk-pikuk kehidupan malam hari seorang gadis berjalan tanpa tujuan yang pasti.
Arumi terhenti langkahnya ia memasuki sebuah kedai nasi goreng yang dimana beberapa pembeli sudah memenuhi kedai tersebut membuat ia harus sabar menunggu.
Di lirik nya bangku yang berada di pojok ia bergegas duduk di bangku tersebut. tatapannya kosong ke arah jalanan yang di padati oleh beberapa kendaraan deru kendaraan begitu nyaring mengisi udara malam yang menusuk setiap inci kulit
Sepiring nasi goreng dengan asap yang masih mengepul tersaji di hadapan Arumi, ia harus makan Agar kuat mencari pekerjaan dan tempat untuknya tinggal.
" Dimana lagi aku harus cari kost?, sementara uangku hanya sejuta lima ratus kalau misalnya ngontrak. Habis hanya untuk tempat tinggal " Kata Arumi pada dirinya sendiri tidak ada yang memberinya solusi karena dia hanya sebatang kara.
Kota Jakarta bagaikan jarum yang menusuk setiap pendatang seperti Arumi gadis polos yang berharap kota megah itu bisa memberinya kehangatan, tidak seperti di desanya
Namun harapan itu seperti nya harus terkubur oleh kenyataan pahit. di kota tanpa kerabat yang di kenal akan membuatmu tersiksa selepas dari kedai nasi goreng ia berjalan di trotoar tatapan matanya mengadah ke langit bulan bersinar terang
" Aku harus kemana? " Tanya Nya kepada langit tua yang tidak akan pernah menjawab nya. Ia menggenggam erat tangannya dingin malam menusuk kulitnya
Ia sudah mencoba mencoba peruntungan ke kost-kostan tadi siang tapi, Rata-rata perbulannya satu juta ia tidak mampu apalagi perkerjaan nya belum tetap.
" cewe cantik mau kemana? "
Tungkai kecil itu terhenti tepat di depan ketiga lelaki berbadan kekar. Setiap inci Kulitnya terpenuhi tato yang menyeramkan sekali, tungkai kecil Arumi bergetar hebat
Seolah tidak mampu menahan bobot tubuhnya, ia mengeratkan pelukan nya ke Ranselnya " Kalian mau apa? " Tanya Arumi tergagap penuh ketakutan
" Mau kamu " Sahut Salah satu lelaki bertato tersebut mencolek dagu Arumi membuat Arumi mengcekram tangan tersebut dengan keberanian yang tersisa.
" Akhh! " Pekik lelaki tersebut
" Ibra kamu tidak apa-apa? " tanya Karyo salah satu lelaki bertubuh kekar kulitnya berwarna hitam legam.
" Dasar cewek sialan! " Lelaki bernama Ibra yang di terka Arumi adalah salah satu kapten ketiga lelaki itu pun. Tergerak tangannya mencengkram rahang Arumi
"Akhh! " Raung Arumi saat kuku panjang lelaki itu menusuk kulit rahangnya. Lelaki itu menatap nya tajam tatapan pembunuhnya seolah menguliti gadis desa itu
" Kalau lo mau lepas, layani kita semalam gimana? " Tawar Lelaki tersebut senyuman Predator terbit di wajahnya
" Ngga-akan! " Sahut Arumi terbata-bata
" Kalau ngga mau paksa aja bos! " Seru Karyo membuat Ibra menoleh ke arah kedua anak buahnya. Lalu ia kembali ke Arumi buliran air mata mengalir di wajahnya
" Jangan menangis sayang, kamu tahu ngga kamu menangis pun percuma saja Jakarta tidak akan peduli. Bila kamu di perk*sa! " Kata Lelaki itu dengan suara menyiratkan misteri
" Lepaskan aku!, aku hanya orang miskin yang merantau dan tidak punya apapun! " Mohon Arumi bibirnya bergetar hebat menahan gejolak hati nya.
" Aku Suka gadis yang tahu diri, kalau kamu layani kita lima juta akan ku berikan! " Tawar Ibra lalu teman-temannya tertawa membuat Arumi menggeleng
" Lebih baik aku mati daripada melayani kalian! " Tekan Arumi dengan keberanian yang masih tersisa.
𝘽𝙧𝙪𝙜𝙝!
Arumi dengan cepat meninju Wajah Ibra, membuat lelaki itu terhampas ke arah kiri Arumi bergegas lari namun kedua tangannya tertahan oleh kedua tangan kekar.
Ia menoleh melirik kawan-kawannya Ibra yang tersenyum penuh kemenangan. Begitupun Ibra " Mau lari kemana sayang? "
" Tolong!! " Pekikan itu hanya memecahkan langit malam Arumi bergetar tubunya.
" Jangan jerit-jerit nanti pita suaramu rusak, kasihan " Cemooh Karyo
" Bawa dia ke markas! " Perintah Ibra lalu berlalu begitu saja
" Ngga tolong! " Pekik Gadis itu meraung dari genggaman kedua orang itu
Ibra berbalik lalu mendekati Arumi, tangannya melayang ke udara mendarat di kedua pipi Arumi.
𝙋𝙡𝙖𝙠!
Bunyi nyaring itu memecahkan jalanan malam yang sepi akan kendaraan, tubuh Arumi limbung dan terjerembab ke dinginnya jalan raya yang tidak ada lagi kendaraan lewat.
" Lo buat gue marah! " Lelaki itu menyamakan tingginya dengan Arumi lalu mendorong Rumi seolah dirinya adalah makhluk yang tidak di ingin kan.
𝘽𝙧𝙪𝙠!
Tubuhnya tersungkur di aspal dingin. Lalu Ibra menarik baju nya membuat Arumi tertarik ke tubuh kekar tersebut,
" Gue bakal main kasar kalo lo kaya gitu! "
" Lepas--lepas! " Pekik Arumi
" Gue bakal lepaskan lo kalau lo ikut gue! "
Arumi menangis dengan pasrah ia menganggukkan kepalanya. Membuat senyuman kemenangan terbit di wajah lelaki sangar itu
" Ayo! " Ibra dengan kasar menyeret tubuh Arumi yang tungkainya bergetar karena ke takutan yang mendalam.