NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: HIDANGAN UNTUK KAISAR

Bab 8: Hidangan Untuk Kaisar

Aroma kuah soto ayam kampung premium dan gurihnya parutan kelapa sangrai dari dapur utama di lantai atas selalu menjadi penanda bahwa hari Sabtu telah tiba di kediaman Elrod. Di akhir pekan seperti ini, Victoria biasanya akan meminta para pelayan menyiapkan sarapan mewah untuk dinikmati bersama Gilbert dan anak-anaknya di meja makan marmer berkapasitas dua belas kursi. Namun, kehangatan domestik itu tidak pernah diizinkan merembes turun menembus koridor semen lembap tempat kamar gudang Valerie berada.

Pukul enam pagi, Valerie sudah terjaga sepenuhnya. Tubuhnya yang kurus diregangkan sedikit, merasakan otot-ototnya yang mulai terbiasa dengan ritme berjalan kaki lima kilometer setiap hari menuju sekolah. Tidak ada keluhan, tidak ada air mata penyesalan. Rasa sakit fisik dan dinginnya lantai semen ini justru menjadi kompas terbaik yang mengingatkannya bahwa dia sedang berada di jalur pembalasan dendam yang tepat.

Dia duduk bersila di atas ranjang lipatnya, meraih ponsel pintarnya yang retak seribu. Langkah pertama hari ini adalah menata kelayakan operasional awal setelah dokumen legalitas Pecunia Corp di Cayman Islands resmi disahkan kemarin malam.

"Pecunia Corp butuh sebuah tangan kanan yang agresif di Jakarta," gumam Valerie, matanya memancarkan binar kalkulasi yang dingin. "Seorang kaisar bayangan tidak boleh mengotori tangannya dengan birokrasi domestik secara langsung sebelum waktunya."

Jemari ramping Valerie bergerak taktis, menembus forum-forum tertutup para analis finansial independen dan daftar hitam profesional bursa efek Jakarta. Tak butuh waktu lama bagi memorinya di kehidupan masa lalu untuk menemukan satu nama yang sangat spesifik: Julian Prakasa.

Julian adalah seorang mantan manajer investasi legendaris berusia tiga puluh dua tahun yang tiga bulan lalu mendadak didepak secara tidak hormat dari salah satu sekuritas pelat merah terbesar. Kesalahannya hanya satu: dia menolak memuluskan manipulasi laporan keuangan proyek infrastruktur bodong yang diinisiasi oleh salah satu anak perusahaan Elrod Corp. Akibat kelurusannya, Gilbert Elrod menggunakan pengaruh politiknya untuk memasukkan nama Julian ke dalam daftar hitam perbankan nasional, menghancurkan kariernya hingga pria jenius itu kini terpuruk di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran ibu kota.

Valerie menyipitkan matanya. Dia tahu persis kapasitas Julian—pria itu adalah singa bursa yang terluka. Jika diberi modal tanpa batas dan kebebasan taktis, Julian sanggup merobek-robek portofolio saham sebuah konglomerasi hanya dalam hitungan minggu.

Menggunakan pelayan surel terenkripsi buatan Pecunia Corp Singapura, Valerie mengirimkan sebuah draf penawaran kontrak kerja anonim langsung ke surel pribadi Julian. Isinya singkat, padat, namun sarat akan otoritas mutlak: penunjukan Julian sebagai Direktur Pelaksana PT Pecunia Investama Indonesia, lengkap dengan suntikan modal awal ratusan ribu dolar dari akun kustodian Zurich miliknya.

"Umpan sudah disebar," bisik Valerie, mengunci ponselnya lalu meletakkannya di samping ranjang. Dia tahu, bagi seorang pria yang harga dirinya diinjak-injak sampai hancur oleh kesombongan dinasti Elrod, tawaran dari Pecunia Corp adalah tiket emas untuk pembalasan dendam yang mustahil ditolak.

Pukul 07.30 pagi, perut Valerie mulai berbunyi karena lapar. Selama seminggu terakhir, dia sengaja melewatkan sarapan di meja utama karena tidak sudi melihat wajah-wajah palsu keluarga Elrod sebelum berangkat sekolah. Namun, pagi ini, dia memutuskan untuk pergi ke dapur belakang guna mencari hak asupan nutrisinya yang mendasar.

Ketika Valerie melangkah masuk ke area dapur kotor tempat para pelayan biasa menyiapkan makanan, suasana mendadak canggung. Tiga orang pelayan wanita senior yang sedang merapikan mangkuk-mangkuk porselen mahal seketika menghentikan obrolan mereka dan menatap Valerie dengan pandangan sinis bercampur meremehkan.

Kepala pelayan rumah tangga kediaman Elrod, seorang wanita paruh baya bertubuh gempal bernama Mbok Darmi, berjalan mendekati meja konter kayu dengan langkah yang sengaja dihentakkan. Di tangannya, dia membawa sebuah piring aluminium murah—jenis piring yang biasanya digunakan untuk memberi makan hewan peliharaan atau pekerja bangunan musiman.

Di atas piring itu, terdapat dua lembar roti tawar pinggiran yang sudah agak mengering, sepotong sosis dingin yang tampak layu sisa makan malam Christian tadi malam, dan sedikit olesan margarin murah.

"Ini jatah sarapan buat kamu, Valerie," ucap Mbok Darmi dengan nada suara yang sangat angkuh, bahkan tidak sudi memanggilnya dengan sebutan 'Non' seperti yang selalu mereka lakukan pada Alethea. "Nyonya Victoria bilang, menu sarapan di ruang utama hari ini sangat terbatas dan khusus disiapkan untuk tamu-tamu penting Papa Gilbert. Jadi, kamu makan ini saja di kamar bawah. Jangan naik ke atas dan mengotori ruang makan utama, mengerti?"

Dua pelayan muda di belakang Mbok Darmi tampak menutup mulut mereka, menahan tawa geli melihat "putri kandung" yang posisinya bahkan lebih rendah dari mereka di rumah ini. Mereka sengaja melakukan ini karena tahu bahwa memperlakukan Valerie seperti sampah adalah cara tercepat untuk mengambil hati Victoria dan Alethea.

Valerie menatap piring aluminium itu selama tiga detik. Wajahnya tidak menunjukkan rasa terhina, terluka, atau matanya berkaca-cakah menahan malu. Sebaliknya, dia menatap Mbok Darmi tepat di manik matanya dengan tatapan yang teramat hambar—sebuah tatapan kosong yang entah mengapa membuat bulu kuduk kepala pelayan itu mendadak berdiri.

Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Valerie mengulurkan tangan kanannya, mengambil piring aluminium tersebut.

Mbok Darmi tersenyum puas, mengira gadis panti asuhan ini akhirnya tunduk pada hierarki rumah. Namun, senyuman itu langsung membeku di wajahnya ketika Valerie membalikkan badannya dengan anggun, berjalan dua langkah menuju tong sampah besar berbahan stainless steel di sudut dapur, lalu melepaskan pegangan tangannya.

PRANGGG! CLAKKK!

Piring aluminium beserta seluruh makanan sisa di atasnya jatuh terhempas ke dalam tumpukan sampah dapur, bercampur dengan kulit telur dan sisa sayuran busuk.

"Kamu... apa yang kamu lakukan?!" Mbok Darmi berteriak histeris, wajahnya memerah karena syok dan merasa otoritasnya ditantang. "Lancang sekali kamu ya! Itu makanan masih layak makan! Kalau kamu tidak mau, tidak usah dibuang ke tong sampah! Dasar anak tidak tahu diuntung, sudah ditampung di rumah ini malah bertingkah!"

Valerie membalikkan tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada dinding dapur dengan santai, melipat kedua tangannya di dada.

"Layak makan, katamu?" suara Valerie beralun begitu tenang, namun setiap katanya terasa seperti tusukan needle yang tajam. "Jika makanan sisa dan dingin itu menurutmu layak makan, silakan kamu pungut kembali dari dalam sana dan habiskan sendiri bersama teman-temanmu, Darmi. Perut saya terlalu berharga untuk diisi oleh sampah yang sengaja kamu siapkan demi menjilat pantat Victoria."

"Kamu—!!" Mbok Darmi menunjuk wajah Valerie dengan jari yang bergetar hebat karena amarah yang memuncak. Dia tidak pernah menyangka bahwa anak remaja yang biasanya diam dipojokkan ini bisa mengeluarkan kata-kata sekejam dan sedingin itu tanpa kedipan mata.

Sebelum Mbok Darmi sempat membalas dengan makian lain, Valerie sudah berbalik dan melangkah pergi meninggalkan dapur kotor dengan langkah kaki yang konstan, mengabaikan seluruh teriakan histeris dari para pelayan di belakangnya.

Kembali ke dalam kamar gudangnya, Valerie duduk di tepi ranjang. Dia mengeluarkan ponselnya kembali, membuka sebuah aplikasi layanan pesan-antar makanan premium dari restoran hotel bintang lima yang terletak tidak jauh dari kawasan Menteng.

Dia memesan satu porsi Australian Wagyu Ribeye Steak dengan tingkat kematangan medium-rare, ditemani dengan sup asparagus hangat dan jus jeruk murni tanpa gula—sebuah menu makanan bergizi tinggi yang kaya akan protein dan zat besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh tirusnya saat ini. Total tagihannya mencapai tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, jumlah uang yang setara dengan gaji setengah bulan seorang pelayan di rumah ini.

Tanpa kedipan mata, Valerie melakukan pembayaran instan menggunakan kartu debit virtual dari akun bank digital barunya. Uang hasil ledakan bursa miliknya kini telah memberinya kebebasan mutlak atas apa yang ingin dia masukkan ke dalam tubuhnya sendiri.

Tepat setelah transaksi makanan itu selesai, sebuah notifikasi masuk muncul di bagian atas layar ponsel pintarnya dari aplikasi broker Zurich.

Notifikasi: Akun "V" — Target Keuntungan Terpenuhi (Take Profit Triggered).

Mata hitam pekat Valerie seketika menyipit tajam. Dia membuka aplikasi perdagangan berjangka internasional tersebut. Di sana, grafik harga minyak mentah dunia telah meledak tegak lurus, menembus angka batas atas yang telah dia kalkulasikan sejak pagi tadi akibat sentimen geopolitik yang baru saja dirilis secara global.

Posisi Long berleverage tinggi yang dia ambil dengan sisa modal dari keuntungan saham INOV beberapa hari lalu telah ditutup secara otomatis oleh sistem bursa pada titik tertinggi absolutnya.

Valerie melihat angka saldo barunya yang tertera di layar dalam denominasi Dolar AS, yang kemudian dikonversikan secara otomatis ke dalam mata uang Rupiah oleh sistem pelaporan portofolionya.

Saldo Akun Anonim "V": USD 134,200.00 (Setara dengan Rp2.013.000.000,00)

Dua miliar rupiah.

Sebuah angka yang fantastis, yang berhasil dikumpulkan oleh seorang gadis remaja berusia delapan belas tahun dari dalam sebuah kamar gudang pengap berukuran dua kali tiga meter, hanya dengan bermodalkan sisa-sisa uang receh bursa lokal.

Pintu luar koridor bawah tanah terdengar diketuk pelan oleh kurir pengantar makanan hotel bintang lima yang membawa pesanan mewahnya. Valerie bangkit berdiri, mengambil alih kantong makanan premium berlogo emas itu, lalu menikmatinya di atas meja kayu lapuknya dengan ketenangan seorang ratu sejati.

Sambil memotong daging steak yang empuk dan berair itu, mata Valerie menatap lurus ke arah jendela kecil berteralis di atas kepalanya yang menunjukkan siluet menara utama rumah keluarga Elrod di atas sana.

"Nikmati sisa hari-hari tenang kalian di atas sana, Gilbert, Victoria, Alethea," batin Valerie Vespera dengan seulas senyuman kemenangan yang teramat anggun, dingin, dan absolut di bibirnya yang indah. "Karena dari kamar pojok yang gelap ini, kaisar bayangan kalian telah lahir, dan dua miliar pertama saya sudah siap digunakan untuk merobek seluruh kesombongan kalian."

Bersambung.....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!