Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Dipecat?
Pagi itu, mansion utama keluarga Frederick yang biasanya tenang seperti biara, mendadak berubah menjadi medan pertempuran kecil.
Ben telah memperingatkan Lala sepanjang perjalanan: Jangan menyentuh apa pun, jangan bicara kecuali ditanya, dan—yang paling penting—jangan melakukan gerakan tiba-tiba.
Tentu saja, peringatan itu masuk ke telinga kiri Lala dan keluar melalui telinga kanan.
Saat mereka tiba di ruang tamu besar, Gita, istri Baron, sedang duduk dengan anggun sambil menggendong Alba. Begitu melihat sosok Lala yang berjalan dengan sepatu yang sedikit tidak seimbang, Alba—yang sedang aktif-aktifnya—tertawa girang dan merangkak turun dari pangkuan ibunya, lalu berlari kecil menuju Lala.
"Alba, jangan!" tegur Gita, namun terlambat.
Lala, yang panik melihat balita berlari ke arahnya, mencoba menghindar agar tidak menabrak anak itu. Namun, kakinya tersangkut di pinggiran karpet Persia yang mahal.
Bruk!
Lala terjatuh tepat di depan kaki Alba. Untuk menyelamatkan diri agar tidak menimpa sang putri majikan, Lala secara refleks menyambar vas bunga porselen antik di meja samping. Vas itu tidak jatuh, tapi isinya—air bunga yang melimpah—tertuang tepat ke arah rok sutra mahal yang dikenakan Gita.
Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan.
Ben, yang berdiri dua meter di belakang, merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat Gita yang terperangah menatap roknya yang basah kuyup, dan Alba yang justru bertepuk tangan senang karena mengira itu adalah permainan air.
"Oh, astaga! Maafkan saya! Tuan Putri, maafkan saya!" Lala panik. Ia mencoba bangkit, namun malah menyenggol nampan perak berisi teh panas yang dibawa pelayan.
Prang!
Nampan itu jatuh, cangkir-cangkirnya berhamburan. Ben tidak bisa lagi menahan diri. Ia bergerak secepat kilat, menangkap Lala sebelum gadis itu terjungkal lebih jauh dan menyenggol meja kristal yang lebih besar lagi.
Ben mencengkeram lengan Lala dengan satu tangan, menariknya berdiri dengan posisi yang sangat dekat, napasnya memburu. Wajah Ben yang biasanya stoik kini terlihat kacau—ada guratan frustrasi yang luar biasa di dahinya.
"Lala," desis Ben, suaranya rendah, penuh tekanan, dan sangat jauh dari kata tenang. "Saya sudah bilang... jangan. Bergerak."
"Maaf, Tuan Ben! Saya tidak sengaja, karpetnya terlalu licin!" Lala meringis, wajahnya pucat pasi.
Gita menatap kejadian itu dengan mata membelalak, lalu perlahan, ia mulai tertawa kecil. Tawa yang tulus dan tidak dibuat-buat. "Ben? Kamu membawa... 'bencana' ini ke rumahku?"
Ben menoleh ke arah Gita, wajahnya memerah bukan karena marah, tapi karena malu yang amat sangat. Sebagai asisten yang tidak pernah melakukan kesalahan, ini adalah penghinaan bagi standar efisiensinya.
"Nyonya, mohon maafkan saya. Saya akan segera—"
"Alba suka dia, Ben," sela Gita sambil menggendong Alba yang kini justru memeluk kaki Lala. "Lihat, dia bahkan tidak takut sama sekali."
Ben menatap bawah. Benar saja, Alba sedang memegangi ujung kemeja kebesaran yang dipakai Lala (kemeja yang Ben pinjamkan semalam), tertawa geli.
Ben memejamkan matanya rapat-rapat, menghela napas panjang hingga bahunya turun. Ia merasa sistem sarafnya sedang mengalami overload. Di satu sisi, ia adalah tangan kanan sang penguasa, pria yang ditakuti musuh. Di sisi lain, ia sedang berdiri di mansion utama, dengan seorang desainer ceroboh yang baru saja menumpahkan teh ke rok istri bosnya.
"Lala," bisik Ben tepat di telinga Lala, suaranya sangat dingin namun ada nada putus asa di sana. "Kalau setelah ini kamu tidak memberikan presentasi desain yang bisa membuat tuan Baron terkesima, saya tidak akan menunggu sampai 48 jam. Saya akan membuangmu ke selokan sekarang juga."
Lala hanya bisa menelan ludah, menatap Ben yang tampak begitu kacau namun justru terlihat... sangat manusiawi di matanya.
"Siap, Tuan Robot," bisik Lala pelan.
Ben menghembuskan nafasnya berat—untuk kesekian kalinya hari ini—lalu dengan kaku, ia merapikan jasnya yang sedikit berantakan akibat insiden tadi. "Jangan pernah panggil saya begitu lagi. Ayo, tuan Baron sudah menunggu di ruang rapat."
Ruang rapat keluarga Frederick terasa seperti ruang interogasi paling mewah di dunia. Langit-langitnya tinggi, dindingnya berlapis marmer hitam, dan Baron Frederick duduk di ujung meja dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Ia adalah versi lebih tua, lebih matang, dan jauh lebih berbahaya dari Ben.
Ben berdiri di samping kursi Baron, tangannya terlipat di dada, rahangnya mengeras. Ia sudah bersiap untuk menahan Lala jika gadis itu tiba-tiba tersandung atau menyenggol sesuatu.
Lala melangkah maju. Kakinya sedikit gemetar—bukan karena takut pada Baron, tapi karena ia baru saja hampir tersandung kabel proyektor yang melintang di lantai. Ia menarik napas panjang, menatap Baron, lalu menatap Gita yang tersenyum menyemangati dari sudut ruangan.
"Tuan, Nyonya," suara Lala bergema di ruangan yang sunyi.
Ia mulai memaparkan konsepnya. Berbeda dengan presentasi kaku yang biasa diterima Baron, Lala berbicara dengan penuh gairah.
Ia menceritakan tentang bagaimana lounge tersebut harus menjadi tempat di mana seorang pemimpin—seperti Baron—bisa melepaskan topeng kekuasaannya. Ia menjelaskan detail pencahayaan yang ia desain agar mata Baron bisa beristirahat dari cahaya biru layar monitor, dan material peredam suara yang akan membuat ruangan itu menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana rahasia bisa tersimpan aman tanpa gangguan.
Saat Lala menunjukkan simulasi 3D-nya, ruangan itu hening total.
Ben, yang awalnya memantau dengan mode "robot waspada", perlahan-lahan menurunkan tangannya. Ia tertegun. Ia telah melihat desain itu berkali-kali di apartemennya, tapi saat Lala mempresentasikannya dengan detail yang begitu emosional, desain itu berubah menjadi sesuatu yang hidup. Itu bukan sekadar perabot; itu adalah kenyamanan.
Baron Frederick, yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datar yang mengintimidasi, perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap layar, lalu menatap Lala yang sedang menjelaskan dengan semangat hingga tangannya bergerak-gerak secara tidak sadar (dan hampir menyenggol gelas air di meja, yang untungnya berhasil ditangkap oleh tangan refleks Ben sebelum jatuh).
"Material peredam suara itu," suara berat Baron memecah keheningan. "Kau yakin itu bisa bertahan dalam jangka panjang? Lounge itu sering digunakan untuk pertemuan rahasia."
"Kualitas nomor satu, Tuan," jawab Lala tegas, keberaniannya muncul saat bicara soal desain. "Dan saya sudah memperhitungkan sistem ventilasi agar tetap kedap suara meski diisi penuh."
Baron menoleh ke arah istrinya. Gita, yang sudah mengganti roknya namun masih terlihat sedikit geli mengingat insiden teh tadi, mengangguk antusias. "Sayang, aku sangat menyukainya. Itu terasa hangat. Tidak seperti desain konsultan lain yang membuat rumah kita terasa seperti kantor kedutaan."
Baron menatap istrinya sejenak—tatapan yang langsung melunak saat bertemu dengan mata Gita. Ia kemudian kembali menatap Lala.
"Ben," panggil Baron tanpa menoleh.
"Ya, Tuan?"
"Berikan dia kontraknya. Kita akan pakai desain ini."
Baron bangkit dari kursinya, memberikan anggukan singkat pada Lala sebelum berjalan keluar ruangan, diikuti oleh tim keamanannya. Ruangan itu langsung terasa lebih lega bagi Lala.
Lala mengembuskan napas panjang, bahunya merosot turun karena lega. "Ya Tuhan... aku hampir mati berdiri."
Ben yang sejak tadi menahan napas, akhirnya bisa bernapas normal kembali. Ia menatap Lala dengan tatapan yang kini bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan campuran antara rasa tidak percaya dan... sesuatu yang lebih dalam.
"Kamu melakukannya," gumam Ben, suaranya pelan.
"Tentu saja!" seru Lala bangga, meski kemudian ia limbung karena efek adrenalin yang mulai habis.
Ben dengan sigap menangkap bahu Lala sebelum gadis itu benar-benar jatuh. Kali ini, ia tidak menariknya dengan kasar. Ia membiarkan Lala bersandar sejenak, memegang bahu gadis itu dengan cengkeraman yang stabil dan protektif.
"Untuk seseorang yang nyaris membakar gedung dan menumpahkan teh ke rok Nyonya, desainmu luar biasa," ucap Ben, sebuah pujian langka yang nyaris tidak terdengar.
Lala mendongak, menatap mata abu-abu Ben yang kini terlihat lebih tenang. "Jadi, saya tidak jadi dipecat, Tuan Robot?"
***
Like dan komen dong 😁
jadi nikmati aja alurnya