NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benturan Dua Poros

Deru mesin supercar berkapasitas silinder besar membelah keheningan gerbang barat Universitas Dirgantara. Mobil sport berkelir hitam legam dengan logo kuda jingkrak itu bermanuver mulus, meliuk di antara jajaran kendaraan lain sebelum akhirnya berhenti tepat di area parkir VVIP yang terletak di depan gedung utama fakultas. Ketika pintu model scissordoor terangkat ke atas secara anggun, hawa dingin dari pendingin kabin berbaur dengan aroma kemewahan yang langsung menguasai atmosfer sekitarnya.

Elang Dirgantara melangkah keluar dari dalam kabin.

Sebagai cucu tunggal dari Wirawan Dirgantara, sang maestro bisnis pemilik mega-korporasi Dirgantara Perkasa, Elang adalah definisi berjalan dari hak istimewa yang absolut. Postur tubuhnya tinggi tegap, dengan rahang tegas dan sepasang mata elang yang selalu menatap dunia di bawahnya dengan pandangan meremehkan. Pagi ini, ia mengenakan jaket bomber rancangan desainer Italia berharga puluhan juta rupiah, dipadukan dengan kaos putih polos dan jam tangan kronograf mewah yang berkilau tajam di bawah sengatan sinar matahari pagi.

Bagi Elang, kampus ini bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan wilayah kekuasaan yang menyandang nama besar keluarganya. Segala hal di tempat ini, mulai dari nama yang terukir di gerbang depan hingga fasilitas perpustakaan megah, adalah bukti nyata dari dominasi finansial sang kakek.

"Pagi, Elang! Jaket baru nih, gila keren banget!"

"Bro, Elang! Nanti malam jadi ikut clubbing di Senopati, kan? Meja udah gue pesen atas nama lo."

Baru saja melangkah lima meter dari mobilnya, Elang sudah dikelilingi oleh sekelompok mahasiswa pelayan ego, para penjilat dari kalangan kaya yang selalu mencari validasi dengan menempel pada lingkar pergaulannya. Elang hanya merespons dengan anggukan kepala yang samar, hampir tidak kentara. Senyumnya tipis, sarat akan keangkuhan seorang pangeran mahkota yang tahu bahwa seluruh orang di sekelilingnya bisa dibeli dengan selembar cek.

Ia berjalan melewati lobi dengan langkah yang santai namun mendominasi, membiarkan kerumunan di depannya membelah dengan sendirinya seperti Laut Merah. Egonya yang setinggi langit telah diberi makan dengan sangat baik sejak ia lahir. Di dalam kepala Elang, dunia berputar di sekeliling porosnya, dan tidak ada satu pun manusia di kampus ini yang memiliki hak, atau keberanian, untuk berdiri sejajar, apalagi menghalangi jalannya.

Konsep absolut tentang dunia yang berputar di sekeliling Elang mendadak retak saat ia melangkah memasuki koridor penghubung lantai dua menuju ruang dekanat. Elang berjalan sembari memeriksa pesan di ponsel pintarnya, mengabaikan navigasi matanya terhadap sekitar karena ia terbiasa dengan asumsi bahwa orang lain yang akan selalu mengalah dan menyingkir dari jalurnya.

Namun, dari arah berlawanan, Citra Kencana sedang melangkah dengan ketenangan seorang kesatria purba. Jiwa Nyai Kencana yang kini mengendalikan raga Citra berjalan dengan postur tegap lurus, membawa tumpukan berkas proposal kegiatan mahasiswa di tangan kirinya. Berbeda dengan mahasiswi lain yang akan langsung meminggirkan tubuh mereka ke dinding begitu melihat bayangan Elang Dirgantara dari jarak sepuluh meter, Citra tetap mempertahankan jalurnya dengan presisi yang kokoh. Bagi seorang mantan pengawal ring satu kerajaan, mundur atau mengalah pada sosok yang tidak menunjukkan tata krama di ruang publik adalah bentuk penghinaan terhadap disiplin kanuragan.

Brak!

Bahu kanan Elang membentur bahu kiri Citra dengan cukup keras. Benturan itu membuat ponsel di tangan Elang hampir tergelincir, sementara beberapa lembar kertas dari berkas yang dibawa Citra bergetar, namun posisi tubuh Citra tetap berdiri kokoh, bergeming bagai batu karang di tengah deburan ombak. Justru Elang yang terpaksa mengambil satu langkah mundur untuk menyeimbangkan tubuhnya yang sempat terhuyung kecil.

Ego Elang seketika menyala, terbakar oleh rasa terkejut yang luar biasa. Ia menurunkan ponselnya, lalu menatap tajam ke arah gadis di hadapannya dengan mata yang berkilat amarah.

"Heh! Punya mata gak sih lo?!" sembur Elang, suaranya yang berat bergema kasar di sepanjang koridor, menarik perhatian belasan mahasiswa yang berada di sekitar sana. "Kalau jalan itu lihat-lihat! Lo gak tahu siapa gue, hah?"

Citra Kencana tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia perlahan merapikan lembaran kertas di tangannya dengan gerakan yang teramat anggun, seolah-olah gertakan Elang hanyalah desir angin malam yang lewat. Ketika ia mendongak, sepasang mata bulatnya menatap lurus ke dalam manik mata Elang, sebuah tatapan yang begitu dingin, dalam, dan sama sekali tidak menyembunyikan rasa takut.

"Jalan ini memiliki lebar empat depa," ucap Citra, suaranya terdengar jernih, tenang, namun memiliki tekanan berwibawa yang membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak mendung. "Dan raga Anda hanya menghabiskan sepertiga dari ruang tersebut. Jika Anda menggunakan mata Anda untuk menatap benda datar di tangan Anda daripada melihat ke depan, maka yang bermasalah bukan mata saya, melainkan cara Anda membawakan diri di tempat umum."

"Apa lo bilang?!" Elang melangkah satu depa lebih dekat, rahangnya mengeras. Ia tidak pernah, seumur hidupnya, didebat dengan kalimat sekeras itu oleh seorang mahasiswi, terlebih lagi seorang mahasiswi yang mengenakan pakaian sederhana tanpa merek. Elang melirik sekilas ke arah kartu tanda mahasiswa yang tersampir di tas Citra. "Oh... Citra Kencana. Anak beasiswa subsidi yang mukanya sering dipajang di mading fakultas itu? Berani banget lo nyolot di depan gue. Lo pikir otak pintar lo itu bisa bayar ganti rugi kalau ponsel gue rusak, hah? Gue bisa bikin beasiswa lo dicabut dalam satu menit kalau gue mau!"

Mendengar ancaman itu, Citra justru menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Sebuah senyuman meremehkan yang memotong habis sisa keangkuhan Elang.

"Ancaman yang sangat kekanak-kanakan untuk seseorang yang berlindung di balik nama besar kakeknya," balas Citra dingin, nadanya tetap datar tanpa riak emosi. "Gelar dan harta yang Anda pamerkan pagi ini... tidak satu pun yang lahir dari keringat Anda sendiri. Anda hanyalah seekor burung muda yang berkicau lantang karena berada di dalam sangkar emas yang dibangun oleh orang lain. Tanpa sangkar itu, Anda tidak lebih dari sekadar angin lalu."

"Lo…!" Wajah Elang memerah padam karena murka. Kata-kata Citra menghantam titik paling sensitif dari harga dirinya. Egonya terluka parah di depan umum, di hadapan para pengikutnya yang kini mulai berbisik-bisik dengan wajah tegang. Pertengkaran sengit ala anjing dan kucing yang penuh percikan permusuhan pun pecah di tengah koridor, dengan Elang yang siap meledak karena gengsi yang tercabik-cabik.

"Waduh, waduh... ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah pasang urat leher, Rek?"

Sebuah suara dengan intonasi yang santai dan logat Jawa Timur yang kental mendadak memotong ketegangan yang hampir mencapai titik didih. Dari balik kerumunan, muncul seorang pemuda bertubuh sedang dengan pakaian yang teramat kasual, kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan penuh, mengekspos kaos dalam hitam, serta sandal gunung yang tampak kontras dengan lantai marmer kampus.

Surya. Sahabat dekat Elang yang berasal dari Malang. Bertolak belakang dengan lingkaran pergaulan Elang yang dipenuhi para penjilat gila harta, Surya adalah satu-satunya orang di kampus ini yang berani berbicara blak-blakan pada Elang tanpa memedulikan status finansial cowok tersebut. Karakternya bijak, santai, hidup sederhana, dan selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin.

Surya segera menyusup ke tengah-tengah mereka, meletakkan tangan kirinya di dada Elang untuk menahan langkah sahabatnya yang tampak ingin merangsek maju.

"Wis, Lang... sabar, sabar. Malu dilihat anak-anak, kok musuhnya cewek," ujar Surya sembari terkekeh pelan, mencoba mencairkan atmosfer yang membeku. Ia kemudian menoleh ke arah Citra, memberikan anggukan hormat yang ramah. "Sembah nuwun ya, Mbak. Maafkan teman saya ini, aslinya dia memang kurang minum air putih kalau pagi, jadi gampang emosi."

Citra menatap Surya selama sekejap, mengenali ketulusan dan energi damai dari pemuda tersebut. Ia memberikan anggukan kepala yang anggun sebagai balasan, lalu kembali menatap Elang dengan satu pandangan dingin terakhir. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Citra membalikkan badannya, berjalan menjauh dengan langkah tegap, ritmis, dan penuh wibawa seorang kesatria, meninggalkan koridor tersebut.

Elang masih menatap punggung Citra yang kian menjauh dengan napas yang memburu. Tangannya mengepal kuat di dalam saku jaketnya. "Sialan! Siapa sih cewek gila itu?! Berani-beraninya dia ngomong kayak gitu ke gue! Gue bersumpah, Sur, gue gak mau lihat muka cewek itu lagi di kampus ini!"

Surya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kekesalan sahabatnya yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia melepaskan tangannya dari dada Elang, lalu menepuk-nepuk bahu cowok kaya itu dengan ekspresi wajah yang digoda habis-habisan. sebuah cengiran lebar terukir di wajah ramah Surya.

"Halah, Lang, Lang... jangan terlalu keras begitu toh bicaranya," celetuk Surya dengan nada jenaka yang khas. "Awas, Elang... pepatah kuno itu selalu benar. Jangan terlalu benci, nanti malah jadi cinta, lho. Nanti kalau sudah telanjur kepikiran terus, baru tahu rasa kamu."

"Cinta?! Mata lo tekor!" sembur Elang, makin meradang mendengar celetukan legendaris sahabatnya. "Gue? Jatuh cinta sama cewek aneh, miskin, dan gak punya sopan santun kayak dia? Dalam mimpi lo pun gak bakal terjadi, Sur!"

"Yo wis, kita lihat saja nanti," sahut Surya santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh semburan amarah Elang. Ia merangkul pundak Elang, mencoba mengalihkan perhatian cowok itu agar tidak terus-menerus memandangi koridor tempat Citra menghilang. "Daripada kamu ngamuk-ngamuk gak jelas bikin keriput, mending nanti malam mampir ke tempatku. Lapak 'Angkringan Tenda' punyaku buka jam tujuh di dekat pertigaan luar kampus. Tak buatkan kopi joss sing mantap, biar pikiranmu agak lurus sedikit."

Elang hanya mendengus kasar, membiarkan dirinya dituntun oleh Surya berjalan menuju ruang kuliah. Meskipun mulutnya terus menggerutu dan menyumpah-nyumpah tentang betapa buruknya sikap Citra Kencana, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah riak penasaran yang aneh mulai merayap. Sepasang mata elang milik Citra yang dingin dan penuh wibawa tadi terus membekas di dalam ingatannya, menciptakan sebuah teka-teki psikologis yang merusak fokusnya sepanjang hari. Elang tidak menyadari bahwa benturan ego pagi ini adalah awal dari untaian takdir baru yang akan membalikkan seluruh hidupnya yang sempurna.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!