NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Baru di Atas Luka Lama yang Belum Kering

Detik-detik waktu merayap maju dengan kepasrahan yang menyiksa. Di dalam rumah yang telah menjelma menjadi penjara terkunci, Alessa duduk bersandar di lantai ruang tamu, tepat di bawah bayangan lemari jati tua yang kayunya sudah mulai lapuk. Sinar matahari siang menembus kaca jendela yang buram karena debu bertahun-tahun, menyinari bercak-bercak darah kering di atas ubin semen tempat Alessa diseret pagi tadi. Suasana begitu sunyi, jenis kesunyian yang mencekam, seolah-olah seluruh isi rumah sedang menahan napas bersama Alessa, menunggu lonceng kematian berbunyi pada pukul delapan malam nanti.

​Sekujur tubuh Alessa terasa laksana terbakar. Jalur luka sabetan ikat pinggang kulit dari penyiksaan malam-malam sebelumnya belum lagi mengering, masih menyisakan rona kemerahan yang bengkak dan berdenyut ngilu. Dan kini, benturan keras pada dinding yang dilakukan oleh Rian beberapa jam lalu telah sukses merobek kembali jaringan kulit yang baru saja hendak menyatu. Darah segar kembali merembes dari punggungnya, membasahi kain kemeja biru pudar milik mendiang ayahnya hingga terasa lengket dan dingin saat menempel di kulit yang terbuka.

​Setiap gerakan kecil, bahkan hanya untuk menarik napas dalam-dalam, memicu gelombang rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang sengaja menancapkan pecahan kaca ke dalam otot-otot punggungnya, lalu memutarnya dengan lambat. Alessa meringis, giginya saling bergelatuk menahan erangan yang nyaris lolos dari tenggorokannya yang kering.

​Air matanya merembes keluar lagi, lambat namun konstan, meluncur di atas pipinya yang membengkak akibat lebam keunguan. Kesedihan yang teramat mendalam kembali datang melanda jiwanya yang rapuh, seperti kabut tebal yang menggelapkan seluruh sudut pikirannya. Dia merasa benar-benar hancur dan ditinggalkan. Di dunia yang seluas ini, dengan jutaan manusia yang berlalu-lalang di luar sana, tidak ada satu pun pasang mata yang peduli bahwa di dalam rumah nomor tiga belas ini, seorang gadis yatim piatu sedang sekarat menanggung siksaan yang bertubi-tubi.

​“Mamma, Papà... kenapa penderitaan ini tidak pernah selesai?” ratap Alessa dalam hati, dadanya naik turun dengan tidak teratur karena menahan sesak. “Luka yang kemarin belum sempat sembuh, kenapa sekarang harus ditambah luka baru lagi? Sampai kapan aku harus membayar dosa-dosa Kak Rian dengan darahku sendiri?”

​Rasa kehilangan akan figur pelindung orang tuanya terasa semakin mencekik di tengah kondisi fisiknya yang babak belur. Alessa memejamkan mata, mencoba mencari kenyamanan di dalam memori masa kecilnya yang indah. Namun, bayangan-bayangan kebahagiaan itu kini terasa laksana fatamorgana yang kejam, sebuah pengingat abadi bahwa hidupnya yang sekarang telah jatuh ke dalam jurang kekelaman yang mutlak.

​Amarah yang membara ikut meletup di sela-sela rasa sedihnya. Amarah kepada Rian yang telah merenggut haknya untuk hidup tenang, amarah kepada bandar judi yang memperlakukannya seperti barang taruhan, dan amarah kepada takdir yang seolah-olah terus-menerus menimbun penderitaan di atas pundaknya tanpa memberikan jeda untuk sekadar bernapas. Dia ingin bangkit, dia ingin menghancurkan pintu depan yang digembok itu dengan kapak, dia ingin berteriak menantang dunia. Namun, kenyataan pahit bahwa tubuhnya bergetar hebat karena kekurangan gizi dan rasa sakit yang melumpuhkan seketika menghempaskan seluruh angan-angan perlawanan fisiknya kembali ke atas ubin yang dingin.

​Di titik terdalam dari penderitaan emosional dan fisiknya itu, ketika jiwanya hampir saja menyerah kalah pada kegelapan depresi total, sekring anomali psikologis di dalam otak Alessa kembali menyala secara otomatis. Komedi gelap dan sarkasme radikal adalah satu-satunya katup penyelamat darurat yang dipasang oleh alam semesta agar struktur kesadaran mental Alessa tidak pecah berantakan menghadapi kegilaan ini.

​Alessa membuka kelopak matanya yang bengkak perlahan. Dia menatap ujung kemeja biru pudarnya yang kini bernoda merah gelap di bagian samping akibat rembesan darah dari luka barunya.

​Dia menghapus air matanya dengan gerakan kaku menggunakan punggung tangan, lalu mendengus getir. Sebuah tawa kecil yang serak dan parau lolos dari bibirnya yang pecah.

​"Hebat banget..." gumam Alessa, suaranya terdengar datar dan sarat akan ironi yang kental. "Gue rasa kulit punggung gue ini sudah punya sistem stratifikasi geologi sendiri. Ini lapisan paling bawah adalah luka sabetan hari Selasa, di atasnya ada lebam hari Kamis, dan yang paling atas yang masih hangat ini adalah karya seni terbaru Kak Rian edisi Jumat pagi. Lengkap banget koleksinya, sudah mirip pameran museum purbakala penderitaan manusia."

​Dia mencoba mengubah posisi duduknya agar punggungnya tidak menyentuh dinding, menimbulkan erangan sakit pendek yang kembali membuatnya memejamkan mata selama beberapa detik.

​"Kalau ada dokter spesialis kulit yang lihat punggung gue sekarang, mereka pasti bakal langsung dapet gelar profesor tanpa perlu bikin jurnal ilmiah," lanjut Alessa dengan komat-kamit sarkas pada dirinya sendiri. "Mereka tinggal bikin judul: Analisis Akumulasi Luka Baru di Atas Luka Lama Akibat Manajemen Emosi Kakak Kandung yang Hancur Total. Pasti langsung viral dan menang penghargaan internasional."

​Sarkasme konyol itu, meskipun tidak bisa mengurangi rasa perih yang membakar di kulitnya, setidaknya berhasil menarik jiwa Alessa keluar dari pusaran rasa kasihan pada diri sendiri yang tidak berguna. Menertawakan kemalangan adalah cara Alessa menegaskan kembali harga dirinya yang tersisa; sebuah proklamasi sunyi bahwa meskipun Rian bisa merobek kulit fisiknya berulang kali, monster itu tidak akan pernah bisa menyentuh atau menghancurkan selera humor gilanya yang bebas.

​Namun, realitas waktu tidak bisa dikelabui dengan lawakan belaka. Alessa menoleh ke arah jam dinding plastik bergambar kartun bebek yang menempel di dekat dapur. Jarum jam menunjukkan pukul dua siang. Itu artinya, dia hanya memiliki waktu enam jam lagi sebelum orang-orang kejam dari pelabuhan datang membawa rantai besi untuk menyeretnya ke atas kapal besar.

​"Aku harus mengobati luka ini dulu," bisik Alessa dengan tekad yang mendadak mendingin di dalam matanya. "Gue gak bisa kabur nanti malam kalau kondisi punggung gue masih basah dan berdarah-darah begini. Yang ada gue pingsan di tengah jalan karena kehabisan darah sebelum sempat keluar dari kompleks."

​Dengan bersusah payah, menggunakan kedua tangannya untuk menumpu pada lantai, Alessa memaksa tubuh ringkihnya untuk berdiri. Rasa sakit yang teramat sangat langsung menyengat seluruh tulang belakangnya, membuat pandangannya mendadak gelap gulita selama beberapa detik akibat penurunan tekanan darah secara drastis. Dia berpegangan erat pada tepi meja kayu ruang tamu, menstabilkan napasnya yang memburu dengan menahan gigi agar tidak berteriak.

​Setelah kesadarannya kembali stabil, Alessa berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi belakang. Dia memeriksa kotak kecil di bawah wastafel, tempat dia menyembunyikan sisa-sisa kapas dan sebotol kecil cairan antiseptik murah yang kemarin diberikan oleh Maya. Isinya tinggal sedikit sekali, mungkin hanya cukup untuk beberapa tetes terakhir.

​Alessa melepas kemeja biru pudarnya dengan sangat perlahan. Setiap kali kain kemeja itu ditarik menjauh dari kulit punggungnya, rasa sakitnya luar biasa menyiksa karena kain tersebut telah menempel pada darah yang mulai mengering. Alessa harus membasahi kemeja itu dengan sedikit air dingin terlebih dahulu agar jaringannya melunak, sebuah proses yang memicu rasa perih yang membuat sekujur tubuhnya gemetar hebat laksana tersengat aliran listrik.

​Setelah kemeja terlepas, Alessa menatap pantulan punggungnya melalui cermin wastafel yang buram. Di dalam cermin, tampak pemandangan yang sangat mengerikan. Kulit putih mulusnya kini dipenuhi oleh jalur-jalur luka memanjang yang tumpang-tindih. Jalur luka lama yang berwarna keunguan dan mulai mengering kini terbelah oleh jalur luka baru yang berwarna merah menyala, mengeluarkan tetesan darah segar yang mengalir lambat menuju pinggangnya.

​Air mata Alessa kembali jatuh melihat kondisi tubuhnya sendiri. Rasa sedih melihat keindahan fisiknya yang dirusak dengan cara sekejam ini sempat membuatnya lemas. Namun, kemarahan yang dingin segera mengambil alih kembali.

​"Oke, Alessa. Tarik napas, embuskan," perintahnya pada diri sendiri di depan cermin.

​Dia menuangkan sisa cairan antiseptik itu ke atas selembar kapas kecil. Tangan Alessa gemetar saat dia mengarahkan kapas basah itu ke arah punggungnya sendiri melalui pantulan cermin. Begitu kapas yang mengandung alkohol itu menyentuh permukaan luka baru yang masih terbuka lebar...

​"Aaaaakkkhhh!!!"

​Jeritan rasa sakit yang tak tertahankan akhirnya lolos dari bibir Alessa. Rasanya laksana punggungnya disiram oleh bensin lalu disulut oleh api yang menyala-nyala. Cairan kimia itu membakar ujung-ujung sarafnya tanpa ampun, membuat Alessa refleks menekuk tubuhnya ke depan dan mencengkeram pinggiran wastafel semen dengan sangat kencang hingga kukunya hampir patah. Keringat dingin langsung bercucuran membasahi dahi dan seluruh tubuhnya, bercampur dengan air mata yang mengalir deras laksana air bah.

​Di tengah-tengah rasa sakit luar biasa yang sanggup membuat orang biasa pingsan itu, sekring absurd Alessa kembali bekerja di luar nalar. Sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal dan memegangi punggungnya yang masih terasa melepuh akibat antiseptik, Alessa mendongak menatap cermin dengan pandangan menantang.

​"Gila... sensasi terbakar ini bener-bener luar biasa," desis Alessa dengan suara yang gemetar dan nafas yang terputus-putus, namun seulas senyum kecut dipaksakan muncul di sudut bibirnya. "Ini rasanya bukan kayak diobatin pakai antiseptik harga lima ribu perak, tapi kayak lagi dapet fasilitas terapi spa belerang tingkat kasta tertinggi di kerak neraka. Kulit gue dijamin langsung bersih dari dosa-dosa masa lalu karena sudah dibakar habis sama cairan ini."

​Dia terbatuk pelan, lalu menyeka sisa air mata di pipinya secara kasar. "Bagus, Alessa. Sekarang luka baru lu sudah steril dari kuman jahat. Tinggal masalahnya gimana cara lu nutupin luka ini supaya kagak nempel lagi ke baju pas lu lari nanti malam."

​Karena tidak memiliki perban kain yang memadai, Alessa terpaksa menggunakan sisa-sisa kain gorden bersih yang dia potong menggunakan pisau dapur kecil. Dia melilitkan kain itu berkali-kali memutari dadanya, menutupi seluruh jalur luka di punggungnya dengan ketat. Proses melilitkan kain itu sendiri adalah bentuk penyiksaan baru yang mengharuskan Alessa menggerakkan kedua lengannya secara ekstrim, memicu rasa perih yang bertubi-tubi di atas kulitnya yang baru saja diberi obat.

​Setelah selesai membungkus tubuhnya dengan kain gorden darurat, Alessa kembali mengenakan kemeja biru pudar milik ayahnya. Dia mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang masih gemetar akibat sisa trauma rasa sakit antiseptik tadi.

​Dia berjalan kembali ke ruang tamu, menatap jendela dapur yang sejak pagi menjadi satu-satunya fokus rencana keselamatannya. Luka baru di atas luka lama ini telah memberikan sebuah kepastian emosional yang mutlak di dalam jiwanya: tidak ada lagi kata menyerah, tidak ada lagi kata menunggu. Siksaan fisik yang dia terima hari ini telah menghabiskan seluruh sisa rasa takutnya kepada Rian.

​"Jam dua lewat tiga puluh menit," kata Alessa sambil menatap jam dinding kartun bebek. "Rian, lu boleh gembok pintu depan pakai rantai kapal sekalipun. Tapi nanti malam, lu bakal tahu kalau adik perempuan yang biasa lu gebukin ini punya cara sendiri buat menghancurkan neraka buatan lu."

​Berbekal tubuh yang terbungkus kain gorden darurat dan tekad dingin yang lahir dari rasa sakit yang membakar, Alessa duduk di dekat jendela dapur, mengawasi pergerakan matahari yang perlahan mulai turun ke arah barat, siap mengambil keputusan paling menentukan dalam hidupnya saat kegelapan malam resmi tiba menyelimuti kota.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!