Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah yang Dibuang
Fajar menyingsing di cakrawala Sanjaya, namun cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi Aula Takhta tidak membawa kehangatan. Ruangan luas itu terasa seperti peti mati batu. Raja Sanjaya duduk di takhta emasnya, namun kegelisahan terpancar dari jemarinya yang terus mengetuk lengan kursi. Di bawah sana, Naomi berdiri dengan tubuh yang dipenuhi rantai hitam berat, dijaga oleh barisan prajurit yang tak melepaskan mata darinya.
Raja memberi isyarat agar seluruh penjaga mundur ke batas pintu aula, menyisakan jarak yang cukup jauh agar percakapan mereka tidak terdengar. Ratu Ara sedang berada di sayap barat bersama Ciara, dan bagi sang Raja, itu adalah satu-satunya keberuntungan di pagi yang terkutuk ini.
"Kau menatapku seolah kau mengenalku, Gadis Kecil," suara Raja Sanjaya terdengar serak, jauh dari wibawa yang biasa ia tunjukkan.
Naomi mengangkat kepalanya yang terasa berat. "Aku menatap seorang pria yang ketakutan. Apa yang Anda sembunyikan, Yang Mulia? Kenapa Anda terlihat seolah-olah sedang melihat hantu?"
Raja bangkit dari takhtanya, langkah kakinya menggema saat ia menuruni anak tangga pualam. Ia berhenti tepat di depan Naomi, hanya dipisahkan oleh dentingan rantai.
"Kau bukan sekadar kesalahan takdir," bisik Raja, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan aula. "Kau adalah noda yang seharusnya aku hapus belasan tahun lalu. Victoria... wanita keras kepala itu benar-benar mengkhianatiku dengan membiarkanmu hidup."
Mata Naomi membelalak. Nama itu, Victoria. Nama yang sering ia dengar dalam legenda Kerajaan Tang Yang, kerajaan tetangga yang jauh dan misterius. "Ratu Victoria? Apa hubungannya dengan aku?"
"Dia bukan hanya Ratu Tang Yang," Raja Sanjaya mencengkeram rahang Naomi, memaksa gadis itu menatap matanya yang dipenuhi kebencian. "Dia adalah selir yang pernah kusembunyikan di sini sebelum ia kembali ke negerinya untuk merebut takhta. Kau adalah anak yang lahir dari perselingkuhan itu. Kau adalah putriku, Naomi. Darah Sanjaya dan darah Tang Yang mengalir di nadimu."
Naomi tertegun. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. "Jika aku putrimu... kenapa kau membiarkanku hidup di dapur sebagai pelayan? Kenapa kau membiarkan Ares menanggung kutukan ini sendirian?"
"Karena kau lahir dengan tanda itu!" Raja menunjuk ke arah rune yang kini melilit tangan Naomi di balik rantai. "Rune itu adalah aib! Takhta Sanjaya tidak akan pernah dipimpin oleh seorang wanita, apalagi wanita yang membawa sihir terkutuk di kulitnya. Jika Ara tahu kau adalah darah dagingku, ia akan menghancurkan aliansi kita dengan kerajaan asalnya. Kau adalah ancaman bagi kestabilan takhtaku!"
Raja Sanjaya melepaskan cengkeramannya dengan jijik. Ia berbalik membelakangi Naomi, menatap bayangannya sendiri di lantai yang mengkilap.
"Aku tidak bisa mengakuimu. Bagiku, kau hanyalah sampah yang tertinggal dari masa lalu. Aku memberikan perintah agar kau segera dieksekusi sebelum matahari mencapai puncaknya. Secara resmi, kau akan mati sebagai pelayan yang mencoba membunuh pangeran dengan ilmu hitam."
"Kau ingin membunuh putrimu sendiri hanya untuk menjaga kursi emas itu?" suara Naomi bergetar, namun bukan karena sedih, melainkan amarah yang mulai memanaskan rune di lengannya. "Ayah yang selama ini mengasuhku jauh lebih mulia daripada pria yang berdiri di depanku sekarang."
"Pria itu akan mati bersamamu!" teriak Raja Sanjaya, kehilangan kesabarannya. "Kalian semua akan dikubur dalam kebohongan ini. Tidak akan ada yang tahu bahwa darahku mengalir di dalam diri seorang monster sepertimu."
Raja kembali ke takhtanya dan berseru keras, "Pengawal! Bawa dia ke pelataran eksekusi! Siapkan tiang gantungan untuk pengkhianat dan keluarganya!"
Saat para pengawal merangsek maju dan menarik rantai Naomi, gadis itu merasakan panas yang luar biasa menjalar dari jantungnya menuju lengannya yang dirantai. Rahasia itu tidak membuatnya merasa lemah; sebaliknya, kenyataan bahwa ia adalah seorang putri yang dibuang memberikan bahan bakar pada rune di nadinya.
"Kau bisa mencoba membunuhku, Ayah," desis Naomi saat diseret melewati pintu aula. "Tapi darah Tang Yang dan Sanjaya tidak akan mati semudah itu. Jika kau ingin aku menjadi monster, maka monster inilah yang akan meruntuhkan takhtamu."
Raja Sanjaya hanya terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia tahu, meskipun ia membunuh Naomi, bayang-bayang Victoria dan rahasia berdarah itu akan terus menghantuinya sampai napas terakhirnya. Sementara itu, di kejauhan, Pangeran Ares mulai membuka matanya, tidak menyadari bahwa gadis yang ia cintai sedang berjalan menuju kematian demi menutupi dosa besar ayahnya sendiri.