NovelToon NovelToon
Simpanan CEO Muda

Simpanan CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.

Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.

Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.

“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”

Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.

Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Lama sekali Zian tertidur. Bahkan sudah jam lima sore lewat tapi dia belum juga bangun. Tidurnya juga sangat pulas. Mungkin karena bergadang semalaman dia jadi lelah. Apalagi Zian terkenal sangat sibuk di kantor. Yah, bagaimana tidak, di usia 26 tahun dia sudah jadi CEO dan menjalankan perusahaan ayahnya sendirian. Pasti dia sangat lelah dan kurang tidur. Buktinya saat Amira terbangun tengah malam di rumah sakit, dia melihat Zian yang sibuk dengan laptopnya. Kalau bukan sibuk dengan pekerjaan, lalu apalagi.

Amira menepuk pundak Zian pelan. Gadis itu meminta agar pria itu bangun dan mandi karena sebentar lagi waktu magrib tiba. Amira terus membangunkan Zian, tapi cara itu agaknya tak membuat dia bangun. Terpaksa Amira mengambil gayung. Hal yang sama yang selalu Amira lakukan pada adik lelakinya ketika membangunkan dia: menyiram dengan air.

Cipratan ketiga, keempat, kelima belum juga membuat Zian bangun. Saat cipratan ketujuh barulah pria itu membuka matanya.

"Amira! Apaan kamu ini, baju saya jadi basah semua," ucapnya ketika bangun dan melihat Amira memegang gayung.

"Apaan sih, Mas, lebay. Orang saya nyiramnya dikit-dikit. Lagian Mas susah banget dibangunin!" jawab Amira tak mau kalah.

"Kenapa?" Zian tak mau meladeni, malah mengajukan pertanyaan lain.

"Kenapa apa, Mas?"

"Astaga, otaknya lambat sekali!"ucap Zian dalam hati.

"Kenapa kamu bangunkan saya?" ketus Zian. Lagi-lagi dia naik tensi.

"Ke masjid, Mas. Ini sudah mau magrib."

"Saya nggak bawa baju ganti. Nanti saja saya sholatnya!" ucap Zian hendak kembali tidur, namun dengan cepat Amira menarik lengannya.

"Mas!"

"Apa!"

"Kamu harus ke masjid."

"Tapi saya ti—"

"Kamu bisa pakai baju adik saya dulu," sela Amira cepat.

Amira bukan orang yang pintar agama, tapi dia sedikit paham karena sejak kecil sang nenek selalu mengajarkan Amira untuk menyempatkan sholat lima waktu dan tidak meninggalkannya, dalam keadaan apa pun.

Amira bergegas membuka lemari kecilnya. Adik Amira memang sering kemari. Dia sering berkunjung untuk bertemu Amira, hanya sekedar mengobrol dan bertukar cerita, setelahnya dia akan pulang. Jadi Amira menyiapkan beberapa baju untuknya, termasuk sarung dan koko.

"Ini, Mas, pakai. Mandi dulu tapi," pungkas Amira sambil memberikan baju koko dan sarung itu pada Zian.

Tak banyak komentar karena malas meladeni Amira, Zian mengambil koko dan sarungnya lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah selesai, pria itu bergegas ke masjid. Sangat cepat karena azan magrib sudah dari tadi berkumandang.

Jujur saja, Zian bukan orang yang taat beragama. Meskipun Khail sering mengingatkan untuk beribadah dan tidak meninggalkan sholat, pada akhirnya Zian tidak bisa menjaga sholatnya. Kalau diingat kembali, sholat yang sering dia lakukan mungkin hanya sholat Jumat. Padahal dulu Zian sangat rajin beribadah. Tapi sejak sekolah dan tinggal di luar negeri, sholatnya jadi bolong-bolong dan akhirnya dia sama sekali tidak mengerjakannya.

Imam mengucapkan salam. Dengan cepat Zian bergegas keluar dari masjid. Namun ketika hendak memakai sandalnya, seorang pria menghampirinya.

"Wah, ada warga baru. Baru pindah ya, Pak?" tanyanya.

Zian mengulas senyum. Dari pakaian dan tampang, pria paruh baya ini pasti ketua RT. Terlihat jelas dari cara bicaranya.

"Iya, Pak."

"Tinggal di mana, Pak? Kok belum ada laporan ke saya?" ucapnya lagi dengan penuh senyum dan ramah.

"Maaf, Pak, saya belum sempat. Saya tinggal di kontrakan dekat sini," jawab Zian.

"Oh, kenalkan, saya Pak Karto, RT setempat sini. Tadi bilang kontrakan dekat sini ya? Apa itu kosan putri?"

Zian mengangguk. Kalau tidak salah, agaknya betul. Sebelum ke masjid tadi dia sempat melihat plang dengan tulisan Kosan Putr.

"Iya, Pak, betul."

"Ngapain di kosan putri, Pak? Di sana kan tempat perempuan-perempuan?" tanya Pak RT. Agaknya dia mulai salah paham dengan Zian.

"Saya suaminya Amira, Pak. Baru pindah hari ini," ucap Zian cepat. Dia tahu Pak RT pasti akan salah paham kalau tidak dijelaskan secara detail.

Pak RT itu pun mengangguk-angguk seolah paham. Tak ingin mendapatkan pertanyaan lagi, Zian segera pamit untuk pulang.

Zian mendecak kesal sepanjang jalan. Bukan karena harus sholat magrib, tapi karena jalan yang harus dia lewati becek dan berlumpur. Ketika sampai di depan rumah, Zian mengetuk pintu namun tak kunjung ada jawaban. Khawatir terjadi sesuatu, Zian pun nekat membobol jendela. Ketika dia masuk, dia tidak menemukan Amira di dalam.

Namun detik berikutnya dia dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Gadis yang dicari kini berdiri di ambang pintu, kantong kresek di tangan.

"Astaga, Mas," ucap Amira melihat lantai kotor dengan lumpur.

Zian tak menggubris tatapan tajam Amira. Justru dia berlari dan memeluk gadis itu. Zian menghela napas lega. Syukurlah hal yang ditakutkan tidak terjadi. Yah, sebelumnya Zian sempat berpikir jika Amira akan melakukan hal bodoh karena Zian tahu Amira masih sangat trauma dengan apa yang terjadi padanya.

"Mas, lepas!"

Mendengar ucapan Amira, Zian segera melepaskan pelukannya.

"Maafkan saya—"

1
Blu Lovfres
lampir sinting😁🤣
Blu Lovfres
nyesek y ternyata nasibnya zian
Blu Lovfres
hadehh amira terlalu lebay banget 😁🤣
Blu Lovfres
😁🤣
Blu Lovfres
next thor
Blu Lovfres
ceo tolol o'on lebih tolol lagi astinnya, 😁
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care
Blu Lovfres
y udah datangkan saja mba kunti bibir merah untuk zian thor 🤣🤣🤣🤣
Blu Lovfres
ga tau kelanjutannya pernikahan amira dn zian
Ni Cristi
yuk yukk pernah baca dimana nihh alur yang mirip nya
Blu Lovfres
Kayak nya ada pernah baca deh alur novel ini ,
Blu Lovfres
mampir kesini thor 😘
Ni Cristi: Welcome 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!