Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Pertama Sebagai Pangeran Bertopeng
"Topeng itu membawa pengaruh jahat pangeran. Lebih baik jangan memakainya" Wai Hang sangat khawatir jika karena topeng Hua Khon itu, pangeran muda Syah Hang celaka.
"Tidak panglima Wai, aku harus bisa mengendalikannya" pangeran Syah Hang bermeditasi untuk mencoba mengendalikan energi dari topeng Hua Khon miliknya.
Sementara Wai Hang hanya bisa mengamati dan terus waspada. Demi janjinya untuk menjaga sang putra mahkota, Wai Hang harus selalu memastikan keselamatan pangeran muda Syah Hang.
"Kipas 102, iya kipas pendekar pesolek itu mungkin bisa membantu pangeran untuk mengendalikan energi negatif dari topeng Hua Khon itu"
Ting.....
Panglima Wai Hang menemukan ide untuk membantu pangeran muda Syah Hang.
"Pangeran, seorang pendekar selalu memiliki senjata. Dan pangeran belum memilikinya kecuali pedang dari perguruan lembah damai" suara Wai Hang pelan tapi terdengar jelas oleh pangeran Syah Hang.
"Apa maksud ucapan anda panglima Wai?" Pangeran Syah Hang memejamkan matanya di balik topeng.
"Senjata seorang pendekar pada umumnya memiliki unsur kekuatan tersendiri. Dan pedang yang pengeran miliki adalah pedang biasa tanpa unsur kekuatan di dalamnya. Anda membutuhkan senjata kusus untuk mengimbangi unsur kekuatan dari topeng anda tuan pangeran"
KYAAA.....?!
Sepersekian detik pikiran pangeran muda Syah Hang pun merespon sangat cepat. Dan pangeran Syah Hang pun langsung faham apa yang dimaksud oleh panglima Wai Hang.
"Kipas sakti 102, berarti harus aku gunakan untuk mengendalikan energi topeng Hua Khon ini"
"Berikan kipas itu padaku" sang pangeran bangkit dari mediasinya.
"Kipas itu"
"Dimana anda menyimpan kipas itu pangeran?" Wai Hang membongkar buntalan milik sang pangeran.
Tapi sayangnya Wai Hang tidak menemukan kipas itu.
"Astaga! kipas itu hilang bersama kudaku"
"Anda tidak bercanda kan pangeran?" Wai Hang masih terus mencari kipas legendaris itu.
"Disituasi seperti ini mana mungkin aku bercanda panglima Wai" pangeran Syah membuka topengnya.
"Kita harus menemukan kipas itu" sang pangeran Syah Hang bergegas menaiki punggung kuda hitam milik panglima Wai Hang.
"Kita mau cari kemana kipas itu pangeran?"
Pangeran Syah Hang pun terdiam sejenak diatas punggung kuda. Lalu ia pakai kembali topengnya. Dan...
"Kita coba saja ke istana" ujar pangeran Syah Hang lalu mengulurkan tangannya untuk Wai Hang.
Tiba-tiba...
WUUSSHH.... WUUSSHH.....WIISSSHH.....
Serangan anak panah menghujani keduanya dari balik pepohonan. Membuat pangeran Syah Hang dan panglima Wai Hang terpaksa mencabut pedang mereka masing-masing dari sarungnya. Puluhan anak panah berhasil mereka patahkan. Dan anak panah terakhir hampir saja mengenai lengan kiri panglima Wai. Untungnya pangeran Syah Hang cepat menangkap anak panah itu.
"Pangeran....!! anda tidak apa-apa?" Wai Hang malah khawatir jika tangan pangeran terkena panah.
"Aku baik-baik aja panglima Wai. Mereka sudah datang panglima"
Pangeran muda Syah Hang pun memasang kuda-kuda siap tempur dan waspada.
KRAAACKKK...
Pangeran Syah Hang mematahkan anak panah di tangannya.
"Secepat itu gerakan pangeran? Aku belum pernah melihatnya memiliki kemampuan seperti ini di lembah damai" panglima Wai pun sudah siap dengan pedangnya.
Pasukan pengawal pangeran Hang Djie pun keluar dari balik pepohonan. Jumlah mereka cukup banyak. Tujuh pasukan berkuda. Dan tiga puluh pasukan pejalan kaki.
"Siapa kalian?"
Seorang pasukan dengan pakaian menyerupai kepala pasukan turun dari kudanya mendekati panglima Wai Hang dan pangeran Syah Hang.
"Kami dari desa Ro_Khan, kami sedang mencari saudara kami yang hilang" Wai Hang menjawab sambil memasukan pedang ke sarungnya.
"Kalian bukan penduduk tepi barat kota. Dan kenapa dia memakai topeng?" pasukan itu menunjuk pangeran Syah Hang dengan ujung pedangnya.
"Dia, dia ...... Sedang sakit tuan" Wai Hang sengaja berdalih untuk menghindari konflik dengan pasukan kerajaan.
"Kami bertugas untuk mengamankan wilayah kami. Jadi kami harus waspada dengan orang-orang asing yang mencurigakan"
"Anda benar tuan, kami mohon maaf kami hanya lewat untuk mencari saudara kami yang hilang" kembali Wai Hang bersiasat dengan tidak mengatakan maksud tujuan asli mereka.
Kepala pasukan itu memutari pangeran Syah Hang dan Wai Hang. Tatapannya penuh selidik. Sedangkan pasukan yang lain bersiap dengan senjata mereka masing-masing.
"Tuan bertopeng siapa nama anda?"
"Namaku Hua Khon tuan prajurit" jawaban dari pangeran muda Syah Hang membuat panglima Wai menelan ludah.
"Berani sekali pangeran menggunakan nama topeng itu. Aku merasa topeng itu memiliki energi yang melampaui batas" ujar Wai Hang dalam hatinya.
"Hua Khon? Nama yang unik. Bolehkah anda melepas topeng anda sebentar saja" mata sang kepala prajurit itu tajam menatap ke arah pangeran Syah Hang alias pangeran bertopeng.
"Maaf tuan prajurit, aku takut penyakit di wajah hamba menyebar jika aku membuka topengku ini" jawab pangeran Syah Hang dengan senyum geli di balik topengnya.
"Anda berani menolak perintah prajurit istana. Anda akan tau akibatnya!" sang kepala prajurit memberi kode perintah pada pasukannya.
Dengan cepat pangeran muda Syah Hang dan panglima Wai sudah dikepung oleh pasukan pengawal pangeran Hang Djie. Mereka mengepung dengan membentuk lingkaran bulan purnama.
"Pangeran mau tidak mau kita harus hadapi mereka" pedang Wai Hang sudah kembali terhunus dengan kuat di tangan kanannya.
"Kalau begitu aku akan hadapi yang berkuda saja" pangeran Syah Hang pun langsung mencabut pedangnya.
Tanpa aba-aba lagi, prajurit pengawal pangeran Hang Djie menyerang panglima Wai dan pangeran muda Syah.
Pertempuran tak seimbang pun pecah. Bagi panglima Wai Hang ini bukan kali pertamanya bertempur mengahadapi pasukan berjumlah puluhan bahkan ratusan. Tapi untuk seorang pendekar Syah Hang, tentu ini adalah pertempuran kali pertamanya. Tapi dengan bermodal menjadi murid di perguruan lembah damai, membuatnya memiliki keberanian yang tidak bisa diremehkan.
Dengan ketangkasannya Wai Hang berhasil merobohkan delapan prajurit yang mengeroyoknya. Pedang miliknya terlihat lapar dan haus dengan darah para musuh. Wai Hang masih cukup tangkas melawan gempuran pasukan kusus pangeran Hang Djie.
"Mereka bukan pasukan biasa pangeran. Kita harus keluarkan seluruh kemampuan kita" ucap Wai Hang yang terus menahan, dan juga balik menyerang pasukan pangeran Hang Djie.
"Aku tau, aku sudah tumbangkan lima pasukan" jawab pangeran Syah Hang yang juga sambil terus menahan, dan menyerang balik pasukan yang mengeroyoknya.
Tang! Ting...!! Tang..!! Ting.! Wussh!! BLaaazzHhh...!!
Bunyi benturan pedang pasukan pengawal pangeran Hang Djie dengan pedang Wai Hang dan pangeran Syah Hang yang saling menggempur satu sama lain. Satu persatu Wai Hang dan pangeran Syah Hang mampu merobohkan pasukan kusus itu.
Hingga akhirnya pasukan pengawal pangeran Hang Djie pun terpukul mundur. Dari tiga puluh tujuh, tinggalah lima belas pasukan yang tersisa.
"Kalian akan menjadi buronan kerajaan. Karena kalian telah melawan dan bahkan membunuh para pasukan kerjaan!" si kepala pasukan mendengus dengan penuh kemarahan.
"Kami hanya membela diri. Jadi kami bukan buronan. Lagipula pasukan kusus pengawal pangeran seharusnya tidak lemah seperti kalian" pangeran Syah Hang sengaja memprovokasi.
"Kalain berani-beraninya menghina pasukan pengawal putra mahkota calon pengganti Raja Hang Dzo! Hukuman kalian akan sangat berat!" bola mata sang kepala pasukan melotot dengan nanar.
"Jika kalian sanggup menangkap kami tangkaplah" pangeran muda Syah Hang terus memprovokasi.
"Pangeran, apa yang kau lakukan?" Wai Hang melirik ke pangeran Syah.
"Dengan cara ini kita tidak perlu susah payah masuk istana panglima Wai"
"Apa ini bagian rencana Pangeran Bertopeng?" Wai Hang memicingkan matanya.
Pangeran Syah Hang sang Pangeran Bertopeng pun membalas dengan kedipan matanya diiringi senyuman kecerdikan di balik topengnya.