NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:69.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Panggilan Dari Masa Lalu

"Mas ... kamu sudah pergi dari rumah ya? Tadi setelah menidurkan Ega, aku cari-cari kamu di kamar utama atas dan ruang tengah, tapi kamu sudah tidak ada?" suara Cindy mengalun dari seberang sambungan. Suara itu terdengar begitu lembut, manja, dan sarat akan perhatian—sangat kontras dan berbanding terbalik dengan intonasi suara Alin yang ketus dan sedingin es saat menghajarnya di meja makan tadi.

Elang berdeham pendek, matanya menatap kosong ke arah deretan kursi makan yang kosong. "Ya, aku sedang ada urusan mendadak di luar yang harus segera diselesaikan."

"Oh, begitu ... urusan kantor ya, Mas?" tanya Cindy lembut, menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang agak malu-malu yang sengaja dibuat-buat. "Mmm ... Mas Elang, jadi kan ... beli baju ganti buat Ega dan aku siang ini? Tapi kalau bisa belinya jangan banyak-banyak ya, Mas. Aku ... aku takut uangmu habis hanya untuk membiayai kebutuhan kami berdua di sana."

Mendengar kalimat terakhir Cindy, Elang mendadak tersentak kaku di kursinya. Ia menepuk keningnya sendiri dengan telapak tangan kanan. Sial, pria itu baru teringat seutuhnya bahwa sebelum ia meninggalkan rumah baru mereka dengan tergesa-gesa tadi, ia sudah berjanji pada Cindy untuk membelikan pakaian baru demi memenuhi kebutuhan Ega yang kekurangan baju ganti. Namun, karena panggilan darurat dari Mbok Darmi mengenai kondisi jantung Nenek Aisyah yang kumat, rencana itu buyar berantakan dari kepalanya.

Kini, posisi Elang sedang berada di rumah besar neneknya, mendampingi wanita sepuh yang sedang bertaruh nyawa di kamar utama. Tidak mungkin bagi Elang untuk meninggalkan rumah kolonial ini begitu saja di saat kondisi sang nenek belum sepenuhnya melewati masa kritis, apalagi di bawah tatapan mengawasi dari Alin.

Ego lelakinya menolak untuk terlihat lupa atau tidak konsisten di depan wanita yang ia klaim masih ia cintai itu. Maka, dengan rahang yang kembali mengatup rapat, Elang memilih untuk menyusun sebuah kebohongan kecil demi menjaga citranya yang serba bisa di depan Cindy.

"Ya, tentu saja jadi, Cindy. Aku tidak pernah menarik kembali ucapanku," balas Elang penuh dusta, nada suaranya dibuat seyakinkan mungkin seolah-olah ia memang sedang berada di pusat perbelanjaan saat ini. "Saat ini aku sedang berada di mal untuk membelinya. Kamu tidak perlu mencemaskan masalah uangku yang akan habis hanya karena beberapa potong pakaian. Fokus saja menjaga Ega."

Di seberang telepon, Cindy terdengar mendesah lega, sebuah pekikan kecil penuh rasa syukur sengaja ia perdengarkan di dekat mikrofon ponselnya. "Ya ampun, terima kasih banyak ya, Mas Elang ... kamu benar-benar pria paling baik yang pernah aku kenal. Oh, iya, Mas ... Mas Elang sendiri sudah makan siang belum di luar? Jangan sampai telat dan lupa makan ya, nanti maag kamu bisa kambuh lagi kalau terlalu sibuk kerja."

Perhatian manis yang ditunjukkan Cindy itu biasanya akan membuat hati Elang menghangat dan merasa dihargai. Namun, siang ini, dengan sisa tamparan fisik dari Nenek Aisyah yang masih menyisakan rasa panas di pipi kanannya, serta bayangan wajah dingin Alin yang menatapnya penuh kemenangan, perhatian Cindy justru terasa menjemukan di telinganya. Kepala Elang terlampau pening untuk merespons kalimat romantis itu lebih jauh.

"Ya," jawab Elang pendek, dingin, dan tanpa riak antusiasme sedikit pun.

Ia melirik ke arah jam tangan mewah bermerek Rolex yang melingkari pergelangan tangan kirinya, lalu mencari alasan lain untuk segera memutus pembicaraan domestik ini. "Urusanku di sini sudah mau dimulai kembali, Cindy. Aku harus segera menutup teleponnya sekarang. Jangan biarkan Ega bermain di luar kamar tamu."

"Ah ... iya, Mas. Maaf ya sudah mengganggu waktumu. Selamat kembali beraktivitas, Mas Elang," ucap Cindy lembut sebelum akhirnya panggilan itu terputus sepihak oleh Elang.

Begitu layar ponselnya kembali menggelap, Elang tidak membuang waktu lama. Ia langsung mencari kontak nama lain di daftar panggilannya. Denis. Asisten pribadi sekaligus orang kepercayaannya yang selalu mengurus segala kebutuhan operasional dan personalnya di luar urusan kantor resmi.

Begitu panggilan tersambung pada dering kedua, suara Denis yang sigap langsung menyapa rungu Elang. "Selamat siang, Pak Elang. Ada yang bisa saya bantu untuk hari ini?"

"Denis, tinggalkan pekerjaanmu sejenak sekarang juga," perintah Elang tanpa basa-basi, suaranya kembali berubah menjadi otoriter khas seorang CEO bertangan dingin. "Saya butuh kamu pergi ke mal terbesar di pusat kota siang ini. Tolong belikan beberapa stel pakaian anak laki-laki usia empat tahun, pilih bahan yang paling nyaman dan berkualitas bagus. Lalu, belikan juga beberapa stel pakaian wanita dewasa berukuran M dengan model yang sopan dan elegan."

Di seberang sana, Denis sempat terdiam selama satu detik, merasa heran dengan instruksi personal yang tidak biasa dari bosnya yang baru saja menikah semalam, namun ia cukup profesional untuk tidak banyak bertanya. "Baik, Pak Elang. Apakah ada merek atau butik tertentu yang Anda inginkan untuk pakaian wanita tersebut?"

"Bebas, yang penting harganya mahal dan bahannya berkelas. Pilihkan saja yang terbaik menurutmu," sahut Elang ketus, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Setelah selesai berbelanja dan membayarnya, jangan bawa barang-barang itu ke kantor atau ke rumah besar Nenek. Antarkan seluruh kantong belanjaan itu langsung ke alamat rumah baru saya yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Serahkan barang itu pada wanita bernama Cindy yang ada di sana. Mengerti?"

"Dimengerti dengan sangat baik, Pak Elang. Segera saya laksanakan siang ini juga," jawab Denis patuh.

"Bagus. Pastikan pengirimannya cepat dan tidak ada yang tertinggal," ucap Elang sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon tersebut dengan sentakan kasar.

Ia melemparkan ponselnya kembali ke atas meja makan marmer, lalu menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi kayu jati dengan helaan napas yang teramat berat. Kemeja biru tuanya kini tampak semakin kusut. Elang menatap nanar ke arah koridor luar yang lengang. Di satu sisi, ia berhasil menunaikan janjinya pada Cindy melalui tangan asistennya, namun di sisi lain, bayangan konfrontasi dengan Alin beberapa menit lalu di meja makan ini kembali berputar mengusik ketenangannya.

Pria itu menyadari, keputusannya membawa masa lalu masuk ke dalam hidupnya kini telah menyulut sebuah api peperangan baru yang tidak akan pernah bisa ia padamkan dengan mudah, terutama setelah mengetahui bahwa istri sahnya bukanlah seorang wanita yang bisa ia kendalikan dengan selembar uang atau ancaman kekuasaan.

Bersambung ...

1
vania larasati
lanjut
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
😂😂😂😂
merry yuliana
suruh ganti nama jadi burung perkutut aja kak
Naufal Affiq
kalau masih bodoh lagi kau elang,oma sudah mengasih jalan biar kau menjadi pintar,maka jalan kan apa yang harus kamu kerja kan
olyv
elang oon dikasih berlian kayk alin malah milih jalang kayak cindy siap² gigit jari kalo tetap keras kepala
Yul Kin
lanjut kak
Ayudya
nah apa yg di bilang nenek itu bener elang apa ada bukti kalau si Ega itu anak kandung kamu.seorang CEO kok bodoh banget🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
nah pilih yang mana lang
yuni ati
Elang galauu🤣
Teh Euis Tea
nah loh pilih elang km berani ga pilih cindi dan di miskinkan nenekmu atau km pilih alin tg tulus sayang sm nenekmu
Sugiharti Rusli
mungkin karena hubungan yang terjalin selama ini dengan Alin dan keluarganya, membuat nenek Aisyah lebih memilih dirinya jadi cucu menantunya sih,,,
Sugiharti Rusli
kira" nenek Aisyah tuh tahu pasti yah kalo watak Alin juga tegas seperti dirinya, tapi dia bisa menempatkan kapan waktunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kalo perusahaannya baru berkembang pesat tapi juga ada di bawah induk perusahaan keluarganya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang perusahaan yang di bawah kendali si Elang itu bukannya start up yah, kira" apa hubungannya sama harta milik sang nenek, apa investornya kah,,,
Mommy Ghina: perusahaan start up, tapi masih berinduk dengan perusahaan almarhum suami Nenek Aisyah
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata nenek Aisyah meski sudah uzur, tapi wibawanya tetap terlihat yah saat berkata tegas kepada si Elang cucunya
Wiek Soen
setuju dg nenek, CEO kok goblok
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
😬😬, ga bisa berkutik kan bapak elang yg terhormat, berpikir lah secara benaar jangan cuma bulol yg tdk pada tempatnya daaah... hadeeeh.. 😏😏
Nasya
bagus nek tak setuju bgt biar kapok elang
Nasya
hedehh CEO oon
Halimatus Syadiah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!