NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 8

Nadia tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini.

Ia berdiri mematung di ruang tamu, menatap koper yang masih tegak di dekat pintu. Koper yang semalam ia siapkan dengan hati berbunga-bunga. Koper yang seharusnya menemaninya merayakan ulang tahun pernikahan bersama orang-orang yang paling ia cintai.

Namun pagi ini, koper itu justru menjadi saksi bahwa dirinya telah ditinggalkan.

Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya.

Nadia menyekanya cepat. Tetapi semakin ia berusaha menahan, semakin deras air mata itu turun.

Dalam keadaan seperti itu, satu nama terlintas di benaknya.

Sindi.

Sahabat yang berkali-kali memperingatkannya.

Sahabat yang dengan terus terang mengatakan bahwa Raka Selingkuh

Sahabat yang justru ia jauhi.

Bahkan ia blokir.

Bukan karena membenci Sindi, tetapi karena Nadia tidak siap mendengar kenyataan yang mungkin akan menghancurkan dunianya.

Dengan tangan gemetar, Nadia meraih ponsel.

Ia membuka daftar kontak, mencari nama Sindi, lalu membuka blokir nomor sahabatnya itu.

Untuk sesaat, Nadia hanya menatap layar.

Dadanya terasa sesak.

Ia membutuhkan seseorang untuk berbicara.

Seseorang yang mau mendengarkan, tanpa menghakimi.

Dan saat ini, hanya Sindi yang terlintas di benaknya.

Nadia menekan tombol panggil.

Telepon baru berdering sekali ketika suara Sindi langsung terdengar.

“Kenapa, Beb? Suami kamu selingkuh, kan?”

Nadia mengembuskan napas panjang.

“Aku enggak tahu, Sin.”

Sindi terdiam sejenak.

Lalu suaranya berubah lembut.

“Ya Allah, kamu nangis?”

Nadia menggigit bibir.

Air matanya kembali jatuh.

“Beb, kamu sekarang di mana? Aku jemput, ya?”

“Memangnya kamu di mana?” tanya Nadia lirih.

“Aku di apartemen. Tunggu tiga puluh menit. Aku ke rumah kamu. Jangan ke mana-mana, ya.”

Nadia menutup mata.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa ada seseorang yang benar-benar memedulikannya.

“Baiklah.”

Setelah sambungan terputus, rumah kembali sunyi.

Namun keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Kepercayaan Nadia kepada Raka mulai runtuh.

Perlahan.

Sedikit demi sedikit.

Seperti kaca yang retak tanpa suara.

“Kenapa kamu tega, Mas?” bisiknya lirih.

Ia memeluk tubuh sendiri.

“Apakah karena aku belum bisa memberimu anak?”

“Atau… apakah aku sudah tidak berarti lagi?”

“Kenapa kamu menutup semua pintu komunikasi denganku?”

Tatapan Nadia beralih ke foto pernikahan yang terpajang di dinding.

Foto tujuh tahun lalu.

Raka tersenyum lebar, menatapnya seolah Nadia adalah satu-satunya perempuan di dunia ini.

Dulu, Raka yang paling gigih memperjuangkannya.

Awalnya Nadia tidak memiliki perasaan istimewa.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, hatinya seperti ikut terkubur bersama mereka.

Ia tak lagi percaya bahwa hidup masih bisa memberinya kebahagiaan.

Namun Raka hadir.

Pria itu datang dengan perhatian sederhana.

Menanyakan kabarnya.

Menemani hari-harinya.

Meyakinkan Nadia bahwa ia tidak sendiri.

Sedikit demi sedikit, dinding yang Nadia bangun di sekeliling hatinya runtuh.

Ia membuka diri.

Dan akhirnya menerima Raka.

Dua tahun pertama pernikahan mereka terasa begitu indah.

Penuh tawa.

Penuh harapan.

Penuh cinta.

Namun setelah itu, semuanya berubah.

Tanpa penjelasan.

Tanpa alasan.

Raka mulai menjaga jarak.

Yuni tak lagi bersikap hangat.

Dan Nadia, tanpa pernah benar-benar menyadarinya, perlahan tersisih dari keluarga yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati.

Tak lama kemudian, sebuah mobil Pajero berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumah Nadia.

Beberapa detik setelah mesin dimatikan, pintu mobil terbuka. Sindi turun dengan langkah cepat. Seperti biasa, perempuan itu tidak menunggu dipersilakan. Ia langsung membuka gerbang sendiri dan masuk ke halaman.

Di teras, Nadia masih duduk terdiam.

Tatapannya kosong.

Wajahnya pucat.

Seolah seluruh tenaga dan harapannya telah terkuras dalam semalam.

Melihat kondisi sahabatnya, Sindi tak berkata apa-apa. Ia segera memeluk Nadia erat.

“Beb, are you okay?”

Pertanyaan itu justru menjadi pemicu.

Tangis Nadia yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah. Bahunya berguncang. Air mata yang semula menetes pelan kini mengalir tanpa kendali.

Sindi membiarkannya.

Ia hanya mengusap punggung Nadia dan menepuk-nepuk bahunya dengan lembut.

“Menangislah,” bisiknya. “Aku di sini.”

Entah berapa lama Nadia larut dalam tangis. Sampai akhirnya isaknya mereda dan pelukannya mengendur.

Nadia menyeka pipinya.

“Maafkan aku, Sin. Yuk, masuk dulu.”

Sindi mengangguk.

Mereka berjalan masuk ke ruang tamu. Nadia melangkah pelan, sementara Sindi menatapnya dengan sorot penuh kekhawatiran.

Setelah duduk, Sindi menggenggam tangan Nadia.

“Ada apa, Sayang?”

Nadia menarik napas panjang.

Ia bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Selama ini, seberat apa pun luka yang ia rasakan, Nadia selalu memilih diam. Namun ketika ia benar-benar tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendiri, hanya ada satu orang yang ia percaya.

Sindi.

Dengan suara pelan dan sesekali terputus, Nadia menceritakan semuanya.

Tentang Raka yang tak pulang semalaman.

Tentang hari jadi pernikahan mereka.

Tentang koper yang telah ia siapkan dengan penuh harapan.

Dan tentang pagi ketika Raka, Nanda, dan Yuni pergi ke Puncak tanpa mengajaknya.

Sindi mengembuskan napas panjang.

“Jadi, Raka, Nanda, dan ibu mertuamu pergi ke Puncak karena katanya ada acara kantor?”

Nadia mengangguk.

Sindi langsung meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, menghubungi beberapa orang.

Tak sampai lima menit, ia mengangkat wajah.

“Beb, di perusahaan Raka tidak ada meeting atau gathering di Puncak.”

Nadia tertegun.

“Dari mana kamu tahu?”

Sindi menyandarkan tubuh ke sofa.

“Sayang, aku salah satu pemegang saham di perusahaan itu. Cuma cari tahu agenda mereka bukan hal sulit.”

Wajah Nadia mendadak pucat.

“Jadi… Mas Raka bohong?”

Sindi mendengus pelan.

“Kalau menurutku, yang mengejutkan justru kalau suamimu ternyata jujur.”

Nadia menatap sahabatnya.

“Kenapa kamu bilang begitu?”

Sindi tampak ragu sesaat.

“Maaf, ya. Aku sebenarnya sudah beberapa kali melihat Raka jalan dengan sepupumu.”

Nadia menahan napas.

“Ratna?”

Sindi menjentikkan jari.

“Nah, itu dia. Ratna. Aku pernah melihat mereka di mal, di restoran, bahkan sekali di lobi hotel.”

Nadia memejamkan mata.

Tiba-tiba semua peringatan Sindi yang dulu ia anggap berlebihan terasa seperti tamparan.

“Aku sudah bilang ke kamu,” lanjut Sindi lembut. “Tapi waktu itu kamu terlalu mencintai Raka untuk percaya.”

Nadia hanya terdiam.

Dadanya kembali sesak.

Sindi meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.

“Beb, kita ikuti mereka.”

Nadia mengangkat wajah.

“Raka cuma bilang ke Puncak. Puncak itu luas, Sin.”

Sindi tersenyum penuh percaya diri.

“Serahkan padaku.”

Nadia menyipitkan mata.

“Kamu hafal nomor mobil suamimu?”

“Hafal.”

“Nomor teleponnya?”

“Hafal.”

Sindi tertawa kecil.

“Benar-benar istri teladan.”

Ia kembali menelepon seseorang.

Setelah beberapa menit, wajahnya berubah serius.

“Sudah ketemu. Lokasinya memang mengarah ke Puncak.”

Nadia masih tampak ragu.

“Kenapa lagi?”

“Bagaimana kalau Mas Raka marah? Aku belum izin.”

Sindi memegang dahinya.

“Ya ampun, Nadia. Kita sedang mencari suamimu. Kalau nanti ketahuan, tinggal bilang kamu menyusul karena khawatir.”

Nadia masih terdiam.

Sindi mencondongkan tubuh.

“Aku yakin kita akan menemukan sesuatu.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu bilang ibu mertuamu membawa kebaya, kan?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

Sindi menatapnya lekat-lekat.

“Kebaya dipakai untuk acara resmi.”

Jantung Nadia berdebar.

“Gathering kantor biasanya pakai kaus seragam, bukan kebaya.”

Nadia merasa darahnya seperti berhenti mengalir.

Sindi melanjutkan dengan suara pelan.

“Kalau firasatku benar…”

Ia berhenti sejenak.

“Sepertinya Raka akan menikah lagi beb.”

Nadia bangkit begitu cepat hingga lututnya hampir membentur meja.

“Ayo kita pergi.”

Kali ini tak ada keraguan lagi di matanya.

Kalau benar ada sesuatu yang selama ini disembunyikan Raka, Nadia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!