NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Malam di balik pintu yang terkunci terasa abadi. Aurora terbangun dengan tubuh yang menggigil hebat. Suhu pendingin ruangan sentral yang diatur oleh kakaknya di lantai atas terasa seperti es yang menusuk kulitnya yang hanya dibalut seragam kotor. Perutnya tidak lagi melilit; rasa lapar itu telah berubah menjadi rasa kebas yang hampa.

Dalam kegelapan, Aurora meraba-raba kolong tempat tidurnya. Di sana, di dalam sebuah kotak sepatu tua yang tersembunyi di balik tumpukan buku, ia menyimpan satu-satunya harta karunnya. Sebuah bingkai foto kecil yang kacanya sudah retak di bagian sudut.

Itu adalah foto ibunya. Satu-satunya foto yang berhasil ia curi dari gudang saat ia berusia tujuh tahun.

Aurora menyalakan senter kecil dari gantungan kuncinya. Di bawah cahaya redup itu, ia menatap wajah wanita yang memiliki senyum serupa dengannya. Mata yang lembut, hidung yang kecil, dan binar yang seolah menjanjikan kehangatan.

"Ma... apa Mama juga benci sama Aurora?" bisiknya dengan suara serak. "Papa bilang Aurora pembunuh. Kak Eros, Kak Gavin, Kak Juna, dan Kak Arvin... mereka semua bilang rumah ini gelap karena Aurora ada."

Ia mengusap permukaan kaca foto itu. Namun, perhatiannya teralih pada sesuatu yang aneh. Di balik foto itu, ada bagian kertas yang sedikit menyembul. Dengan tangan gemetar, Aurora membuka penutup bingkai dan mengeluarkan selembar surat lama yang sudah menguning.

Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang terburu-buru.

..."Untuk bayiku yang akan lahir... Maafkan Mama. Mama tahu risiko ini terlalu besar, tapi Mama tetap memilihmu. Jangan biarkan mereka menyalahkanmu jika Mama tidak bisa menemanimu tumbuh. Katakan pada Papa, ini adalah pilihanku, bukan salahmu..."...

Air mata Aurora jatuh tepat di atas tulisan itu. Dadanya sesak hingga ia harus mencengkeram sprei tempat tidurnya agar tidak berteriak. Jadi, selama ini ibunya sudah tahu? Ibunya memilihnya dengan sadar? Lalu mengapa Papa dan kakak-kakaknya tidak pernah memberitahunya? Mengapa mereka membiarkan Aurora tumbuh dengan beban sebagai seorang pembunuh?

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Aurora segera mematikan senternya dan menyembunyikan foto itu di balik bantal.

Cklek.

Pintu terbuka. Cahaya lampu koridor yang terang masuk dengan kasar, memaksa Aurora menyipitkan mata. Arvin berdiri di sana dengan rambut yang acak-acakan dan aroma alkohol yang tipis menguar dari tubuhnya. Ia baru saja pulang dari balap liar, tampaknya.

Arvin menatap Aurora yang meringkuk di lantai. Tatapannya masih dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda—mungkin efek alkohol yang membuatnya sedikit lebih manusiawi, atau mungkin rasa bersalah yang ia tekan dalam-dalam.

"Masih hidup lo?" tanya Arvin ketus. Ia melemparkan sebuah bungkusan plastik kecil ke lantai di depan Aurora. "Gue nggak sengaja beli burger kebanyakan. Makan itu, daripada mayat lo bikin bau rumah gue."

Aurora menatap bungkusan itu, lalu menatap Arvin.

"Kak Arvin... apa Mama benar-benar benci aku?"

Langkah Arvin yang hendak berbalik terhenti. Rahangnya mengeras. "Jangan mulai lagi, Aurora."

"Mama nulis surat, Kak. Mama bilang ini pilihan Mama," ucap Aurora dengan suara parau.

Arvin berbalik dengan cepat, ia menerjang masuk dan mencengkeram bahu Aurora, mendorongnya ke dinding.

"Lo nemu apa? Surat? Lo pikir surat sampah bisa hapus fakta kalau Mama nggak ada karena lo?!"

"Tapi Mama sayang aku, Kak! Kenapa Kakak nggak bisa sayang aku sedikit saja?" tangis

Aurora pecah.

Arvin menatap wajah adiknya yang hancur karena tangis. Untuk sesaat, ia melihat bayangan ibunya dalam diri Aurora—mata yang sama, keputusasaan yang sama. Cengkeraman tangannya melonggar. Arvin terpaku, namun egonya segera mengambil alih. Ia melepaskan Aurora dengan kasar.

"Gue nggak akan pernah sayang sama alasan kehancuran keluarga ini," desis Arvin. "Jangan pernah sebut soal surat itu lagi kalau lo nggak mau gue bakar barang-barang lo."

Arvin keluar dan membanting pintu, kali ini tanpa menguncinya kembali. Mungkin karena ia lupa, atau mungkin itu adalah cara kecilnya memberi "kebebasan" sementara.

Aurora mengambil burger yang dilemparkan Arvin. Roti itu sudah dingin dan sedikit penyet, tapi bagi Aurora, ini adalah makanan paling berharga. Ia memakannya sambil terisak di kegelapan.

Ia tidak tahu bahwa Arvin tidak benar-benar pergi. Arvin berdiri di balik pintu, bersandar pada tembok sambil memejamkan mata. Tangannya yang memegang korek api gemetar. Di dalam pikirannya, kata-kata Aurora terus bergema. Kenapa Kakak nggak bisa sayang aku sedikit saja?

Arvin memukul tembok di sampingnya dengan kepalan tangan hingga berdarah. Ia benci Aurora, tapi jauh di dalam sana, ia mulai membenci dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti melukai satu-satunya orang yang memiliki mata yang sama dengan wanita yang paling ia rindukan.

1
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
merry
bodoh klian tu gk ketulungan,,, skrg nikmati penyesalan klian😄😄😄😄ngurung nenek peot klian percm krn bntr lg juga msk lubang kubur seblm nikmatin hukumm ya,,,
Ridhasulistiasih
jd bingung.. nenek lastri bukannya asisten rumah tangga dan dia sayang sama aurora ya
merry
hati klian gk tergerak,, kalian gk pyn hati nurani ajj ,, bodoh juga sekolah tinggi cm Percy tahayul bgtuan,,, pdhl klo mkr pkai otak aku rsa klian gk bkln menyesal seperti skrg krn klian saudra satu rahim sm mmu msk gk ada hati nurani dikit pun
Ridhasulistiasih
kakaknya yg satu lg kemana thor?? si gavin kok gak diceritain lg??
Ridhasulistiasih: bukan, ituloh dibab awal dijelasin punya kakak 4: eros sisulung yg kaku, gavin si atletis tempramental, juna si jenius yg pendiam dan arvin si pemberontak...nah si gavin kemana? trus yg waktu disekolah ad alumni dtg itu si gavin kan, yg buat aurora dihukum lari keliling lapangan...
total 2 replies
merry
bpk bajingann iblis ajj gk gt x sm ank ya,,, bisa ap si ank kcil sampai bunuh istri mu,, penyesalan mu gk ada gunanya pak
merry
/Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/buat lh mrk penyesalan bgtt dh nyiksa adiku sndri klo pun sdr buat aura gk ingt siapa mrk lgg gk ingt itu saudranya mungkin itu lh hukuman terberat buat saudranya Aurora
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!