Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah jatuhnya Solaria, dunia tidak lagi mengenal konsep fajar. Kabut abu-abu yang dingin menyelimuti benua utama, dan suara lonceng gereja yang biasanya memuji cahaya kini telah digantikan oleh keheningan. Namun, bagi Kael Ravenhart, satu kerajaan hanyalah sebuah pembuka dalam sebuah kitab kehancuran yang sangat panjang.
Duduk di atas takhta obsidian Lux Aeterna, Kael tidak lagi melihat peta sebagai kumpulan negara dan budaya. Baginya, peta itu adalah daftar inventaris energi yang harus ia lahap. Garis keenam di tangannya terus berdenyut, menuntut lebih banyak mana, lebih banyak jiwa, dan lebih banyak wilayah untuk diselimuti oleh malam abadi.
Tujuan Kael selanjutnya adalah Benua Veridian, sebuah daratan di seberang Samudra Biru yang dihuni oleh para Druid dan Kerajaan Hutan yang memiliki koneksi mendalam dengan energi alam. Jika Solaria adalah pusat sihir cahaya, maka Veridian adalah lumbung Mana kehidupan.
"Tuanku, kapal-kapal kita telah siap," lapor Vorgas. Sang Jenderal kini tidak lagi memimpin manusia. Di belakangnya berdiri barisan kapal yang tidak terbuat dari kayu, melainkan dari sisa-sisa kapal perang Solaria yang telah disatukan kembali oleh sihir Void. Layar-layar mereka adalah asap hitam yang tidak membutuhkan angin untuk bergerak.
Kael berdiri, zirah bayangannya mendesis saat bersentuhan dengan udara dingin. "Samudra Biru memiliki perlindungan dari Dewa Laut. Seret dia keluar dari kedalamannya."
Saat armada bayangan itu bergerak meninggalkan pelabuhan, air laut yang tadinya biru jernih mulai berubah menjadi hitam pekat. Ikan-ikan mati mengambang, dan monster laut yang biasanya menyerang kapal-kapal asing melarikan diri dalam ketakutan. Kael berdiri di anjungan kapal utama, tangannya terangkat ke langit.
"VOID DOMAIN: STILL WATER."
Seketika, gelombang samudra yang ganas menjadi tenang—terlalu tenang. Tekanan gravitasi dari Sigil ke-6 Kael menekan permukaan air hingga menjadi sekeras lantai batu. Kapal-kapal mereka meluncur di atas air layaknya kereta kuda di atas jalan, melaju menuju Veridian dengan kecepatan yang melampaui logika pelayaran.
Eldoria, ibu kota Veridian, adalah kota yang dibangun di atas dahan-dahan pohon purba raksasa yang disebut Yggra. Selama ribuan tahun, pohon ini telah menyaring mana dari inti bumi dan memberikan kehidupan abadi bagi penduduknya.
Namun, saat armada Kael mencapai pantai, mereka tidak melihat pemandangan hijau yang indah. Mereka melihat bayangan yang merayap di atas ombak.
Ratu Elara dari Eldoria berdiri di puncak Yggra, dikelilingi oleh para pemanah elf dan penyihir alam. "Aktifkan Thorn Barrier! Jangan biarkan kegelapan itu menyentuh tanah suci!"
Akar-akar raksasa berduri tumbuh dari laut, membentuk dinding setinggi seratus meter. Namun, Kael tidak memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Ia hanya melompat dari kapal, melayang di udara dengan kabut hitam yang menyerupai sayap malaikat maut.
"Kehidupan yang kau banggakan ini," suara Kael bergema, menggetarkan setiap daun di hutan Veridian. "Hanyalah makanan yang tertunda."
Kael mendarat di atas dinding duri tersebut. Bukannya terluka, duri-duri itu justru layu dan hancur menjadi abu saat bersentuhan dengan kakinya. Kael meletakkan telapak tangannya pada batang pohon Yggra.
"VOID CORRUPTION: ENTROPIC REACH."
Hitam. Seketika, pembuluh mana di dalam pohon purba itu berubah menjadi hitam. Daun-daun yang tadinya bercahaya hijau emerald mulai berguguran, berubah menjadi debu sebelum menyentuh tanah. Pohon yang telah hidup selama lima ribu tahun itu menjerit dalam frekuensi yang hanya bisa didengar oleh para pengguna sihir.
"HENTIKAN!" teriak Ratu Elara sambil melepaskan panah hijau yang mengandung seluruh esensi hidupnya.
Kael menangkap panah itu dengan dua jari. Ia melihat ke arah Elara dengan tatapan kosong. "Kau ingin mempertahankan kehidupan? Kalau begitu, jadilah bagian dari keabadianku."
Kael meremas panah itu, dan energi di dalamnya tersedot habis. Dengan satu lambaian tangan, gelombang Void menyapu kota di atas pohon tersebut. Para penduduk tidak mati secara fisik, namun Sigil mereka—yang berbasis alam—dicabut paksa dari tubuh mereka. Mereka jatuh pingsan, menjadi cangkang kosong yang tidak lagi memiliki hubungan dengan dunia luar.
Veridian jatuh dalam satu malam. Pohon Yggra kini menjadi monumen hitam yang mati, sebuah menara pengawas bagi kekuasaan Kael di benua baru.
Penaklukan Kael tidak berhenti di Veridian. Ia seperti wabah yang tak terbendung.
Ia bergerak menuju Benua Azurite, daratan gurun yang dikuasai oleh Kekhalifahan Al-Zaman, para ahli sihir ruang dan waktu. Mereka mencoba mengunci Kael dalam Time Loop (perulangan waktu), berharap bisa menghentikannya dalam momen abadi.
Namun, Sigil ke-6 Kael memiliki kendali atas realitas. Kael hanya perlu mengepalkan tangannya untuk "merobek" kain waktu yang mereka ciptakan. Ia berjalan menembus pasir yang membeku di udara, memenggal kepala sang Sultan dengan pedang yang terbuat dari kegelapan murni, dan melahap Gemstone of Ages yang menjadi sumber kekuatan mereka.
Setelah itu, ia menuju Kekaisaran Ironfist, sebuah negara industri sihir yang membangun raksasa-raksasa logam (Golems) setinggi gedung. Mereka menembakkan meriam mana yang mampu meratakan pegunungan.
Kael menghadapi ribuan Golem itu sendirian.
"VOID COLLAPSE."
Ia menciptakan titik-titik gravitasi di dalam mesin-mesin raksasa itu. Golem-golem setinggi lima puluh meter itu melipat diri mereka sendiri, hancur menjadi bola logam kecil karena tekanan internal yang tak tertahankan. Raja Ironfist menyerah sebelum Kael sempat menginjakkan kaki di istananya.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, tiga benua telah tunduk. Di setiap ibu kota yang ia taklukkan, Kael mendirikan tiang hitam raksasa—sebuah antena untuk menyebarkan frekuensi Void ke seluruh dunia.
Seiring dengan bertambahnya wilayah, fisik Kael mulai berubah secara drastis. Kulitnya kini putih pucat seperti porselen, namun ditutupi oleh pola Sigil yang terus bergerak dan berdenyut warna ungu gelap. Ia tidak lagi makan, tidak lagi tidur, dan jarang sekali berbicara.
Di dalam pikirannya, Umbra terus tertawa. "Kau lihat, Kael? Dunia ini adalah tanah liat, dan kau adalah pemahatnya. Tidak ada lagi kelaparan, tidak ada lagi ketidakadilan, karena semua orang sekarang sama... mereka semua adalah bayanganmu."
Namun, di tengah kemenangannya yang absolut, Kael sering berdiri di puncak menara tertinggi di mana pun ia berada, menatap ke arah utara—ke arah Archeon, tempat di mana Liora melarikan diri.
Ia merasakannya. Liora sedang mengumpulkan sesuatu. Ada percikan cahaya kecil yang belum bisa ia padamkan.
"Vorgas," panggil Kael suatu malam di atas reruntuhan istana Ironfist.
"Ya, Kaisar?"
"Apakah kau masih merasakan rasa sakit?" tanya Kael sambil menatap tangannya yang kini bisa menembus materi.
Vorgas terdiam. Sebagai jenderal yang telah kehilangan banyak anggota tubuh dan digantikan oleh energi Void, ia mengerti maksud Kael. "Rasa sakit adalah pengingat bahwa kita pernah hidup, Tuanku. Namun di bawah kehendakmu, rasa sakit adalah sebuah kemewahan yang sudah tidak kita butuhkan."
Kael menutup matanya. Ia mencoba mengingat rasa roti hangat di Eldravale, atau aroma hutan setelah hujan. Namun yang ia rasakan hanyalah dingin. Dingin yang sempurna.
Hanya tersisa satu benua yang belum disentuh oleh bayangan Kael: Celestia, Benua Langit. Ini adalah tempat di mana para High Priests dan keturunan langsung dari para Dewa tinggal. Benua ini melayang di atas awan, dilindungi oleh badai petir abadi dan perisai cahaya yang sepuluh kali lebih kuat dari Divine Aegis Solaria.
Di sinilah Liora Ashveil dikabarkan bersembunyi. Di sinilah "Harapan Terakhir" dunia sedang ditempa.
Kael tahu bahwa menyerang Celestia tidak akan semudah kerajaan lainnya. Di sana, hukum gravitasi berbeda, dan mana yang mengalir di sana murni bersifat suci.
"Tuanku, para utusan dari Celestia telah tiba," lapor seorang Void Walker.
"Utusan?" Kael turun dari takhtanya.
Tiga sosok bersayap perak berdiri di gerbang istana. Mereka tidak membawa senjata, melainkan sebuah gulungan surat yang bercahaya putih.
"Kael Ravenhart," salah satu dari mereka berbicara, suaranya seperti denting harpa. "Kau telah melampaui batas yang diizinkan bagi makhluk fana. Alam Astral telah memutuskan untuk melakukan intervensi. Serahkan Sigilmu, kembalikan matahari dunia, atau Celestia akan menjatuhkan Judgment of the Seven Stars ke atas kepalamu."
Kael berjalan mendekati utusan itu. Tekanan auranya membuat sayap perak sang utusan mulai hangus. "Alam Astral baru bicara sekarang? Di mana mereka saat aku dibuang? Di mana mereka saat dunia ini membusuk dalam keserakahan?"
Kael memegang wajah sang utusan.
"VOID NULLIFICATION."
Tanpa sempat berteriak, utusan itu lenyap. Bukan mati, tapi benar-benar dihapus dari keberadaan. Dua utusan lainnya gemetar, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh makhluk surgawi.
"Kembalilah ke langitmu yang tinggi," ucap Kael pada dua utusan. "Katakan pada tuanmu... Aku tidak datang untuk bernegosiasi. Aku datang untuk menjatuhkan langit itu ke atas bumi."
Kael kembali ke takhtanya. Ia merasakan garis keenamnya bergetar hebat. Ia tahu bahwa penaklukan Celestia adalah kunci untuk membuka Garis Ketujuh. Bukan karena wilayahnya, tapi karena di Celestia terdapat Spirit of the Creator.
Ia memanggil seluruh pasukannya—ribuan kapal bayangan, jutaan prajurit Void, dan naga-naga tulang yang ia bangkitkan dari Veridian.
"Kita bergerak ke Celestia," perintah Kael.
Dunia yang kini gelap gulita melihat sebuah pemandangan mengerikan. ribuan titik cahaya ungu bergerak naik ke angkasa, menantang awan dan petir. Kael Ravenhart, sang Kaisar Kehampaan, tidak lagi puas dengan bumi. Ia ingin menjadi penguasa dari segala hal yang terlihat dan yang tersembunyi.
Di atas sana, di balik awan Celestia, Liora Ashveil berdiri dengan busur matahari yang baru, menatap ke bawah. Ia melihat kegelapan yang datang untuk menjemputnya.
"Datanglah, Kael," bisik Liora. "Mari kita lihat, apakah kehampaanmu bisa menelan bintang yang rela terbakar demi dunia."
Babak akhir penaklukan dunia telah dimulai. Kael Ravenhart telah menjadi monster bagi dunia, namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang pria yang mencoba mengisi kekosongan di dalam hatinya dengan seluruh alam semesta. Dan ia tidak akan berhenti sampai garis ketujuh terukir di tangannya, atau sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk dilahap.