NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8 Nyonya Reigan

Gedung pusat Valerius menjulang seperti pedang perak yang membelah langit sore. Begitu pintu Rolls-Royce Ghost terbuka di lobi privat, Reigan keluar tanpa menunggu Hana yang duduk bersamanya tadi.

Langkahnya lebar dan menuntut, sementara Hana mengikuti di belakang dengan langkah tenang. Masih menenteng kantong plastik bermerk minimarket yang buka 24 jam itu.

Marco membukakan pintu lift khusus. Di dalam ruang sempit yang bergerak naik itu, keheningan terasa mencekik. Marco terus mencuri pandang ke arah Hana melalui pantulan dinding lift yang mengilap. Dia ingin tahu siapa wanita dengan tampilan sederhana ini. Karena begitu berbanding terbalik dengan kemewahan Reigan Douglas.

"Berhenti menatapnya, Marco. Dia bukan tontonan," tegur Reigan dingin tanpa menoleh.

"Maaf, Bos. Hanya saja... ini pertama kalinya ada wanita di lantai teratas," jawab Marco jujur. Reigan paham itu.

Pintu lift berdenting terbuka di lantai atas. Nico sudah menunggu di sana dengan tablet di tangan dan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Hana.

"Maaf, Tuan Reigan. Anda terlambat sepuluh menit untuk rapat internal terkait pengiriman di pelabuhan," ujar Nico, matanya beralih ke arah Hana dengan tatapan bertanya. "Dan... siapa dia, Tuan?"

Reigan berjalan melewati Nico menuju ruang kerja utamanya yang luas. "Namanya Hana. Anggap dia sebagai aset berharga kakek Douglas yang harus tetap utuh. Dia akan di sini sampai situasi di luar kondusif."

Nico mengerutkan kening, menatap Hana yang sekarang sedang memperhatikan pajangan miniatur kapal di sudut ruangan.

"Maaf, Tuan. Aset? Maksud Anda?" Nico bingung. Masih dengan mengamati perempuan yang datang bersama Tuannya tadi.

Hana mengalihkan pandangannya dari miniatur kapal, lalu menatap Nico dengan mata kosongnya yang tenang. Tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya, ia berucap, "Aku Hana. Wanita yang dinikahkan Kakek Douglas dengan Reigan."

Detik itu juga, waktu seolah berhenti di lantai tertinggi gedung Valerius. Tablet di tangan Nico hampir merosot, sementara Marco yang baru saja melangkah masuk langsung membeku di ambang pintu dengan mulut setengah terbuka.

"Nyonya Reigan?" gumam Marco, suaranya nyaris hilang. Keningnya mengerut. Dia belum mendengar kabar ini dari siapapun.

Reigan memutar tubuhnya dengan sangat cepat, tatapannya tajam seperti pisau yang siap menguliti. Ia tidak menyangka Hana yang biasanya diam akan meledakkan bom informasi seperti itu di depan bawahannya.

Rahang pria ini mengeras. Tatapan matanya seolah bisa membakar objek yang dilihatnya, tapi kemudian redup karena dia tahu, semua pasti akan tahu soal pernikahan ini.

Nico, yang biasanya sangat terkontrol, kini berkedip berkali-kali. Ia menatap Reigan, mencari penyangkalan, namun ekspresi murka dan frustrasi di wajah bosnya justru menjadi konfirmasi paling nyata.

"Lebih dari itu, Nico," potong Reigan sambil melepas jasnya dan melemparkannya ke kursi. "Dia adalah kewajiban hukum yang merepotkan."

Hana sama sekali tidak merasa tersinggung disebut sebagai 'kewajiban yang merepotkan'. Ia justru tersenyum tipis.

Nico mendehem samar. Mengurangi rasa terkejutnya karena kabar barusan. Lalu memperbaiki sikap.

"Selamat datang dan salam kenal, Nyonya. Saya Nico. Maafkan saya terlambat mengenalkan diri." Nico membungkuk.

"Hei, kau juga meminta maaf padanya?" tegur Marco mengingat kebiasaan pria ini mengucap maaf hanya pada Reigan.

"Apa kamu yang menyiapkan sprei di apartemen?" tanya Hana pernah dengar dari Reigan bahwa asistennya yang menyiapkan.

"Benar Nyonya."

"Terima kasih. Itu sprei sutra yang bagus."

"Sama-sama Nyonya. Saya hanya mematuhi perintah Tuan Reigan."

Reigan melihat Nico bersikap santun pada Hana. Sikap pertama yang dilakukan Nico tanpa ekspresi. Sedikit aneh.

"Pastikan dia tidak menyentuh apa pun yang penting, Nico," ujar Reigan.

"Saya mengerti. Silakan duduk, Nyonya." Nico dengan sopan mempersilakan.

"Terima kasih." Hana berjalan menuju sofa kulit berukuran besar di pojok ruangan dan duduk di sana dengan santai tanpa terlihat  meremehkan orang yang ada di dalam ruangan ini.

"Maaf. Aku boleh makan ini sekarang?" tanya Hana sambil mengangkat kantong plastiknya.

Reigan yang sedang memeriksa dokumen di meja kerjanya mendongak sekilas.

"Lakukan sesukamu, asal jangan mengotori sofaku dengan remah-remah biskuit itu."

"Terima kasih."

Nico menangkap ini. Ada kata maaf dan terimakasih yang jarang diucapkan orang sekelas Tuan Reigan. Dia merasa ada yang berbeda. Apa dia bukan dari kelas yang sama dengan Tuan Reigan?

"Nico, laporannya," perintah Reigan mencoba mengembalikan fokus.

Nico mendekat ke meja Reigan. "Maaf Tuan. Kami menemukan jejak komunikasi dari pihak 'Phantom' yang mengarah ke gudang di sektor utara. Mereka tahu kita sedang memperketat keamanan."

"Tentu saja mereka tahu. Ada pengkhianat di dalam," desis Reigan.

Hana mulai membuka bungkusan biskuitnya. Suara gemerisik plastik di ruangan yang kedap suara itu terdengar sangat nyaring. Hana tidak bermaksud membuat berisik.

Nico dan Marco hanya bisa saling lirik, merasa ganjil melihat seorang wanita asing mengunyah camilan di markas besar salah satu organisasi paling ditakuti di kota ini.

"Maaf, aku mengganggu kalian?" tanya Hana.

Nico dan Marco terpaku. Pertanyaan itu terdengar sangat tulus namun sekaligus menyindir bagi siapa pun yang mengenal reputasi ruangan ini.

"Kau adalah gangguan terbesar dalam daftar prioritasku hari ini, Hana," sahut Reigan tanpa mengangkat wajah dari dokumennya, meskipun Nico tahu bosnya itu tidak benar-benar sedang membaca.

Nico terkejut. Meski dia tahu kalau Reigan jarang berurusan dengan wanita jika bukan karena bisnis atau operasi dunia bawah tanah, tapi menurutnya ini tetap mengejutkan. Apalagi dengan status istri yang melekat. Namun wanita itu tidak bereaksi banyak. Tidak ada raut wajah sedih saat dimarahi.

"Nico, abaikan dia. Lanjutkan laporan. Bagaimana dengan laporan intelijen mengenai pergerakan di pelabuhan?" tanya Reigan dengan suara yang kembali dingin dan otoritas yang penuh.

Nico berdeham, mencoba memusatkan kembali perhatiannya pada tablet di tangan kembali ke mode profesionalnya yang kaku. "Pihak otoritas mulai menekan karena ada peningkatan pengawasan dari interpol di dermaga empat, Bos. Mereka tampaknya mencari sesuatu yang spesifik."

"Biarkan mereka mencari. Jalur distribusi kita sudah dialihkan sejak kemarin. Pastikan tidak ada satu pun unit yang tertahan," sahut Reigan. Matanya menatap tajam ke arah peta digital di layar, mencoba memusatkan perhatiannya yang sempat terpecah.

Di sudut ruangan, Hana bukan hanya sedang makan. Dia sedang memindai segala hal yang ada dikantor Reigan.

"Kau sedang mencari apa, Hana?" tanya Reigan tiba-tiba, suaranya berat dan penuh selidik.

Hana berhenti memindai. Ia menatap Reigan, lalu beralih ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian lantai atas.

"Gedung ini sangat tinggi," ucap Hana datar, suaranya tenang tanpa nada kagum.

Nico dan Marco saling lirik. Kata-katanya tidak agresif, namun kejujurannya yang telanjang terasa seperti embusan angin dingin yang lewat. Hana kemudian kembali pada biskuitnya, seolah kalimat mengerikan tadi hanyalah observasi cuaca yang remeh.

"Kau mau bunuh diri?" tanya Reigan.

Nico dan Marco menoleh cepat pada atasannya. Terkejut.

"Maaf. Aku bukan orang yang putus asa," ujar Hana datar. Reigan menipiskan bibir kesal merasa waktunya terbuang sia-sia.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!