Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Pasar Gelap dan Ujian Pertama
Kota Perak bukanlah tempat yang ramah bagi pendatang baru, terutama bagi mereka yang tidak memiliki uang atau koneksi. Jalanan utamanya dipenuhi oleh pedagang yang berteriak menawarkan barang dagangan mereka, mulai dari ramuan obat palsu hingga senjata bekas yang retak. Bau keringat, kotoran beast, dan rempah-rempah asing bercampur menjadi aroma khas kota perdagangan ini.
Lin Fan (Han Bing) dan Xue Ying (Luo Shuang) berjalan menyusuri kerumunan dengan kepala tertunduk. Jubah lusuh mereka menarik tatapan merendahkan dari beberapa warga lokal, tapi Lin Fan mengabaikannya. Fokusnya adalah mencari informasi dan sumber daya.
"Kita butuh uang," bisik Lin Fan kepada Xue Ying. "Dan kita butuh tempat tinggal yang aman. Gubuk di pinggiran kota terlalu rentan terhadap pencuri."
Xue Ying mengangguk. "Aku punya sedikit sisa perhiasan dari sekteku. Bisa kita jual?"
"Tidak," potong Lin Fan tegas. "Perhiasan Sekte Lembah Es memiliki ciri khas. Jika dijual ke toko biasa, pemiliknya mungkin melaporkannya ke jaringan intelijen Sekte Langit Merah. Kita harus menjualnya di Pasar Gelap, kepada pembeli yang tidak bertanya banyak."
Mereka berbelok ke gang sempit di distrik barat kota, area yang dikenal sebagai 'Zona Abu-abu'. Di sini, hukum kota longgar, dan transaksi ilegal sering terjadi di bawah meja.
Setelah bertanya pada beberapa pengemis dan pencopet kecil dengan imbalan beberapa koin tembaga, mereka akhirnya menemukan pintu masuk menuju Pasar Bawah Tanah. Pintu masuknya tersembunyi di balik kedai arak tua yang bau. Sebuah pintu jebakan di lantai gudang mengarah ke tangga batu yang menurun ke dalam perut bumi.
Di bawah tanah, suasananya berbeda total. Cahaya redup dari kristal pendar menerangi lorong-lorong batu. Suara tawar-menawar dilakukan dengan bisikan. Orang-orang mengenakan topeng atau tudung untuk menyembunyikan identitas.
Lin Fan dan Xue Ying menemukan sebuah kios kecil yang dikelola oleh seorang pria tua bermata satu. Di mejanya terdapat berbagai barang antik dan artefak rusak. Pria itu tampak ahli dalam menilai nilai sebenarnya dari barang-barang tersebut.
Lin Fan mendekati kios itu, meletakkan sebuah kalung perak sederhana dengan liontin bunga lotus kecil di atas meja. Ini adalah satu-satunya perhiasan Xue Ying yang tidak memiliki tanda sekte yang mencolok, namun terbuat dari perak murni berkualitas tinggi.
Pria bermata satu itu melirik kalung itu, lalu menatap Lin Fan dengan mata satunya yang tajam.
"Perak murni, buatan tangan halus," gumamnya. "Tapi desainnya kuno. Dari mana kau mendapatkannya, anak muda?"
"Warisan keluarga," jawab Lin Fan datar. "Saya butuh Batu Spirit Grade Rendah. Sebanyak mungkin."
Pria itu tertawa kecil. "Batu Spirit? Untuk kalung begini? Kau tahu nilainyakan?"
"Saya tahu," kata Lin Fan. "Tapi saya juga tahu bahwa di pasar gelap, harga ditentukan oleh seberapa cepat penjual ingin barang itu hilang dari tangannya."
Pria bermata satu itu menyipitkan matanya, terkesan dengan keberanian Lin Fan. Dia mengambil kaca pembesar, memeriksa kalung itu lebih teliti.
"Baiklah. Aku akan memberimu lima Batu Spirit Grade Rendah. Itu penawaran terbaikmu."
Lin Fan berpikir sejenak. Lima batu itu cukup untuk memulai meditasi intensif selama seminggu. Tapi dia butuh lebih.
"Sepuluh," tawar Lin Fan. "Atau aku akan membawanya ke kios sebelah yang sedang mencari barang antik."
Pria itu mendengus, tapi akhirnya mengangguk. "Kau licik. Baiklah. Sepuluh."
Dia melemparkan sepuluh batu berwarna putih susu ke arah Lin Fan. Lin Fan menangkapnya, memeriksa kualitasnya sekilas—cukup murni—lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Mungkin lain kali kita bisa berbisnis lagi," kata pria itu sambil tersenyum miring. "Namaku Tuan Lao. Jika kau butuh informasi tentang siapa pun di Kota Perak, datanglah padaku. Dengan harga yang wajar, tentu saja."
Lin Fan mengangguk singkat. Informasi itu berharga. Mungkin nanti dia akan membutuhkannya.
Mereka meninggalkan kios Tuan Lao dan mencari penginapan. Mereka menemukan sebuah losmen murah bernama 'Inn Tidur Nyenyak' di pinggiran distrik perumahan padat. Kamarnya kecil, lembap, dan berbau apek, tapi pintunya memiliki kunci besi yang kokoh, dan lokasinya dekat dengan pintu keluar darurat jika terjadi kerusuhan.
Sesampainya di kamar, Lin Fan mengunci pintu dan memasang jebakan sederhana di ambang pintu menggunakan benang tipis dan pecahan kaca.
"Sekarang, waktunya berlatih," kata Lin Fan.
Ia duduk bersila di atas kasur tipis, mengeluarkan Sutra Hati Es Murni. Xue Ying melakukan hal yang sama di sudut ruangan lainnya.
Lin Fan menutup matanya, memusatkan pikiran. Ia mulai menyerap energi dari Batu Spirit Grade Rendah pertama. Berbeda dengan teknik sebelumnya yang agresif, Sutra Hati Es Murni menuntut ketenangan total. Ia harus membiarkan Qi mengalir seperti air sungai yang tenang, mendinginkan setiap sel tubuhnya, menghilangkan ketegangan otot dan kekacauan pikiran.
Prosesnya lambat. Tapi hasilnya luar biasa. Setelah menyerap batu pertama, Lin Fan merasakan Dantian-nya menjadi lebih padat dan stabil. Level 7-nya, yang sebelumnya goyah karena penggunaan teknik berlebihan, kini mulai mengeras seperti es yang membeku sempurna.
Sementara itu, Xue Ying bergumul dengan Seni Cambuk Naga Es. Wajahnya berkerut kesakitan saat Qi dingin mencoba membentuk pola naga di sepanjang meridian lengannya. Cambuk di sisinya bergetar sendiri, seolah-olah merespons panggilan energinya.
"Jangan dipaksa," bisik Lin Fan tanpa membuka mata. "Biarkan Qi menemukan jalannya sendiri. Emosimu masih terlalu kacau. Tenangkan hatimu dulu."
Xue Ying menghela napas, mencoba mengikuti saran Lin Fan. Perlahan, getaran cambuk itu mereda, dan aliran Qi-nya menjadi lebih lancar.
Malam berlalu dengan tenang. Pagi harinya, Lin Fan bangun dengan perasaan segar. Tubuhnya terasa ringan, dan indranya lebih tajam. Ia merasa siap menghadapi tantangan apa pun.
Tapi ketenangan itu pecah ketika terdengar ketukan keras di pintu kamar mereka.
BAM! BAM! BAM!
"Buka pintu! Inspeksi Keamanan Kota!" teriak suara kasar dari luar.
Lin Fan dan Xue Ying saling pandang. Inspeksi? Di Kota Perak, "inspeksi" biasanya berarti pemerasan atau pencarian buronan.
Lin Fan membuka pintu dengan hati-hati. Di luar berdiri tiga orang berpakaian seragam biru tua dengan lencana pedang bersilang. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan wajah bopeng, menatap Lin Fan dengan curiga.
"Nama?" tanya pria bopeng itu.
"Han Bing," jawab Lin Fan tenang.
"Dan wanita di dalam?"
"Luo Shuang. Adik saya."
Pria bopeng itu mendorong pintu terbuka paksa, masuk ke dalam kamar tanpa izin. Matanya menyapu ruangan, tertuju pada tas penyimpanan Lin Fan yang tergeletak di kasur.
"Kami menerima laporan bahwa ada dua orang mencurigakan masuk ke kota kemarin malam. Mencuri barang berharga dari pedagang di distrik timur," kata pria itu, meski nada suaranya menunjukkan dia tidak benar-benar percaya pada laporannya sendiri. Ini adalah alasan klasik untuk menggeledah dan memeras pendatang baru.
"Kami tidak mencuri apa-apa," kata Lin Fan dingin. "Kami baru tiba kemarin."
"Membuktikan ketidakbersalahanmu mudah," kata pria bopeng itu sambil tersenyum licik. "Serahkan semua barang berhargamu untuk diperiksa. Jika tidak ada barang curian, kami akan mengembalikannya. Tentu saja, setelah membayar 'biaya administrasi' sebesar 50 koin emas."
50 koin emas? Itu jumlah yang sangat besar untuk pendatang miskin. Jelas ini pemerasan.
Lin Fan menatap pria itu. Matanya menyipit. Dia bisa melawan. Dengan Level 7 dan teknik barunya, dia bisa mengalahkan ketiga penjaga ini dengan mudah. Tapi itu akan menarik perhatian. Dan menarik perhatian adalah hal terakhir yang dia inginkan.
Tapi menyerah juga bukan pilihan. Mereka butuh setiap sumber daya yang mereka miliki.
Lin Fan tersenyum tipis. Senyuman yang membuat bulu kuduk pria bopeng itu berdiri.
"Biaya administrasi?" tanya Lin Fan pelan. "Apakah Anda yakin Anda ingin mengambil risiko itu?"
Pria bopeng itu tertawa meremehkan. "Risiko apa? Kau hanya anak jalanan kotor. Ayo, berikan uangnya, atau kami akan membawa kalian ke penjara bawah tanah. Di sana, kalian akan belajar sopan santun."
Lin Fan menghela napas. "Sayang sekali."
Dalam sekejap, Lin Fan bergerak. Bukan menyerang tubuh pria itu, tapi menyerang tanah di bawah kakinya.
Dengan Tinju Embun Beku, ia menghantam lantai kayu. Lantai itu membeku seketika, menjadi licin seperti es.
Ketiga penjaga kehilangan keseimbangan, terpeleset dan jatuh bertumpuk-tumpuk dengan suara gedebuk yang lucu.
Sebelum mereka bisa bangkit, Lin Fan sudah berdiri di atas dada pemimpin mereka, pisau kecilnya menempel di tenggorokan pria bopeng itu.
"Dengarkan baik-baik," bisik Lin Fan, suaranya dingin seperti es. "Kami bukan pencuri. Kami adalah tamu yang tidak ingin diganggu. Jika kalian melaporkan kami, atau jika teman-teman kalian datang mencari masalah... aku akan memastikan bahwa nama kalian akan dikaitkan dengan skandal korupsi dan pencurian di pasar gelap. Aku punya bukti."
Itu gertakan. Lin Fan tidak punya bukti apa-apa. Tapi nada suaranya begitu meyakinkan dan kecepatan gerakannya begitu menakutkan, sehingga pria bopeng itu percaya.
"K-kami... kami hanya menjalankan tugas..." gagap pria itu, wajahnya pucat ketakutan.
"Pergi," perintah Lin Fan. "Dan jangan pernah kembali ke kamar ini."
Ia melepaskan tekanan, dan ketiga penjaga itu bangkit dengan susah payah, lalu lari keluar kamar dengan wajah malu dan marah, tapi takut.
Xue Ying menatap Lin Fan dengan kekaguman. "Kau menggertak mereka?"
"Kadang-kadang, kepercayaan diri adalah senjata terbaik," jawab Lin Fan sambil menutup pintu dan menguncinya kembali. "Tapi kita tidak bisa tinggal di sini lama-lama. Mereka akan kembali dengan bantuan."
"Ke mana sekarang?" tanya Xue Ying.
Lin Fan memikirkan kata-kata Tuan Lao tadi. Jika kau butuh informasi...
"Kita akan menemui Tuan Lao lagi," kata Lin Fan. "Kita butuh tempat yang lebih aman. Dan mungkin... pekerjaan."
Di Kota Perak, uang berbicara. Dan Lin Fan berencana untuk membuatnya berbicara keras.