NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis yang Dilanggar

BAB 8 — Garis yang Dilanggar

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan penuh antisipasi.

"Kalau aku menciummu lagi... kau akan pergi?"

Alena tidak menjawab dengan kata-kata. Dia tahu kata-kata sudah tidak cukup untuk menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini. Rasa takut, rasa ragu, rasa takut salah... semuanya lenyap digantikan oleh hasrat dan rasa sayang yang meluap-luap.

Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Alena justru mendekatkan tubuhnya. Dia mengangkat wajahnya, mempertemukan pandangannya dengan mata gelap milik Adrian yang kini tampak begitu gelap dan mendesak.

Bibirnya yang sedikit terbuka, matanya yang memancarkan pesan tak terucapkan: Tidak. Aku tidak akan pergi.

Itu adalah jawaban yang Adrian butuhkan.

Itu adalah izin yang mematahkan pertahanan terakhir mereka berdua.

Tanpa menunggu sedetik pun, Adrian menarik pinggang Alena dan mendekapnya erat. Bibir mereka bertemu kembali, tapi kali ini sama sekali tidak ada unsur lembut atau ragu-ragu seperti pertama kali.

Ciuman itu panas. Lapar. Dan sangat intens.

Adrian menciumnya dengan penuh gairah yang tertahan selama berbulan-bulan. Tangannya yang besar bergerak liar membelai punggung dan tengkuk gadis itu, menuntun gerakan mereka dengan posesif yang memabukkan.

"Mmmhh..." Alena mendesah pelan ke dalam mulut pria itu saat lidah mereka bertarung, membuat kepalanya terasa pening dan melayang.

"Len..." desah Adrian di sela-sela ciuman, suaranya berat dan parau. "Kau tahu kan... kalau kita lanjutkan ini, tidak ada jalan kembali? Kau akan menjadi milikku sepenuhnya?"

Alena menatapnya dengan mata yang berbinar basah, napasnya memburu kencang. "Aku tidak mau kembali, Adrian. Aku mau kamu. Sekarang. Disini. Milikilah aku..."

Kalimat itu adalah pemicunya.

Adrian tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat namun lembut, dia mengangkat tubuh Alena dan mendekapnya di dada. Alena refleks melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, membenamkan wajahnya di leher Adrian yang terasa hangat dan menenangkan.

Pria itu berjalan membawa Alena melewati koridor sempit menuju kamar utamanya. Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, mengunci dunia luar agar tidak bisa mengganggu mereka lagi.

Kamar itu luas, beraroma khas pria itu yang lebih kuat di sini. Pencahayaannya redup, hanya mengandalkan cahaya lampu tidur dan cahaya bulan yang masuk dari jendela besar, menciptakan suasana yang sangat privat dan sensual.

Adrian membaringkan tubuh Alena perlahan di atas kasur yang empuk dan lembut. Dia menindihinya namun tetap menopang berat badannya agar tidak menekan gadis itu. Tatapan mereka bertemu lagi di atas ranjang itu, penuh dengan rasa ingin tahu dan rasa saling memiliki.

Malam itu, garis antara dosen dan mahasiswi resmi dilanggar.

Malam itu, aturan hanyalah sekadar kata-kata mati.

"Ahh..." desis Alena panjang saat tangan besar Adrian mulai menyusuri lengannya, turun perlahan menyentuh pinggang rampingnya. Sentuhan itu membakar kulitnya seolah ada api.

"Diammu manis, tapi desahanmu jauh lebih menggoda, Sayang..." bisik Adrian tepat di telinga gadis itu, suaranya serak dan berat. "Biarin aku dengar suaramu. Jangan ditahan."

Ciuman mereka berlanjut semakin dalam, semakin liar. Tangan Adrian menjelajahi setiap inci tubuh Alena dengan penuh rasa kagum dan hasrat, mempelajari peta tubuh gadis itu, membuat Alena mengerang pelan di bawah sentuhan ahli pria itu.

"Ahh... Adrian..." rintih Alena saat bibir pria itu berpindah menghujani leher dan tulang selangka nya, meninggalkan bekas merah samar yang menandakan kepemilikan.

"Iya, Sayang... itu aku..." gumam Adrian sambil menghisap lembut kulit putih mulus itu. "Rasakan ini. Rasakan betapa aku menginginkanmu."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian Vale kehilangan kendali total.

Pria yang dikenal dingin, terkontrol, dan perfeksionis itu kini berubah menjadi sosok yang penuh api dan emosi. Dia mencumbu Alena dengan intensitas yang luar biasa, seolah ingin memastikan gadis itu tahu betapa dia sangat diinginkan, betapa dia sangat dicintai.

"Kau begitu sempurna, Alena..." desis Adrian, matanya menatap tajam ke manik mata gadis itu saat tangannya mulai membuka kancing baju Alena satu per satu dengan perlahan, membiarkan jarinya menyentuh kulit polos itu. "Tuhan... lihat kau... seputih susu, selembut sutra."

"Ahh... jangan digodain gitu..." Alena memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang karena sensasi yang luar biasa. "Terasa... anget..."

"Aneh? Atau enak?" goda Adrian, jari-jarinya bermain dengan ahli membuat gadis itu menggeliat liar di bawahnya.

"Ena... ahh! Enak banget, Adrian!"

"Begitu... teriakkan namaku sayang..." Adrian menunduk lagi, mencium bibir gadis itu dengan rakus. "Kau milikku sekarang. Hanya aku yang boleh bikin kau begini."

Alena juga menyerahkan dirinya sepenuhnya, tanpa ragu, tanpa takut. Dia membiarkan dirinya hanyut dalam sensasi yang diberikan pria itu, membalas setiap sentuhan dengan antusiasme yang sama besarnya. Rasa sakit yang dulu pernah ada di hatinya, sembuh seketika digantikan oleh rasa nikmat dan bahagia yang luar biasa.

"Masukkan... Adrian... aku udah gak tahan..." bisik Alena memohon dengan napas yang memburu, tangannya mencengkeram kuat sprei di samping kepalanya.

Adrian menatapnya dalam, tatapannya penuh hasrat yang tak terbendung lagi. "Ya... yes... aku cinta kau, Alena."

Dengan gerakan lambat namun pasti, Adrian menyatukan mereka berdua sepenuhnya.

"AAHHHH!!!"

Desahan panjang dan keras keluar dari bibir Alena, matanya terpejam kuat merasakan sensasi penuh dan hangat yang mengisi dirinya sepenuhnya. Rasanya perih sedikit tapi berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa saat Adrian mulai bergerak.

"Sakit?" tanya Adrian berhenti sejenak, mencium kening gadis itu berkali-kali.

"Jangan berhenti..." rengek Alena, melingkarkan kakinya erat ke pinggang pria itu. "Gerak dong... Adrian, lebih dalam, please..."

Itu saja yang dibutuhkan Adrian. Dia mulai bergerak dengan irama yang mantap, dalam, dan sangat memuaskan.

"Ohh... Yess... kau begitu ketat, Sayang..." desah Adrian dengan napas yang memburu, keringat mulai membasahi dahinya. Dia menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Alena, membuat tatapan mereka tak terputus. "Rasanya... surga..."

"Ahh... iya... gitu... deeper! Lebih dalam lagi Adrian!" teriak Alena tak mampu lagi menahan suaranya. Kepalanya melayang, tubuhnya terasa panas membara, setiap gesekan membuatnya menjerit nikmat.

"Suka ya? Suka aku masukin dalem gitu?" bisik Adrian nakal sambil mempercepat gerakannya, membuat ranjang itu ikut berderit pelan.

"Suka! Ahh! Suka banget!"

"Siapa yang punya badan seksi gini? Hah?"

"Aku... punya Adrian!"

"Bener! Milikku!"

Mereka bergerak beriringan, menari dalam irama hasrat yang membara, menciptakan kenangan manis yang tak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup. Suara desahan, teriakan nama satu sama lain, dan suara tubuh yang bertabrakan memenuhi kamar itu sepanjang malam.

Garis yang seharusnya tidak pernah diseberangi, kini telah hancur lebur oleh api cinta dan nafsu mereka berdua.

Hingga akhirnya, ketika energi mereka habis dan kepuasan menyelimuti seluruh jiwa raga, perlahan-lahan badai itu mereda menjadi ombak yang tenang.

Adrian menggeser tubuhnya dan berbaring di samping Alena, lalu segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Alena berbaring menyamping dengan kepala bersandar di dada bidang pria itu, mendengar detak jantungnya yang masih berpacu cukup kencang namun terasa sangat menenangkan.

Selimut ditarik menutupi tubuh mereka berdua yang masih memerah dan berkeringat.

Di luar, angin malam mungkin masih bertiup kencang dan dingin. Tapi di sini, di dalam pelukan Adrian, Alena merasa hangat. Sangat hangat.

Mereka berdua kelelahan, napas mereka masih tertata namun wajah mereka dipenuhi oleh rasa damai dan puas yang luar biasa. Jari-jari Adrian bermain-main dengan helai rambut Alena dengan gerakan lembut, penuh kasih sayang.

"Tidurlah, cantikku..." bisik Adrian pelan di atas ubun-ubun gadis itu, menciumnya penuh sayang. "Kau sudah melakukan sangat baik tadi. Sangat sempurna."

"Mmm..." Alena mendengus pelan, tersenyum lemas. "Capek... tapi senang..."

"Aku tahu. Sekarang istirahat. Aku ada di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."

Alena mengeratkan pelukannya di pinggang pria itu, membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada bidang itu, meresapi aroma dan kehadiran pria yang kini telah menjadi miliknya sepenuhnya.

Tanpa terasa, mata mereka perlahan tertutup. Mereka tertidur lelap dalam satu dekapan, di tengah keheningan malam, sebagai dua orang yang baru saja menemukan kebahagiaan mereka sendiri.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!