NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Elena

Pagi itu dimulai seperti hari-hari biasa.

Setidaknya di permukaan.

Matahari terbit.

Para penjaga berganti giliran.

Dapur mulai ramai.

Dan rumah persembunyian kembali dipenuhi aktivitas.

Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa di tempat lain...

Seseorang sedang mengumpulkan informasi tentang Elena.

Seseorang yang sabar.

Seseorang yang berbahaya.

Victor.

Sementara itu, Elena sedang berada di ruang medis.

Rak-rak obat tersusun rapi.

Peralatan medis memenuhi meja kerja.

Tempat itu sudah menjadi dunia kecilnya selama bertahun-tahun.

Di sinilah ia membantu orang-orang yang terluka.

Di sinilah ia menghabiskan sebagian besar waktunya.

Dan di sinilah ia belajar menghadapi kehilangan.

Seorang anggota Valdarez yang terluka ringan duduk di hadapannya.

Elena membersihkan luka di lengannya dengan hati-hati.

"Kau harus lebih berhati-hati."

ucapnya.

Pria itu tertawa kecil.

"Kalau aku berhati-hati, aku tidak akan bekerja di sini."

Elena memutar mata.

"Itu alasan yang buruk."

Mereka tertawa pelan.

Momen sederhana.

Namun justru momen seperti itulah yang membuat Elena merasa hidup.

Beberapa menit kemudian.

Pintu terbuka.

Arda masuk.

Ia sebenarnya hanya ingin mengambil beberapa laporan medis untuk Kael.

Namun langkahnya terhenti saat melihat Elena sedang bekerja.

Ada sesuatu yang selalu berbeda saat gadis itu membantu orang lain.

Wajahnya terlihat lebih tenang.

Lebih hangat.

Seolah semua kekacauan dunia tidak mampu menyentuhnya.

Elena menyadari kehadirannya.

"Kau berdiri di situ sejak kapan?"

tanyanya.

Arda langsung tersadar.

"Baru saja."

Padahal sudah hampir satu menit.

Pria yang sedang diobati langsung tersenyum jahil.

"Oh."

"Oh?"ulang Elena.

Pria itu menunjuk Arda.

"Kalian aneh."

Elena langsung mengambil gulungan perban.

"Lanjut bicara dan aku ikat mulutmu."

Ruangan langsung dipenuhi tawa.

Bahkan Arda ikut tersenyum.

Namun setelah anggota itu pergi.

Suasana kembali tenang.

Hanya mereka berdua yang tersisa.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam di balkon...

Arda merasa sedikit canggung.

Perasaan yang sangat tidak biasa.

Karena ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

"Kau mencari sesuatu?"tanya Elena.

Arda mengangguk.

"Laporan medis untuk Kael."

Elena mengambil map dari rak.

Kemudian menyerahkannya.

Jari mereka bersentuhan sesaat.

Sangat singkat.

Namun cukup untuk membuat keduanya sama-sama terdiam.

Elena langsung mengalihkan pandangan.

Arda juga.

Dan keduanya pura-pura tidak menyadari apa pun.

Siang harinya.

Arda kembali ke ruang arsip.

Foto lama masih menjadi obsesinya.

Foto Leon.

Foto Isabella.

Foto Marcus.

Foto Kael.

Dan orang kelima.

Namun kali ini pikirannya terus terpecah.

Karena setiap kali mencoba fokus...

Wajah Elena justru muncul.

Arda menghela napas panjang.

Kemudian menutup map.

"Ada masalah?"

suara Ravian terdengar dari belakang.

Arda hampir terkejut.

"Tidak."

"Kau buruk sekali dalam berbohong."

Ravian duduk di seberangnya.

Kemudian menyeringai.

"Apa ini tentang Elena?"

Arda langsung membeku.

Dan itu sudah menjadi jawaban.

Ravian tertawa keras.

"Astaga."

"Kau benar-benar mudah dibaca."

"Diam."gumam Arda.

Namun itu hanya membuat Ravian semakin senang.

"Jadi akhirnya terjadi juga."

"Apa yang terjadi?"

"Kau menyukai seseorang."

Arda langsung bangkit dari kursinya.

"Aku pergi."

Ravian tertawa semakin keras.

Dan suara tawanya masih terdengar bahkan setelah Arda meninggalkan ruangan.

Sore menjelang.

Elena sedang menyusun persediaan obat ketika Kael datang.

Pria itu membawa beberapa dokumen.

Namun setelah melihat Elena...

Ia berhenti.

Beberapa detik.

Cukup lama hingga Elena menyadarinya.

"Ada apa?"

tanyanya.

Kael tersenyum tipis.

"Tidak ada."

"Itu jelas bohong."

Kael akhirnya tertawa kecil.

Jarang sekali.

Sangat jarang.

"Kau mengingatkanku pada Isabella."ucapnya.

Elena terdiam.

Nama itu selalu memiliki arti besar bagi keluarga Valdarez.

"Dia juga seperti itu."lanjut Kael.

"Selalu membantu orang."

"Selalu mencoba melihat sisi baik manusia."

Tatapan Kael perlahan berubah.

Menjadi lebih jauh.

Lebih lama.

Seolah sedang melihat masa lalu.

"Dan Leon mencintainya karena alasan itu."

Elena tidak tahu harus menjawab apa.

Karena ada kesedihan yang sangat jelas dalam suara Kael.

Kesedihan seseorang yang kehilangan terlalu banyak orang.

Malam datang.

Dan seperti biasa...

Arda kembali ke balkon.

Namun kali ini ia tidak sendirian.

Karena Elena sudah lebih dulu berada di sana.

Membaca buku.

Duduk di kursi kayu.

Dan terlihat begitu tenang hingga Arda tidak ingin mengganggunya.

Namun Elena tetap menyadarinya.

"Kau lagi."

"Kau juga."

Elena tersenyum.

Kemudian menutup bukunya.

"Apa yang kau baca?"tanya Arda.

"Novel lama."

"Romantis?"

Elena mengangkat alis.

"Aku tidak menyangka kau tahu genre itu."

Arda langsung menyesal bertanya.

Elena tertawa kecil.

Dan sekali lagi...

Suara itu membuat semuanya terasa lebih ringan.

Mereka berbicara lebih lama malam itu.

Tentang buku.

Tentang musik.

Tentang masa kecil.

Tentang hal-hal biasa.

Hal-hal yang hampir terlupakan di tengah perang.

Dan tanpa sadar...

Waktu berlalu begitu cepat.

Sampai akhirnya Elena berkata pelan.

"Aku senang kau masih bisa tersenyum."

Arda menoleh.

Elena sedang menatap lampu kota.

Bukan dirinya.

Namun kata-kata itu terasa tulus.

Sangat tulus.

"Kenapa?"tanya Arda.

Elena tersenyum kecil.

"Karena beberapa bulan lalu..."

"...aku takut kehilanganmu."

Jantung Arda langsung berdetak lebih cepat.

Elena segera melanjutkan.

"Bukan kehilangan secara harfiah."

"Maksudku..."

"Aku takut kau berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengenali dirimu sendiri."

Keheningan muncul.

Namun kali ini terasa berbeda.

Lebih dalam.

Lebih jujur.

Arda memandang Elena beberapa detik.

Kemudian berkata pelan.

"Aku rasa alasan aku masih bisa mengenali diriku..."

"...karena ada orang-orang yang mengingatkanku."

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk sesaat...

Tidak ada yang berbicara.

Karena keduanya memahami arti kalimat itu.

Namun jauh di luar sana...

Di sebuah gedung tua yang ditinggalkan.

Beberapa orang sedang berkumpul.

Bersenjata.

Berbahaya.

Dan dipimpin oleh satu orang.

Victor.

Di atas meja terdapat foto-foto.

Foto Kael.

Foto Ravian.

Foto Darius.

Foto Arda.

Dan tepat di tengah...

Foto Elena.

Victor mengambil foto itu.

Memperhatikannya beberapa saat.

Lalu tersenyum.

"Dia tidak memiliki banyak kelemahan."ucapnya.

"Tapi yang satu ini..."

"...akan cukup."

Salah satu anak buahnya menundukkan kepala.

"Apa perintah Anda?"

Victor meletakkan foto Elena kembali ke meja.

Tatapannya dingin.

Tanpa emosi.

Dan itulah yang membuatnya begitu menakutkan.

"Awasi dia."

"Jangan sentuh dulu."

"Belum."

Anak buah itu mengangguk.

Victor kembali melihat foto Arda.

Kemudian tersenyum tipis.

Senyum seseorang yang sudah merencanakan langkah berikutnya.

Dan ketika seorang pria seperti Victor mulai merencanakan sesuatu...

Biasanya seseorang akan terluka.

Pertanyaannya hanya satu.

Siapa?

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!