Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Nelayan Ketus Bau Sirih
Keheningan di dalam Kamar Nomor Empat mendadak terasa mencekam setelah aku membaca baris demi baris tulisan tangan Ayah.
Buku catatan bersampul kulit tua itu masih berada di pangkuanku, menguapkan bau kapur barus yang beradu dengan hawa dingin yang mengalir dari arah Kala. Aku menatap bergantian antara sketsa naga hulu sungai Asahan di kertas kekuningan itu dan sosok cowok di depanku.
Otakku serasa mau pecah memikirkan hubungan antara almarhum Ayah, luka perak di dada Kala, dan tato di pergelangan tanganku yang baru saja melepuh.
Brak! Brak! Brak!
Gedoran kasar di pintu tripleks mengagetkanku setengah mati. Buku di tanganku hampir saja terlempar ke lantai. Hubungan batin di pergelangan tanganku mendadak berdenyut ngilu, seolah memberi sinyal waspada yang dikirim langsung dari detak jantung Kala yang mendadak melompat cepat.
"Lara! Woy, anak tak tahu diuntung! Buka pintunya!" Sebuah suara parau, serak, dan sangat ketus berteriak dari balik dinding luar.
Aku mengenali suara itu. Itu Mbah Jarot, nelayan tua bermulut pedas yang kapalnya biasa bersandar di dermaga bongkar muat Selat Malaka. Orang tua yang terkenal paling tidak punya simpati di seluruh pesisir Tanjungbalai.
"Sembunyi!" bisikku panik pada Kala sambil menggerakkan tangan secara kalap.
Kala bergerak tanpa suara. Tubuh tingginya melesat cepat, menyelinap ke balik tirai dapur kain yang kumal—selembar kain jarik usang pembatas ruang cuci piring kecilku. Bobot tubuhnya yang besar membuat pipa besi jemuran di atasnya berderit ngeri, dan ujung kaki telanjangnya yang pucat masih sedikit menyembul di bawah kain.
Aku menarik napas panjang, melempar buku catatan Ayah ke bawah kasur lantai, lalu melangkah cepat menuju pintu. Begitu selot kuputar, pintu tripleks langsung didorong kasar dari luar sampai pundakku tergeser semeter.
Mbah Jarot berdiri di ambang pintu. Dia memakai kaos singlet dekil yang beralih warna jadi kuning kecokelatan, celana kain komprang hitam yang basah oleh air asin, dan handuk kecil yang melilit leher ringkihnya. Bau laut yang amis, tembakau murah, dan aroma sirih yang menyengat langsung merangsek masuk memenuhi ruangan kamarku.
Mulutnya bergerak-gerak, sibuk mengunyah lintingan daun sirih dan pinang.
"Lama sekali kamu buka pintu! Sedang memelihara setan apa di dalam?!" semburnya tanpa basa-basi. Mata tuanya yang keruh tapi setajam silet langsung menyapu seisi kamar kosku yang berantakan.
"Ada apa, Mbah? Mengetuk pintu orang seperti mau merobohkan jembatan saja," sahutku ketus, mencoba menghalangi jalan masuknya dengan berdiri tegak di tengah ruangan. Jantungku berdebar tak keruan, takut kalau uap es yang mulai keluar tipis dari balik tirai dapur terlihat olehnya.
Mbah Jarot tidak memedulikan protesku. Dia melangkah maju begitu saja, mendorong tubuhku dengan lengannya yang sekeras kayu jati akibat puluhan tahun menarik jala di lautan. Langkah kakinya yang kasar mendadak berhenti tepat dua langkah di depan tirai dapur kumal.
Hawa sedingin es mulai merembes keluar dari balik kain jarik itu, menurunkan suhu ruangan secara drastis hingga mangkok plastik di atas rak piringku mulai berembun. Aku bisa melihat siluet Kala di balik kain—tangannya mencengkeram pinggiran bak cuci piring, bersiap dengan insting liarnya jika orang tua ini macam-macam.
Mbah Jarot menyipitkan mata tuanya. Dia tidak berteriak histeris, tidak juga melangkah mundur ketakutan. Orang tua itu justru mendengus meremehkan.
Cuh!
Dia meludah ke lantai semen tepat di depan ujung kaki Kala yang tersembunyi. Cairan merah pekat bekas kunyahan sirihnya menodai lantai, menguapkan bau getir yang tajam.
"Sudah kuduga. Bau anyir rawa hulu sungai ini tidak bisa membohongi hidung tuaku, Lara," desis Mbah Jarot, memalingkan wajahnya perlahan menatapku dengan pandangan yang dingin sekaligus muak. "Kamu benar-benar anak Ibrahim yang paling bodoh. Ayahmu mati-matian menyembunyikan rahasia ini sampai ke liang kubur, dan sekarang anaknya malah membawa monster berdarah dingin ini masuk ke pusat kota."
Aku tersentak. Seluruh badanku mendadak kaku.
"Mbah... tahu?"
Mbah Jarot tertawa sumbang, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas pada besi berkarat. Dia berjalan menuju satu-satunya kursi plastik di sudut kamar, lalu mengempaskan pantatnya di sana tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Tahu?" Mbah Jarot kembali merobek daun sirih dari kantong celananya, memasukkannya ke mulut dengan gerakan santai namun mengintimidasi.
"Aku yang ikut mendayung perahu kayu saat Ibrahim menguras isi perut rawa hulu dua puluh tahun lalu! Aku tahu betul tanda perak di kulit mahluk itu. Dan kamu, bocah ingusan yang kerjanya cuma menyortir kertas resi di depo, nekat menyembunyikannya di Kamar Nomor Empat?"
Dari balik tirai dapur, suara desisan halus mulai terdengar. Kala merasa terancam. Embusan angin malam dari luar jendela mendadak berputar ganjil di dalam ruangan, membuat ujung tirai tersingkap sedikit, memperlihatkan separuh wajah Kala dengan mata emas berpupil vertikal yang berkilat penuh ancaman pembunuhan.
"Hei, Anak Naga, simpan mainan anginmu itu! Aku tidak takut dengan mahluk sekarat sepertimu," bentak Mbah Jarot tanpa menoleh pada Kala, nadanya ketus dan sama sekali tidak goyah.
Dia kembali menatapku yang masih mematung di dekat pintu. "Dengar, Lara. Kamu sedang cari mati. Pasukan keamanan internal Baron Logistics bukan cuma memeriksa jalanan pakai pemindai suhu tubuh genggam. Mereka itu anjing pelacak yang tidak akan berhenti sampai menemukan kargo mereka yang lepas. Begitu mereka tahu mahluk ini ada di sini, lehermu akan langsung diserahkan ke tiang gantungan mereka tanpa ada yang peduli."
"Aku tidak punya pilihan, Mbah!" ujarku, suaranya agak meninggi karena frustrasi yang memuncak.
Genggaman tanganku pada jaket oranyeku mengencang. "Dia merusak kargo di Gudang Sembilan karena tubuhnya terluka. Kalau aku melaporkannya ke pihak pelabuhan, aku yang harus membayar ganti rugi ratusan juta rupiah! Aku cuma butuh sisiknya untuk dijual ke pengepul barang antik agar bisa melunasi utang sewa kosan ini!"
Mbah Jarot meludah lagi, kali ini ke arah sudut dekat tempat sampah. "Sisik? Dasar otak udang! Uang hasil penjualan sisik itu tidak akan cukup untuk membeli kain kafanmu sendiri jika Tuan Baron melacak sinyal hawa dingin kamar ini!"
Nelayan tua itu berdiri dari kursi plastik, melangkah mendekat hingga wajahnya yang keriput dan hitam karena sengatan matahari Selat Malaka berada hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Bau sirih dan tembakau dari napasnya terasa begitu menekan.
"Ibrahim dulu mengorbankan seluruh sisa hidupnya agar urat nadi sungai ini tidak dikuasai oleh mesin-mesin pengeruk Baron. Sekarang, kamu malah mengundang marabahaya terbesar ke pemukiman pasar ikan ini hanya karena takut diusir dari kosan sempit ini?" Mbah Jarot mencengkeram bahuku kasar, tatapan mata tuanya mendadak terasa begitu berat dan penuh peringatan emosional yang menyayat hati.
"Jangan main-main dengan sesuatu yang darahnya tidak sama dengan kita, Lara. Sekali kamu terikat, kamu tidak akan pernah bisa kembali pulang menjadi manusia biasa lagi."
Dia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan ketus, lalu berbalik melangkah menuju pintu luar tanpa memedulikan tanggapanku.
"Pikirkan baik-baik isi kepala kosongmu itu sebelum bulan purnama besok malam datang. Kalau kamu masih mau selamat, buang mahluk itu kembali ke rawa sebelum terlambat," ucap Mbah Jarot sebagai kalimat penutup sebelum sosoknya hilang di balik kegelapan gang sempit di luar, meninggalkan bau sirih yang pekat dan pintu tripleks yang berayun pelan.
Aku jatuh terduduk di atas lantai semen yang dingin, menatap bercak merah ludah sirih Mbah Jarot yang perlahan mulai membeku tertutup kristal es tipis akibat hawa dingin Kala yang kembali menguar hebat. Rasa takut, bingung, dan tekanan psikologis yang luar biasa mendadak menghantam dadaku sekuat tenaga, membuat ruangan sempit Kamar Nomor Empat ini terasa makin mengecil dan mengurungku dalam lingkaran bahaya yang siap meledak kapan saja.