NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan Nilai & Janji Liburan

Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah-celah jendela kayu rumah Rania. Di ruang tengah yang sekaligus dijadikan tempat menyiapkan barang dagangan, suasana sudah terlihat sibuk namun tertata rapi.

Sejak subuh, Rania sudah bangun dan bergerak cekatan. Tumpukan bungkus nasi berisi lauk pauk dan sayuran segar sudah tersusun rapi di atas nampan besar, siap untuk ditata di meja depan. Berbagai adonan gorengan pun sudah selesai dibuat, tinggal menunggu waktu untuk dimasukkan ke dalam wajan berisi minyak panas.

Di sudut ruangan, Siti sibuk mengelap meja dan menata barang dagangan. Wanita muda berusia sekitar dua puluh satu tahun itu sudah bekerja sebagai penjaga lapak sekaligus bantu-bantu Rania di warung dagangannya. Hubungan mereka awalnya memang sekadar majikan dan karyawan, namun lama-kelamaan tumbuh rasa saling percaya dan keakraban. Sejak Bara pergi meninggalkan rumah secara mendadak—tanpa pesan, tanpa kabar, dan tanpa kepastian kapan akan kembali—Rania merasa tidak sanggup mengurus rumah, anak-anak, dan dagangan sendirian.

Akhirnya, Rania mengajak Siti untuk tinggal bersama di rumah ini, supaya pekerjaan lebih ringan dan ada teman menjaga rumah. Meski sudah tinggal satu atap dan hubungan makin akrab, Siti tetaplah menjaga sopan santun dan selalu memanggil Rania dengan sebutan "Bu", persis seperti saat pertama kali mereka bertemu dan bekerja sama.

"Bu, semua bungkus nasi sama lauknya sudah beres semua ya? Mau saya bawa ke depan dan ditata?" tanya Siti sambil mengangkat satu nampan, wajahnya yang muda dan segar tampak bersemangat membantu.

Rania mengangguk sambil mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan, napasnya sedikit terengah karena sudah berdiri dan bekerja sejak subuh. "Sudah, Siti. Tinggal gorengan saja nanti yang harus dimasak. Tapi sebentar ya, kamu lanjutkan dulu ya di sini. Hari ini kan jadwal pembagian raport Dika. Saya mau mandi dan bersiap-siap dulu, nanti saya ke sekolah sebentar ambil hasil belajarnya," jawab Rania lembut namun tegas.

"Siap, Bu! tenang saja, eh Ibu maksudnya. Biar saya yang lanjutkan menggoreng di sini. Saya jamin rasanya sama persis buatan Ibu, tidak ada bedanya. Semua akan saya awasi sampai matang pas dan enak. Ibu jangan khawatirkan urusan rumah sama warung, fokus saja ke sekolah sama Dika," ujar Siti riang sambil segera menyalakan kompor dan menuangkan minyak ke wajan besar. Aroma minyak yang mulai panas segera memenuhi ruangan.

Rania tersenyum lega. Ia sangat bersyukur memiliki Siti, pekerja yang setia, rajin, dan bisa diandalkan. Ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air bersih membasuh tubuhnya yang lelah bekerja. Mandi itu terasa begitu segar, seolah sedikit mengangkat beban berat yang selalu ia pikul di pundaknya—beban menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya, beban mencari nafkah sendirian, dan beban ketidakpastian nasib rumah tangganya.

Ia bersiap dengan penampilan sederhana namun rapi, mengenakan baju yang bersih dan sopan, lalu mengikat rambut panjangnya ke belakang agar tidak mengganggu saat berkendara.

Baru saja ia selesai merapikan pakaiannya, terdengar langkah kaki kecil berlarian mendekat. Itu Naya, yang baru berusia tiga tahun. Gadis kecil itu sudah berdiri di muka pintu dengan wajah berseri-seri, mengenakan baju kesukaannya.

"Ibu! Ibu mau ke sekolah Kakak Dika ya? Naya ikut ya? Naya mau ikut sama Ibu!" seru Naya sambil menarik-narik ujung baju ibunya dengan antusias. Matanya yang bulat berbinar-binar penuh harap.

Rania berjongkok setinggi anaknya, lalu mengusap pipi gembil itu dengan penuh kasih sayang. "Iya dong, Sayang. Naya pasti ikut. Kan Naya anak pintar, sudah besar juga sekarang. Nanti kita lihat sekolah Kakak ya," jawab Rania lembut.

Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur untuk berpamitan pada Siti.

Di sana, asap tipis sudah mengepul dari wajan, dan bau harum adonan bakwan serta tempe goreng mulai tercium nikmat.

Siti sibuk membalik-balik gorengan dengan sutil kayu, tangannya sudah terbiasa dengan kepulan asap dan panasnya udara, meski masih muda ia sangat cekatan dan terampil.

"Siti, saya berangkat dulu ya. Ke sekolah Dika sebentar saja kok, nanti cepat pulang," kata Rania sambil membenahi tas kecilnya.

Siti menoleh sambil tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. "Iya, Bu! Hati-hati di jalan ya. Di sini aman, semua akan saya urus sampai Ibu pulang.

Jangan terburu-buru, nikmati saja waktu sama Dika sama Naya."

"Terima kasih banyak, bantuannya ya."

Naya pun ikut melambaikan tangan kecilnya. "Assalamualaikum, Mbak Siti! Naya pergi dulu ya!"

"Waalaikumsalam, Cantik! Hati-hati ya sama Ibu, jangan nakal," balas mbak Siti dengan suara ceria.

Rania menuntun Naya keluar rumah menuju halaman tempat motor matic kesayangannya terparkir. Kendaraan itu adalah satu-satunya aset berharga yang mereka miliki, saat ini.

Rania mengangkat Naya dan mendudukkannya di kursi tambahan yang terpasang kokoh di bagian depan, di antara kemudi dan tempat duduk pengemudi. Kursi itu sudah ia pasang sejak lama agar Naya bisa ikut bepergian dengan aman dan nyaman. Ia mengikatkan sabuk pengaman sederhana, memastikan putrinya duduk dengan mantap.

"Sudah aman, Nak? Pegangannya jangan dilepas ya," pesan Rania.

"Siap, Bu! Naya pegang kuat-kuat! Kita mau jalan-jalan!" seru Naya riang sambil memeluk setang kemudi kecil buatan ibunya.

Rania menaiki motor, menyalakan mesin, dan perlahan melaju meninggalkan pekarangan rumah.

Jarak rumah ke sekolah Dika memang tidak jauh, hanya sekitar sepuluh menit perjalanan santai melewati jalanan desa yang asri dan sejuk. Namun bagi Naya, perjalanan singkat itu terasa sangat menyenangkan. Sepanjang jalan ia terus saja bercerita, menunjuk kucing yang berlari, ayam yang mencari makan, hingga pohon-pohon besar yang rimbun. Suara tawanya yang renyah menjadi obat penat paling mujarab bagi hati Rania.

Tak lama kemudian, mereka tiba di halaman Sekolah Dasar tempat Dika bersekolah. Suasana di sana terasa ramai namun tertib, dipenuhi oleh orang tua murid yang datang sama seperti dirinya, ingin mengetahui hasil belajar anak-anak mereka selama satu semester ini.

Rania memarkirkan motornya di tempat yang disediakan, lalu menggendong Naya turun. Gadis kecil itu langsung berjalan tegap di samping ibunya, seolah ingin menunjukkan bahwa ia sudah besar dan bisa berjalan sendiri.

Mereka berjalan menuju bangunan kelas Dika yang berada di bagian tengah sekolah. Begitu melangkah masuk ke lorong kelas, mata Rania langsung menangkap sosok Dika yang berdiri menunggu di dekat pintu. Anak laki-lakinya yang berusia delapan tahun itu tampak rapi mengenakan seragam lengkap, berdiri tegak namun terlihat sedikit gelisah.

Namun begitu melihat ibunya dan adiknya datang, wajahnya langsung berubah cerah. Ia segera berlari kecil menghampiri Rania dan berdiri tepat di sampingnya, membuntuti langkah ibunya kemana saja ia melangkah, seolah takut berpisah barang sedetik pun.

"Ibu... sudah datang ya," ucap Dika pelan namun bahagia.

"Sudah dong, Nak. Ibu kan janji tidak akan telat," jawab Rania sambil mengusap kepala anak pertamanya itu dengan penuh bangga.

Mereka lalu menghampiri meja Bu Sari, wali kelas Dika yang dikenal sebagai guru yang sabar dan bijaksana. Bu Sari tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.

"Selamat pagi, Bu Rania. Silakan duduk sebentar," sapa Bu Sari sambil menunjuk kursi di depannya.

"Selamat pagi, Bu Sari. Terima kasih," jawab Rania sopan. Dika berdiri di samping ibunya, sementara Naya duduk tenang di pangkuan Rania sambil memperhatikan sekeliling dengan rasa ingin tahu.

Bu Sari mengambil sebuah buku laporan berwarna biru muda bertuliskan nama Dika di sampulnya, lalu meletakkannya di atas meja. Beliau menatap Rania dengan pandangan yang penuh kekaguman.

"Begini, Bu Rania. Saya ingin menyampaikan kabar yang sangat membanggakan mengenai Dika. Sebagai gurunya, saya sangat kagum dengan karakter dan kemampuan anak Ibu ini.

Di tengah keadaan keluarga yang mungkin berat dan kurang lengkap kehadiran ayahnya, Dika tumbuh menjadi anak yang sangat rajin, tekun, sopan, dan cerdas. Ia selalu mendengarkan nasihat, suka menolong teman, dan nilainya selalu stabil tinggi. Saya sangat mengapresiasi perjuangan Ibu mendidiknya sendirian, dan juga kerja keras Ibu mengurus warung dagangan. Dika dan Naya beruntung sekali dikelilingi orang-orang yang peduli," ujar Bu Sari dengan tulus.

Hati Rania terasa bergetar mendengar ucapan itu. Sedikit rasa sakit hati karena kepergian Bara seolah terobati oleh pujian untuk buah hatinya. Ia menoleh ke arah Dika yang tampak malu-malu namun tersenyum bahagia.

"Terima kasih banyak, Bu. Kami hanya berusaha memberikan yang terbaik, meski memang berat kadang kala harus berjuang sendirian," jawab Rania dengan suara sedikit bergetar namun tetap tegar.

"Dan untuk hasil belajarnya semester ini," lanjut Bu Sari sambil membuka halaman raport, "Dika mendapatkan nilai rata-rata yang sangat memuaskan, Bu. Hampir semua mata pelajaran nilainya di atas standar, bahkan banyak yang mendekati nilai sempurna. Dengan hasil ini, kami dengan senang hati menyatakan Dika resmi naik kelas ke kelas 3 dengan predikat sangat baik. Dia adalah salah satu murid berprestasi di kelas kami."

Rania menahan rasa haru yang meluap. Air mata bahagia hampir saja menetes, namun ia tahan agar tidak membuat anak-anaknya ikut sedih. Ia merasa segala lelah, keringat, dan air matanya selama ini terbayar lunas melihat keberhasilan Dika.

"Terima kasih banyak, Bu Sari, sudah membimbing dan menyayangi Dika. Saya sangat berterima kasih," ucap Rania sungguh-sungguh.

Setelah menerima dan menyimpan buku raport itu dengan hati-hati, Rania berpamitan pada Bu Sari. Mereka melangkah keluar dari ruang kelas menuju lorong utama yang mengarah ke halaman parkir. Di tengah jalan itu, mereka berpapasan dengan Pak Sandi, salah satu staf di sekolah tersebut. Pak Sandi berjalan berlawanan arah sambil membawa berkas-berkas administrasi. Begitu melihat Rania, langkahnya melambat dan ia berhenti sejenak di depan mereka.

"Selamat pagi, Bu Rania. Wah, sudah selesai ya pengambilan raportnya?" sapa Pak Sandi dengan nada suara yang terdengar ramah namun ada nada khusus yang terselip di dalamnya.

Rania menghentikan langkahnya sebentar, tersenyum sopan namun menjaga jarak. "Pagi, Pak. Iya, sudah selesai. Terima kasih ya, Pak."

"Bagaimana hasilnya? Pasti bagus-bagus ya, anak Ibu kan pintar. Apalagi Ibu yang mendidiknya dengan telaten sendirian sambil cari nafkah, hebat sekali Ibu ini," kata Pak Sandi sambil menatap wajah Rania cukup lama, ada sorot mata yang ingin menyampaikan sesuatu lebih dari sekadar sapaan biasa.

Rania adalah wanita dewasa, wanita yang sudah berumah tangga meski kini ditinggal pergi suaminya tanpa kepastian.

Ia sangat paham, sangat sadar betul, bahwa di balik perhatian dan tatapan Pak Sandi, tersimpan rasa ketertarikan yang lebih dari sekadar hubungan profesional. Ia merasakannya sejak lama—dari cara Pak Sandi selalu berusaha menyapa dan menatapnya.

Namun bagi Rania, meski Bara pergi dan menghilang, meski ia berjuang sendirian, meski tak ada kabar dan kepastian, ia tetaplah istri Bara. Ikatan suami istri itu masih ada, dan bagi Rania, itu adalah kehormatan yang harus ia jaga demi dirinya, demi nama baik kedua anaknya, dan demi harga dirinya sendiri. Ia tidak pernah ingin membuka peluang atau memberi ruang bagi perasaan lain.

Maka dari itu, setiap kali berhadapan dengan Pak Sandi, ia selalu bersikap seperti biasa saja, menjawab seperlunya, ramah namun tetap menjaga batasan.

"Alhamdulillah, Pak. Dika naik kelas dengan hasil yang memuaskan. Terima kasih atas perhatian Bapak. Kami permisi dulu ya, Pak, mau pulang," jawab Rania sopan.

Pak Sandi mengangguk mengerti. "Iya, Bu. Sama-sama. Hati-hati di jalan."

Rania mengangguk kecil, lalu melangkah kembali dengan Dika di sebelah kanan dan Naya di sebelah kirinya, meninggalkan Pak Sandi yang masih berdiri diam di sana.

Sesampainya di halaman parkir, Rania kembali menaikkan Naya ke kursi depan dan membantu Dika naik ke belakang, duduk di jok penumpang sambil memeluk pinggang ibunya. Begitu motor bergerak meninggalkan halaman sekolah, antusiasme Dika yang sudah ditahan sedari tadi akhirnya meledak tak terbendung.

"Ibu! Ibu! Tunggu dulu!" seru Dika dari belakang sambil mengguncang pelan punggung ibunya karena semangat.

"Ada apa lagi, Nak? Masih ada yang mau dibilang ya?" tanya Rania sambil tetap fokus menyetir namun tersenyum geli.

"Nilai terakhir Dika, Bu! Berapa sih nilai pelajaran PKN sama IPA Dika? Bu Guru bilang bagus sekali, tapi Dika lupa persis angkanya! Dika dapat 100 nggak? Atau 90 ke atas? Coba kasih tahu dong Bu, penasaran sekali!" rentetan pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, penuh rasa ingin tahu dan harap-harap cemas.

Rania tertawa mendengarnya. "Wah, penasaran sekali ya anak Ibu ini? Nanti sampai rumah saya tunjukkan satu-satu ya. Tapi yang pasti, nilainya luar biasa bagus. Ada yang dapat 95, ada yang 98, bahkan ada satu mata pelajaran yang nilainya pas seratus lho. Kamu hebat sekali, Nak, bikin Ibu bangga banget."

"Asyiiikkk! Horeeee!" teriak Dika kegirangan sampai membuat Naya di depan ikut bertepuk tangan dan berteriak "Horeeee!" juga tanpa tahu apa yang sedang dirayakan.

Sepanjang jalan pulang, Dika terus saja bercerita tak habis-habisnya tentang sekolah, tentang teman-temannya, dan tentang betapa senangnya ia sudah naik ke kelas 3. Rania mendengarkan dengan hati yang damai, menikmati momen kebahagiaan sederhana namun sangat berharga ini.

Sesampainya di rumah, aroma masakan yang sedap langsung menyambut mereka. Mbak Siti masih sibuk mengurus sisa-sisa gorengan di Deket meja lapak, wajahnya sedikit berkeringat tapi tetap bekerja dengan rajin.

"Mbak Siti! Aku naik kelas! Aku dapat nilai bagus semua, ada yang dapat 100!" seru Dika sambil berlari menghampiri Mbak Siti, tak sabar ingin berbagi kabar gembira pada wanita yang selalu membantu ibunya dan sering bermain dengannya.

"Wah, benarkah? Hebat sekali Kakak Dika ini! Pintar sekali! Pasti Ibu kamu bangga sekali sampai mau menangis," puji Siti sambil tersenyum bahagia, ikut senang mendengar kabar itu.

"Bangga sekali, rasanya lelah dan berat hati ini hilang seketika dengar penjelasan Bu Guru tadi," kata Rania sambil duduk sejenak melepas lelah di kursi panjang dapur.

Namun Dika belum mau diam. Ia duduk di dekat ibunya, menatap wajah Rania dengan sorot mata yang berbinar dan penuh harap. Ada satu hal penting yang belum ditanyakannya, hal yang sudah lama ia impikan.

"Ibu..." panggil Dika pelan namun serius.

"Ya, Nak? Mau minta hadiah ya?" goda Rania lembut sambil mengelus kepalanya.

Dika menggeleng cepat, lalu menatap ibunya lebih dalam. "Bukan cuma hadiah, Bu. Tapi... ingat kan kemarin Ibu janji? Kalau Dika belajar rajin, dapat nilai bagus, dan naik kelas, kita semua akan pergi jalan-jalan ke pantai di Yogyakarta? Ingat kan Bu janji itu?"

Suara Dika terdengar penuh harap, matanya menatap ibunya seolah itu adalah hal paling penting di dunia baginya saat ini.

Rania terdiam sejenak. Ia memang pernah berjanji itu beberapa waktu lalu, saat sedang mendampingi Dika belajar malam-malam dan anaknya mulai lelah.

Saat itu ia berjanji sebagai penyemangat, namun belakangan ini dengan segala kesulitan ekonomi dan ketidakpastian hidup akibat kepergian Bara, ia sempat berpikir mungkin janji itu harus ditunda dulu. Tapi melihat sorot mata penuh harap Dika, melihat Naya yang juga ikut menatapnya berbinar mendengar kata 'jalan-jalan', dan melihat Siti yang tersenyum sambil mengangguk memberi dukungan, hati Rania terasa tergetar hebat.

Ia menunduk sejenak, lalu tersenyum lembut, mengusap pipi anak pertamanya itu dengan penuh kasih. "Iya, Ibu ingat kok, Nak. Ibu tidak pernah lupa janji Ibu sama kamu. Sekalipun keadaan kita berat, sekalipun kita berjuang sendirian mencari nafkah, janji tetaplah janji."

Dika tersenyum lebar, hampir sampai ke telinga. "Jadi... jadi kan kita pergi? Kita berempat kan? Ibu, Dika, Naya, sama Mbak Siti? Kita semua pergi ke pantai di Yogyakarta? Berenang di laut, main pasir, makan yang enak-enak?" tanyanya lagi untuk memastikan, penuh keyakinan dan kebahagiaan.

Rania menatap wajah ceria anak-anaknya, lalu menoleh ke arah Siti yang tampak ikut bersemangat mendengarnya. Di saat itu, rasa sakit hati karena kepergian Bara, rasa lelah bekerja setiap hari, dan segala kekhawatiran akan hari esok seolah sirna digantikan oleh kebahagiaan sederhana anak-anaknya. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum tulus, senyum yang paling indah yang bisa ia berikan hari itu.

"Iya, Nak. Kamu sudah buktikan kamu anak hebat. Kita berempat—Ibu, Dika, Naya, sama Mbak Siti—nanti kita pasti pergi ke Yogyakarta. Kita ke pantai, bermain sepuasnya, dan bersenang-senang bersama-sama. Apa pun yang terjadi, Ibu akan usahakan demi kebahagiaan kalian," jawab Rania dengan suara tegas dan penuh ketegaran.

Teriakan kebahagiaan langsung meledak di ruangan itu. Dika melompat kegirangan, Naya ikut melompat dan bertepuk tangan, sementara Siti hanya tertawa bahagia melihat kebahagiaan keluarga itu. Di hati Rania, ia berjanji dalam diam: sekuat apa pun ia harus berjuang, seberat apa pun beban hidup, kebahagiaan kedua anaknya adalah tujuan utamanya.

Hari itu, hari pembagian raport itu, bukan hanya menjadi bukti keberhasilan belajar Dika, tapi juga menjadi awal dari sebuah janji indah yang akan segera mereka wujudkan bersama.

1
Yayang Risa Always Together
Rania kamu wanita tangguh banget walau kecapekan tetap memasak buat makan malam
Yayang Risa Always Together
Rania anak anakmu luar biasa ngga pernah mengeluh dengan keadaan dulu ya
Yayang Risa Always Together
Rania rezeki kamu semakin banyak ya apalagi bisa beli motor baru
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Anak-anak pasti senang banget kalo liburan ke Pantai, Dika seneng banget dapat kabar mau liburan ke Pantai semoga perjalanan liburan mu nanti menyenangkan ya Dika
@Yayang Risa Couple Happy
Dika ternyata pengen liburan ke pantai ya sampai ajak ibunya
@Yayang Risa Couple Happy
Rania kamu punya anak yang cerdas dan pintar bahkan ngga pernah mengeluh
@Yayang Risa Couple Happy
Alhamdulillah Rania beli motor baru bahagia banget pasti ya
@ Yayang Risa Selamanya
Rania kamu ibu bijak mau menuruti kemauan Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Naya kamu selalu ceria dimanapun kamu berada ya
@ Yayang Risa Selamanya
Ibumu pasti senang Dika karena kamu sudah selesai ujian
Risa dan Yayang
Rania kamu ibu yang kuat dan tangguh buat Naya dan Dika
Risa dan Yayang
Rania bisa beli motor baru pasti senang banget rasanya ya
Risa dan Yayang
Dika hebat sudah menyelesaikan ujian dengan baik
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
apakah dika tau ayahnya pergi jau
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
apakah dika tau ayahnya pergi jauh
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
kasian dika dibuly karena jrng bareng ayahnya
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
jadi rania itu ga gampang di tinggal sang suami, sementara anaknya selalu menanyakan kabar ayahnya
Suamiku Paling Sempurna
Rania kamu wanita pekerja keras. banget padahal kamu bisa bayar mbak Siti tanpa kamu membantu dia tapi kamu tetap membantu
Suamiku Paling Sempurna
Dika kalau nilai kamu tinggi pasti ibumu senang dan bangga
Suamiku Paling Sempurna
Alhamdulillah Rania bisa beli motor baru dan Dika juga sudah selesai ujian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!