NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Shaka masih duduk di atas karpet hijau mushola dengan mata yang sembab. Bekas air mata masih terlihat jelas di wajahnya. Dadanya sudah tidak naik turun sekeras tadi, meski sesekali napas berat masih lolos dari bibirnya. Di hadapannya, Ustadz Haidar menatap pemuda itu dengan sorot mata teduh. Tatapannya terlihat seperti seorang ayah yang melihat anaknya tersesat terlalu jauh namun belum menyerah untuk menariknya pulang. Shaka menundukkan wajahnya pelan. Tangannya mengepal di atas lutut. Dan saat itulah, pandangan Ustadz Haidar perlahan jatuh pada tas hitam yang sejak tadi masih berada di dekat Shaka.

Tas yang sedari awal tidak pernah lepas dari genggaman pemuda itu. Tas yang menjadi alasan polisi mengejarnya malam ini. Tas yang berisi obat-obatan terlarang.

Suasana mendadak berubah sedikit lebih berat. Shaka menyadari arah tatapan Ustadz Haidar, membuat tangannya langsung bergerak mendekat ke arah tas itu seolah tanpa sadar dirinya masih ingin melindunginya. Dan itu tidak luput dari perhatian Ustadz Haidar. Lelaki paruh baya itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Nak…” Pemuda itu mengangkat wajahnya perlahan dan membuat tatapan mereka bertemu. Ustadz Haidar lalu melirik tas itu lagi. “Kalau kamu benar-benar ingin berubah, maka kamu harus meninggalkan barang haram itu.”

Kalimat itu membuat tubuh Shaka sedikit menegang. Matanya langsung turun menatap tas di sampingnya. Tas hitam sederhana namun isinya mampu menghancurkan hidup banyak orang. Dan ironisnya selama bertahun-tahun itulah yang membuat Shaka bertahan hidup. Shaka tidak langsung menjawab. Tangannya perlahan mencengkeram tali tas itu lebih erat. Pikirannya mulai kacau lagi karena meninggalkan barang itu berarti meninggalkan dunianya. Meninggalkan cara hidup yang selama ini ia kenal. Meninggalkan satu-satunya hal yang membuatnya bisa makan.

Ustadz Haidar memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Shaka. Beliau tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu karena meninggalkan dosa tidak pernah mudah. Terlebih jika dosa itu sudah menjadi bagian dari hidup seseorang terlalu lama.

“Aku tahu kalau itu tidak akan mudah.” Ustadz Haidar kembali bicara pelan. “Tapi setiap perubahan memang butuh pengorbanan.”

Shaka menelan ludahnya dengan berat. Tatapannya masih tertuju pada tas itu. Di kepalanya mulai muncul banyak hal. Tentang uang, tentang hidupnya setelah ini dan tentang bagaimana ia harus bertahan. Karena selama ini dunia tidak pernah memberinya banyak pilihan. Dan obat-obatan itu adalah satu-satunya jalan yang ia tahu.

Shaka tertawa kecil namun tawanya terdengar hambar.

“Kalau saya ninggalin semua ini…” Suaranya pelan. "Saya harus hidup pakai apa, Pak?”

Pertanyaan itu terdengar begitu rapuh dan begitu jujur. Untuk pertama kalinya Shaka tidak terdengar seperti preman jalanan yang kasar melainkan seperti anak kecil yang ketakutan menghadapi hidup.

“Saya gak punya siapa-siapa.” Tatapannya masih terlihat kosong saat menatap tas itu.

“Saya gak punya rumah, pekerjaan ataupun punya masa depan.” Suara Shaka makin lirih. “Kalau saya ninggalin ini…” Ia menggertakkan rahangnya pelan. “Bagaimana caranya agar saya terus bertahan hidup?”

Mushola kembali sunyi. Angin malam berhembus lembut dari sela jendela dan membawa aroma tanah dingin setelah malam yang panjang. Ustadz Haidar memandang Shaka beberapa saat lalu perlahan beliau berkata,

“Kamu tidak perlu takut soal itu.”

Shaka perlahan mengangkat wajahnya sementara ustadz Haidar melanjutkan perkataannya,

“Kalau kamu benar-benar ingin berubah, aku akan membantumu.” Kedua mata Shaka sedikit membesar, Ia terdiam. Dan Ustadz Haidar kembali berkata dengan tenang, “Kamu bisa tinggal di pondok pesantren ini.”

Shaka langsung membeku.

“Apa…?”

“Aku mengizinkanmu untuk tinggal di sini.” Tatapan Ustadz Haidar begitu tulus. “Belajarlah di sini dan jadilah santriku.”

Kalimat itu membuat napas Shaka tertahan untuk sesaat.

Santri.

Kata itu terasa asing baginya, sangat asing. Ia yang hidup di jalanan. Ia yang tangannya kotor oleh dosa. Ia yang selama ini dekat dengan kekerasan, narkoba, dan kriminalitas. Sekarang— lelaki ini memintanya tinggal di pesantren untuk belajar agama dan menjadi santri? Shaka bahkan hampir merasa dirinya salah dengar.

“Saya… tinggal di sini pak?”

Ustadz Haidar mengangguk kecil.

“Untuk sementara, kamu tidak perlu memikirkan apa pun dulu.” Suara ustadz Haidar begitu menenangkan. “Tenangkan dirimu dan belajarlah memperbaiki hidupmu pelan-pelan.”

Shaka masih terdiam. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Ia tidak mengerti kenapa lelaki ini bisa sebaik itu padanya padahal mereka bahkan baru saling mengenal malam ini.

“Kenapa bapak percaya sama saya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Shaka. “Saya bisa aja bohong sama bapak. Saya bisa aja balik lagi jadi pengedar nanti.”

Tatapan Shaka penuh kebingungan sementara Ustadz Haidar hanya tersenyum kecil.

“Setiap manusia pantas diberi kesempatan untuk berubah.”

Jawaban itu sederhana namun menghantam hati Shaka begitu keras karena sepanjang hidupnya jarang ada yang memberinya kesempatan. Orang-orang hanya melihat kesalahannya bukan kemungkinan bahwa dirinya bisa berubah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya ada seseorang yang percaya bahwa dirinya masih bisa diselamatkan.

Shaka langsung menundukkan wajahnya lagi.

Dadanya terasa penuh, matanya kembali panas. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa dirinya ingin menangis terus malam ini. Tangannya perlahan bergerak menyentuh tas hitam di sampingnya. Tas itu terasa berat, bukan karena isinya tapi karena semua dosa yang dibawanya. Perlahan Shaka membuka resleting tas itu sedikit dan membuat beberapa bungkus obat-obatan terlarang terlihat di dalamnya.

Dan tiba-tiba untuk pertama kalinya— Shaka merasa muak melihatnya. Bayangan-bayangan mulai bermunculan di kepalanya. Wajah anak muda yang dulu membeli barang darinya dengan tangan gemetar. Tatapan kosong para pecandu. Tangisan seorang ibu yang pernah memohon padanya agar berhenti menjual barang itu pada anaknya. Dan semua itu tiba-tiba menghantam dirinya bersamaan. Dada Shaka terasa sesak. Selama ini ia selalu berpikir:

“Aku cuma jualan. Aku cuma cari makan.”

Namun sekarang ia mulai sadar kalau barang itu memang menghancurkan hidup banyak orang. Dan dirinya menjadi bagian dari kehancuran itu. Tangan Shaka mulai gemetar.

Ia menutup tas itu kembali dengan cepat lalu memejamkan matanya selama beberapa detik. Napasnya terdengar berat.

.

Ustadz Haidar tetap diam dan memberi Shaka ruang untuk melawan dirinya sendiri. Karena keputusan terbesar memang harus datang dari hati sendiri. Beberapa saat kemudian Shaka perlahan membuka matanya lagi.

Matanya terlihat merah namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sebuah keputusan. Meski masih dipenuhi ketakutan.

Perlahan Shaka mengangkat tas itu. Tangannya tampak gemetar saat memegangnya lalu ia menatap Ustadz Haidar sangat lama seolah dirinya sedang menyerahkan seluruh masa lalunya. Dan dengan suara pelan yang hampir pecah—

Shaka berkata,

“Tolong musnahkan ini, Pak.”

Ustadz Haidar menatapnya dalam diam. Sementara Shaka menelan ludahnya dengan susah payah. Air matanya kembali jatuh.

“Saya gak mau balik lagi ke dunia itu.”

Tangannya masih terulur membawa tas tersebut dengan gemetar, rapuh seperti dirinya.

“Tolong…” Suara Shaka nyaris seperti bisikan.

“Musnahkan semuanya.”

1
ꦩꦲꦢꦺꦮꦶ
Sholat istikharah membantu menenangkan hati karena seseorang menyerahkan kebimbangan kepada Allah.
Setelah berdoa, hati biasanya terasa lebih ringan dan pikiran menjadi lebih jernih.
Istikharah membuat seseorang tidak hanya melihat calon pasangan dari rasa suka semata, tetapi juga dari akhlak, tanggung jawab, dan kecocokan visi hidup.
Dengan hati yang lebih tenang, keputusan menjadi lebih rasional.
Setelah melakukan istikharah, seseorang biasanya merasa lebih mantap mengambil keputusan.
Hal ini karena keputusan tersebut telah didahului doa dan pertimbangan yang matang, sehingga tidak mudah diliputi keraguan.
Jawaban istikharah tidak selalu berupa mimpi, tetapi sering tampak dari kemudahan atau hambatan yang terjadi setelah ikhtiar dilakukan.
Jika hubungan dimudahkan, itu bisa menjadi tanda baik.
Apabila jika terhalang, mungkin Allah sedang menunjukkan pilihan yang lebih tepat...🤭🥹😚
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
🫰🫰 di tunggu undanganya yah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya Allah si Abi ini meni asa di buru2 begitu santai tenang.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kan proses teu ujug2
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
novel ini terus mengajarkan kita dgn hal baik.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Moal sok yakin lah ke Allah, aku aja dulu pernah iseng sholatt istiharohnya, tapi di mimpi ku tuh bukan jodoh tapi aku tuh lagi di Padang rumput yang luas gitu, aku manusianya sendiri malah di kerumuni kambing lucu² hah tebakan aku, apakah aku ini bakal menjadi wanita bandar kambing kayak raya. dalam sebuah benakan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
meni ngadadak Kitu euy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
🫰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ngacengcerikan Buda eh kolot²😁🤭 bercanda
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nha make Jeung astaghfirullah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
si Abi ini memancing banget yah.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
alah siah nika ngaganggaeuk Kitu cerikna Oge, berarti udh tumbuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ah teuing atuh ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
perasaannya masih belum jelas remang²
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
meledak
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ah tau deh cape 🙂‍↔️hemm
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tong menyangkal gitu euy
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Alkolbu 😁
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemmmm kacian sangat. sedih aku hmmm
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
berubah jadi bunga redup ya bi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!