Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Selamat pagi, Pak Arga," sapa Sita sopan sambil membungkuk sedikit. Ia membawa sebuah tablet dan berkas tebal di tangannya. Wanita muda penampilan rapi berkaca mata tipis itu adalah Sita, sekretaris pribadi Arga.
Arga hanya mengangguk, membiarkan tas kerjanya diambil alih oleh Sita dan akan diletakkan di atas meja kerjanya. Namun, Sita menyilakan bosnya itu berjalan lebih dulu.
Ketika Arga melepaskan jasnya dan akan menggantung di sandaran kursi kebesarannya, Sita mendekat dengan perasaan takut.
"Ada apa?" tanya Arga singkat, matanya mulai memindai layar komputer.
"Hari ini ada rapat penting, Pak," Sita mengingatkan, mungkin Arga lupa.
"Oh iya," Arga hendak melangkah meninggalkan jas yang biasanya tidak pernah ia lepas ketika sedang rapat. Namun, Sita secepatnya ambil benda tersebut memberikan kepada Arga.
"Jasnya tidak Bapak pakai?" Tanya Sita bingung, padahal bosnya itu biasanya selalu menjaga penampilan bila ingin bertemu klien terlebih ada rapat seperti sekarang.
Tanpa mengucap kata terima kasih Arga mengenakan jasnya kembali, lalu menerima jadwal rapat hari ini yang Sita berikan. Yang pertama jadwal Rapat evaluasi proyek pembangunan baru yang akan dimulai sepuluh menit lagi di ruang konferensi utama. Dia baru ingat bahwa rapat ini sudah direncanakan sejak empat hari yang lalu. Arga mendengus kasar, gara-gara si gembul Kartini ia sampai lupa dengan jadwal sepenting ini.
"Si gembul," Arga senyum-senyum. "Sebaiknya aku panggil Kartini Gembul saja," batin Arga menurutnya panggilan itu cocok untuk istri kontrak-nya dan terdengar lucu.
"Pak," panggil Sita, menatap bosnya yang justru senyum-senyum membuatnya bertanya-tanya.
Arga tersadar lalu mengambil berkas di depannya, ia baca poin-poin penting dengan teliti.
"Siapa saja yang sudah hadir?" tanyanya tanpa menatap Sita.
"Semua manajer divisi sudah hadir, Pak. Dan dewan direksi termasuk Pak Rudi Paman Bapak," lapor Sita. Pak Rudi adalah papa Kenzo yang juga mempunyai saham di perusahaan tersebut.
Arga menarik napas pendek, paman Rudi hari ini hadir di ruang rapat? Itu artinya ia akan bertemu Kenzo. Arga sebenarnya malas bertemu sepupunya itu ketika ingat kemarin meledeknya dipernikahan. Jika bukan karena harus profesional tidak mencampur adukkan masalah perusahaan dan pribadi.
Separuh saham perusahaan Chandresh sudah diberikan kepada kedua anak laki-lakinya papa Kenzo dan ayah Arga, tapi kakek masih memegang setengahnya. Karena Arga yang lebih bisa dipercaya daripada Kenzo, Kakek memilih Arga untuk memimpin perusahaan. Itulah yang membuat hubungan saudara sepupu itu tidak akur sejak 6 tahun yang lalu selama Arga dinobatkan menjadi Ceo.
"Oke, siapkan materi presentasinya," tegas Arga.
"Mohon maaf Pak, presentasi untuk rapat hari ini sudah Bapak minta hari jumat kemarin," Sita tambah bingung, kenapa dengan bosnya?
Arga rasanya ingin tepuk kening jika bukan karena jaga gengsi di depan Sita. Ia sendiri yang minta berkas itu agar rapat pagi ini berlangsung tetap waktu, tapi gara-gara pernikahannya dengan si gembul rencana yang sudah dia susun di benak ambyar semua.
"Ambil berkas di dalam tas saya," perintahnya.
"Baik, Pak," Sita kembali ke meja kerja mencari map yang hari kamis lalu ia berikan. Namun, berkas tersebut tidak ia temukan. Sita menarik kertas di dalam map yang berbeda ia pikir Arga telah menggantinya, begitu ia tarik sedikit dan membaca judul paling atas mata Sita melebar. "Surat Perjanjian Nikah Kontrak? Apa ini?" Tanya Sita dalam hati.
"Cepat Sita, kenapa lama sekali?"
Sita cepat-cepat mendorong kembali kertas tersebut lalu mendekati Arga. "Maaf Pak, saya tidak menemukan berkas yang bapak maksud," lapor Sita. Di kepalanya masih berputar tentang surat yang tidak sengaja ia baca tapi tidak berani mengatakan.
"Sial, berkas itu tertinggal di meja kerja!" Arga kesal dengan dirinya sendiri. "Tunda rapat satu jam lagi, saya akan menyuruh orang untuk mengambil berkas di rumah," perintah Arga membuat Sita terpaku menatap bosnya. Keanehan pagi ini benar-benar membuatnya bingung.
"Cepat Sita! Tunggu apa kamu?!" Sentak Arga.
"Baik, Pak," Sita balik badan melangkah cepat dengan seribu pertanyaan apa yang terjadi dengan atasannya selama dua hari sabtu dan minggu?"
Sementara Arga masih menatap tajam punggung Sita yang sedang membuka pintu. Begitu pintu tertutup dan memastikan tidak ada orang lain di sekitar, Arga segera mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Kartini.
"Sebaiknya aku akan memanfaatkan si gembul," Arga yakin Kartini bisa mengantarkan berkas ke kantor dengan cepat. Jika ia menyuruh anak buahnya mengambil akan memakan waktu.
Tuuut... tuuut...
"Halo..." suara Kartini terdengar lembut dari seberang.
"Berkas dalam map tebal ada di atas meja ruang kerja saya! Cepet bawa ke kantor sekarang juga! Rapat mau dimulai,"
"Hah? Sekarang? Tapi saya..."
"Nggak ada tapi-tapian! Cepat!" potong Arga kesal.
"Baik Bos, saya segera berangkat."
"Tunggu dulu, tiba di kantor nanti jaga sikap Loe! Jangan bikin ulah. Jangan sok akrab, jangan panggil 'Mas, jangan cerita apa-apa ke siapa pun tentang kita, terutama sama sekretaris gue!"
"Iya, iyaaaa... saya pikir Anda itu pria pendiam, tapi sekarang saya sudah paham, Anda tidak lebih dari burung betet piaraan tetangga sebelah!"
Tut!
"Sial! Berani sekali si gembul itu, awas kamu!"
Arga meletakkan handphone di atas meja dengan kasar, dia tidak menyangka Kartini akan menyamakan dirinya seperti burung betet.
10 menit kemudian, seorang wanita menjalankan sepeda motor besar yang biasa digunakan pria itu masuk ke halaman perusahaan dengan cepat tanpa ada kendala. Dia parkir motor tersebut kemudian membuka helm menyangkutkan di sana. Dia berjalan tergesa-gesa namun begitu tiba di lobi seorang pria menghadang langkahnya.
"Kakak Ipar," ucap pria itu.
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau