Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Keesokan paginya, Ren terbangun tanpa sisa berat di tubuhnya. Padahal semalam ia bekerja dua kali lipat. Rift, lembur, tikus raksasa yang mencoba menjadikannya sarapan. Semua itu seharusnya meninggalkan sesuatu. Pegal, setidaknya.
Tidak ada.
Jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan 06.10. Cahaya pagi menyusup dari sela garden yang menutupi jendela, tipis tapi tegas. Dunia berjalan normal.
"Ini akhir pekan," pikirnya.
Ia kembali berbaring. Menatap langit-langit. Mengulang kejadian kemarin seperti memutar rekaman yang retak. Tikus itu menerjang. Rahang menutup. Gelap. Lalu… tidak ada apa apa.
Lima menit berlalu tanpa suara selain napasnya sendiri.
"Tak Melakukan Apa Pun," gumamnya. "Absurd."
Ia duduk. Baiklah. Kalau kekuatannya memang tidak melakukan apa apa, setidaknya ia bisa memastikan bahwa ia memang tidak melakukan apa apa.
Ia bersila di atas kasur. Menutup mata. Mencoba merasakan sesuatu di dalam dirinya. Aliran. Tekanan. Getaran halus seperti energi Rift yang biasa ia deteksi dari luar.
Kosong.
Ia menunggu lebih lama.
Tetap kosong.
"Tidak ada sama sekali," katanya pelan. "Jadi bukan tipe eksternal."
Ia membuka mata. Mengulang lagi, kali ini dengan fokus lebih tajam. Menarik napas, menahan, mengembuskan. Jika ada sesuatu yang bersembunyi di balik tulang rusuknya, ia akan menemukannya.
Nihil.
Baik. Kalau bukan terasa, mungkin terlihat saat diuji.
Ingatan tentang tikus itu muncul lagi. Rahangnya. Bau tanah dari tubuhnya. Cara giginya menutup tepat di sekeliling dirinya.
Ia mengangkat tangan.
Menatap telapak tangannya sejenak, seperti sedang mempertimbangkan kontrak kecil dengan dirinya sendiri.
"Maaf," gumamnya entah pada siapa.
Plak!
Suara tamparan itu bersih. Nyaring di kamarnya yang sunyi.
Ren terdiam. Menunggu rasa perih merambat dari pipi ke pelipis.
'Tidak ada.'
Ia menyentuh pipinya. Hangat. Kulit. Tekstur biasa.
"Tch."
Ia menarik napas lebih dalam.
Plak!
Lebih keras kali ini. Kepalanya sedikit miring karena hentakan.
Sunyi.
Jantungnya berdetak, tapi bukan karena sakit. Lebih karena bingung.
"Tidak sakit," katanya datar.
Bukan mati rasa. Ia bisa merasakan sentuhan. Tekanan. Suhu. Tapi rasa sakitnya seperti dihapus dari persamaan. Seperti dunia mencatat kejadian itu, lalu memutuskan untuk tidak memproses akibatnya.
"Tak Melakukan Apa Pun," ucapnya lagi, lebih lirih. "Ini benar benar konyol."
Kemarin, serangan tikus itu melewatinya. Seolah ia tidak ada. Hari ini, tamparannya menyentuhnya, tapi berhenti di permukaan. Tidak pernah menjadi konsekuensi.
Ia berdiri dan berjalan ke arah cermin lemari.
Wajahnya tampak biasa saja. Rambut acak. Mata sedikit sembap. Tidak ada bekas merah. Tidak ada tanda bahwa barusan ia mencoba menyakiti dirinya sendiri.
Ia menatap tangannya, kosong. Seolah tamparan tadi tidak benar-benar terjadi.
Ia menghela napas, memikirkan apa yang akan dilakukannya pada hari ini.
"Makan," gumamnya. "Aku perlu makan dulu."
Ia bangkit. Merapikan kasur. Peregangan singkat. Ototnya bergerak normal. Tidak ada yang terasa salah.
Ia membuka kulkas.
Kosong.
Rak bagian atas hanya menyisakan sebotol air. Lampu kecil di dalamnya menyala terlalu terang untuk ruang yang hampa.
"Astaga," katanya datar.
Ia jarang belanja. Itu bukan hal baru. Namun saat ia berdiri di depan kulkas yang kosong itu, ia menyadari sesuatu.
Ia tidak merasa lapar.
Tidak ada perut berbunyi. Tidak ada rasa ringan yang meminta diisi.
Ia sadar, dari malam hari dirinya belum makan. Ia tetap lelah. Namun rasa laparnya tidak ada.
Ren menutup pintu kulkas perlahan.
"Aneh," gumamnya.
Ia secara kebetulan mendapatkan kebenaran lainnya dari membuka kulkas. Bahwa dirinya bukan hanya mendapatkan kekuatan untuk menghadapi bahaya.