NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Pertama

Saat Gwen keluar dari kamarnya setelah tidur siang, ia menemukan seorang wanita yang lebih tua berdiri di dapur Raymon, sedang memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas.

Wanita itu bertubuh kecil dengan rambut beruban, mengenakan gaun kuning yang elegan.

Begitu mendengar langkah Gwen, wanita itu berbalik dan tersenyum lebar, membuat kerutan di sudut matanya semakin terlihat.

“Aku tadi nyariin kamu,” katanya dengan aksen yang kental. “Dapur sudah penuh gosip sejak tadi malam.”

“Gwen, ini Carolina,” kata Raymon sambil masuk ke dapur. “Carolina tahu soal kesepakatan kita.”

Carolina menatap Gwen dari atas sampai bawah, membuat Gwen merasa seperti gadis enam belas tahun yang pertama kali bertemu ibu pacarnya.

Perempuan ini jelas penting bagi Raymon. Terlihat dari nada suaranya saat bicara dengannya. Ada sesuatu yang lebih santai, lebih terbuka.

Kalau Raymon sampai menceritakan soal kesepakatan mereka, berarti dia benar-benar percaya pada wanita ini. Dan Gwen tahu, Raymon bukan tipe orang yang mudah percaya.

“Jadi, kapan rencana pernikahannya?” tanya Carolina.

“Beberapa minggu lagi.” Gwen mengangkat bahu.

“Aku rasa itu bukan ide bagus, Raymon.” Carolina menoleh ke arahnya. “Kalau kamu menahan Gwen di sini selama itu, kamu harus memperkenalkannya ke anak buah kamu. Aku enggak yakin, memperkenalkan dia sebagai… Cewek simpanan itu ide yang bagus.”

“Menurut kamu harus dipercepat?” tanya Raymon.

“Iya. Saat kamu membawanya ke depan anak buah kamu, dia harus sebagai istri kamu. Kalau enggak, enggak akan ada yang menghormatinya.”

Raymon menatap Carolina beberapa saat, lalu mengambil ponselnya dan menelepon.

“Troy, ada perubahan rencana. Jadwal ulang pernikahan resmi. Besok siang.”

Apa?

“Ini jauh lebih baik.” Carolina tersenyum. “Kapan makan malamnya aku kirim?”

“Satu jam lagi.”

“Bagus. Aku pastikan Dottie yang antar. Dia menceritakan adegan kalian kemarin detail banget. Semua orang dapur dan beberapa anak buah yang dengar sampai melongo, sambil komentar kalau kamu enggak pernah bawa perempuan ke rumah dan yang ini pasti spesial.”

Carolina berbalik hendak pergi, tapi berhenti di ambang pintu.

“Pastikan kali ini dia menangkap kalian dalam keadaan yang lebih… intim. Kamu enggak mau orang-orang jadi curiga saat kamu tiba-tiba ngumumin kalian sudah menikah, Raymon.”

Gwen menatap pintu yang baru saja dilalui Carolina, bingung sekaligus mulai panik, lalu beralih ke Raymon.

“Kita enggak akan pura-pura nge seks cuma supaya pembantu kamu bisa nangkap kita, kan?”

Raymon tertawa kecil dan berjalan menuju kamarnya. “Aku mau mandi dan ganti baju. Kalau kamu juga mau, cepat. Pakai sesuatu yang seksi.”

“Maaf?”

“Enggak akan ada seks.” katanya santai tanpa menoleh. “Tapi Dottie bakal bawa makan malam ke kamar aku, dan kamu bakal ada di sana.”

“Di kamar kamu?”

“Di ranjang aku, Gwen!”

...***...

Raymon sedang mengacak-acak laci dapur mencari pembuka botol saat ia mendengar pintu kamar Gwen terbuka. Ia mengangkat kepala dan menoleh.

Gwen berdiri di ambang pintu, tampak seperti putri berambut gelap dalam gaun pendek renda. Rambut hitamnya terurai di kedua sisi wajah.

Dia masuk ke dapur tanpa alas kaki dan berhenti tepat di depan Raymon, tetapi menundukkan kepala, menatap ke arah kakinya.

Dari luar, dia terlihat santai. Namun ketika akhirnya menoleh ke atas, punggungnya langsung menegang.

Jadi benar seperti dugaan Raymon. Bukan karena dekat dengannya yang membuat Gwen tidak nyaman, tapi tinggi badannya.

Raymon melepaskan tongkat kiri dari ketiaknya dan menyandarkannya ke meja dapur. Ia lalu membungkuk, meraih pinggang Gwen dengan tangan kiri, dan mengangkatnya duduk di atas meja di depannya.

“Gini. Lebih enak?” tanyanya.

Gwen hanya menatapnya dengan mata membesar.

Raymon berbalik mengambil tongkatnya, lalu ketika kembali menatap Gwen, ia melihat setetes air mata jatuh di pipinya. Dada Raymon terasa seperti diremas.

“Maaf,” bisik Gwen. “Ini bukan karena kamu, Raymon.”

“Aku tahu.”

Raymon mengangkat tangan, menempelkan telapak tangannya ke pipi Gwen, lalu menghapus air mata itu.

“Aku bakal bunuh dia, Babby. Pelan-pelan, dan menyakitkan. Kasih aku namanya.”

“Enggak.”

“Sebutin nama bajingan itu.”

“Aku sudah bilang enggak. aku enggak mau membuat siapa pun jadi pembunuh.”

“Sudah terlambat buat itu, Gwen. Namanya.”

“Lupain saja. aku enggak akan bilang. Sudah… lupakan saja, sial.”

Raymon menarik napas dalam, berusaha menahan dorongan untuk memukul sesuatu.

“Oke. Untuk sekarang aku diam. Tapi kamu cuma menunda hal yang enggak mungkin terhindarkan.”

Ponsel di kamar Raymon mulai berdering. Mungkin Carolina yang memastikan mereka sudah siap untuk makan malam, tapi sekarang Raymon sudah tidak mood untuk berpura-pura.

“Aku harus angkat.”

Ia berbalik menuju kamar dan mendengar Gwen turun dari meja. Dia mengikutinya dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah, menyesuaikan dengan langkahnya yang lambat.

Telepon berhenti berdering saat Raymon sampai di samping tempat tidur.

“Aku bakal bilang ke Carolina buat taruh makanan di depan pintu,” katanya sambil duduk di tepi ranjang. “Kamu bisa balik ke kamar atau nunggu di dapur.”

“Enggak.”

Gwen mengambil tongkat yang tadi disandarkan Raymon, lalu menyelipkannya ke bawah ranjang.

Raymon mengamati saat Gwen membuka selimut dan masuk ke dalamnya.

“Ayo,” katanya sambil mengangkat sisi selimut.

Raymon memastikan ada jarak di antara mereka sebelum berbaring, mengira Gwen akan menjaga jarak.

Tapi tidak.

Gwen malah mengangkat kakinya, melingkarkannya ke tubuh Raymon, lalu naik ke atasnya, menurunkan kepala dan menyandarkannya di dadanya.

Raymon hampir tidak berani bernapas. Ia berusaha tidak menggerakkan satu otot pun, takut membuat Gwen menjauh.

Mereka diam beberapa saat dalam posisi itu. Gwen terbaring di atasnya, tubuhnya hangat menempel.

“Lingkarin tangan kamu ke aku.”

Raymon menurut, sambil mencari tanda-tanda ketidaknyamanan. Tidak ada.

Perempuan ini aneh, pikirnya. Dan memeluknya seperti ini terasa terlalu… menyenangkan. Ia berharap ini bukan sekadar sandiwara.

“Kamu oke?” suara Raymon terdengar rendah.

“Iya.” Gwen memejamkan mata. “aku cuma perlu kasih beberapa aturan.”

“Oke.”

“Jangan pegang pergelangan tangan aku atau cekik leher aku.”

Raymon merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya.

“Dan juga… jangan nahan aku pakai tubuh kamu.”

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!