NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Keberadaan Dean Junxian

Saat orang tuaku mengetahui aku berpacaran dengan Dean Junxian, mereka tak bisa menyembunyikan rasa ragu dan skeptisnya. Konsultan gaya? Apa sebenarnya itu? Bagi mereka, pekerjaan itu terdengar seperti sesuatu yang tidak jelas, penuh warna di dunia hiburan; seseorang yang setiap hari berpakaian nyentrik, pergaulannya bebas, dan sama sekali tidak tampak seperti pekerjaan yang bisa menjamin masa depan yang stabil.

Apalagi, kondisi ekonomi keluarga Dean Junxian terbilang biasa-biasa saja. Ia berasal dari keluarga besar dengan banyak anak. Ia memiliki seorang kakak laki-laki, serta seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Meskipun jumlahnya banyak, tidak ada satupun di antara mereka yang menonjol secara akademis atau bisa disebut berhasil dalam studi.

Dean Junxian sendiri bahkan tidak menyelesaikan SMA. Ia langsung menjadi murid magang di sebuah salon dan menekuni dunia penataan rambut sejak muda. Inilah yang paling membuat orang tuaku gelisah. Mereka sempat mencoba keras menghentikan hubungan kami, merasa takut aku akan terseret dalam ketidakpastian hidupnya.

Namun, aku keras kepala. Aku menutup telinga dari semua nasihat mereka, bersikukuh dengan perasaanku, dan tetap melanjutkan hubungan ini. Akhirnya, orang tuaku hanya bisa pasrah dan memberi restu dengan berat hati.

Baru setelah kami menikah dan aku melahirkan anak pertama kami, Dariel, orang tuaku mulai perlahan menerima Dean Junxian dengan tulus. Setelah kelahiran anak kedua, Elvin, Dean Junxian memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai konsultan gaya untuk membantuku mengelola perusahaan. Lalu, saat anak ketiga, Sonika, lahir, ia melakukan lompatan karier yang luar biasa: dari seorang konsultan gaya yang sederhana, tiba-tiba ia menjadi pemimpin sejati Danfeng Medical.

Selama bertahun-tahun, Dean Junxian selalu bersikap rendah hati dan hati-hati di hadapan orang tuaku. Ia tampak selalu takut melakukan kesalahan sekecil apapun. Karena itu, ia sering beralasan sibuk dan jarang menemaniku menjenguk mereka. Aku sendiri tak pernah ambil pusing justru menurutku situasi itu terasa lebih santai dan damai.

Namun kali ini, ia menunjukkan inisiatif yang mengejutkan. Dean Junxian datang sendiri untuk mengunjungi orang tuaku. Ia bahkan masih ingat hari ulang tahun ibuku. Sungguh perhatian yang tulus.

Aku menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, suara serak karena haru, "Aku sampai lupa hari ulang tahun Ibu sendiri… untunglah kamu masih ingat!"

Dean Junxian tersenyum hangat, suaranya lembut namun tegas, "Mana mungkin aku lupa? Kamu sedang sakit, jadi sudah sewajarnya aku yang memperhatikan mereka. Apalagi mereka sudah berusia tujuh puluh tahun, kita tidak boleh membuat mereka khawatir lagi."

Ucapan itu terdengar begitu manis, begitu tulus… benar-benar sosok menantu yang sempurna.

Di dalam hatiku, aku menyesali diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seorang “iblis berwajah manusia” seperti dia? Aku menyesal, sungguh menyesal, seandainya dulu aku mau mendengar nasihat orang tuaku.

Setetes air mata jatuh, menetes pelan di sudut mataku. Tanpa menunggu, Dean Junxian segera meraih tanganku, menahannya dengan hangat…

“Apa yang kamu katakan kepada mereka tentang kondisiku?” tanyaku perlahan, menatap matanya tanpa berkedip. Aku ingin membaca setiap perubahan ekspresinya, mencari celah sekecil apa pun dari kebohongan yang mungkin ia sembunyikan.

Dean Junxian tidak terlihat terkejut. Ia justru menjawab dengan nada ringan, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting. “Aku bilang kamu sedang pergi ke luar negeri. Untuk kondisi seperti gangguan kecemasan, yang paling penting itu ketenangan pikiran. Lagi pula, pengobatan di luar negeri jauh lebih maju dan bisa dipercaya.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan santai, bahkan terdengar seperti sedang membela diri. “Aku juga bilang kamu akan segera pulang. Jadi kamu harus cepat sembuh, ya. Jangan sampai aku dianggap pembohong di depan mereka.” Ia tersenyum tipis. “Anggap saja ini kebohongan demi kebaikan.”

Aku hanya membalas dengan senyum samar yang terasa pahit di bibirku. Kata-katanya terdengar rapi, masuk akal… namun justru itulah yang membuat bulu kudukku meremang.

Dalam diam, pikiranku berputar cepat. Rencana yang benar-benar licik. Jika suatu hari aku benar-benar mati, orang-orang hanya akan mengira aku meninggal di luar negeri karena penyakitku sendiri sebuah akhir yang “wajar” dan tanpa kecurigaan. Sementara dia… akan tetap bersih, tanpa tersentuh sedikit pun.

Aku tidak tahu berapa banyak kebenaran dalam ucapannya tentang kunjungannya ke orang tuaku. Semua terasa samar dan sulit dipercaya. Untuk saat ini, aku hanya bisa menunggu kabar dari Helia… hanya dia satu-satunya harapanku untuk memastikan semuanya.

Namun ada satu hal yang kini semakin jelas di benakku aku tidak bisa terus berada dalam ketidakpastian seperti ini. Aku harus mencari cara untuk melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku… sebelum semuanya terlambat.

“Nanti aku mau menelepon Ayah dan Ibu,” kataku pelan, seolah hanya mengungkapkan kerinduan biasa. “Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengan mereka. Aku benar-benar rindu.”

Seperti yang sudah kuduga, responsnya datang begitu cepat. “Nanti saja,” jawab Dean Junxian dengan nada datar. “Sekarang tidak cocok. Ada perbedaan zona waktu.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk mempertegas kecurigaanku.

Tak lama kemudian, ia berdiri dan melangkah mendekat, tangannya terulur seakan ingin memelukku. “Ayo, kita bangun sekarang.”

Aku segera menahan gerakannya dengan dorongan lembut. “Kamu mandi dulu saja. Aku masih ingin duduk sebentar… kepalaku masih sedikit pusing. Tunggu sampai agak baikan, baru aku mandi.” Aku mencoba duduk perlahan, menyandarkan tubuhku yang lemah pada kepala ranjang.

Dean Junxian menatapku beberapa detik, seolah memastikan aku benar-benar baik-baik saja. Lalu ia mengangguk. “Baiklah, aku mandi dulu. Nanti setelah itu aku bantu kamu.”

Setelah mengatakan itu, ia membungkuk dan mengecupku singkat, lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

Begitu suara pintu tertutup dan gemericik air mulai terdengar dari dalam, aku langsung bergerak cepat. Dengan tangan sedikit gemetar, aku meraih ponselku, mengetik pesan singkat untuk Zea Helia, lalu segera menyimpannya kembali di tempat semula seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Jantungku berdegup kencang. Kini, setiap detik terasa seperti pertaruhan.

Baru saat itulah aku beranjak dari tempat tidur, tubuhku terasa berat seolah ditarik oleh gravitasi sendiri. Meskipun semalam tidur cukup nyenyak dan pikiranku terasa lebih jernih, tangisan hebat tadi malam benar-benar menguras energi. Setiap otot rasanya lelah, dan kepalaku masih terasa agak pusing.

Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam, lalu mulai memutar otak. Bagaimana caranya mendapatkan kembali ponselku yang lama? Di dalamnya tersimpan begitu banyak hal penting percakapan, catatan, bahkan kenangan yang tak tergantikan. Pikiran itu membuatku semakin tegang, tapi aku harus tetap tenang.

Setelah berusaha menenangkan diri dan membersihkan wajah serta tangan, Dean Junxian datang. Tanpa banyak bicara, ia menggendongku dengan hati-hati menuju kamar mandi. Selama perjalanan, obrolan kami terdengar santai, seolah tidak ada beban berat di antara kami. Di sana, ia membantuku membasuh muka, menyikat gigi, dan melakukan rutinitas pagi dengan kelembutan yang hampir sempurna. Sekali lagi, ia memerankan sosok “suami idaman” yang tampaknya tak pernah salah.

Yang membuatku terkejut dan sedikit heran adalah hari ini Zhiyi Pingkan sama sekali tidak membawakanku obat, dan Dean Junxian pun tidak menyinggung soal itu sedikit pun. Tidak ada teguran, tidak ada peringatan, bahkan satu kata pun tentang kondisi kesehatanku. Hal ini membuatku bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini tanda kebaikan mereka? Atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku?

Ketidakpastian itu menusuk rasa ingin tahuku lebih dalam. Aku menatap Dean Junxian yang tampak tenang dan sabar di depanku, dan meskipun wajahnya menampilkan kelembutan, hatiku tetap waspada. Ada sesuatu yang tidak sepenuhnya jelas hari ini sesuatu yang membuatku merasa, mungkin, aku harus ekstra hati-hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!