NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.

Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Laura dan Amelia memilih duduk untuk saling menjaga, napas keduanya berpacu, berusaha menenangkan diri dari insiden burung bangkai, jantung mereka masih saja berdebar mengingat apa yang baru saja terjadi. Mereka saling memandang dan berupaya mencari sedikit celah ketenangan di mata satu sama lain, meskipun yang mereka temukan hanyalah pantulan ketakutan yang sama. Mereka berpikir, mungkin, bagian terburuk telah berlalu. Namun, mereka salah.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, jasad Ariana yang tergeletak kaku, sedikit bergeser. Gerakan itu sangat kecil, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk menarik perhatian Laura dan Amelia yang sedang dalam kondisi siaga penuh. Mereka menahan napas, mata mereka terpaku pada tubuh tak bernyawa itu.

Perlahan, kelopak mata Ariana yang semula tertutup rapat, mulai terbuka. Gerakannya kaku, lambat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menariknya. Di balik kelopak mata itu, bukan lagi bola mata cokelat jernih yang Laura dan Amelia kenal. Yang ada hanyalah bola mata putih yang terbelalak lebar, tanpa iris, tanpa pupil, hanya hamparan putih pucat yang kosong dan mengerikan. Mata itu tidak melihat ke arah mereka, melainkan menatap kosong ke langit gelap, seolah menyaksikan sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh mata kematian.

Dan kemudian, yang paling mengerikan terjadi. Mulut Ariana yang semula tertutup rapat, perlahan terbuka. Bukan sebuah senyuman, bukan pula erangan, melainkan sebuah bentuk teror yang membeku. Mulut itu menganga lebar, bibirnya tertarik ke belakang memperlihatkan deretan gigi yang kaku. Dari mulut yang menganga itu, sebuah jeritan melengking keluar. Namun, jeritan itu tidak memiliki suara. Jeritan itu tidak terdengar oleh telinga mereka, namun seolah sangat jelas, sangat nyaring, menusuk langsung ke dalam pikiran Laura dan Amelia. Itu adalah jeritan jiwa yang murni, jeritan penderitaan di pintu abadi, jeritan keputusasaan yang tak terhingga, yang beresonansi langsung di benak mereka.

Seiring dengan jeritan tanpa suara itu, tubuh Ariana sedikit terangkat. Hanya sedikit, beberapa sentimeter dari tanah, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menariknya dari bawah. Lengannya yang kaku bergerak-gerak kecil, jari-jarinya mengepal erat. Sepersekian detik, Laura dan Amelia berpikir Ariana akan bangkit, akan kembali hidup. Harapan dan ketakutan bercampur aduk.

Namun, harapan itu sirna secepat kilat. Setelah terangkat sesaat, tubuh Ariana kembali jatuh, membentur tanah dengan suara hentak yang samar. Ia kembali tergeletak kaku, tak bernyawa. Kelopak matanya kembali tertutup, mulutnya kembali tertutup. Semuanya kembali seperti semula, kecuali satu hal: ekspresi di wajahnya.

Wajah Ariana yang semula pucat dan damai dalam kematian, kini terukir jelas ekspresi teror yang mendalam. Alisnya berkerut, bibirnya sedikit tertarik ke bawah, dan ada kerutan di antara kedua alisnya, seolah ia baru saja mengalami mimpi buruk paling mengerikan dalam hidupnya. Ekspresi itu membeku, menjadi saksi bisu dari kengerian yang baru saja ia alami, atau ia saksikan, di ambang kematian.

Laura dan Amelia terpaku di tempat, tidak bisa bergerak, tidak bisa berkata-kata. Mereka baru saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sahabat mereka, Ariana, bangkit sejenak dari kematian. Bukan untuk hidup kembali, melainkan untuk menjerit dalam keheningan, untuk mengalami penderitaan yang tak terbayangkan, sebelum akhirnya kembali terenggut dalam pelukan kematian. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab membanjiri pikiran mereka. Apa yang Ariana lihat? Apa yang membuatnya menjerit begitu putus asa? Dan yang terpenting, apakah mereka juga akan mengalami hal yang sama ketika giliran mereka tiba?

Malam merangkak semakin dalam, menelan pulau kecil itu dalam kegelapan yang pekat. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang sangat mengganggu lainnya muncul. Bau.... Bau busuk yang semula hanya samar-samar tercium, kini menusuk hidung dengan intensitas yang tak tertahankan, mengoyak selaput indra penciuman mereka.

Aroma kematian yang khas, perpaduan amis darah kering yang mulai mengental dengan bau busuk manis yang memuakkan dari daging yang mulai membusuk, menyelimuti setiap sudut pulau. Udara terasa kental, berat, seolah setiap hembusan napas membawa serta partikel-partikel kematian itu langsung ke dalam paru-paru mereka. Bau itu bukan lagi hanya di luar; ia meresap, menempel pada pakaian, rambut, bahkan terasa di dalam mulut mereka, meninggalkan rasa pahit yang menjijikkan.

Laura dan Amelia sudah tidak tahan lagi. Perut mereka bergejolak hebat, mual yang tak tertahankan memaksa kerongkongan mereka menegang. Kepala mereka terasa pening, berdenyut-denyut seolah dihantam benda tumpul. Mata mereka berair, bukan karena tangisan, melainkan karena perih yang ditimbulkan oleh uap-uap busuk yang menyengat. Mereka sudah terlalu lama terperangkap di antara kengerian visual dari bayangan hitam dan kebangkitan sesaat Ariana yang mengerikan, dan kini ditambah lagi dengan penyiksaan penciuman yang tak kalah hebat.

"Aku... aku tidak tahan lagi, Laura," bisik Amelia, suaranya parau, tercekat di antara desakan mual. Wajahnya semakin pucat pasi, bibirnya membiru. Ia mengangkat kedua tangannya, menutup hidungnya rapat-rapat, namun sia-sia. Bau itu seolah telah meresap ke dalam pori-pori kulitnya, ke dalam setiap sel tubuhnya, bahkan sampai ke dalam jiwanya. Ia bisa merasakan bau itu di otaknya, di ingatannya.

Laura mengangguk lemah, kepalanya terasa sangat berat. Ia juga merasa seperti akan muntah, namun tidak ada apa pun lagi di perutnya yang bisa dikeluarkan. Ia melirik ke arah dua jasad yang tergeletak kaku, Roni dan Ariana. Tubuh mereka kini tampak bengkak, kulit mereka mulai menghitam di beberapa bagian. Dari kejauhan pun, ia bisa melihat kerumunan serangga kecil yang mulai berpesta di atas tubuh mereka.

Bau busuk yang tak tertahankan itu seolah berasal langsung dari mereka, dari inti kehancuran dua tubuh yang dulunya penuh kehidupan. Bau itu mempertegas kenyataan pahit: bahwa Roni dan Ariana bukan lagi sahabat-sahabat mereka yang ceria, yang bisa tertawa dan bertengkar. Mereka hanyalah tumpukan daging yang mulai terurai, menjadi santapan serangga dan mikroba, menjadi bagian dari siklus kematian yang kejam. Dan bau itu adalah pengingat yang tak terhindarkan, penanda bahwa terkadang kematian itu membawa hukuman yang nyata, dan bahwa mereka, Laura dan Amelia, berada di tengah-tengahnya, terjebak dalam pusaran kengerian yang tak berujung.

Dengan langkah gontai, mereka menjauh dari lokasi jenazah. Setiap langkah terasa berat, pikiran mereka berkecamuk. Rasa bersalah karena meninggalkan jasad sahabat mereka begitu saja, bercampur dengan rasa jijik dan takut yang tak tertahankan. Mereka terus berjalan, menjauh dari pusat bau, sampai akhirnya menemukan sebuah pohon besar dengan dahan-dahan yang menjulur panjang, menjorok ke sungai.

Pohon itu tampak tua dan kokoh, daun-daunnya lebat, memberikan sedikit rasa aman dari pandangan terbuka. Di bawahnya, tanah sedikit lebih kering dan rata. Mereka memutuskan untuk berhenti di sana. Jaraknya cukup jauh dari kedua jenazah, sehingga bau busuk itu sedikit berkurang, meskipun masih tercium samar dibawa angin malam.

Mereka duduk bersandar pada batang pohon yang besar, saling membelakangi, mencoba mencari sedikit kenyamanan. Kelelahan fisik dan mental sudah mencapai puncaknya. Meskipun ketakutan masih menggerogoti, kebutuhan untuk istirahat tak bisa ditawar lagi.

"Kita harus tidur, aku sudah teramat lelah," ucap Amelia, suaranya pelan dan serak. "Jika tidak, kita akan gila."

Laura tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Matanya terasa berat, pikirannya kacau. Bayangan hitam yang berputar, burung bangkai, dan jeritan Ariana tanpa suara, terus menghantuinya. Ia mencoba memejamkan mata, berharap kegelapan akan membawa sedikit kedamaian.

Namun, tidur tak semudah itu datang. Setiap kali Laura mulai terlelap, ia dikejutkan oleh suara-suara aneh. Gemerisik daun yang terlalu keras, suara ranting patah yang seolah diinjak, atau bahkan bisikan-bisikan samar yang terasa begitu dekat, padahal hanya ada mereka berdua. Ia berkali-kali membuka mata, memeriksa sekeliling, namun hanya kegelapan dan bayangan pohon yang tegap di bawah sinar bulan.

Amelia juga gelisah. Ia terus bergerak-gerak, sesekali mengeluarkan erangan kecil. Laura tahu, Amelia juga sedang berjuang melawan kepiluan dan kengerian yang sama.

Kelelahan yang teramat sangat akhirnya mengalahkan keduanya. Mereka terlelap dalam tidur yang gelisah, diselingi hal aneh dan bisikan-bisikan samar yang merayap di bawah alam sadar.

Namun, tidur itu tidak berlangsung lama bagi Amelia. Sekitar dini hari, saat bulan telah bergeser dan bintang-bintang mulai memudar di cakrawala, Amelia terbangun dengan jantung berdebar kencang. Ia tidak tahu apa yang membangunkannya. Mungkin suara pekik hewan atau mungkin bisikan angin yang terdengar seperti nama seseorang. Laura masih terlelap di sampingnya, kelelahan yang hebat membuat bibirnya sedikit terbuka.

Amelia mendapati dirinya merenung dalam kegelapan. Meskipun telah menjauh, pikirannya terus kembali pada jasad Roni dan Ariana. Ketakutan yang mencekik perlahan digantikan oleh rasa penasaran yang aneh. Apa yang terjadi pada mereka sekarang? Apakah bayangan hitam itu masih berputar? Apakah ada hal lain yang terjadi? Rasa ingin tahu itu, bercampur dengan keinginan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi hal mengerikan yang terjadi pada tubuh sahabat-sahabatnya, mendorongnya untuk bangkit.

Dengan hati-hati, Amelia bangkit dari tidurnya. Setiap gerakan kecil terasa begitu keras di tengah keheningan malam. Ia melirik Laura yang masih pulas, lalu menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Sendirian. Ia akan memeriksa tempat itu sendirian.

Langkah kakinya ringan, nyaris tak bersuara saat ia menyusuri kembali jalur yang tadi mereka lewati. Suasana terasa sangat mencekam. Setiap bayangan pohon tampak seperti sosok menyeramkan, setiap gemerisik daun terdengar seperti langkah kaki yang mengintai. Bulan kini tertutup awan, membuat penglihatan Amelia semakin terbatas. Ia harus meraba-raba dalam gelap, tangannya sesekali menyentuh dahan dan dedaunan yang dingin.

Aroma busuk itu kembali menyeruak, semakin kuat seiring dengan langkahnya yang mendekat. Mual kembali menyergap, namun kali ini Amelia berusaha menekannya. Ia terus berjalan, menembus kegelapan, sampai akhirnya ia tiba di tempat di mana Roni dan Ariana tergeletak.

Namun, yang ia temukan adalah... tidak ada apa-apa. Jasad Roni dan Ariana masih tergeletak di tempatnya, kaku dan mulai membengkak. Tidak ada bayangan hitam yang berputar, tidak ada burung bangkai, tidak ada tanda-tanda keanehan yang mereka saksikan sebelumnya. Semuanya tampak damai, setidaknya seolah-olah, untuk pertama kalinya. Hanya keheningan yang absolut dan bau kematian yang mendominasi.

Amelia berdiri terpaku beberapa saat, matanya menyapu sekeliling. Ia memeriksa dengan seksama, mencari jejak, tanda-tanda, apa pun yang bisa menjelaskan kejadian sebelumnya. Tapi nihil. Tidak ada apa-apa. Rasa lega datang bercampur dengan kebingungan.

Dengan perasaan campur aduk, Amelia memutuskan untuk kembali. Ia tidak ingin terlalu lama berada di dekat jasad itu sendirian. Langkah kakinya kini lebih cepat, ia ingin segera kembali ke samping Laura, ke tempat yang setidaknya terasa sedikit lebih aman.

Ketika ia kembali ke bawah pohon, Laura masih terlelap. Amelia duduk di sampingnya, bersandar pada batang pohon yang sama. Ia memejamkan mata, mencoba memahami apa yang baru saja ia alami. Apakah ia benar-benar pergi ke sana? Apakah ia benar-benar melihat tidak ada apa-apa? Atau apakah ada sesuatu yang menunggunya, mengawasinya dari balik kegelapan, yang memilih untuk tidak menampakkan diri kali ini?

Pikirannya kalut, pertanyaan-pertanyaan berputar-putar di kepalanya. Namun, kelelahan kembali menyergap. Kelopak matanya terasa berat, dan tubuhnya menuntut istirahat. Setelah beberapa saat merenung, Amelia akhirnya menyerah pada kantuk. Ia memposisikan dirinya, memejamkan mata, dan membiarkan kegelapan membawanya kembali ke alam mimpi yang entah akan seindah atau semengerikan apa. Pulau itu kembali diselimuti keheningan, menunggu terbitnya matahari, atau mungkin, teror lain yang lebih mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!