Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 8
"Mas Aabid" panggil radina dengan mata berkabut dan wajah penuh kesedihan, namun tak membuat Aabid kemudian luluh dan terenyuh oleh pemandangan yang baginya sangat memuakkan.
Ia hanya bergeming di depan pintu dengan wajah yang masih sama, merah padam. Menggambarkan sebuah amarah yang masih membara atas pengkhianatan.
"Aabid, duduklah." Arumi berseru, hampir dua Minggu ia membiasakan diri dengan keadaan memprihatinkan, membuat Arumi tak lagi emosi dalam menghadapi menantu dan besannya itu.
"Pertanggungjawaban apa lagi yang hendak kamu minta, radina?!" Melihat isyarat dari Arumi, akhirnya Aabid menurunkan suara.
Ia berujar namun tak berani menatap radina. Ia tak ingin melunak dan kembali jatuh dalam buaian kepalsuan.
"Mas, aku ... waktu itu aku benar-benar dijebak. Aku ...."
"Dijebak kenikmatan?" sela Aabid dengan nada sinis.
"Mas, aku bisa jelasin. Dia masuk tanpa permisi ...."
"Radina! Haruskah aku menceritakan semuanya dari awal dan mengatakan kalau aku mendengar kamu begitu menikmatinya?"
Plak!
"Radina!" sentak Arumi dan ibunya radina.
Sebuah tamparan tanpa sadar Radina berikan. Namun, detik selanjutnya ia terlihat begitu menyesal. Ia benar-benar malu dengan kata-kata yang terucap dari bibir Aabid.
Malu dengan perbuatannya sendiri.
"Apa? Apa tujuanmu sebenarnya datang ke sini?!" tanya Aabid setelah tersenyum remeh.
"Mempertahankan rumah tangga, Mas," jawab radina sesenggukan.
"Mempertahankan akan terjadi jika keduanya mau."
"Maka dari itu, aku mohon padamu. Jikapun kamu tidak menerima penjelasanku, setidaknya pikirkan pernikahan...." Ucapan radina yang seakan dia adalah korban dan wanita bijaksana itu pun terhenti seketika, kala telunjuk Aabid mengarah tepat di hadapan wajahnya, menandakan bahwa radina harus segera menutup mulutnya.
Dengan sorot mata tajam Aabid kemudian berujar.
"Aku sudah tahu semuanya. Jika ingin mempertahankan pertahankan di pengadilan kalau kamu bisa. Tapi, sebesar apa usahamu, tidak akan bisa mengubah keputusanku. Aku tidak tuli dan tidak buta, radina. Kamu bermain di depan mataku karena kamu tahu seharusnya aku kembali hari ini bukan malam itu!"
Susah payah radina menelan ludahnya, Aabid seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya kala itu. Melihat kemarahan yang tak pernah ia lihat sebelumnya itu membuat nyalinya menciut.
"Kau, menjadikan rumah yang ku bangun penuh keringat dan pengorbanan terlihat begitu kotor. Kau, wanita paling menjijikkan yang pernah aku kenal. Dan tak akan lagi aku sudi mengenalmu! Kau paham?!" lanjut Aabid dengan nada penuh penekanan.
"Kau pikir aku akan menyelamatkan harga dirimu dan keluargamu hanya karena cinta? Kau salah, radina!"
"Ma, suruh mereka pergi dan hubungi lagi Pak Wira. Aabid mau proses perceraian berjalan cepat, tanpa drama, apalagi bertele-tele!" pungkas Aabid sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang tamu.
"Mbok, tanyakan pada wanita itu, barang apa yang tertinggal, lalu ambil dan berikan padanya!" ujar Aabid ketika ia melihat mbok utun berdiri di bawah tangga.
Nada bicara yang keras dan tegar terdengar jelas di telinga radina. Membuang tubuh radina luruh ke lantai seketika, tangisnya menjadi, jauh di dalam lubuk hatinya ia tak bisa kehilangan lelaki yang sebetulnya sudah berhasil membuatnya jatuh cinta sedemikian rupa.
Namun, tak ada lagi yang bisa ia perbuat. Kemarahan aabid sudah menghancurkan segalanya.
Permainannya terendus ketika ia ingin menutup masa lalunya itu selamanya. Mengakhiri hubungan terlarang yang selama ini dijalaninya, hubungan buah dari penolakan atas perjodohan yang nyatanya membuatnya nyaman.
Ya, radina juga sempat menolak perjodohannya dengan Aabid namun saat ia tahu dan mengenal Aabid ia justru tak tahu cara mengakhiri hubungan terlarang yang terus ia jalani.
Jerit tangis radina, terdengar hingga Aabid masuk ke dalam kamar.
Cepat, Aabid menutup telinga dengan kedua telapak tangan setelah ia menghempaskan diri di ranjang.
Dalam hatinya terus berseru untuk tetap tenang dan tidak lagi terhasut oleh airmata yang dikeluarkan, sekalipun itu dari sang belahan jiwa.
Lama Aabid berusaha mematikan hati di tengah jerit tangis radina, hingga ia tak lagi mendengarnya.
Tak lama, pintu kamar yang kini menjadi tempat Aabid beristirahat terdengar dibuka, tangan Aabid dengan cepat meraba dan menghapus sudut mata yang mengabur ketika ia membukanya secara perlahan.
Entah sudah berapa lama ia ketiduran bersama jerit tangis radina yang semakin menghilang.
"Aabid, sudah bangun?" tanya lelaki dan wanita yang kini melangkah masuk.
"Hem," jawab Aabid dengan nada malas sembari bangkit dari pembaringan.
"Aabid, Mama sama Papa ingin bicara. Bisa?"
"Sejak kapan minta ijin?" jawab Aabid dengan seribu gengsinya.
Keduanya pun duduk di tepian ranjang, mengapit putra semata wayang.
"Sayang, masalah dalam rumah tangga itu adalah hal wajar. Memang dalam hal selingkuh ada dua pilihan yang bisa diambil dan itu sah sah saja menurut agama. Salah satunya pisah." Arumi membuka suara.
Dahi Aabid berkerut. Tak biasanya sang mama terlihat begitu serius.
"Lalu?" Singkat Aabid menanggapi ucapan mamanya.
"Aabid, kami tahu ini berat. Papa dan mama juga tahu bahwa semua yang kamu alami tidak mudah. Kami, Papa dan Mama mau mengatakan, intinya apapun yang menjadi pilihan, asal kamu bahagia, kami akan tetap mendukungnya."
"To the poin aja. Kenapa muter-muter."
Arumi dan Pradipta saling pandang.
Lalu Pradipta angkat bicara.
"Benar, Aabid, kamu ingin pisah dari radina? Atau kamu masih mencintainya dan hanya menyelamatkan harga diri sekaligus nama papa dan mama?" tanya Pradipta.
Aabid terdiam.
Terdiam nya pun membuat Pradipta dan Arumi kembali saling pandang dalam diam. Kejadian beberapa hari terakhir cukup membuat keduanya paham akan apa yang dirasakan anaknya itu, tidur tanpa sengaja hingga sudut matanya yang selalu basah.
Membuat hati mereka merasakan iba.
"Kami siap menerima sekalipun kalian harus kembali, yang penting kamu bahagia. Jangan pernah mengira kami mengekang kebahagiaan kamu demi nama baik keluarga. Perasaan kamu lebih penting dari semuanya, Aabid." pungkas Pradipta.
Hening men jeda cukup lama, hanya suara jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan.
"Apapun kesalahannya akan Aabid maafkan, tapi tidak jika tubuhnya sudah disentuh lelaki lain dan dia merelakan."
double up Thor 🙏
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣