Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
KKKKKRRINGGGG bunyi alarm mengema seluruh kamarku. Mengusik sosok manusia yang tertidur pulas dalam dibalik selimut. Berlahan sebuah tangan keluar dari dalam selimut untuk meraih alarm. Dengan susah payah akhirnya dapat menekan tombol off. Sosok tersebut berlahan mengeluarkan kepalanya. Menampilkan wajah cantik natural dengan rambut acak-acakan. Sosok itu bernama Melisa yang masih mencintai kasurnya.
Setelah sekian menit berlalu aku mulai membuka mata. “hoam” dengan sedikit perengangan pada tubuh. Mengusap wajah sesekali menguap. Dengan setengah sadar aku melirik jam yang berada disamping tempat tidur. Jam menujukkan pukul 6.50 pagi.
Secepat kilat aku terbangun DUKK saat aku turun, kakiku masih terlilit selimut. Berakhir dengan aku terjatuh dari tempat tidur . Kedua tanganku sebagai tumpuan. “ aduh...” suara rintihanku. Aku melihat tangan kananku berdarah “pasti tergores”. Aku berdiri untuk mengobati tangan kananku. Aku kembali melihat jam menunjukan pukul 7.00 pagi. Aku segera bersiap pergi ke sekolah.
Aku keluar kamar dengan berlari. Menuruni tangga menuju meja makan. Disana bibi Surti sudah menyiapkan sandwich untukku. Aku langsung mengambil sandwichnya. “ bibi aku berangkat dulu” pamitku sambil berlari keluar rumah.
“ PAK MAMAT AYO BERANGKAT” teriakku dari kejauhan. Pak mamat bergegas membukakan pintu untukku. Aku masuk ke dalam mobil yang disusul pak mamat. Untung ada pak mamat yang menyetir jadi aku bisa memakan sandwich. Akhirnya sampai di sekolah, aku melihat jam menunjukan pukul 7.35 pagi. “ Aku terlambat” dengan berlari menuju ke kelas.
Sampai di depan kelas aku langsung membuka pintu. Aku menerobos ke dalam tanpa memperhatikan sekeliling. Akhirnya kakiku terpleset refleks tanganku mencari pegangan. Aku memejamkan mata berdoa dalam hati semoga selamat. Entah bagaimana caranya tanganku menarik Elgartara. Elgartara ikut terjatuh bersamaku di lantai.
Dengan berlahan aku membuka mata cahaya mulai masuk ke retina. Pahatan wajah Elgartara berlahan terlihat jelas sungguh indah karya tuhan. Rahang yang kokoh dengan kulit yang putih porselen ditambah bibir merah muda. Tampak terawat tanpa sedikit pun luka. Kelopak matanya yang indah. Berlahan tapi pasti mata Elgartara terbuka. Menampilkan indahnya mata hitam legam. Aku terhipnotis oleh matanya yang menyimpan segudang misteri. Ingin aku mengetahui apa yang disembunyikan mata selegam langit malam itu.
Suara riuh bisikan para siswa mengembalikan logikaku. Dengan berlahan aku terbangun “ maaf, aku tidak sengaja ” kataku kepada Elgartara. Elgartara terbangun tanpa menanggapi perkataanku. “ DARAH” teriak salah satu siswa yang membuat seluruh siswa menatapku. Refleks aku mencari darah di seluruh tubuhku. Darah segar mengalir dari telapak tangan kananku pasti bekas luka tadi pagi robek.
Aku berdiri “hanya luka kecil” kataku acuh. Aku meninggalkan ruangan kelas ke kamar mandi. Dalam kamar mandi, aku mencuci lukaku dengan air mengalir. Seharusnya aku segera mengolesi obat. Karena kebiasaan dari kecil kalau dapat luka seperti ini dibiarkan sembuh sendiri. Setelah sedikit merapikan seragam. Aku keluar kamar mandi menuju ruang kelas kelas untuk mengikuti pelajaran.
Selama pelajaran aku merasa sangat bosan. Awalnya aku akan mengajak Rini ke kantin sayangnya ia remidi. Akhirnya aku berjalan tak tentu arah. Aku berjalan menuju sebuah taman dengan berbagai bunga. Bau harum yang memanjakan hidungku. Warna warni kelopak bunga memanjakan mata. Aku berjalan mengikuti jalan setapak. Berkeliling menikmati beragam jenis bunga yang tumbuh di taman.
Langkah kaki berhenti saat mataku menangkap sosok laki-laki berbadan tegap di balik pohon besar. Postur tubuhnya yang familiar membuatku berani mendekat. Sepertinya sosok itu tidak sendiri. Aku mendekat sekarang sosok itu tampak jelas Elgartara. Sedang apa Elgartara disini? siapa sosok yang berhasil membuat tersenyum? Dihinggapi rasa penasaran aku mendekati Elgartara.
Aku semakin mendekat dengan langkah berlahan tanpa suara. Seseorang yang menjadi lawan bicaranya ialah seorang gadis. Terlihat dari rambut hitam panjangnya . Setelah aku memperhatikan dengan seksama akhirnya aku bisa melihat wajahnya yang seputih susu dengan bentuk wajah kecil. Menambah gemas siapapun yang melihat.
Senyumnya yang manis membuat siapapun ikut tersenyum. Dialah pemeran utama protagonis perempuan Olivia Triandara bersama Elgartara Pramudja pemeran utama protagonis pria.
Melihat mereka bahagia muncul ingatan alur cerita mengenai penderitaan Melisa. Membuatku sedih tanpa sadar air mata terjatuh. Aku mengusap air mata dengan kasar “ Sungguh bahagiannya”sambil tersenyum.
Siapapun yang melihatnya pasti merinding senyum mematikan berjuta kejutan.
Aku mengambil ember yang tergeletak memasukkan air ditambah tanah, dedaun, sampah, beberapa tetes air got, ditambah air fermentasi pakan. Sekolah kami memiliki saluran got yang lancar dan melakukan bioteknologi dalam hal fermentasi. Aku mengaduk hingga semua bahan tercampurkan rata. Aku melakukannya dengan cepat.
Aku berjalan didekat posisi mereka. BYURR tepat mengenai target. Mereka menatapku dengan ekspresi yang tak bisa aku katakan. Aku menutup mulutku dengan berlahan menurunkan tanganku “maaf, aku tidak tahu kalian disana”. Menampilkan ekspresi polos “ akan aku bersihkan”. Aku mengambil selang air. Aku menyalakannya kemudian menyemprotkan kepada mereka. Dalam hati aku tertawa bagi kalian pasti tidak pernah merasakan penghinaan seperti inikan terutama Elgartara. Nikmatilah kebahagiaan kalian dengan berbasah-basahan. “Hentikan Melisa” kata Elgartara memajukan tangannya untuk menghalangi air ke arahnya. Tindakan yang sia-sia “ kau masih kotor dan bau”
Setelah aku capek menyemprotkan air kepada mereka. Aku mematikan selang air. Seluruh pakaian mereka basah. Bertepatan dengan kedatangan Rini“ Mel ini kau minta” Rini memberikanku beberapa handuk. Aku mengambil handuk yang diberikan Rini. Aku berjalan mendekati mereka “kau gila” suara Elgartara dengan dingin. Aku tidak menanggapi hinaannya, dengan berlahan aku mengusap air diwajah Elgartara dengan handuk ditanganku.
“ Rin sisa handuk itu kasih padanya” mataku melirik ke arah Olivia. Belum sempat Rini membalas perkataanku. Elgartara mengambil handuk di tangan Rini memberikan kepada Olivia. Olivia yang masih diam memandang wajah Elgartara. Entah itu kode atau apa aku kurang paham. Akhirnya Elgartara mengangkat tangannya berlahan mengusap wajah Olivia.
Melihat adegan didepanku membuatku amarahku meningkat. Tingkah laku Elgartara sudah mencoreng harga diriku pertama tidak ada kata terimakasih. Kedua menggunakan barang orang tanpa izin untuk bermesraan. Ketiga bermesraan tepat didepan mata orang jomblo. Aku melihat seluruh adegan romantis mereka dengan menahan kekesalan didalam dada.
“ Ini handuknya” kata Elgartara memberikan handuk bekas usapan wajah Olivia kepadaku. Penghinaan keempat memberikan barang yang sudah diberikan kepada orang lain tepat didepan mata si pemberi.
Aku mengangkat bibirku membentuk senyum tipis. Mengendalikan amarah di dada dengan aku bergerak mengulurkan tanganku hendak menerima handuk dari tangan Elgartara. Amarahku sudah sampai uluh hati ingin rasanya mencaci maki menyebutkan seluruh nama kebun binatang.
Tepat Elgartara menjatuhkan handuknya secepat kilat aku menarik tangan. PLUK benda lembut segi panjang bernama handuk terjatuh di tanah. Aku pura-pura kesakitan dengan segaja mengores bekas luka jatuh dari kasur. Aku masih fokus pada luka di tanganku namun aku bisa menebak ekspresi terkejut akan terukir di setiap wajah orang yang menyaksikan kejadian ini. Berlahan aku melihat ke tanah ekspresi terkejut tercetak jelas di wakahku. Aku mendongkrak untuk menatap Elgartara. Mata kami bertemu sekilas terlintas kilatan amarah dimatanya.
“ Mengapa kau tidak menangkapnya?” kata Elgartara dengan nada dingin. Aku memasang wajah kesakitan “ tanganku terluka” sambil memperlihatkan darah yang mengalir dari telapak tangan kananku. Aku sengaja menekan area bekas luka agar darahnya keluar.
Elgartara sedikit menunduk untuk mengambil handuk itu dengan sengaja aku menginjaknya. Aku segera mengangkat kakiku yang berlumuran tanah dari handuk itu. “Kau menginjaknya” kata Elgartara sedikit mengeram menahan kesal. Dengan memasang wajah tidak bersalah “ Oops tidak sengaja”
Olivia yang sedari tadi diam bak patung akhirnya bergerak untuk mengambil handuk di tanah. “handuk ini akan aku cuci setelah bersih akan kukembalikan” kata Olive dengan senyum menghiasi wajahnya. “ambil saja” kataku sambil mengandeng Rini pergi menjauhi taman.
Kami pergi ke ruang UKS karena paksaan dari Rini. “duduklah, aku ambil P3K dulu” ia berjalan menuju lemari P3K berada. Ruangan UKS memiliki tempat yang tidak terlalu luas dengan peralatan yang lengkap, bersih, rapi dan nyaman. Membuat siapapun yang datang ke mari betah berlama-lama.
Rani meletakkan kotak P3K di atas meja. Membuka dan mengelurkan obat yang diperlukan. Ia membersihkan lukaku dengan alkohol “berteriaklah kalau sakit”. Kemudian ia mengambil obat untuk mengobati lukaku dengan hati-hati. Terakhir ia menempelkan plaster pada lukaku “selesai”.
“terimakasih” aku tersenyum kepada Rini. “sama-sama” balas Rini dengan memelukku. Ia mengusap punggungku “ kalau ingin menangis menangislah!” . Aku terharu atas persahabatan kami air mataku menetes tanpa aba-aba. Rini selalu tahu apa yang aku butuhkan. Rini akan melalukan apapun yang aku perintahkan, mengerti diriku bahkan hanya lewat tatapan mata. Rini merupakan sahabat sejati bagi Melisa dan aku. Persahaban yang murni tanpa adanya unsur apapun. Aku sedih menginggat fakta bahwa Rani hanyalah tokoh di novel. Tanggisku pecah pada dekapan Rini.
Setelah aku puas menanggis Rini memberikanku sebuah obat tetes mata. Aku meneteskan obat pada kedua mataku. Beberapa saat rasa perih menyerang kedua mataku. Berlahan rasa perih pada mataku menghilang berganti sensasi segar. Kami pergi ke kelas untuk memenuhi kewajiban menutut ilmu.
Saat aku berada di dalam kelas. Aku bersusah payah memusatkan fokusku pada penjelasan guru. Kilasan penghinaan seorang Elgartara berputar di kepalaku layaknya sebuah film. Aku tidak tahan sehingga mengalihkan pandanganku keluar jendela. Aku menatap langit biru cerah dihiasi berbagai bentuk awan yang bergerak tertiup angin. Burung-burung kecil terbang diangkasa luas dengan sayap kecilnya. Beberapa burung hinggap pada ranting pepohonan. Semuanya tampak harmoni. Aku melamun selama jam pelajar berlangsung sampai bel pulang berbunyi.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan keadaan badmood. Tidak ada yang berani untuk sekedar menyapaku bahkan mengusikku. Aku membuka pintu kamar memancarkan aura mencekam. Aku melempar tas ke arah kasur. Aku menuju kearah cermin melihat pantulan Melisa “ Melisa tahan dengan penghinaan yang Elgartara berikan". Aku menyentuh permukaan cermin "Sayangnya aku bukan Melisa". Aku memiringkan kepalaku dengan tatapan setajam pisau "mari kita balas dua kali lipat".
Tok tok tok “maaf non menganggu, pesanannya sudah datang” kata bibi surti yang berada dibalik pintu kamarku.
Aku mengubah ekspresiku. Aku membuka pintu berlahan menampilkan bibi surti yang sedang membawa pesanan makanan oline. Aku melebarkan pintu untuk membiarkan bibi Surti masuk “taruh di meja bi”. Bibi surti masuk kedalam kamarku. Aku mengikutinya dari belakang. Ia meletakan pesananku dimeja dengan berlahan. Aku duduk dikursi dekat meja untuk menikmati kue strawberry dan nanas.
“non kalau memang ada masalah bibi siap mendengarkan” kata bibi takut-takut. Aku menoleh kearah bibi menatap dua matanya yang tertutup keriput. “Aku hanya bosan dengan rutinitasku bi” kataku berbohong sambil tersenyum cerah. Aku tidak mau membuat bibi surti khawatir.
“non, apa untuk hari ini saya kosongkan seluruh jadwalnya?” tanya bibi mencoba memberikan solusi. Aku mengeleng “tidak bi, itu sudah menjadi tanggungjawabku” kataku tegas. “baik non kalau begitu bibi permisi dapur untuk menyiapkan makan malam” pamit bibi surti.
Aku memegang tangan bibi surti “bibi tolong buatkan aku salad bayam”. Bayam mengandung amino, kaya serat dan kaya mineral bagus untuk menurunkan kadar glukosa pada darah. Sehingga bagus untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuh.
Bibi tersenyum manis “baik non”. Aku membalas dengan anggukan sebab mulutku penuh dengan kue strawberry. Menikmati manisnya kue strawberry dan kue nanas membuat seluruh bebanku terangkat. Perpaduan segar dari buah-buahan dengan manisnya krim dan lembutnya kue mengembalikan mood yang berantakan.
***