"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-
"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-
Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.
Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.
Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?
Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?
------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siapa yang sakit?
Happy reading...
"Dia, dia, siapa Mas!" pekik Anna.
"Dia salah satu kenalan mas, Sayang." Riko mencoba menenangkan.
"Saya permisi," pamit wanita itu.
"Ayo kita pulang!" ajak Riko.
Riko menggandeng istrinya hingga ke apartemen mereka.
"Mas, kemarin kamu mau pergi kemana?" tanya Anna masih dengan nada yang kesal.
"Nggak akan kemana-mana, Sayang."
"Terus kenapa perempuan tadi nanya kenapa mas nggak datang."
"Anna udah dong. Apa kamu nggak percaya sama mas?"
"Siapa perempuan itu, Mas?"
"Bukan siapa-siapa. Kamu cemburu, ya?"
"Cemburu?"
"Hmmm."
"Aku nggak cemburu, Mas. Aku cuma nggak suka cara dia menyapamu. Dan pertanyaannya itu mengangguku. Jangan-jangan kamu sering bertemu dia ya?"
"Anna. Sudah, mas capek." Riko meninggalkan Anna yang masih kesal berlalu ke kamarnya.
Hingga malam hari, Anna masih merasa kesal pada Riko. Bahkan saat berbaringpun ia membelakangi suaminya. Di sisi lain Riko tak bisa berkata apa-apa selain menghela nafasnya.
Keesokan harinya Anna bersikap seperti biasanya. Mungkin kekesalannya kemarin hanya pengaruh dari hormon kehamilannya saja. Seakan tidak ingin mengulang kekesalan Anna, Riko sepanjang hari menemaninya.
Anna merasa sangat bahagia karena Riko semakin memperhatikannya. Suatu hari tanpa sengaja Anna mendengar percakapan Riko dengan seseorang entah siapa.
Saat itu ia mendengar Riko berkata, "Aku sudah lelah. Aku tidak ingin melakukannya lagi." Anna terdiam menerka-nerka dengan siapa suaminya bicara.
Hari berlalu, saat ini Anna sedang menunggu Riko yang pergi menemui temannya. Ia seorang diri di apartemennya, karena Dea sedang belanja.
Sudah lama ia menunggu, namun Riko belum datang juga. Berkali-kali ia menekan tombol waktu di ponselnya untuk mengetahui sudah berapa lama waktu berlalu dan itu hanya membuatnya kecewa.
Anna mulai merasa gelisah, ia berjalan ke dapur untuk sekedar mengambil air agar tenggorokannya basah. Tidak lama, terdengar bunyi seseorang memijit sandi pintu apartemennya. Anna segera berjalan mendekati pintu untuk mengetahui siapa yang datang, Riko ataukah Dea.
"Anna.." ucap seorang wanita menyebut namanya.
"Mama? Mama dengan siapa kesini?" tanya Anna dengan raut wajah gembira.
"Anna, bisa ikut dengan mama sebentar?" pinta Viona pelan dengan suara yang tertahan.
"Ma, ada apa? A, Anna harus minta izin dulu sama mas Riko, tapi dia belum pulang. Anna tidak mau mas Riko merasa khawatir. Atau mama telepon mas Riko, ya?" sahut Anna.
"Sudahlah, Riko tidak akan khawatir kalau kamu pergi dengan mama."
"Benar juga. Baiklah. Ayo, Ma! Kita mau kemana?" tanya Anna antusias, pasalnya ia sangat jarang keluar dari apartemennya.
**
New York City
"Aarrggh, sial!" umpat Niko. Pria itu sedari tadi berjalan kesana kemari dalam ruang kerjanya sendiri. Saat ini ia merasa sangat frustasi menghadapi pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak ingin menikahi wanita j*lang itu. Menjijikkan," dengusnya kesal.
Ia merutuki dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa karena semua ini telah di atur oleh kakek dan neneknya. Tanpa sepengetahuan siapapun, ia telah menyuruh seseorang untuk mencari tahu semua hal tentang Alexa.
Awalnya, Niko tidak mempunyai perasaan apapun pada gadis yang di tunangkan dengannya itu. Lama kelamaan, perasaan suka mulai menghinggapinya. Namun bukan Niko namanya bila ia lebih mengutamakan perasaannya. Ia mencari tahu bagaimana Alexa di belakang keluarganya, dan ia pun kecewa setelah mengetahuinya.
Ddrtt..
Niko menatap sesaat layar ponsel yang tergeletak di atas meja. Pria itu terlihat mengernyitkan keningnya saat melihat nama yang tertera di ponselnya adalah 'Mama Viona'.
📱 "Hallo, Ma! Ada apa?" tanya Niko datar.
📱 "........"
📱 "Apa? Sudah separah itukah?" tanya Niko dengan raut wajah yang terkejut.
📱 "......."
📱 "Baiklah. Akan Niko usahakan," sahutnya.
📱 "......"
📱 "Bye, Ma."
Niko tertegun menerima kabar dari mamanya tentang Riko, adiknya. Viona bukanlah mama kandung Niko. Wanita itu dinikahi ayahnya saat Niko baru berusia satu tahun. Walaupun begitu, Viona sangat menyayanginya.
Niko melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya. Keinginan Riko untuk bertemu dengannya merupakan celah untuknya menenangkan darinya menghadapi pernikahan dengan Alexa.
"Malam, Nek!" sapanya pada neneknya yang sedang menikmati secangkir teh herbal kesukaannya.
"Malam, Nak. Kau belum tidur?" sahut neneknya dengan senyum terukir di wajahnya.
"Seharusnya nenek yang sudah tidur, ini sudah malam," ucap Niko.
Sang nenek hanya tersenyum tipis. Ia menatap lekat pada cucu kesayangannya dan berkata, "Ada apa, Niko? Apa yang ingin kau bicarakan dengan nenek?" tanyanya.
"Nek, Riko ingin bertemu denganku. Aku akan kembali ke Indonesia dan tinggal untuk beberapa hari di sana," ucapnya.
Nenek hanya terdiam, tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya.
"Bagaimana dengan pernikahanmu? Kau tahu ini penting untuk kakekmu," ucapnya.
"Akan ku usahakan kembali secepatnya," sahut Niko sambil menggenggam sebelah tangan neneknya.
"Baiklah. Nenek minta, jangan kecewakan kakekmu." Nenek mengusap pucuk kepala Niko dengan sebelah tangan lainnya.
Nenek menghela nafas dalam saat menatap punggung Niko. Sebelumnya, Viona meneleponnya untuk meminta izin untuk bicara dengan Niko. Menantunya itu juga menceritakan bagaimana kondisi putranya saat ini.
**
Viona menggandeng tangan Anna menyusuri tempat yang di tujunya. Anna merasa ada yang aneh dengan bau tempat dimana ia sedang berada sekarang.
"Ma, tempat apa ini? Ramai sekali dan Anna mencium bau obat disini," tanya Anna.
"Kau benar sayang. Kita sedang berada di rumah sakit, jadi pasti kau akan mencium bau obat," ucap Viona pelan.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Ma?" tanya Anna heran. Ia bahkan menghentikan langkahnya saat menunggu jawaban dari ibu mertuanya itu.
"Nanti juga kau tahu Anna, ayo!" ajaknya sambil kembali menggandeng Anna.
Setelah tiba di tempat yang di tuju, Viona membukakan pintu. Lalu terdengar suara yang berkata, "Ma, Anna."
"Papa? Papa juga ada disini? Memangnya siapa yang sakit, Pa?" tanya Anna semakin penasaran.
Tanpa di sadari Anna, sepasang mata sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Wajah pucatnya yang semakin kentara dengan semua alat bantu medis yang terpasang di dekatnya.
"Ma, Pa,, siapa yang sakit?" tanya Anna lagi bertepatan dengan suara panggilan seseorang dari arah pintu yang baru di buka, "Tuan, Dokter Seto ingin bertemu dengan anda."
"Dea!" seru Anna saat mengenali suara wanita yang bicara itu adalah suara Dea, pelayannya.
"E, e, Neng Anna," sahut Dea gelagapan.
"Dea, apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau tadi pergi belanja?" tanya Anna sambil berusaha menggapai Dea.
"Apa keluargamu ada yang sakit? Apa karena itu kau pulang terlambat? Dea, maafkan aku!" sesal Anna.
"Tidak, Neng. Bukan seperti itu," Dea bingung harus bicara apa.
"Anna," panggil seseorang dengan nada suara yang terdengar lemah.
Anna mengernyitkan keningnya lalu berseru, "Mas Riko!".