Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah pembicaraan itu dan mendapatkan izin dari ayahanda dan ibundanya, Ling Xi pun meminta izin untuk kembali ke kediamannya.
Kaisar dan permaisuri menganggukkan kepalanya, "Istirahatlah, nak. Untuk melakukan kontrak bisa tunggu sampai rubah itu benar-benar sembuh."
Sambil tersenyum, Ling Xi pun menjawab, "Iya, ayahanda. Kalau begitu, Ling Xi izin pamit dulu. Salam ayahanda, salam ibunda."
Kemudian, ia pun berjalan keluar ruangan dengan hati yang ringan namun tetap dipenuhi antisipasi.
Di luar menuju kediaman lotus, angin malam berhembus dengan lembut. Cahaya lentera yang tergantung di sepanjang jalan menuju kediaman, memantulkan kilauan keemasan, bahkan api dari lentera itu menari-nari di terpa angin malam.
Suasana itu tampak sangat tenang, tapi entah kenapa, ia merasa bahwa malam ini akan ada sesuatu yang terjadi.
Dua penjaga yang dikirim oleh kaisar untuk menjaga kediaman sang putri pun muncul dari gelapnya malam. Mereka mengikuti setiap langkah Putri Ling Xi dari jarak yang tidak terlalu dekat, namun cukup untuk memastikan keselamatan sang putri tanpa menganggu pergerakannya.
"Putri Ling Xi, mohon izinkan kami untuk berjaga disekitar kediaman lotus," ucap salah satu penjaga bayangan namun penuh rasa hormat.
Ling Xi pun mengangguk kecil. "Baiklah, paman. Terima kasih. Paman berdua bisa berjaga di area sekitar kediaman saja. Jangan sampai membuat Bai Hu ketakutan."
"Kami mengerti, putri," jawab mereka sebelum keduanya lenyap di kegelapan malam.
...****************...
Setibanya di depan kediaman, langkah Ling Xi perlahan melambat. Ketika membuka pintu kediaman, aroma daun teh dan kayu manis yang dibakar menguar di udara, memberikan suasana hangat yang menenangkan.
Sesaat kemudian, terdengar bunyi gesekan halus dari dalam. Ia melihat Shu Li tengah membakar daun teh dan kayu manis di pembakaran dupa. Perlahan Shu Li membalikkan badannya dan terlihat Putri Ling Xi berdiri di depan pintu.
"Putri, Anda sudah kembali?" suara Shu Li terdengar lembut namun sedikit gemetar dari biasanya.
Putri Ling Xi memicingkan matanya, "Iya, Shu Li. Apa ada sesuatu yang terjadi ketika aku tidak ada?"
Shu Li menunduk, lalu mencoba tersenyum. "Tidak ada, putri. Hanya saja... Bai Hu beberapa kali menatap ke arah jendela seperti merasa waspada. Tapi, ketika saya memeriksanya, tidak ada apapun di sana."
Tatapan Ling Xi segera beralih pada Bai Hu yang sedang terbaring di alas empuk. Mata rubah itu kembali memancarkan sesuatu yang tidak biasa, bukan ketakutan melainkan kewaspadaan yang sangat tajam.
Seolah ia sedang mendengarkan sesuatu yang tidak dapat didengar oleh manusia biasa.
Ling Xi berlutut di hadapan Bai Hu dan mengusap kepalanya dengan pelan. Ia berucap dalam hati, "Bai Hu, apakah ada yang datang ketika aku tidak ada?"
Bai Hu pun mengerjapkan matanya perlahan. "Tidak ada... tapi aku merasakan ada sesuatu yang mendekat. Dan auranya... tidak asing bagiku."
Putri Ling Xi menelan ludahnya. "Apa itu... sesuatu yang berbahaya?"
"Aku tidak tahu... tapi malam ini memang terasa tidak biasa." jawab Bai Hu.
Seakan merasakan ketegangan, angin malam tiba-tiba saja berhembus dengan kuat, menggoyangkan tirai tipis di dekat jendela. Suara dentingan lonceng pun terdengar dari luar.
TING! TONG! TING!
Shu Li menatap ke arah jendela lalu menatap kembali pada sang putri. "P-putri... apakah Anda juga mendengar itu?"
Putri Ling Xi perlahan berdiri. "Iya, aku mendengarnya."
Sambil menatap ke arah pintu, Bai Hu berkata dalam hati. "Ling Xi... sepertinya waktunya lebih cepat dari perkiraanku. Malam ini mungkin kita tidak hanya menunggu waktu untuk istirahat. Tetapi juga menunggu siapa yang datang ke kediaman ini."
Pandangan Putri Ling Xi pun beralih pada Shu Li. "Shu Li, jaga Bai Hu. Kalian jangan keluar apapun yang terjadi."
Dengan pandangan cemas, Shu Li menjawab, "Tapi, putri..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu laksanakan apa perintahku. Jaga Bai Hu dan juga dirimu. Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar," balas Ling Xi dengan tegas.
Kemudian, pandangannya beralih pada Bai Hu. "Bai Hu, kamu diam di sini bersama Shu Li. Aku akan pergi memeriksa apa yang terjadi di luar."
Bai Hu menatap Ling Xi karena tiba-tiba merasakan perasaan khawatir. "Baiklah... tapi kamu juga harus hati-hati."
Setelah itu, Ling Xi pun berjalan ke arah pintu Ketika membukanya, ia melihat penjaga bayangan tengah bertarung dengan tiga sosok berbaju hitam.
Ia pun bergegas menuju pertarungan itu. Tak lupa, ia juga menutup pintu kediaman dengan rapat.
Dengan wajah yang tegas, Putri Ling Xi berkata, "SIAPA KALIAN?!"
Seketika pertarungan pun langsung terhenti ketika mendengar suara sang putri.
Salah satu sosok berbaju hitam itu menatap ke arah sang putri dan berkata, "KAU TIDAK PERLU TAHU SIAPA KAMI. TAPI YANG PASTI, SERAHKAN RUBAH ITU PADA KAMI. JIKA TIDAK... "
"JIKA TIDAK APA?! KALIAN MASUK KE WILAYAHKU TANPA IZIN DAN MEMBUAT KEKACAUAN DI SINI!" jawab Putri Ling Xi dengan lantang dan tegas.
"KAU AKAN TAHU AKIBATNYA JIKA TIDAK SEGERA MENYERAHKAN RUBAH ITU!" ucap sosok berbaju hitam.
Putri Ling Xi menatap ke arah sosok berbaju hitam itu dengan tajam, "SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYERAHKAN RUBAH ITU PADA KALIAN!"
Dengan marah, sosok berbaju hitam itu berucap, "BERANI SEKALI KAU MENENTANG PERINTAH KAMI!", "SERANG!" lanjutnya.
......To be continued......