NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROBLEM

Mireya mendumel sambil berjalan di koridor kantor. “Kamu kenapa sih selalu ada aja alasan buat gak ketemu?”

“Bussy sayang. Next time we can meet. Im promise!” katanya di telepon, menghela nafas dan tersenyum lalu mengangguk. “Oke my honey, see you.”

Mireya kembali berjalan lalu panggilan masuk dari bengkel. “Iya, gimana mobil gue udah beres?”

“Sore ini udah bisa di ambil.”

--✿✿✿--

“Ayah bakalan seret dia balik.” Erwin berjalan petantang petenteng. Bergegas mencari anaknya untuk pulang. Tak lama balik lagi.

“Alamat kost nya dimana?”

“Mama ikut.” Minawari langsung mengikuti langkah suaminya.

“Cuci muka dulu napa, Ma. Ayah malu bawa istri mukanya bintit.”

Minawari mengerucut kan bibirnya dan pergi ke kamar mandi. Taunya pas balik lagi udah di tinggal. Itu hanya alasan Erwin, tak ingin Minawari ikut karna ribet. Jadi mending pergi sendiri agar cepat sampai. Erwin bergegas menuju alamat lama yang ia tahu, ternyata Luz sudah pindah. Bisa-bisanya ia tidak tahu. Akhirnya menelepon Devan.

Barulah sampai di depan kost. Naik ke lantai dua dimana Luz lagi marah-marah sendirian.

“Luz.”

Dia menoleh. “Ngapain ayah ke sini?”

“Lu kan anak gue.” Tangan Erwin terkepal, wajah datar.

Luz takut, langsung berdiri dan menunjukkan wajah tak suka. “Apa mau marahin gue?” Suaranya tidak kalah tinggi.

“Bagus ya di bebasin, malah bablas.” Erwin bertepuk tangan dan tertawa.

“Ayo balik, gue mau ngomong di rumah.”

Luz menggeleng. “Gamau, ngapain balik? Lu pada cuman mau nyiksa gue kan?”

“Kalo iya mang nape?” Erwin melototi Luz.

Semakin di tekan justru Luz akan melawan.

Jadinya Erwin menghela nafas dan memintanya tenang.

“Pulang.”

Luz menarik tangannya dan menggeleng. Malah mengusir ayahnya untuk pergi. “Pergi Yah, aku gamau anak lain denger.”

“Ikut!” Erwin menarik lengan Luz untuk membawanya pulang. “Kamu mau di baikin, ayah baikin. Kamu mau apapun ayah turutin termasuk kuliah disini.”

Luz kewalahan mengikuti langkah kaki ayahnya. Tangannya di cekal kuat hingga terasa menyiksa. Ia tahu sekarang akan dalam bahaya, selain cacian mungkin akan ada kekerasan yang akan ia terima. “Ayah lepasin! Sakit.”

“Lu sebelum di kerasin gak bakalan ngerti!”

Orang-orang sekitar kost an mulai melihat Luz dengan berbagai tatapan. Luz menuruni anak tangga hampir sama tersandung. Ia pun di paksa masuk ke dalam mobil dan di diemin sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, Devan memandangnya penuh amarah.

“Semua gara-gara lu anak anj*ng!” makinya marah.

Mata Luz memanas. Apa salahnya lagi baru datang sudah di maki?

“Semua gara-gara lu sialan!” Devan meneriaki Luz di depan wajahnya. Menunjuknya tanpa hormat.

Luz mulai menitihkan air mata karna sakit hati. “Maksud lo apa, Van?”

“Mama jatuh di depan rumah!” Devan tampak sangat gusar. “Cuman gara-gara nyusul ayah yang mau ketemu sama lo.”

Devan mendesah kesal. “Lu ngerti kagak? Semua yang lu mau di turutin, lu mau ngekost silahkan. Kita semua udah percaya tapi ngapa ini balesan lu?”

“Banyak yang laporin ke gua, lu suka dugem lah. Suka jalan sama cowok ke hotelah. Gua berusaha buat tepis tapi lu sendiri buktiin dengan hamil?!” Devan menelan ludahnya susah payah. “Sumpah gak ngerti gua sama pola pikir lu. Cuman bikin malu keluarga.”

Luz meninju mulut Devan dengan keras. Lalu memandangnya sengit. “Ayo ngomong lagi. NGOMONGGGGG!”

“Lu pikir gue gak punya hati denger lu maki-maki gue seakan hidup gue paling berantakkan paling buruk sedang lu terbaik wow ahli surga.” Luz tertawa nafasnya ngos-ngosan karna bicara tanpa jeda.

Mata Luz benar-benar terlihat marah dan basah. “Lu sama gue gak beda jauh. Cuman cara kita bikin masalah beda. Lu cowo dan gue cewek. Lu gak bawa perut, gue juga tau lu doyan nyewa lonte.”

“Heh lu gak sadar lu juga gak lebih baik dari lonte anj*ng!”

Luz langsung mencomot mulut Devan. “Kita sama-sama buruk dan bisanya malu-maluin keluarga, jadi gausah ngerasa lo terbaik.” Ia meneriaki Devan sekeras-kerasnya lalu melompat dan menendang tubuh Devan.

Luz memukul Devan terus menerus. Bahkan menampar, mencakar dan menjambak rambutnya. Sembari berteriak dan mengamuk, pot bunga di halaman rumah ia angkat dan banting ke Devan.

Devan ingin membalas, ia tidak terima tangannya habis di cakar dan luka-luka. Untung ayah menahannya. Dan Erwin memeluk Luz lalu membawanya masuk.

Erwin membawakan minum untuk Luz dan mengelap keringatnya. Tatapan matanya kosong.

“Luz minta maaf sama Devan,” titah Erwin. “Van, kamu juga minta maaf sama adik kamu.”

Hening. Hanya air mata Luz yang terus menerus berjatuhan.

“Kalian mau ngomong apalagi silahkan.” Luz melirik mereka satu persatu seperti musuh. “Mau usir aku? Silahkan.”

Erwin menggeleng. Ia berusaha mereda emosi usai melihat emosi Luz lebih tidak stabil. Yang ada malah baku hantam.

“Beneran kamu hamil?”

“Iya.”

“Hamil anak haram!” celetuk Devan. “Anak hasil nge-BO. Di gang bang kan lu? Ngaku.”

Luz mengepalkan tangan. “Enggak anj*ng emang lu suka gang bang janda?!”

“Udah!” Erwin melerai. “Sebelum tetangga tau, ayah mau kamu sama pacar kamu nikah.”

“Dia gak punya pacar, Yah, kerjanya kasih badannya gratisan,” kata Devan.

Luz langsung menggebrak meja. “Diem lo anj*ng.”

“Bener ‘kan?”

“Kaga anjing!” sentak Luz. “Gue emang gak punya pacar, tapi gue gak suka ganti cowo.”

“Terus siapa ayahnya apa kamu korban pelecehan?” tanya Erwin.

“Mana ada dia di lecehin, yang ada dia pelaku!” sarkas Devan.

Luz langsung berdiri dan meninju wajah Devan bahkan mencekiknya. “Muak anj*ng gue sama lu cuih.” Langsung ia ludahin wajahnya bahkan ia tampar berulang kali, gelas dan toples di meja Luz banting hingga berserakan di lantai.

Luz mengamuk, berteriak dan meraung sambil menjambak rambutnya sendiri.

Erwin langsung memakinya kembali. “Bagus lu udah gede ngamuk begitu biar tetangga dateng? Nangis sana yang kenceng biar sekalian RT dateng. Gue kawinin juga lu sama kambing tetangga mau?!” Ia berkacak pinggang dan melototi Luz.

Luz kembali membalas tatapan itu. “Emang bapak gak punya hati lu Erwin. Di pikir gue gak punya hati sama akal.”

“Lu mau celakain bokap gua hah?” Devan menahan tangan Luz yang hendak menampar ayahnya. “Gak puas lu bikin nyokap gue jatuh di kamar mandi dan sekarang di rawat di rumah sakit?!”

Dahi Luz mengerut. “Mama? Mama kenapa?”

“Gausah sok peduli. Gue gak nyangka lu yang remajanya polos jadi seagresif ini. Lu ngobat ya?” Devan menuduh dan mengejeknya juga.

“Gausah sok tau lu, mana ada gue ngobat.”

Luz berkata jujur. Lalu melebarkan kelopak mata dengan tangan. “Liat kata gue, ada tanda ngobat?”

Erwin mendengkus kesal. “Diem semua!” Ia langsung bergegas pergi karna ada yang lebih penting dari pada ini.

“Mau kemana, Yah?”

“Mama kamu lebih penting. Di RS mana?”

Devan memberitahukannya lalu menyalahkan Luz lagi setelah ayahnya pergi. “Asal lu tau, lu tuh anak pungut. Anak yatim. Di buang di tong sampah. Karna emang lo sampah haha!”

Hati Luz makin sakit dengernya. “Terus lo hina gue sepuasnya biar lo seneng!”

Devan menahan lengan Luz. “Mau kemana, kabur?”

“Lepas! Gue mau liat nyokap gue.”

...--✿✿✿--...

Minawari harus di pasang pen di punggungnya. Tanpa berpikir panjang Erwin langsung mengiyakan, ingin istrinya kembali siuman.

“Gimana keadaan mama?” tanya Luz dengan nafas tersengal-sengal penuh keringat.

Tidak ada yang menjawab. Devan maupun Erwin mendiamkannya.

“Jawab dong, gue nanya.” Luz kembali bertanya tapi di diemin. “Ayah! Van!” Ia mendengkus kesal dan melangkah pergi mencari jawaban dan ingin menerobos masuk.

Devan pun menjauhkan Luz dari ruangan Minawari. “Pergi lu dari sini, gua gak sudi liat lu, kayaknya mama juga. Lu tuh anak gatau di untung. Di kasih kehidupan yang baik, milih ngejablay. Mana hasil lu sekolah 16 tahun ada hasilnya? Kagak ada. Kosong otak lu.”

Luz melirik Erwin yang hanya diam tidak membantah perkataan Devan.

“Dari pada sibuk ribut, mending bawa pacar kamu ke hadapan ayah! Jangan pernah balik atau ketemu mama kamu sebelum menemukan titik terang.” Erwin bicara sangat datar.

Mata Luz memanas, nafasnya kian sesak. Tenggorokan kering dan tidak bisa berkata apapun selain pergi meninggalkan mereka. Lalu menangis di bawah pohon rindang. Ucapan mereka berenang di kepala. Kalau memang betul, dirinya merasa sangat bersalah berkali-kali lipat. Hanya untuk kesenangan sendiri, malah menghancurkan semuanya.

Luz mengeluarkan handphone nya dan menghubungi Zaren. Mencoba mencarinya lewat kenalan di sosial media. Panggilannya belum juga di jawab bahkan chat.

Saat dia beranjak, pesan masuk.

Zaren: apa?

Luz: please angkat, gue mau ngomong penting.

Akhirnya telepon terhubung usai di bujuk berulang kali. Di sela isak tangis sesenggukan, Luz mengatakan apa yang ia inginkan. “Situasi gue kacau, gue mohon lo harus nikahin gue please.”

“Gak bisa, udah pernah gue bilang kan?”

“Tapi ini situasinya udah beda, gue mohon Zar, please banget. Emang kenapa sih?”

“Gue mau nikah.” Zaren langsung mengakhiri panggilan.

Luz mematung di tempat, air matanya berjatuhan. Apa bener kata Devan? Dirinya memang dari tempat sampah dan tumbuh jadi sampah. Hanya sampah.

Luz menggigit bibirnya getir berkata lirih. “Gue bener-bener malu-maluin semua orang.”

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!