Kini berbagai pertanyaan muncul ketika Raelynn terbaring di atas meja operasi. Mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat … sendirian. Ya, dengan tubuhnya yang kurus, Raelynn menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi untuk dirinya sendiri.
Apakah semua kemalangan ini bermula ketika dia menerima pernikahan di atas kerta yang pria berikan? Ataukah semua ini berawal saat dia mengetahui tentang kehamilannya sekaligus penyakit mematikan yang tidak dia sadari sebelumnya? Atau semenjak malam itu … di saat keluarganya sendiri menyiksa dan menjadikannya pelayan dan bahkan menjualnya demi kepentingan bisnis mereka?
Raelynn rasa, tidak! Bahkan sebelum semua itu terjadi kemalangan mulai menjadi hari-harinya sejak saat itu. Ya … Raelynn ingat sekarang. Semenjak hari itu, dimana dia menolak perjodohan yang di atur oleh keluarga demi untuk mengejar cinta pertamanya.
Mampukah Raelynn bertahan dengan semua kemalangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. Masih Permulaan
Raelynn akui bahwa dia bersalah, karena secara tidak langsung menyeret mereka dalam masalah karena berurusan dengan keluarga Antonio. Namun, haruskah sejauh ini perlakuan mereka kepadanya.
Bagaimana pun juga Raelynn masih anak kandung dari kedua orang tuanya, bukan? Darah Cameron masih mengalir di tubuhnya, tetapi mengapa mereka sekejam ini padanya.
Lain halnya dengan Bi martha yang menangis dibalik tembok melihat tubuh Raelyn terluka dan bahakan mengeluarkan darah.
“Bereskan semua ini sebelum aku kembali! Awas saja kalau kerjamu tidak becus, akan aku mengusirmu saat itu juga. Apa kau mengerti.” Bentak sang ayah yang mengancam Raelynn tanpa peduli dengan luka yang di alami wanita malang itu.
“Hai, apa kau mengerti!” bentaknya lagi disaat Raelynn tidak menjawab ucapannya.
“Ba-ba-baik, Tuan! Sa-saya mengerti.”
Raelyn pun segera menjawabnya dengan suara yang terbata-bata, bahkan sambil meringis kesakitan berusaha menormalkan penglihatannya yang mulai terhalang darah segar yang mengalir dari luka di keningnya.
“Ayo kita makan diluar saja.”
Edwin pun beralih pada istrinya dan Risha, lalu mengajak mereka berdua dengan nada bicaranya yang lebih lembut dibandingkan saat berbicara dengan Raelynn. Baik Emma maupun Risha tidak memberikan jawaban, tapi keduanya langsung beranjak mengikuti kepergian Edwin.
Begitu pintu utama kembali tertutup, seketika itu juga Raelyn langsung menangis sejadi-jadinya. Meluapkan rasa sesak dan sakit di dadanya yang bahkan jauh lebih sakit dari luka-luka ditubuhnya. Raelyn bahkan tidak peduli lagi dengan lukanya yang terus mengeluarkan darah, rasa sakit dihatinya lebih besar dibandingkan dengan luka yang ada ditubuhnya.
Hingga tiba-tiba Bi Martha mendekatinya, memeluk erat tubuh Raelynn serta ikut menangis bersamanya. Tangis Raelynn dan Bi Martha semakin pecah memenuhi ruangan makan itu. Bi Martha sendiri sungguh tidak menyangka bahwa kedua tuan besarnya akan memperlakukan putri mereka sendiri sampai sejauh ini, menyiksa fisik dan mentalnya secara bersamaan.
Padahal Bi Martha masih ingat dengan jelas, bagaimana Edwin dan Emma sangat menyayangi Raelynn kecil. Bagaimana mereka memperlakukannya seperti putri kerajaan dan mencintainya dengan sepenuh hati. Bi Martha juga tahu, situasi rumit yang kini tengah terjadi secara tidak langsung disebabkan oleh Raelynn, tapi tidak seharusnya mereka sekejam ini bukan?
“Non, ayo Bibi obati dulu luka-lukanya ‘yah?” bujuk Bi Martha, begitu menyadari tangisan Raelynn mulai terhenti.
“Tidak perlu, Bi! Nanti juga lukanya sembuh sendiri.”
Tapi siapa sangka, Raelynn menolaknya dengan suaranya yang begitu sendu. Sementara, tangannya berusaha mengambil pecahan piring yang berada dekat dengannya. Dia harus segera membereskan semua ini sebelum ayahnya kembali dan memperlakukannya jauh lebih kejam lagi.
“Tapi luka Nona harus segera diobati, kalau tidak nanti bisa terkena infeksi,” ujar Bi Martha terus berusaha membujuk Nonanya yang bernasib malang itu.
“Tidak perlu, Bi! Ini hanya luka kecil ‘kok.” Senyum kecut tersungging di wajah Raelynn yang kini basah dengan air mata.
“Tidak bisa! Luka Nona harus diobati sekarang juga. Ayo, kita duduk disana saja.”
Kali ini Bi Martha memaksa, dia segera membantu Raelynn berdiri hingga sampai duduk disalah satu kursi yang berada di ruang makan.
“Tidak usah, Bi! Aku sungguh tidak apa-apa.”
Raelynn kembali berusaha bersikap baik-baik saja. Ketika wanita paruh baya itu hendak mengambil serpihan piring yang tertancap dikakinya. Setegar itu ‘kan sosok Raelynn? Jawabannya tentu saja, tidak! Dia hanya berpura-pura agara rasa sakitnya tidak begitu dia rasakan.
“Hiks … Hiks ... Hiks!”
Bukannya menjawab atau menyanggahnya Bi Martha malah kembali menangis terisak saat tangan Raelynn mulai gemetar begitu mencabut serpihan piring di kakinya yang terus mengeluarkan darah. Rasanya pasti sangat menyakitkan, tapi mengapa anak asuhnya itu tidak merintih kesakitan sama sekali dan bahkan masih bisa tersenyum. Walaupun senyuman itu menyiratkan banyak kesedihan.
“Kenapa bibi menangis lagi? Aku sungguh baik-baik saja sekarang, Bi.” ucap Raelyn yang berusaha menyakinkan wanita paruh baya itu juga dirinya sendiri bahwa dirinya baik-baik saja.
“Bagaimana Nona bisa bicara bahwa anda baik-baik saja? Padahal Nona terluka sampai seperti ini. Hiks … hiks ….”
Bi Martha sungguh tak kuasa untuk menahan air matanya agar tidak menangis terus menerus. Namun sayang, air matanya tidak bisa dia kendalikan untuk berhenti apalagi melihat keadaan anak asuhnya yang begitu mengenaskan dengan luka di sekujur tubuhnya.
Ditambah Raelynn yang memaksakan diri untuk tetap tersenyum, disaat seharusnya dia menangis untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang sakit. Bahkan kini hidungnya mulai mengeluarkan darah, tapi Raelynn tetap bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja dan hanya merasa sedikit lelah.
Melihat ketulusan Bi Martha yang menyayangi dan selalu mengkhawatirkan dirinya, rasa sakit dihati Raelynn sedikit terobati. Setidaknya masih ada satu orang yang menyayangi dan mencintainya dengan sangat tulus seperti Bi Martha. Raelynn pun mendapat perawatan yang terbaik dari Bi Martha dengan obat seadanya, bahkan semua pekerjaan Raelynn pada hari itu di kerjakan semua oleh Bi Martha. Dia sempat dipaksa untuk pergi ke rumah sakit, tapi Raelynn bersikeras menolaknya.
...****************...
Di perusahaan HD Group, terlihat Frans yang tengah tertawa bahagia melihat kehancuran keluarga Cameron yang tidak mungkin bertahan lebih lama lagi. Dia bahkan sudah mendapat kabar tentang Raelynn yang telah kembali tanpa hasil dan malah berakhir sebagai pelayan untuk keluarganya sendiri. Namun, Frans belum juga merasa puas dengan semua penderitaan yang Raelynn dapatkan sekarang. Frans bahkan berniat menghancurkan hidup Raelynn tanpa ada harapan sedikitpun.
“Frans, CM Group tidak akan bertahan lebih lama lagi. Jika sampai besok mereka tidak mendapatkan suntikan dana dari Investor, maka semuanya akan segera berakhir. Apakah kau puas dengan rencana balas dendammu yang berjalan begitu mulus,” ujar Niko Ardiland, sahabat sekaligus rekan bisnis Frans yang membantu menjalankan rencananya.
“Bagaimana mungkin aku sudah merasa puas? Ini bahkan baru permulaan, Niko! Sebentar lagi adalah puncak balas dendamnya. Akan aku pastikan dia lebih baik memilih mati dibandingkan menjalani kehidupannya yang hancur tak tersisa,” ujar Frans menyeringai puas.
“Woah, malang sekali nasibnya harus berurusan dengan orang sepertimu, Frans! Bahkan malaikat maut pun tidak akan bersedia membawanya dengan mudah,” balas Niko yang bisa menebak apa yang akan sahabatnya itu rencanakan lagi.
“Kau lihat saja nanti? Atau kau mau bergabung menikmati tubuhnya?” Frans memberikan tawaran yang menarik.
“Cukup menarik, tapi aku sedang ada urusan penting belakangan ini. Jadi, silakan kau bersenang-senang sendiri saja.” Niko menolaknya dengan halus. Pembicaraan itu pun dilanjutkan dengan pembicaraan bisnis yang keduanya jalin.
“Raelynn, kau tidak akan bisa lari dari rencana balas dendamku. Akan aku buat hidupmu hancur— sehancur-hancurnya tanpa tersisa harapan sedikitpun. Ini ‘lah akibat dari kau menolak lamaranku.”
Frans bertekad dalam hatinya. Nama Raelynn Humaira telah menjadi target utama untuk dia hancurkan, karena telah berani merendahkan harga dirinya.
Bersambung ….
Lagian Gavin ngga bilang sih, siapa anak Edwin Cameron yang dimaksud...
Masa Suho ngga tahu sih, kalo Edwin punya 2 anak perempuan 🤔
next kk